Tradisi Barzanji pada Suku Bugis

Salah satu tradisi masyarakat Bugis Bone yang bertahan hingga saat ini adalah pembacaan kitab al Barzanji dalam berbagai siklus kehidupannya. Bagi masyarakat Bone, istilah Barzanji lebih dikenal dengan menggunakan kata “mabbarazanji”.

Mabbarzanji merupakan bentuk kata kerja yang berarti membaca kitab al-Barzanji pada tiap hajat masyarakat, yang berisi riwayat hidup Nabi Muhammad SAW, salawat maupun doa yang dibaca secara bersama-sama dan bergantian yang dipimpin oleh seorang imam atau seorang uztaz.

Umumnya, masyarakat di Kabupaten Bone dalam setiap hajatnya selalu dirangkaikan dengan pembacaan kitab al-Barzanji, sebagaimana ungkapan Bugis

” Naiyyaro Barzannjie pangedereng na toha to Bone-e, narekko engka napigau-pigau tau-e pasti mabbarazanji, lecce’ bola, mappetettong bola, ma sunna’, mappa botting, menre’ Mekkah, narekko polei Mekkah ri duppai barazanji, makkotoparo narekko ma maulid ”

” mabbarazanji pura mancaji abiasanna ro idi to Bone-e, maittani ri pigau’na nasaba papolei anu deceng pole ri to matuatta riolo, narimakuannaro idi’ ana’ ri munrie makkecueiki ko ri ade’na to matuatta ”

Jadi segala bentuk kegiatan-kegiatannya yang bersifat keagamaan selalu dirangkaikan dengan pembacaan Barzanji. Seperti aqiqah, pindah rumah baru, pengantin, maupun syukuran lainnya.

Karena salah satu kepercayaan orang bugis Bone rata-rata mengatakan bahwa segala kegiatan keagamaan yang baik-baik itu membawa berkah. Oleh karenanya setiap hajat masyarakat selalu dirangkaikan dengan pembacaan Barzanji yang bertujuan agar hajatnya diberkahi oleh Allah SWT.

Pembacaan Barzanji sudah menjadi bagian dari ade’ (adat kebiasaan) orang Bone, karenanya jika tidak dilakukan pembacaan Barzanji merasa ada yang kurang dalam acara tersebut, bisa dikatakan belum sempurna hajat masyarakat jika tidak dilaksanakan Barzanji.

Oleh karena itu, dapat ditarik simpulan bahwa pembacaan barzanji sudah menjadi bagian dari ade’ orang Bone dalam setiap hajatnya, baik dalam upacara ritual keagamaan maupun ritual budaya.

BACA JUGA :  Ungkapan Toriolo Leluhur Bugis

Masyarkat Bone menilai tradisi ini merupakan tradisi yang baik untuk di pertahankan eksistensinya sebab dalam pelaksanaanya memberikan manfaat bagi kehidupan mereka.

Selain itu, pelaksanaan tradisi ini dijadikan sebagai ungkapan rasa syukur, membumikan salawat, dan sebagai salah satu wadah dalam mesyiarkan Islam. Di mana pada kesempatan itu banyak masyarakat berkumpul. Sehingga ketika membaca Barzanji masyarakat dapat kembali mengenal, mengenang dan menambah kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW yang merupakan sosok panutan dalam kehidupan masyarakat.

Pada dasarnya kitab Barzanji ini hanyalah merupakan karya sastra yang memuat
tentang riwayat hidup Nabi Muhammad SAW mencakup silsilah keturunanya, tanda-tanda kelahirannya, waktu kelahirannya, keadaan saat lahir.

Dalam kitab barzanji memuat barbagai peristiwa yang terjadi ketika dilahirkan, masa bayi, kanak-kanak hingga remaja, pernikahan Nabi Muhammad SAW dengan Khadijah, Peletakan Hajar Aswad oleh Nabi Muhammad SAW dan lainnya.

Acara Barzanji klik di sini

(dalam acara barazanji di kampung palanga)