Seperti suku lain di Nusantara mempunyai cerita masing-masing baik asal usul maupun cerita muasal lainnya. Begitu juga 4 etnis besar Bugis, Luwu, Makassar, dan Toraja yang mendiami Jasirah Selatan Pulau Sulisa (Sulawesi) memiliki banyak kisah-kisah menarik yang melegenda.

Seperti halnya Sangiang seri yang sering dikisahkan masyarakat Bugis dan Luwu. Meskipun itu hanya mitos ternyata kisah-kisah itu memperkaya khazanah kearifan lokal dan praktik-praktik ritualnya masih berlangsung sampai sekarang. Berikut kisahnya ….

Sang Maha Pencipta dengan Kuasa dan Kehendak-Nya telah menciptakan Dunia Atas, Dunia Tengah dan Dunia Bawah. Ketiga dunia tersebut diciptakan-Nya dengan dimensi yang berbeda-beda dengan tujuan untuk menjaga keseimbangan alam semesta.

Pada Dunia Atas, terdapat sebuah negeri bernama Kahyangan yang dipimpin oleh Batara Guru (Patotoe) dengan permaisurinya bernama Datu Palinge. Pasangan ini telah ditakdirkan mempunyai seorang putri yang diberi nama We Oddang Riu yang kecantikannya tidak ada bandingannya di seluruh Kayangan (tempat tinggal para dewa-dewi).

Dari hari ke hari We Oddang Riu tumbuh menjadi seorang gadis yang semakin cantik. Rambutnya hitam berkilau, panjang terurai dan hampir-hampir menyentuh tanah setiap kali berjalan dengan gemulai.

Wajahnya yang cantik jelita laksana bulan purnama. Kedua bola matanya yang indah bagai bintang kejora di langit. Pandangan matanya meneduhkan hati siapa saja yang melihatnya.

Alisnya bagaikan semut beriring. Tubuhnya tinggi semampai dan kulitnya putih bersih berseri. Tiara atau mahkota mungil dari emas yang bersusun tiga di kepalanya laksana kilau cahaya matahari yang muncul tersenyum dari ufuk Timur. Kehalusan tutur bahasanya mempesonakan. Sikapnya senantiasar ramah dan santun terhadap siapa saja.

Kecantikan We Oddang Riu telah tersohor bukan hanya di seantero Kayangan namun telah disebut-sebut menjadi legenda pula bagi para penghuni Dunia Tengah maupun Dunia Bawah.

Para jejaka tampan penghuni Kayangan silih berganti mencoba merebut perhatian We Oddang Riu. Mereka rupanya telah mabuk kepayang terhadap putri kesayangan Batara Guru itu. Pemuda-pemuda itu bahkan telah sampai pada tingkat persaingan untuk berusaha memiliki We Oddang Riu dengan berbagai cara.

Pada suatu hari di Taman Istana Batara Guru Patotoe dan permaisurinya Datu Palinge, memperbincangkan perihal putri kesayangan mereka :

“Putri kita dari hari ke hari telah tumbuh semakin matang dan dewasa, adinda,” kata Batara Guru Patotoe.

“Ya, Batara Guru. Putri kita rupanya akhir-akhir ini telah banyak menawan hati para jejaka di Kahyangan. Tapi semoga ini merupakan pertanda baik dari Yang Maha Kuasa,” sahut Datu Palinge dengan suara lembut.

“Semoga saja demikian adanya, dinda. Tapi justru hal itulah yang mengusik pikiranku akhir-akhir ini,” ujar Batara Guru Patotoe.

“Apakah gerangan yang mengusik pikiran Batara Guru?” Tanya Sang Permaisuri menatap mata penguasa Kayangan itu dengan perasaan penuh kasih sayang.

Batara Guru terdiam sejenak lalu menghela napas berat.Kemudian berkata. “Putri kita telah ditakdirkan menjadi pewaris keabadian, kebijaksanaan dan keseimbangan alam di Kahyangan maupun bagi segenap penghuni Dunia Tengah dan Dunia Bawah.

Sesungguhnya sebelum kelahiran We Oddang Riu, aku telah mendapat Petunjuk dari Yang Maha Kuasa mengenai apa yang harus aku lakukan untuk menjaga keseimbangan itu melalui putri kita.”

“Jika memang seperti itu, lalu apakah gerangan Petunjuk dari Yang Maha Kuasa, Batara Guru?” Tanya Permaisuri dengan perasaan yang mulai gelisah tidak menentu.

“Petunjuk itu menyiratkan, bahwa putri kita sesungguhnya adalah milik untuk semua dan bukanlah milik dari seseorang saja. Dengan demikian adalah berarti We Oddang Riu tidak dapat menjadi milik bagi seorang pun perjaka di Kahyangan ini. Ia harus dipersunting oleh alam semesta, dinda.”

“Dengan cara bagaimana putri kita harus dipersunting oleh alam semesta, wahai penguasa Kayangan?”

“Aku masih memikirkan cara yang terbaik dan akan menimbangnya secara bijaksana dan seadil mungkin, permaisuriku,” kata Batara Guru dengan suara yang semakin berat.

Sementara itu di seantero Kahyangan, para penduduk negeri dengan tenang tetap menjalankan keseharian mereka seperti biasa. Segala sesuatunya berjalan secara teratur sebagaimana yang sudah-sudah.

Hingga pada suatu hari keadaan teratur itu perlahan mulai berubah dan menunjukkan ketidakseimbangan. Perubahan itu perlahan mulai dirasakan oleh para penghuni Kahyangan.

Salah satu perubahan itu adalah para penghuni Kayangan mulai merasakan bosan memakan tawaro (sagu), makanan pokok di Kayangan selama ini. Mereka mulai berkeinginan untuk merasakan makanan pokok yang berbeda dan jauh lebih lezat dibanding sagu (tawaro).

Batara Guru mengetahui akan hal ini. Batara Guru kemudian mencoba meminta Petunjuk dari Yang Maha Kuasa. Dari hasil semedinya yang dilakukan selama tujuh hari tujuh malam, akhirnya Batara Guru berhasil mendapatkan ilham.

Berdasarkan ilham tersebut, kemudian Batara Guru mengeluarkan pengumuman kepada seluruh penghuni Kayangan. Pengumuman itu antara lain memberitahu penghuni Kayangan, bahwa Batara Guru akan menciptakan sebuah jenis makanan lezat yang tiada taranya sebagai pengganti sagu. Para penghuni Kayangan menyambut gembira pengumuman itu.

Di hadapan para penghuni Kayangan, Batara Guru bersabda penuh wibawa:

“Wahai rakyatku. Aku telah memutuskan untuk mengganti sagu dengan jenis makanan yang rasanya jauh lebih lezat tiada tara. Semoga kebijakan ini dapat diterima dan tidak dapat diganggu gugat oleh siapapun manakala kebijakan ini telah berlaku!”.

Seluruh penghuni Kayangan bersorak gembira gegap gempita sebagai tanda setuju dengan kebijakan Batara Guru.

“Hidup Batara Guru! Hidup Batara Guru! Hidup Batara Guru!!” teriak mereka saling bersahutan.

“Perlu kalian ketahui, bahwa makanan yang jenisnya sama sekali baru ini bukan hanya dapat dinikmati oleh penduduk Kayangan namun juga dapat dinikmati oleh seluruh manusia penghuni Dunia Tengah maupun Dunia Bawah!”.

Seluruh penghuni Kayangan penuh takzim menyimak setiap kalimat yang keluar dari mulut Batara Guru.

Kemudian Batara Guru melanjutkan sabdanya:

”Kebijakan pertama adalah menurunkan putriku, We Oddang Riu ke Dunia Tengah di atas permukaan bumi. Keputusan ini berdasarkan ilham yang telah aku terima dalam semedi. Aku akan menurunkan raga putriku ke bumi namun jiwanya tetap abadi bersemayam dalam istananya di Kayangan”.

” Adapun kebijakan kedua berlaku setelah kebijakan pertama telah dilaksanakan, yaitu memunculkan jenis makanan lezat yang kalian dambakan. Demikian titah ini telah aku sampaikan dan semoga dapat menjaga keseimbangan alam semesta sesuai aturan yang telah Digariskan oleh Sang Maha Pencipta.”

Sebahagian besar penghuni Kayangan terhenyak kaget mendengarkan sabda Batara Guru. Mereka yang terkejut terutama adalah para pemuda-pemuda tampan yang selama ini jatuh cinta kepada We Oddang Riu.

Keputusan Batara Guru untuk menurunkan We Oddang Riu ke Dunia Tengah berarti memupuskan harapan mereka untuk mempersunting gadis cantik itu. Namun mereka segera tersadar bahwa segala titah dari Batara Guru selaku penguasa Kayangan adalah merupakan hukum yang tidak dapat diganggu gugat oleh siapa pun.

Mereka harus menerima kenyataan ini dengan lapang dada. Hukum telah ditetapkan di Kayangan. Tidak ada yang bisa menolaknya termasuk Si Cantik Jelita We Oddang Riu sendiri.

Sebagai anak yang patuh dan berbakti terhadap orangtua, We Oddang Riu tentu saja menerima titah ayahandanya tercinta. Ia pun percaya bahwa keputusan itu tentunya sudah dipertimbangkan untuk kebaikan bersama.

Pada hari Ahad sesuai perhitungan almanak di Kayangan, sesuai petunjuk Batara Guru maka dimulailah ritual khusus menurunkan raga We Oddang Riu ke bumi. Jiwanya dipisahkan dari raganya. Jiwanya disemayamkan dalam istananya yang indah di Kayangan.

Jiwa We Oddang Riu diberi nama “Sangiang Seri” yang artinya penjaga keseimbangan dan sumber kehidupan. Sementara raganya dipotong sehalus-halusnya lalu dimasukkan ke dalam guci emas.

Setelah 70 hari 70 malam kembali dilakukan ritual khusus untuk membuka guci itu. Ketika guci dibuka, terciumlah bau harum semerbak memenuhi Kayangan. Di dalam guci raga We Oddang Riu telah menghilang. Raganya telah menjelma menjadi setangkai tanaman yang jenisnya belum pernah ada sebelumnya.

Sang Permaisuri, Datu Palinge mengambil tanaman tersebut lalu diserahkan kepada Batara Guru. Kemudian Batara Guru memerintahkan kepada pasukan kepercayaannya yang berkekuatan 3000 kesatria, terdiri dari 1500 prajurit pria dan 1500 prajurit wanita. Mereka diperintahkan untuk mengantar tanaman itu ke pusat bumi untuk ditanam dan dijaga.

Batara Guru bersabda:

”Tanaman yang berasal dari jasad putriku ini kuberi nama Ase (padi). Kalian tanamlah di pusat bumi. Kalian juga kutugaskan untuk menjaga tanaman ini agar tidak dirusak oleh makhluk apapun”.

“Kalian juga diamanahkan untuk mengawasi penghuni bumi agar mereka senantiasa turut menjaga dan merawat padi ini.

“Pada waktu-waktu tertentu mereka harus melakukan ritual yang semestinya. Ingatkan pada mereka, bahwa jika mereka tidak mengikuti aturan dan tidak bersyukur kepada Sang Maha Pencipta, tanaman padi tidak akan berbuah.”

Rombongan pasukan prajurit kepercayaan Batara Guru yang membawa tangkai padi itu dikenal sebagai Pasukan Karellae. Karellae bermakna tiga warna karena pakaian pasukan ini memiliki tiga macam warna.

Pasukan wanita dilengkapi dengan senjata khusus yang dinamakan rakkapeng (ani-ani). Kelak di kemudian hari rakkapeng ini dijadikan sebagai alat untuk memotong beberapa helai padi sebagai tanda memulai panen padi di bumi.

Keberangkatan Pasukan Karellae menuju bumi ternyata diam-diam diikuti oleh sekelompok pemuda Kayangan yang selama ini jatuh cinta kepada We Oddang Riu. Mereka rupanya merasa sakit hati dengan keputusan Batara Guru. Mereka bersepakat untuk melampiaskan rasa sakit hati mereka dengan berupaya merusak tangkai padi jelmaan raga We Oddang Riu di bumi.

Sementara Pasukan Karellae berusaha melaksanakan tugasnya dengan baik. Mereka menanam tangkai padi itu di pusat bumi. Mereka juga dengan setia melindungi tangkai padi itu dari segala gangguan para makhluk perusak di bumi.

Setelah 70 hari 70 malam, tangkai padi itu pun tumbuh subur di permukaan bumi. Jasad We Oddang Riu telah menjelma menjadi padi yang dapat diolah menjadi berbagai macam makanan lezat.

Bagian dari jalinan rambutnya yang panjang menjadi pohon kelapa yang semua bagiannya dapat dimanfaatkan manusia. Daging buahnya dapat dimakan dan airnya dapat dijadikan minuman segar maupun sebagai obat. Pakaiannya pun menjadi bermacam sayuran.

Tiara, mahkota bersusun tiga, cincin, dan gelangnya menjadi beraneka jenis ikan dan belut yang dapat hidup di air tawar.

Sementara itu sekelompok pemuda Kayangan yang berniat mengganggu tanaman padi dikutuk oleh Batara Guru menjadi bermacam binatang, yaitu walang sangit (anango), bubuk (bebbu), ane (anai), tikus, dan babi hutan. Mereka senantiasa berupaya mengganggu dan merusak tanaman padi. Namun mereka selalu dapat dihalau oleh Pasukan Karellae yang selalu setia menjaga padi.

Senjata rakkapeng milik pasukan wanita Karellae diwariskan kepada para perempuan petani di bumi. Sebelum padi dipanen atau mengngala, petani melakukan ritual yang disebut mappammula (memulai).

Di sinilah peran perempuan yang biasanya ditunjuk khusus melaksanakan ritual khusus tersebut dengan mengambil beberapa helai padi dengan menggunakan rakkapeng. Padi yang telah diambil tersebut diletakkan di bagian tengah rumah atau biasa disebut “alliri tengngae”.

Setelah panen padi dan padi terkumpul di rumah, lalu sebagian sudah diolah menjadi beras. Ritual berupa syukuran atas berkah dari Yang Maha Kuasa pun dilakukan. Ritual itu disebut “salama’ manre ase baru” dengan mengundang keluarga dan tetangga.

Ritual lainnya yang biasa dilakukan petani adalah “massellu’ tanah”. Ritual ini biasanya dilakukan sekali dalam setahun. Tujuannya untuk kesyukuran atas berkah yang melimpah dari Yang Maha Kuasa serta penghargaan pada tanah dan para pasukan penjaga padi.
Agar senantiasa dapat menjaga padi setiap saat.

Pasukan Karellae merubah bentuk mereka menjadi kucing dengan bulu tiga warna. Kucing-kucing ini kemudian dikenal sebagai Meongpalo Karellae, yaitu kucing pelindung padi dari serangan tikus. Meongpalo Karellae adalah kucing jantan yang berbulu tiga warna, yakni hitam, coklat, dan putih.

Kehadiran kucing-kucing itu membuat takut tikus dan hama lainnya yang akan mendekati padi. Berdasarkan salah satu pesan Batara Guru, dengan maksud untuk menjaga keseimbangan alam, kucing-kucing itu sengaja tidak pernah membunuh tikus.

Meongpalo Karellae memang hanya ditugaskan untuk menjaga padi. Berdasarkan hal itu, tikus dipercaya oleh petani sebagai bagian dari harmonisasi kehidupan, oleh sebab itu keberadaannya pun harus dihargai. Tikus adalah salah satu jelmaan dari makhluk Kayangan yang dikutuk menjadi makhluk penghuni Dunia Bawah.

Petani seringkali mengucapkan,”anreni saisa’ assaleng aja’ muanre manengngi” ( silakan makan seperlunya asalkan jangan dihabiskan semua).

Hal ini menunjukkan bahwa, di tengah padi yang subur itu tidak semuanya milik manusia, sebab ada pula yang menjadi milik makhluk lainnya. Itulah sebabnya petani zaman dahulu tidak pernah membunuh tikus.

Berbeda dengan perilaku petani sekarang yang membunuhi tikus secara massal. Petani dahulu percaya bahwa perilaku jahat pada tikus justru akan semakin menimbulkan bala atau tikus akan semakin buas memakan padi.

Sementara itu Meongpalo Karellae saat ini sudah sangat sulit ditemui, yang ada biasanya hanya kucing biasa satu warna atau dua warna. Para petani zaman dahulu berpendapat, bahwa apabila di suatu kampung masih ada kucing terutama jenis Meongpalo Karellae yang melintas di tengah jalan, itu artinya sumber-sumber penghidupan masih sangat baik.

Itulah sebabnya pada saat petani melakukan ritual syukuran pascapanen, kucing yang hidup di rumah mereka juga diberi makanan khusus yang lezat dan layak.

Kini kucing sudah jarang sekali dipelihara di rumah-rumah penduduk. Mereka dimusuhi sebab dianggap sering mencuri makanan serta bisa mengotori rumah. Padahal, kucing adalah makhluk ajaib yang merupakan sahabat manusia sejak dahulu kala.

Sekarang ini manusia terdapat indikasi tidak menjaga keseimbangan lingkungan hidup. Mereka semakin rakus tanpa mempedulikan mahluk lain di sekitarnya.

N1
loading...