Bissu adalah imam atau pendeta bugis kuno yang berperan pada setiap kegiatan spiritual yang berhubungan dengan aspek kedewaan. Selain sebagai imam atau pendeta bugis kuno, bissu juga berperan sebagai penasihat kerajaan dalam mengatur roda pemerintahan sebelum masuknya islam di tanah Bone.

Bissu adalah pendeta bugis kuno yang saat ini dikenal sebagai tokoh spiritual adat yang mempunyai karakteristik seperti fisik layaknya seorang laki-laki tetapi berprilaku seperti seorang perempuan. Sifat transgender bissu mempunyai beberapa makna, yaitu jiwa spiritual yang dimilikinya yang merupakan perpaduan antara dunia atas (Boting Langi’) dan dunia bawah (Peretiwi) yang menimbulkan karakteristik tersebut.

Adapula sumber yang mengatakan bahwa bissu merupakan orang yang bersih dan tidak menjalankan kehidupan manusiawi, sehingga penggolongan jenis kelaminpun dikategorikan transgender oleh masyarakat bugis kuno. Karakteristik bissu yang transgender dengan menjalani kehidupan suci membuat bissu tidak dapat menjalankan kehidupan dalam berumah tangga atau yang berhubungan dengan keberlanjutan keturunannya.

Faktor keturunan bissu tidak banyak dijelaskan karena merupakan sesuatu yang sakral. Seorang yang ditakdirkan menjadi bissu, tidak bisa lagi berkisah tentang faktor keturunan karena tidak menjalankan kehidupan sebagai perumah tangga.

Apabila seorang bissu melanggar hal-hal yang berhubungan dengan faktor keturunan, maka ia akan terkena bala dari Dewatae. Meskipun bissu mempunyai karakteristik yang transgender, ia merupakan transgender yang berbeda dan tertanam karakteristik transgender yang suci pada dirinya.

Hal itu dapat terlihat dari perilaku yang ditunjukkannya dengan bertutur kata yang sesuai dengan norma adat yang berlaku, cara berpakaian yang sopan dan dianugrahi kekuatan yang tidak dapat dilukai oleh senjata tajam. Kekuatan tersebut biasa ditunjukkan pada prosesi ritual adat di dalam kerajaan Bone.

Karakteristik bissu yang transgender membedakannya dengan transgender yang tidak menjalankan kehidupan suci, yaitu bissu dianugrahi kemampuan untuk melakukan kontak dengan masa lalu dan masa depan.

Dengan kemampuan spiritual yang dianugrahi oleh Dewatae kepada bissu. Konon, bissu mampu mengobati masyarakat yang terkena wabah penyakit dan dapat menjadi ahli sanro karena kemampuannya yang dapat meramal masa depan. Hal ini ditunjukkan oleh bissu pada saat menentukan hari baik untuk pernikahan ataupun pelantikan raja.

Bissu yang transgender mempunyai bahasa tersendiri dalam komunitasnya, setiap kegiatan ritual bissu memakai bahasa ini. Bahasa ini disebut dengan Torilangi atau bahasa langit yang digunakan seraya berbicara dengan Dewatae.

STRUKTUR ORGANISASI BISSU

Pada masa kerajaan Bone, bissu mempunyai struktur organisasi dalam melakukan prosesi ritual dan menjalankan aktivitas sehari-hari di kerajaan. Struktur organisasi bissu terdiri atas :

a. PUANG MATOWA, yaitu pimpinan tertinggi yang dipilih dari Puang Lolo kemudian dilantik di muka umum oleh Raja. Puang Matowa berperan memelihara dan menjaga pusaka kerajaan yang dinamakan arajang.

b. PUANG LOLO, yaitu sebagai wakil Puang Matowa yang dipilih oleh Puang Matowa bersama masyarakat yang telah disetujui oleh Raja.

c. BISSU BIASA, yaitu pembantu puang lolo.

PANGGILAN SPRITUAL BISSU

Seorang transgender yang akan menjadi bissu, terdapat panggilan spiritual dalam dirinya. Biasanya panggilan spiritual itu didapat melalui mimpi yang diamanatkan kepada dirinya untuk menjadi seorang yang menjalankan kehidupan suci.

Transgender yang mengalami panggilan spiritual tersebut, akan menemui Puang Matowa sebagai pimpinan bissu untuk dilantik diajarkan bagaimana menjalankan kehidupan suci sebagai seorang bissu. Prosesi ritual pelantikan sebagai berikut :

a. Berpuasa dan Bernazar

Dalam menjalani prosesi menjadi seorang bissu, yang akan dilantik diwajibkan untuk berpuasa selama sepekan hingga 40 hari. Selama menjalani puasa, banyak sekali pantangan yang harus dijalani.
Selain berpuasa dilakukan pula prosesi nazar yang dijalani setelah berpuasa yang dituntut dengan menjaga segala sikap, tingkah laku, dan perbuatan yang tidak tercela dan menodai kekhusu’an berpuasa.

b. Prosesi Irebba

Prosesi Irebba dilakukan berhari-hari selama proses nazar. Calon bissu dimandikan, lalu dikafani, dan dibaringkan selama hari yang dinazarkan. Diatasnya digantung sebuah guci berisi air, guci tersebut kemudian dipecahkan hingga airnya menyirami seorang transgender yang sedang menjalani Irebba.

Setelah melewati proses sakral itu, seorang transgender dapat dinyatakan resmi menjadi bissu diharuskan tampil anggun (Malebbi’) dan senantiasa berlaku sopan.

Dalam menjalani kehidupan sebagai seorang bissu, seorang yang menjadi bissu tidak diperkensnksn untuk melanggar ketentuan yang telah diberikan saat menjadi bissu, apabila melanggar konon akan celaka. Misalnya saja bila melakukan tindakan asusila, yang berarti melanggar kontrak spiritualnya denga dewata (Rewata) yang meraka yakini keberadaaannya.

PERANAN BISSU DI KERAJAAN BONE

Pada masa kerajaan Bone, bissu bertugas merawat benda-benda kerajaan Bone di samping itu sebagai tabib mengadakan pengobatan tradisional, juga bertugas dalam kepercayaan kepada Dewata Seuwae, setelah masuknya Islam di kerajaan Bone, kedudukan bissu di non-aktifkan. Namun untuk masa sekarang kembali dilibatkan pada acara budaya seperti perayaan hari jadi Bone.

Selain itu, dalam kerajaan bugis Bone, bissu memegang peranan dalam hal menyejahterakan masyarakat. Hal itu dapat dilihat saat bissu ikut berperan membantu kerajaan Bone yang saat itu dijajah dan ditindas oleh kerajaan Gowa.

Kerajaan Gowa yang masuk ke Bone berupaya menjadikan Bone sebagai kerajaan di bawah kerajaan Gowa. Kerajaan Gowa memaksa dan menindas kerajaan Bone, melihat hal itu Latenritatta yang saat itu bergelar Arung Palakka di kerajaan Bone merasa terpanggil untuk membela dan memperjuangkan harkat dan martabat masyarakat Bone. Arung Palakka pun melakukan perlawanan terhadap kerajaan Gowa.

Di masa perjuangan Arung Palakka La Tenritatta, bisa berperan membantu Arung Palakka dalam meloloskan diri dari pengejaran pasukan kerajaan Gowa yang saat itu mengejar La Tenritatta.

Dalam kerajaan Bone sendiri, bissu mempunyai banyak peranan yang tidak dapat dilupakan oleh sebagian masyarakat di tanah Bone. Selain sebagai penasihat kerajaan pada masa sebelum Islam, bissu mempunyai peranan dalam pengejaran itu keadaan Arung Palakka Latenritatta sedang terdesak sampai harus bersembunyi di dalam sebuah gua.

Melihat pengejaran pasukan Gowa terhadap Arung Palakka La Tenritatta, bissu mengambil inisiatif melakukan tari-tarian untuk menarik perhatian pasukan kerajaan Gowa, yang saat itu hampir saja menemukan La Tenritatta.

Pasukan kerajaan Gowa pun asyik melihat tari-tarian bissu yang dinamakan Sere Bissu sehingga melupakan pengejaran terhadap Arung Palakka La Tenritatta. Kesempatan itu dipakai oleh Latenritatta untuk meloloskan diri.

Akhirnya perjuangan La Tenritatta tidak sia-sia, ia pun berhasil memerdekakan orang-orang bugis dari penindasan kerajaan Gowa dan diangkat menjadi Raja Bone ke-15 (1672-1696).

N1
loading...