Tuah Bugis Dua Temmassarang Tellu Temmallaiseng

Sangat banyak petuah-petuah berbahasa Bugis yang sering dituturkan leluhur kita. Sebagai warga yang tumbuh besar di kampung Bugis tepatnya salah satu desa di bilangan Bone Utara.

Sejak kecil saya banyak mendengar kata-kata bijak leluhur Bugis, dalam berhubungan sosial misalnya Siatting lima, Sitonra ola, tessibelleang, Tessipano, Sipakatau, Sipakainge, Sipakalebbi, Malilu Sipakainge, dan lain-lain.

Adapula tutur kata Bugis yang yang sifatnya sastra, misalnya Duami Riala Sappo Unganna Panasae Belona Kanukue yang bermakna Unganna Panasae disebut Lempu yang berarti lurus/jujur kemudian Belona kanukue yang bermakna Pacci/Paccing yang berarti Bersih. Sebelumnya adalah Duami Riala Sappo yang bermakna hanya dua yang dijadikan sebagai pagar (Sappo).

Jadi ada dua unsur yang melekat dalam diri orang Bugis dalam melakoni hidup yakni Lempu (lurus/jujur) dan Paccing (bersih). Pacci dalam bahasa Indonesia disebuat daun pacar yang biasa digunakan untuk pewarna kuku.

Selain itu ada juga ungkapan penyemangat hidup “Resopa Temmangingngi Malomo Naletei Pammase dewata” dalam bahasa Indonesia adalah “hanya dengan kerja keras dan ketekunan akan mudah mendapatkan ridha Tuhan”. Hal ini bermakna dalam hidup ini untuk mendapatkan cita dan harapan haruslah bekerja keras dengan tekun, sabar, tabah, pantang menyerah.

Orang Bugis dikenal pantang menyerah dan gigih dalam berusaha. Pepatah inilah Resopa Temangingngi Namalomo Naletei Pammase Dewata yang selalu dipegang kuat sebagai pemicu semangat dalam meniti hidup. Ini juga dijadikan motivasi bagi mereka yang meninggalkan tanah Bugis ke tempat perantauan.

Tak jarang juga terdapat kata-kata bijak orang Bugis yang memiliki makna spiritual tinggi, misalnya Lima Temmassarang Asera Temmallaiseng selain itu ada juga kalimat seperti Dua Temmassarang Tellue Temmallaiseng dan lain sebagainya.

BACA JUGA :  Perbedaan kata TAU dan TO dalam bahasa Bugis

Tapi sayang sekali kearifan lokal Bugis di atas banyak ditinggalkan generasi Bugis sekarang jangankan mengetahui apalagi memahami terlebih makna yang terkandung di dalamnya.

Yang menjadi keprihatinan kita adalah dimasa mendatang bukan mustahil generasi penerus Bugis lebih memahami budaya luar dari pada budayanya sendiri, bahkan sudah tidak mampu lagi menuturkan bahasa Bugis.

Baik, mari kita memasuki pokok persoalan, saya hanya akan menguraikan sedikit makna tentang kalimat DUA TEMMASSARANG TELLU TEMMALLAISENG sesuai yang sering saya dengar dari orang tua sejak kecil.

Ungkapan Bugis DUA TEMMASSARANG TELLU TEMMALLAISENG dalam bahasa Indonesia adalah DUA TAK TERCERAIKAN TIGA TAK TERPISAHKAN. Kalimat ini memiliki makna yang sangat dalam yang bersifat spritual dan bisa menghasilkan beragam penafsiran.

Kata DUA TEMMASSARANG (dua yang tak terceraikan) ini adalah antara Pencipta dan yang diciptakan yakni antara TUHAN dengan HAMBA. Keduanya berbeda tapi tidak terceraikan dan tidak mungkin terpisahkan. Artinya, bahwa Hamba adalah bagian dari Tuhan, namun hamba bukanlah Tuhan.

Ketika tidak ada hamba siapa yang bertindak sebagai Tuhan?, dan ketika tidak ada Tuhan siapa selaku hamba? Oleh karena itu, Hamba adalah bagian dari Tuhan, akan tetapi hamba bukanlah Tuhan. ” Pajeppui Alemu Esseri Pawinrumu, Pajeppui Alemu Temmupada Pawinrumu”. Kenalilah Dirimu yakinlah yang menciptakanmu, Kenalilah Dirimu namun tidak sama yang menciptakanmu.

Kalimat selanjutnya TELLU TEMMALLAISENG yang berarti TIGA TAK TERPISAHAN yang artinya jika salah satunya mengalami masalah maka yang lainnya pun ikut bermasalah, salah satunya yang sakit maka yang lainnya pun turut sakit.

Jadi yang termaktub di dalam TELLU TEMMALLAISENG adalah Ininnawa (kata hati), Werekkada (ucapan), dan Pangkaukeng/Ampekedo (perbuatan). Maksudnya ketika kata hati/ininnawa selaras dengan ucapan/werekkada, maka perbuatan dan tindakan begitupun adanya.

BACA JUGA :  Struktur Organisasi Bissu Masa Lalu

Oleh karena itu, apabila dipadukan dengan makna kedua kalimat DUA TEMMASSARANG TELLU TEMMALLAISENG yakni antara Tuhan dan Hamba tidak terpisahkan dan jalani hidup seiring niat, ucapan, dan perbuatan. Hal ini sejalan dengan konsep tuntunan kesempurnaan hidup manusia yaitu “Ininnawa mpinru sadda, kemudian sadda mpinru Ada, selanjutnya ada mpinru Gau, dan Gau mpinru Tau”. kemudian Tau mpinru Deceng (kebaikan).

Tuah-tuah Bugis ini telah mengakar dalam jiwa setiap orang bugis dan menjadi keyakinan orang Bugis sampai saat ini. Jadi konsep DUA TEMMASSARANG TELLU TEMMALLAISENG merupakan suatu ajaran yang melihat masalah wujud dalam hal ini Tuhan, alam, dan manusia sebagai suatu kesatuan. Namun berada pada dimensinya masing-masing, dan Tuhan meliputi segala yang ada.

Begitu dalam sebenarnya makna dari kata DUA TEMMASSARANG TELLU TEMMALLAISENG namun sayangnya terkadang kita sebagai orang Bugis tidak tertarik untuk mengkaji kearifan dari leluhur kita.

Harus disadari, bahwa kearifan kita menyimpan begitu banyak nilai yang bisa dikaji kemudian diamalkan. Contoh di atas, baru secuil kalimat yang bisa dikemukakan di sini, sesungguhnya kalimat-kalimat di atas banyak tersimpan rapat di mulut para penutur Bugis itu sendiri.

Saya pun terheran-heran atas kecerdasan yang dimiliki para pendahulu Bugis yang mampu mengolong-golongkan antara kehidupan nyata dan tidak nyata kemudian dijadikannya sebagai SIMA’/Jimat hidup sehingga mampu memecahkan segala permasalahan hidupnya dan mampu menembus batas alam nyata dan tak nyata.

Terakhir, marilah kita jaga kearifan lokal kita agar bisa berkesinambungan, ambillah yang dianggap baik dan singkirkan yang kurang baik. Tentunya kembali kepada pembaca sendiri.

Sebagaimana petuah Bugis :

” Tenrinawa kessinna bunga sitakke rilipu tenritae, uni manu, gilittinro tengnga benni rilaleng nippi-nippie”.

BACA JUGA :  Sejarah Arajang di Kabupaten Bone

“Ininnawa sumange bunga ripalla riwiring passiring, mattakke, madduang, mabbuah, mattappa unga ulaweng”.