Sejarah arsitektur berkaitan dengan sejarah jendela dan sinar matahari melalui bukaan, tempat masuknya cahaya dan udara, panas dan hujan. Jendela merupakan bukaan pada sebuah dinding di sebuah rumah/bangunan yang memasukkan cahaya dan udara ke dalam ruang.

Jendela berkembang seiring zaman dan di semua daerah, tetapi tujuan utamanya untuk memasukkan sinar matahari menjadi aturan yang utama. Bukaan jendela merupakan elemen yang dapat memodifikasi iklim luar ke dalam ruang.

Ada banyak tipe dan ukuran jendela, pilihan mempengaruhi tidak hanya penampilan fisik bangunan, tetapi juga pencahayaan alami, ventilasi, potensi pemandangan dari ruang interior bangunan. Penggunaan jendela juga terjadi pada rumah tradisional yang merupakan bentuk kekayaan budaya suatu etnis di daerah tertentu.

Indonesia dikenal sebagai kepulauan Nusantara yang terdiri dari ribuan pulau dan kurang lebih 500 kelompok etnis yang memiliki keragaman budaya dan karakteristik yang khas. Salah satu kelompok etnis di Indonesia, yaitu suku Bugis dengan wilayah asal Sulawesi Selatan.

Suku Bugis tergolong ke dalam suku-suku Melayu Deutero. Masuk ke Nusantara setelah gelombang migrasi pertama dari daratan Asia tepatnya Yunan. Kata “Bugis” berasal dari kata “To Ugi”, yang berarti orang Bugis. Penamaan “ugi” merujuk pada raja pertama kerajaan Cina yang terdapat di Pammana, Kabupaten Wajo saat ini, yaitu La Sattumpugi.

Ketika rakyat La Sattumpugi menamakan dirinya, maka mereka merujuk pada raja mereka. Mereka menjuluki dirinya sebagai “To Ugi” atau orang-orang atau pengikut dari La Sattumpugi.

Saat ini orang Bugis tersebar dalam beberapa Kabupaten, yaitu Bone, Luwu, Wajo, Soppeng, Sidrap, Pinrang, dan Barru. Daerah peralihan antara Bugis dengan Makassar, yaitu Bulukumba, Sinjai, Maros dan Pangkep. Daerah peralihan Bugis dengan Mandar, yaitu Polmas dan Pinrang.

Di dalam masyarakat Bugis, jendela atau tellongeng mempunyai fungsi untuk memasukkan cahaya dan udara ke dalam rumah tradisional. Fungsi jendela dalam rumah tradisional Bugis tertulis dalam lontara’ Galigo episode Sawerigading meminang We Cudai, yang menceritakan Istana Latanete yang mempunyai cukup banyak jendela sebagai sirkulasi efektif bagi cahaya dan udara.

Jendela (tellongeng) pada rumah tradisional Bugis berupa bukaan pada dinding untuk melihat ke luar rumah (celleng) dan ventilasi udara ke dalam ruangan. Perletakannya pada dinding di antara dua tiang. Jendela juga menunjukkan strata sosial pemilik rumah, di mana jumlah jendela tiga buah menunjukkan rakyat biasa sedangkan jumlah jendela tujuh buah menunjukkan bangsawan.

Pada jendela biasanya terdapat hiasan berupa ukiran atau terali dari kayu dengan jumlah bilangan ganjil. Jumlah terali 3-5 buah untuk rakyat biasa sedangkan 7-9 buah untuk rumah bangsawan.

Aplikasi penggunaan jendela pada rumah tradisional Bugis dapat kita lihat pada rumah-rumah adat tradisional yang berada pada Kompleks Miniatur Budaya Sulawesi Selatan di Benteng Somba Opu.

BACA JUGA :  Bedah Motto Sumange Teallara

Kompleks miniatur ini memiliki koleksi 27 bangunan rumah tradisional yang mewakili empat etnis di Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat, yaitu Makassar, Bugis, Toraja, dan Mandar. Terdiri dari 23 rumah yang dibangun oleh setiap pemerintah daerah dan empat rumah yang dibangun oleh pemerintah provinsi.

Pada umumnya, jendela pada rumah tradisional Bugis di Kompleks Miniatur Budaya Sulawesi Selatan di Benteng Somba Opu terletak di antara dua kolom pada dinding depan, samping kiri, samping kanan dan belakang.

Jumlah jendela bervariasi, ada yang ganjil, meliputi 7 buah (Wajo), 13 buah (Bone dan Sidrap), 15 buah (Bola Soba Soppeng) dan ada yang genap, meliputi 10 buah (Soppeng dan Barru), 12 buah (Luwu), 18 buah (Bugis), dan 20 buah (Pare-Pare).

Berdasarkan bentuk dasarnya, tujuh rumah tradisional Bugis (Luwu, Soppeng, Bone, Pare-Pare, Barru dan Sidrap) berbentuk segiempat atau persegi panjang sedangkan dua rumah lainnya (Bugis dan Wajo) memadukan bentuk segi empat dan lengkung setengah lingkaran.

Bahan berasal dari kayu, kecuali rumah Wajo yang sudah memadukan penggunaan kayu dan kaca serta Bola Soba Soppeng yang memadukan kayu dengan bambu pada teralinya.

Ada lima tipe jendela yang digunakan, yaitu tipe jendela papan (rumah Sidrap), jendela panil (rumah Barru dan Pare-Pare), jendela kombinasi panil dan jalusi/kisi-kisi/krepyak (rumah Luwu, Bone dan Soppeng), jendela kombinasi kayu dan kaca (Wajo) serta jendela tanpa daun dan hanya berupa terali kayu (rumah Bugis dan Bola Soba Soppeng).

Jika dilihat dari jenis bukaannya, ada tiga tipe jendela yang digunakan, yaitu:
1. jendela permanen dengan terali kayu (rumah Bugis, Bola Soba Soppeng dan Pare-Pare),

2. jendela ayun dengan dua buah daun jendela (rumah Luwu, Bone, Soppeng, Pare-Pare, Barru dan Sidrap), dan

3 jendela awning dengan tiga buah daun jendela (rumah Wajo).

Bentuk dan besar jendela sama pada tiap rumah, kecuali pada rumah Bugis dan Bola Soba Soppeng. Pada rumah Bugis terdapat lima jenis jendela, yaitu:
1. jendela persegipanjang (3 buah pada bagian depan dan 2 buah di belakang),

2. jendela persegi panjang dengan model sama dengan bagian depan tetapi lebih lebar dan mempunyai dua lengkungan di atas (1 buah di kamar belakang),

3. jendela persegi panjang dengan model sama dengan bagian depan tetapi lebih pendek ukuran tingginya (5 buah di samping kiri),

4. jendela segi empat (4 buah di samping kanan dan belakang), dan

5. jendela kombinasi persegi panjang dan lengkung pada sisi kiri dan kanan (1 buah di samping kanan dan 2 buah di belakang).

Sedangkan pada Bola Soba Soppeng terdapat dua jenis jendela, yaitu tipe jendela segi empat (di depan, samping kanan dan belakang) dan jendela persegi panjang (di samping kiri belakang.

BACA JUGA :  Pesona Perempuan Bugis

Keberadaan ventilasi yang biasanya menyatu pada jendela juga terdapat pada kebanyakan rumah tersebut.

Ventilasi rumah Bugis berbentuk setengah lingkaran yang terdapat pada jendela di depan, samping kiri, dan belakang. Jendela rumah Soppeng berbentuk kotak-kotak kecil. Jendela rumah Pare-Pare berupa 7 buah terali horizontal. Jendela rumah Wajo berupa kotak miring 45 derajat yang penempatannya juga berada memanjang pada dinding yang tidak ada jendelanya. Sementara Jendela rumah Sidrap dan Barru berupa 5 buah jalusi datar horizontal.

Pada rumah Bola Soba Soppeng dan Barru terdapat pula tambahan ventilasi terali vertikal yang dipasang memanjang pada bagian dapur (dapureng). Pada rumah Pare-Pare terdapat tambahan 1 buah bukaan dengan terali kayu (1 buah) pada bagian dapur (dapureng).

Untuk ornamen, hampir semua jendela menggunakan ornamen berupa terali yang dipasang vertikal dengan tinggi 40-55 cm pada bagian bawah kusen jendela dan berjumlah tujuh buah yang menandakan pemilik rumah adalah bangsawan.

Pada rumah Bugis dan Bola Soba Soppeng, terali dipasang vertikal setinggi kusen jendela. Untuk rumah Bugis jumlah terali hanya 3-4 buah, sedangkan Bola Soba Soppeng berjumlah 8 buah (jendela segi empat) dan 11 buah (jendela persegi panjang) dan hanya rumah adat Wajo yang tidak menggunakan ornamen terali.

Pada rumah adat Barru terdapat pula ornamen bunga parengreng berwarna emas di bawah dan atas jendela. Arti bunga parengreng yaitu bunga yang menarik. Bunga ini hidupnya menjalar berupa sulur-sulur yang tidak ada putus-putusnya, bentuknya menjalar kemana-mana tidak ada putusnya. Artinya rezeki yang tidak putus-putusnya seperti menjalarnya bunga parengreng.

Filosofi Jendela :

1. Buka Selebar Mungkin Jendela Untuk Melihat Indahnya Dunia Luar

Jendela menjadi jembatan pembatas antara suasana rumah dengan keadaan di luar rumah. Ketika pagi yang cerah tiba, bukalah selebar-lebarnya jendela.

Nikmatilah embusan angin yang menerpa wajahmu, resapi aroma embun pagi, dan rasakan harapan baru akan masa depan yang cerah. Biarkan semua suasana indah itu menggantikan malam yang telah menghilang.

Begitu pula dengan hati Anda. Saatnya Anda membuka hati selebar-lebarnya untuk menikmati keindahan dunia luar. Ambil sebanyak mungkin kesempatan untuk melihat dunia luar. Jangan hanya terpaku dengan zona nyaman di dalam rumah. Jangan hanya terpaku dengan lingkaran sosial yang itu-itu saja.

Jika Anda terlalu nyaman dengan keadaan ‘rumah’, maka selamaya Anda akan ‘stuck’ di rumahmu. Buka hati Anda, buka kesempatan baru, dan nikmati indahnya dunia luar yang fenomenial.

2. Tutup Sedikit Jendelanya Jika Anda Merasa Angin Menerpa Terlalu Kencang

BACA JUGA :  Pesan-pesan Leluhur Bugis yang Perlu Diketahui

Empasan angin memang terasa sejuk. Angin ibarat harapan baru bagi kehidupan tiap tumbuhan. Angin membantu proses penyerbukan tiap tumbuhan. Angin membantu tumbuhan tetap hidup. Kini kita ibaratkan angin sebagai perlakuan manis orang-orang di sekitar kita. Jika angin yang melewati jendela berembus sewajarnya maka rumah akan terasa sejuk.

Lalu bagaimana jika angin terlalu kencang? Tentu angin akan membawa kotoran turut serta masuk ke dalam rumah. Mungkin saja angin yang terlalu kencang juga akan memporak-porandakan seisi rumah, bukan? Ketika terlalu banyak ‘kesejukan’ yang menghampirimu, tidak ada salahnya jika Anda menutup hati.

Terkadang terlalu mengambil hati setiap perlakuan manis yang diberikan kepada kita padahal belum tentu perlakuan manis itu benar-benar tulus. Siapa tahu jika perlakuan manis itu hanya angin kencang yang berniat membawa kotoran ke dalam rumah kita.

3. Tutup Jendelanya Jika Malam Mulai Menjelang

Jika malam menjelang apakah kamu akan tetap membiarkan jendela tetap terbuka? Kamu tentu saja akan menutupnya. Bukan hanya karena menghindari serangan nyamuk, tentunya kamu tidak ingin melihat kegelapan malam, kan? Seperti itulah kamu harus memperlakukan hatimu.

Terkadang harus menutup hati dari kesedihan orang-orang di sekitar kita. Bukan berarti kita tidak peduli pada orang-orang di sekitar, tapi kita juga berhak melindungi diri sendiri. Jangan sampai hingga turut kehilangan arah.

4. Tutup Rapat Jendela Saat Badai Menyerang

Apa yang akan dilakukan jika tiba-tiba badai menyerang rumah Anda? Apakah akan membiarkan jendela rumah Anda terbuka lebar? Tentu tidak, kan? Anda akan segera menutup seluruh jendela tanpa terkecuali untuk melindungi dirim beserta rumah Anda. Tutuplah hati serapat menutup jendela saat berbagai hujatan yang merendahkan mulai menerpa diri Anda.

Bukan hal yang asing kalau sebagian orang saling serang demi kepentingan mereka. Saat seperti inilah Anda perlu menutup hati rapat-rapat. Jangan sampai badai merusak rumah yang telah susah payah Anda bangun. Jangan sampai perbuatan buruk orang lain turut merusak diri Anda.

5. Sesekali Tetap Buka Jendela Untuk Melihat Hujan Deras

Bukalah jendela rumah ketika hujan deras menerpa. Hujan deras di balik jendela membasahi apapun yang berada di luar rumah. Bayangkan saja jika Anda berada di luar. Pasti tubuh sudah basah kuyup. Kita akan menggigil kedinginan atau bahkan merasakan kesakitan karena banyaknya air yang menerpa tubuh.

Seperti inilah caranya kita mensyukuri hidup. Buka hati untuk melihat penderitaan jika seandainya kita kehilangan hal-hal disekitar kita saat ini seperti saat kita kehilangan rumah ketika hujan tiba.

Ada pepatah mengatakan, tutup pintu buka jendela di situlah tempat bermain mata, apa guna panjat kelapa sampai di tengah turun kembali.