tsunami palu yang pilu

tsunami
begitu buruk kusebut namamu
seburuk wajahmu yang bengis
lidahmu yang congkak menjulur
menjilat-jilat tak malu

tsunami
tubuhmu panjang bertali-tali
memilintir tangan-tangan kecil
bak serigala yang lapar yang galak
melumat apa yang ada

tsunami
amat rakus laparmu
apa yang membuatmu marah padaku
airmu yang keruh biru
kau tumpahkan bisa berbusa

tsunami
mengapa datang tak terundang
gerangan siapa yang memanggilmu
ku tak butuh bibirmu yang sinis
menginjak kami hidup-hidup

tsunami
airmu yang basah menerjang terjang
menggelindingkan batu pusara
orang-orang menjerit-jerit
kau merampas sahabat karibku

tsunami
hadirmu mengiris amat pilu
pergilah pintaku dalam doa
biarlah aku menyepi sendiri
kan kugalikan liang-liang lahat
rumah sahabat handai tolanku

tsunami
pergilah jangan bawa sajadahku
itu kain tikar para kesumah
tuk pembungkus jiwa yang mati
sebab laknat-laknatmu

tsunami
tidurlah dalam nyenyak yang pulas
tinggalkan aku sejuta luka
mustahil aku menuntutmu
kecuali pengadilan azab Tuhanku

dinihari,30-9-2018

BACA JUGA :  Yabelale, Paseng Riati Orang Bugis Masa Lalu