Syair Indah Barzanji

Barasanji sebutan Bugis terhadap barzanji, merupakan tradisi Islam yang terus hidup dan dipertahankan. Barzanji dibaca dalam berbagai kegiatan keislaman seperti pada acara maulid, khitanan, pernikahan, aqiqahan, muharraman, dan lainnya.

Pembacaan Berzanji pada umumnya dilakukan di berbagai kesempatan, sebagai sebuah pengharapan untuk pencapaian sesuatu yang lebih baik.
“Barasanji dibaca pada moment apa saja. Sebagian masjid secara rutin membacanya setiap malam Jumat.

Di masjid-masjid, biasanya orang-orang duduk bersimpuh melingkar. Lalu seseorang membacakan barzanji, yang pada bagian tertentu disahuti oleh jemaah lainnya secara bersamaan.

Barzanji merupakan kegiatan efektif untuk mengumpulkan sesama umat Islam. Selain barzanji ada juga tradisi massure’, yakni pembacaan sejarah Rasulullah dengan bahasa Bugis. Sejarah itu dibacakan dengan irama yang menarik sehingga kita senang mendengarnya.

Nama Barzanji diambil dari nama pengarangnya yaitu Syekh Ja’far al-Barzanji bin Husin bin Abdul Karim. Ia lahir di Madinah tahun 1690 M dan meninggal tahun 1766 Masehi. Barzanji berasal dari nama sebuah tempat di Kurdistan, Barzinj.

Barzanji bertutur tentang kehidupan Muhammad, mencakup silsilah keturunannya, masa kanak-kanak, remaja, pemuda, hingga diangkat menjadi rasul. Karya itu juga mengisahkan sifat-sifat mulia yang dimiliki Nabi Muhammad, serta berbagai peristiwa untuk dijadikan teladan umat manusia.

Berikut makna sebagian syair indah dari barzanji.

     Aduhai Nabi, damailah engkau
     Aduhai Rasul, damailah engkau
     Aduhai kekasih, damailah engkau
     Sejahteralah engkau
     
     Telah terbit purnama di tengah kita 
     Maka tenggelam semua purnama
     Seperti cantikmu tak pernah kupandang
     Aduhai wajah ceria
     
     Engkau matahari, engkau purnama
     Engkau cahaya di atas cahaya
     Engkau permata tak terkira
     Engkau lampu di setiap hati
     
     Aduhai kekasih, duhai Muhammad
     Aduhai pengantin rupawan
     Aduhai yang kukuh, yang terpuji
     Aduhai imam dua kiblat.

BACA JUGA :  Songkok To Bone Masuk Warisan Budaya Takbenda Indonesia