Soeharto menjadi Presiden Indonesia yang kedua setelah kekuasaan Soekarno tumbang. Kekuasaan Soeharto selama menjadi presiden terbilang cukup lama, yaitu selama 32 tahun.

Pada tahun 1998, kekuasaan Soeharto mulai goyah. Hingga pada puncaknya, kekuasaan Soeharto benar-benar jatuh pada Mei ‘1998

Salah satu ketakutan yang pernah dirasakan oleh Soeharto saat dielu-elukan oleh bocah SD beberapa tahun silam. Di mana presiden yang terkenal murah senyum ini memiliki sebuah kebiasaan semasa menjadi Presiden Republik Indonesia.

Kebiasaan Soeharto itu adalah langsung turun ke bawah. Hal itu bertujuan untuk memastikan apakah pembangunan berjalan sebagaimana mestinya.

Terkait kegiatan Soeharto yang turun ke masyarakat, sebuah pengakuan disampaikan oleh Kunarto, yang pernah menjadi Wakil Ketua Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) saat itu.

Pak Kunarto menceritakan kisah itu dalam buku “Pak Harto The Untold Stories”.

Suatu ketika, Soeharto hendak meresmikan pompa air tanah di Caruban, Madiun, Jawa Timur. Saat itu, di sepanjang perjalanan dia ditemani oleh Wahono yang kala itu menjabat sebagai Gubernur Jawa Timur.

Menjelang di Caruban, konvoi berjalan lambat. Ternyata di tepi jalan, ada ribuan bocah SD yang melambaikan sejumlah bendera merah putih berukuran kecil.

Soeharto ternyata tak suka ketika melihat bocah SD lucu mengelu-elukan dirinya. Ucapannya pun terbukti saat dia jatuh.

Soeharto kemudian menurunkan kaca jendela mobil yang ditumpanginya. Soeharto lalu tersenyum, dan melambaikan tangannya. Namun, tiba-tiba saja sebuah pertanyaan meluncur dari mulut Soeharto.

“Pak Gub, orang mengira saya senang dielu-elukan dan disoraki anak-anak ini, padahal hati saya tidak begitu. Kenapa, coba?” tanya Soeharto seperti yang ditirukan oleh Kunarto.

Ditanya seperti itu, Wahono rupanya hanya terdiam, dan tidak mengeluarkan jawaban sama sekali. Beberapa saat kemudian, Soeharto melanjutkan perbincangannya.

Soeharto justru merasa takut, dan khawatir terhadap hal itu.

“Yang ada di pikiran saya, sepuluh tahun lagi mereka akan memasuki pusaran kerja. Jika mereka sulit mendapat kerja, mereka akan mengecam saya. Memang sekarang kelihatannya lucu-lucu, tetapi sepuluh tahun lagi tuntutannya banyak sekali,” lanjut Soeharto kala itu.

Pembicaraan itu sempat terhenti saat mereka tiba di tempat acara. Selain itu, mereka juga sempat bertemu dengan para peserta Kelompencapir. Tau nggak apa itu kelompencapir?

(Kelompencapir adalah pertemuan untuk petani dan nelayan di Indonesia yang dicetuskan pada masa pemerintahan Presiden Soeharto. Kegiatan itu mengikutkan petani-petani berprestasi dari berbagai daerah. Mereka diadu kepintaran dan pengetahuannya seputar pertanian, antara lain soal cara bertanam yang baik dan pengetahuan tentang pupuk dengan model mirip cerdas cermat.

Program itu ikut andil di kala Indonesia mencapai swasembada pangan dan mendapatkan penghargaan dari FAO pada tahun 1984. Sekarang program Kelompencapir lenyap. Padahal kegiatan dialog interaktif itu terbukti efektif sebagai media komunikasi antara pemimpin dan masyarakatnya. Kabinet sekarang boleh dikatakan tidak memikirkan masalah rakyat.

Kebutuhan sehari-hari masyarakat seperti cabai, beras, dan kebutuhan lain tidak pernah dibahas dalam sidang kabinet lagi. Di sisi lain, rakyat sangat mendambakan komunikasi langsung antara pimpinan dan rakyatnya tentang kebijakan terbaru pembangunan Indonesia.

Kegiatan kelompok pendengar, pembaca, dan pemirsa (Kelompencapir) saat ini dirindukan masyarakat. Pasalnya, ajang silaturahmi antara pejabat pemerintah dan masyarakat di perdesaan itu sangat efektif sebagai media komunikasi langsung antara pemimpin dan rakyatnya yang terkait dengan masalah masyarakat sehari-hari).

Lanjut dari cerita awal …
Pembahasan masalah itu kembali terjadi begitu acara selesai. Sementara Wahono yang berusaha menenangkan Soeharto, menanggapi masalah bocah SD tersebut.

“Yang nanti, dipikir nanti sajalah Pak,” ucap Wahono.

Mendapatkan jawaban seperti itu, Soeharto malah menyanggahnya.

“Lho ya ndak (tidak) bisa begitu toh, Pak Gub. Kita tidak boleh meninggalkan bom waktu pada pengganti kita. Itu sama saja berbuat tanpa mau bertanggung jawab. Yang benar itu ya sekarang ini direncanakan dan dikendalikan. Stop produksi anak, misalnya. Galakkan transmigrasi dan seterusnya. Jadi sejak kecil anak-anak sudah siap menghadapi kenyataan,” sanggah Soeharto.

Soeharto kemudian masih melanjutkan pembicaraan itu.

“Buat saya, banyak penduduk itu tidak apa, asal mereka penduduk produktif dan tidak membebani negara. Penduduk banyak itu sebenarnya kekuatan, sepanjang mereka mampu bekerja dan membangun. Tetapi kalau cuma bisa makan dan menganggur, mereka akan menjadi beban selamanya,” tandas Soeharto.

BACA JUGA :  Sejarah Arung Tibojong Ade' Pitu

Apa yang menjadi kekhawatiran Soeharto itu rupanya terbukti di kemudian hari.

Tepatnya, saat kekuasannya tumbang. Indonesia dilanda krisis ekonomi, dan bermunculan banyak pengangguran.

Tidak hanya itu, masih menurut Kunarto, banyak cercaan yang diterima Soeharto saat gerakan reformasi meletus di tahun 1998.

“Setelah itu berbagai cercaan dilontarkan kepada Pak Harto. Sakit hati betul saya. Hujatan-hujatan itu semuanya mencampakkan begitu saja jasa-jasa Pak Harto selama masa-masa beliau memimpin pembangunan bangsa ini dari berbagai sisi kehidupan rakyat,” kata Kunarto.

Pengakuan mantan pengawal soal jumlah uang Soeharto

Soeharto menjadi Presiden Indonesia yang kedua setelah kekuasaan Soekarno tumbang. Kekuasaan Soeharto selama menjadi presiden terbilang cukup lama.

Meski telah jatuh, namun Soeharto masih meninggalkan kenangan bagi sejumlah orang, tidak terkecuali para pengawalnya. Satu di antaranya adalah Letjen TNI Purnawirawan Soegiono.

Dalam buku “Pak Harto The Untold Stories” yang diterbitkan pada tahun 2012, Soegiono mengaku pernah menjadi ajudan Soeharto.

Saat dipilih, dia sedang menjabat sebagai Komandan Brigade Lintas Udara 17 Kostrad. Soegiono mengaku memiliki sejumlah kenangan selama menjadi ajudan Soeharto.

Satu di antaranya terkait pakaian yang dikenakan oleh Soeharto. Menurutnya, Soeharto merupakan orang yang bandel apabila sudah berurusan dengan pakaian kesayangannya.

“Beberapa kali saya meminta pengurus rumah tangga agar menyimpan saja celana dan kaus golf Pak Harto yang usang, tetapi beliau malah menanyakan celana dan kaus yang biasa dipakainya,”ujar Soegiono dalam buku itu.

Tidak hanya itu, Soeharto kemudian meminta kaus barunya yang sudah disiapkan Soegiono di dalam koper untuk dikeluarkan.

Bukannya dikenakan, kaus-kaus baru itu justru dibagikan Soeharto kepada staf yang lainnya. Sehingga, Soeharto tetap mengenakan kaus yang lama saat bermain golf.

Oleh karena itu, Soegiono pun heran saat banyak orang yang menghujat Soeharto.

“Cobalah kita pikirkan kembali, siapakah yang menikmati apa yang sudah diperjuangkan Pak Harto selama hidupnya,selain kita semua?”kata Soegiono.

Selain itu, menurut Soegiono juga masih ada orang yang menuduh Soeharto menyimpan uang triliunan.

“Malah saya juga dibilang sebagai penyimpan uang Pak Harto. Saya berani katakan bahwa saya tahu persis berapa besar uang yang dimiliki Pak Harto,”ucap Soegiono.

Soegiono mengungkapkan, Soeharto memiliki rasa kepedulian terhadap banyak hal yang terkait kemanusiaan.

Di antaranya kesejahteraan keluarga para veteran, keluarga prajurit, pendidikan untuk anak-anak tidak mampu, pemberdayaan ekonomi rakyat, pelestarian budaya, dan masih banyak lagi.

Bahkan, Soegiono berpendapat semua yayasan yang dimiliki Soeharto memang ditujukan untuk hal itu.

“Ketika orang lain mencerca yayasan-yayasannya tersebut, Pak Harto pun bergeming. Bahkan, hebatnya, Pak Harto tidak pernah marah atas hujatan-hujatan itu,”tandas Soegiono.

Detik-detik Pak Harto Menundurkan diri

Pada Kamis, 21 Mei 1998 sekitar pukul 09.00, Soeharto sudah mengenakan safari warna gelap dan berpeci. Dengan langkah tenang, dia meninggalkan Ruang Jepara yang ada di Istana Negara menuju Ruang Credentials.

Dia kemudian berdiri di depan mikrofon. Dengan nada suara yang datar, tanpa emosi. Presiden tua itu mengucapkan:

Assalamual’aikum warahmatullahi wabarakatuh

Sejak beberapa waktu terakhir, saya mengikuti dengan cermat perkembangan situasi nasional kita, terutama aspirasi rakyat untuk mengadakan reformasi di segala bidang kehidupan berbangsa dan bernegara.

Atas dasar pemahaman saya yang mendalam terhadap aspirasi tersebut, dan terdorong oleh keyakinan bahwa reformasi tersebut perlu dilaksanakan secara tertib, damai dan konstitusional demi terpeliharanya persatuan dan kesatuan bangsa serta kelangsungan pembangunan nasional, saya telah menyatakan rencana pembentukan Komite Reformasi dan mengubah susunan Kabinet Pembangunan VII.

Namun demikian, kenyataan hingga hari ini menunjukkan Komite Reformasi tersebut tidak dapat terwujud karena tidak adanya tanggapan yang memadai terhadap rencana pembentukan komite tersebut.

Dalam keinginan untuk melaksanakan reformasi dengan cara yang sebaik-baiknya tadi, saya menilai bahwa dengan tidak dapat diwujudkannya Komite Reformasi maka perubahan susunan Kabinet Pembangunan VII menjadi tidak diperlukan lagi.

BACA JUGA :  Mengintip Kehidupan To Lotang Sidrap

Dengan memperhatikan keadaan di atas, saya berpendapat sangat sulit bagi saya untuk dapat menjalankan tugas pemerintahan negara dan pembangunan dengan baik.

Oleh karena itu dengan memperhatikan ketentuan Pasal 8 UUD 1945, dan setelah dengan sungguh-sungguh memperhatikan pandangan pimpinan Dewan Perwakilan Rakyat dan pimpinan fraksi-fraksi yang ada di dalamnya, saya memutuskan untuk menyatakan berhenti dari jabatan saya sebagai Presiden Republik Indonesia, terhitung sejak saya bacakan pernyataan ini pada hari ini, kamis 21 Mei 1998.

Pernyataan saya berhenti dari jabatan sebagai Presiden Republik Indonesia, saya sampaikan di hadapan Saudara-saudara pimpinan Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia yang juga adalah pimpinan Majelis Permusyawaratan Rakyat.

(selanjutnya pidato Soeharto membacakan tulisan tangannya sendiri)

Sesuai dengan Pasal 8 UUD ’45, maka Wakil Presiden Republik Indonesia Prof. H. BJ Habibie yang akan melanjutkan sisa waktu jabatan Presiden Mandataris MPR 1998-2003.

Atas bantuan dan dukungan rakyat selama saya memimpin negara dan bangsa Indonesia ini, saya ucapkan terima kasih dan minta maaf bila ada kesalahan dan kekurangannya. Semoga Bangsa Indonesia tetap jaya dengan Pancasila dan UUD 45-nya.

Mulai ini hari Kabinet Pembangunan ke VII demisioner dan pada para menteri saya ucapkan terima kasih.

Oleh karena keadaan tidak memungkinkan untuk menyelenggarakan pengucapan sumpah di hadapan Dewan Perwakilan Rakyat, maka untuk menghindari kekosongan pimpinan dalam menyelenggarakan pemerintahan negara, kiranya Saudara Wakil Presiden sekarang juga agar melaksanakan pengucapan sumpah jabatan presiden di hadapan Mahkamah Agung Republik Indonesia.

Pidato Pak Harto hanya berlangsung selama 10 menit. Tak ada sesi tanya jawab yang dilakukan. Soeharto menandatangni naskah usai BJ Habibie diangkat sumpah oleh Mahkamah Agung. Dia lalu menyalami anak emasnya itu yang kini juga sudah menghadap Ilahi.

Tanpa ada satu kata pun disampaikan kepada Habibie, Soeharto langsung meninggalkan ruang Credentials. Ditemani putrinya, Mbak Tutut, Soeharto menemui piminan DPR-MPR yang menunggu di Ruang Jepara tanpa tahu apa yang terjadi selama 10 menit lalu itu.

Ketika sampai di ruangan itu, Soeharto menyampaikan dia sudah menyatakan pengunduran dirinya sekaligus serah-terima jabatan presiden kepada BJ Habibie. Sesudah menyampaikan itu, Soeharto keluar dari istana menuruni anak tangga di Istana Merdeka.

Dia menaiki mobil yang sudah menunggunya dan meluncur ke kediamannya di Jalan Cendana No. 8-10. Inilah akhir perjalanan panjang Soeharto yang resmi lengser keprabon (turun tahta), tepat 18 tahun silam.

Ramalan Soeharto di Abad 21 Menjadi Kenyataan

Pak Harto sempat ramal kondisi Indonesia di Abad 21, Tak Disangka Jadi Nyata, Ini Kata Pengamat

Karismanya seakan tak pernah luntur bahkan hinggi dirinya sudah meninggal dunia. Siapa yang tak kenal sosok perubahan di Indonesia ini.

Tahukah Anda, saat masih menjabat sebagai presiden, Soeharto ternyata pernah meramalkan kondisi yang akan dialami oleh Indonesia pada abad 21 ini.

Itu seperti yang terdapat dalam buku “Sisi Lain Istana, Dari Zaman Bung Karno sampai SBY”, karangan J Osdar.

Dalam buku yang terbit pada tahun 2014 itu, Osdar mengungkapkan jika ramalan tersebut disampaikan Soeharto pada 5 September 1996.

Tepatnya, saat menyampaikan pidato pembukaan Pekan Kerajinan Indonesia ke-7, di Istana Negara, Jakarta.

Saat itu, Soeharto meramalkan pada abad ke-21 peranan utama dalam kehidupan, dan pembangunan bangsa Indonesia terletak di tangan rakyat.

“Beberapa tahun lagi abad ke-20 akan kita tinggalkan dan kita akan memasuki abad ke-21. Berbeda dengan abad ke-20, abd ke-21 yang akan datang adalah zaman yang mengharuskan semua bangsa meningkatkan kerja sama yang erat. Di lain pihak, juga merupakan zaman yang penuh dengan persaingan yang ketat,” tulis Osdar menirukan ucapan Soeharto saat itu.

Lebih lanjut, menurut Soeharto saat itu pada tahun 2003 kawasan Asia Tenggara akan menjadi kawasan perdagangan bebas.

Selain itu, pada tahun 2010, kawasan Asia Pasifik akan membuka diri bagi masuknya barang dan jasa dari negara-negara berkembang sebagai wujud kerja sama APEC.

“Tahun 2020 kita harus membuk lebar-lebar pasar kita bagi produk-produk negara maju. Perkembangan ini akan membawa pengaruh besar bagi kehidupan dan pembangunan bangsa kita,” kata Soeharto.

BACA JUGA :  Sejarah Lapangan Merdeka Watampone

Soeharto seolah ingin menunjukkan pentingnya mengembangkan industri kecil dan kerajinan rakyat untuk menghadapi abad ke-21

Dalam kenyataannya Soeharto jatuh sebelum memasuki abad ke-21. Terkait dengan buku tersebut, pengamat buku Sukardi Rinakit menyatakan ramalan Soeharto itu benar adanya.

Menurutnya, krisis segala bidang pada tahun 1998 telah mencapai puncaknya. Namun, ekonomi bisa selamat karena kreativitas rakyat dalam usaha kecil dan menengah.

Krisis ekonomi 1998 teratasi karena kreativitas rakyat dalam usaha kecil dan menengah. Berkat penyelamatan itu, usaha besar juga bisa tumbuh.

Sejumlah jenderal Angkatan Darat diculik pada tanggal 30 September 1965. Peristiwa itu kemudian lebih dikenal sebagai G30S/PKI.

Bahkan, sampai saat ini, peristiwa tersebut masih menjadi kontroversi. Meski demikian, sejumlah tokoh pun juga pernah berbicara mengenai peristiwa itu, dan berbagai hal yang melatarbelakanginya.

Itu seperti yang disampaikan oleh seorang politisi yang pernah menjabat sebagai anggota MPR RI, Pontjo Sutowo.

Kisah itu disampaikan Pontjo dalam buku berjudul “Pak Harto, The Untold Stories”.

Dalam buku itu, Pontjo menceritakan, suatu saat menjelang Konferensi Tingkat Tinggi APEC pada tahun 1994, dia pernah hanya berdua dengan Soeharto.

Kala itu, Soeharto sedang melakukan inspeksi persiapan acara di Istana Bogor. Ruangan demi ruangan yang ada di Istana Bogor pun mereka lewati.

“Saya lewat sini bersama Bung Karno. Saya berbicara sangat dekat dengan Bung Karno untuk menyampaikan bukti keterlibatan Partai Komunis Indonesia (PKI) dalam pemberontakan bersenjata,” kata Pontjo menirukan ucapan Soeharto kala itu.

Pontjo menyebutkan, saat itu Soeharto mengaku sudah membawa barang bukti berupa senjata Tjung yang berhasil dirampas dari tangan Pemuda Rakyat di Lubang Buaya, setelah RPKAD masuk ke wilayah Halim.

“Bantuan senjata jenis ini dari RRC mengemuka ketika PKI mengusulkan dipersenjatainya kaum buruh dan petani sebagai Angkatan Kelima,” ujar Pontjo.

Saat itu, Presiden Soekarno dalam kondisi sangat berkuasa. Oleh karena itu, Soeharto pun berusaha meyakinkan Soekarno bahwa dirinya tidak bermaksud merebut pengaruh, dan kekuasaan dari tangan Soekarno.

Soeharto juga ingin menunjukkan bahwa PKI-lah yang berada di balik semua itu.

Pak, ini bukti bahwa PKI mengkhianati Bapak,” kata Pontjo menirukan ucapan Soeharto kepada Soekarno.

Bahkan, saat itu Soeharto juga sempat mengulangi kalimatnya kepada Soekarno.

“Saya waktu itu menghadap Panglima Tertinggi, kan?” kata Pontjo lagi-lagi menirukan perkataan Soeharto.

Dalam hati Pontjo pun bertanya-tanya tentang alasan Soeharto menceritakan masalah itu kepadanya.

“Yang pasti peristiwa itu menambah keyakinan saya bahwa Pak Harto sudah mengingatkan Bung Karno tentang pengkhianatan yang dilakukan PKI,” tutup Pontjo.

Pemain film “Pengkhianatan G30S/PKI” ungkap alasan Soeharto tak pernah gunakan bahasa asing saat pidato

Dalam berbagai kesempatan, Soeharto tidak pernah menggunakan bahasa asing saat berpidato. Soeharto memang selalu berpidato menggunakan bahasa Indonesia. Hal itu berbeda dengan Soekarno.

Terkait hal itu, soerang pemain film yang juga pernah memerankan tokoh Soeharto dalam film “Pengkhiatan G30S/PKI”, Amoroso Katamsi, mengungkapkan penyebab Soeharto tak pernah gunakan bahasa asing saat berpidato.

Dalam buku “Pak Harto, The Untold Stories”, dia pernah menanyakan hal itu kepada orang dekat Soeharto, Gufron Dwipayana.

Menurutnya, terdapat dua alasan yang menyebabkan Soeharto selalu menggunakan bahasa Indonesia saat berpidato.

Alasan pertama karena Soeharto sangat menghargai bahasa Indonesia.

“Coba kamu lihat pemimpin-pemimpin dunia lainnya, misalnya dari Jepang atau China, mereka berpidato menggunakan bahasanya sendiri. Apalagi kalau berunding, kan mewakili bangsa, jangan sampai terjadi kesalahan karena akan berbahaya,” katanya menirukan ucapan Soeharto.

Alasan lainnya, Soeharto khawatir penguasaan bahasa Inggrisnya kurang tepat untuk berunding.

“Jadi lebih baik orang lain yang ahli bahasa saja yang menerjemahkan omongan saya,” lanjutnya menirukan Soeharto.

Bagi putra putri Indonesia yang lahir belakangan tentu hanya bisa mengetahui tentang Pak Harto lewat cerita dan kisah, bahkan ada diantara mereka menjelek-jelakkannya. Namun bagi mereka yang tumbuh dewasa pada masa pemerintahannya tentu akan membandingkan pemerintahan yang sekarang. Pak Harto Memang Hebat dan Jauh Lebih Unggul.