Tabbae, Riwayatmu Dulu

Tabbae adalah dusun paling terkenal di dunia. Dalam sejarahnya, Dusun Tabbae merupakan sebuah daerah yang disegani di Sulawesi Selatan yang diidentikkan dengan persatuan masyarakatnya yang sangat kuat.

Tabbae juga dikenal sebagai daerah yang dihuni oleh orang-orang pemberani yang selalu diidentikkan dengan tokoh masyarakatnya yang fenomal, sebutlah Alimuddin Page.

Tabbae sekarang merupakan ibukota Desa Benteng Tellue Kecamatan Amali Kabupaten Bone. Di balik ketenaran itu, ternyata Dusun Tabbae memiliki kisah tersendiri.

Setelah Bottoe dan Laponrong secara forsil berada dalam kekuasaan wilayah hukum Arung Amali, maka status di Boang Bottoe diberi gelaran Anre Guru’ yang statusnya sama dengan kedudukan Kepala Kampung.

La Manna adalah Anre Guru pertama di Bottoe dan melaksanakan tugas pemerintahan sebagai bagian dari wilayah takluk kerajaan Arung Amali yang berkedudukan di Taretta.

Karena Baringeng dengan Bottoe, persis letaknya pada posisi perbatasan antara Soppeng dengan Amali, sehingga baik penduduk Baringeng maupun Bottoe sering timbul insiden masalah perbatasan.

Karena penduduk asli Baringeng seringkali melakukan perburuan rusa di kawasan hutan Bottoe tanpa izin dari pihak penguasa di Bottoe, sehingga timbullah ketegangan antara pihak Arung Amali dengan pihak penguasa di Baringeng.

Karena dianggap salah satu perkosaan hak, Arung Amali mengeluarkan ultimatun yang sifatnya peringatan terakhir kepada pihak penguasa di Baringeng,

Ultimatum agar Baringeng menghormati wilayah teritorial kerajaan Amali di Bottoe tentang seringya terjadi pelanggaran wilayah perbatasan yang dilakukan oleh penduduk Baringeng.

Sebagai sanksi ultimatum tersebut, Arung Amali memerintahkan kepada Anre Guru Bottoe agar mengadakan penjagaan ketat dan konsolidasi kekuatan dikawasan selatan hutan Bottoe.

Dan setelah perintah tersebut diterima oleh La Manna, maka ia pun mengadakan rapat khusus dengan para pemuka masyarakat yang diakhiri dengan suatu perintah penegasan, bahwa barang siapa yang berani melanggar wilayah perbatasan kita tanpa syarat “SITABBA BESSIKO” Artinya “baku hantam saja dengan tombak dan jangan mundur”

BACA JUGA :  Perang Bone Ketiga Tahun 1859

“SANGADI MARETTO TELLUI LISE’NA CENRANAE MUADDAMPENG SORO” artinya “jangan mundur setapakpun kecuali kalau senjatamu sudah patah tiga “

Demikian antara lain kata-kata penegasan La Manna kepada pasukannya yang berjaga-jaga pada posisi kawasan selatan hutan Bottoe.

Namun tidak jelas dalam sejarah bahwa penduduk Bottoe dengan Baringeng pernah terjadi pertumpahan darah akibat pelanggaran daerah perbatasan, tetapi barangkali justru faktor ketegasan perintah La Manna ini kepada pasukannya dengan istilah SITABBA BESSIKO sehingga di seputar penjagaan pasukan La Manna ini disebut “TABBAE”

Dan dalam proses perkembangannya lama kelamaan nama TABBAE lebih populer dan lebih tenar dari pada Bottoe, namun pada hakikatnya TABBAE yang kita kenal sekarang sudah dinobatkan menjadi ibu kota Desa Benteng Tellue, tidak lain dari  perwujudan Bottoe yang merupakan nama asli nama Kampung tersebut.