Minah adalah gadis belia yang lahir dari keluarga bangsawan Bugis Bone. Ia hidup dan tumbuh besar dalam lingkungan keluarga yang ketat memegang teguh adat budayanya sebagai orang bugis.

Minah yang sering disapa Andi Inah, sudah menyelesaikan sarjananya empat tahun silam. Andi Inah sebagai anak sulung dari tiga bersaudara, ia masih memilih hidup dalam kesendirian, meskipun kedua adiknya sudah berkeluarga semua.

Sebenarnya untuk mencari pasangan hidupnya tidaklah susah, karena dibanding saudara-saudaranya yang lebih duluan bersuami, Andi Inah memiliki paras yang lebih. Bahkan ia menjadi bunga kampus Anak Dara ketika masa kuliah.

Tak heran, diusianya yang sudah matang, kedua orang tuanya sudah dua kali menanyakan perihal kesiapan Inah untuk melepasa masa remajanya. Meskipun tawaran itu tidak diiyakan oleh Inah, karena calon pendamping hidupnya itu adalah pilihan orang tua.

Orang tua Inah tidak sembarangan memilih calon menantunya, sebab menurut adat keluarganya, calon itu minimal harus setara dengan keluarganya yang masih melekat nilai kesataraan, baik strata sosial maupun kebangsawanan.

Pada waktu masih kuliah, Inah sebenarnya sudah akrab dengan seorang pemuda teman kuliahnya sendiri. Ia selalu menyapa pemuda itu, Mas Herman. Selain sebagai teman, Inah sudah menganggap Mas Herman sebagai sahabat dan kadang dijadikannya sebagai tempat curhat.

Bahkan sewaktu mengikuti KKN dan menyelesaikan skripsinya banyak dibantu oleh Mas Herman. Tak heran pula jika Andi Inah menaruh perhatian lebih kepada sahabatnya itu. Akhirnya, mereka berdua menjalin hubungan yang lebih dekat, meski sebatas sahabat awalnya.Tapi kemudian menjalin sebuah kisah yang tidak mungkin dilupakan.

Mas Herman seorang pemuda tanggung, menurut Andi Inah, ia memiliki kemampuan dan skill yang lebih dibanding teman kuliahnya yang lain. Mas Herman, selain budi pekertinya yang baik, juga sangat peka dan penyayang, ia menjunjung tinggi nilai dan martabat perempuan.

Sementara itu, Mas Herman lahir dan tumbuh besar dilingkungan Adat Jawa, ia terlahir dari keluarga sederhana di Jakarta Utara. Kedua orang tuanya sudah meninggal sejak di bangku SMA Kelas III. Untuk melanjutkan pendidikannya di bangku kuliah sampai selesai, dibiayai oleh kakaknya, bahkan dilanjutkan studinya di fakultas kedokteran sampai ia meraih gelar dokter.

Suatu ketika, Andi Inah mengajak Mas Herman jalan-jalan ke Bone termasuk bersilaturahim dengan orang tuanya. Awalnya Mas Herman menolak dengan halus, karena menurutnya, keluarga Andi Inah sangat ketat memegang teguh nilai strata keningratan Bugis.

Ibunda Andi Inah dikenal tidak segan-segan melarang anak-anaknya berhubungan dengan pria yang tidak jelas asal-usulnya. Ia hanya ingin punya menantu sedarah dan harus berasal dari kalangan bangsawan Bugis.

Tapi akhirnya Mas Herman menuruti juga keinginan pujaan hatinya, iapun keduanya menuju rumah orang tua Andi Inah yang ada di Jalan Jenderal Sudirman Watampone.

Sesampainya di rumah, Andi Inah memperkenalkan Mas Herman kepada kedua orang tuanya. Di luar dugaan, ternyata Ibunda Andi Inah tidak menerima baik kehadiran Mas Herman. Awalnya silaturahim berjalan mulus, namun ketika Ibunda Andi Inah menanyakan asal-usul Mas Herman, langsung ia membentak, tidak boleh anak saya berteman selain dari unsur keluarga sendiri, apalagi beda suku.

BACA JUGA :  Listrik bertenaga air mata

Semenjak itu, Mas Herman merasa terpukul, ia tak pernah menyangka kalau pihak Ibunda Andi Inah sekeras itu. Namun jalinan asamaranya dengan Inah tetap berlanjut meskipun hanya via SMS.

Seiring dengan waktu, diam-diam Mas Herman melanjutkan pendidikannya ke Fakultas Kedokteran sampai akhirnya ia berhasil meraih dokter. Ia tidak pernah menyampaikan kepada pujaan hatinya kalau ia sekarang sudah menyandang titel dokter.

Mujur menjemput, Kini Mas Herman bekerja di sebuah rumah sakit di bilangan kota Makassar. Namun setelah tiga tahun bertugas Mas Herman dimutasi di salah satu rumah sakit di kota Watampone. Mas Herman merahasiakan kepindahannya kepada tumpuan hatinya Andi Inah.

Semenjak bertugas di kota Watampone, Ia dikenal sebagai dokter dengan reputasi yang baik, humoris dan supel terhadap pasiennya. Tak heran kalau namanya banyak disebut-sebut terutama pasien yang pernah ditanganinya.

Sementara Andi Inah tidak yakin kalau Mas Herman itu bertugas di kota Watampone, meskipun ia sering mendengar kalau ada seorang dokter yang akhir-akhir ini sedang menjadi buah bibir. Dalam hatinya berkata, itu tidak mungkin Mas Herman. Mungkin dokter Herman lain.

Suatu ketika, Ibunda Andi Inah jatuh sakit, iapun berniat membawa ibunya ke salah satu rumah sakit di bilangan kota Watampone. Menurut dokter yang bertugas di UGD, Ibunda Andi Inah diharuskan opname untuk beberapa hari.Maka ditempatkanlah disalah satu ruang perawatan yang selanjutnya ditangani oleh seorang dokter spesialis.

Akan tetapi dokter spesialis itu sebelum masuk memeriksa pasiennya, ia mengintip di balik tirai, dokter spesialis itu yang tidak lain Mas Herman, langsung menutup wajahnya dengan sapu tangan. Jadi hanya kedua bola matanya yang kelihatan. Maksud sang dokter menutupi wajahnya agar tidak dikenali oleh Andi Inah dan ibundanya yang sakit.

Hingga setelah memeriksa pasiennya, ia tidak dikenali oleh Andi Inah dan Ibunya. Namun, dihari berikutnya, Andi Inah mulai curiga, sepertinya suara dokter itu hampir sama dengan suara Mas Herman yang lemah lembut.

Ketika sang dokter memeriksa kesehatan pasiennya yang sudah mulai membaik, iapun minta izin keluar. Setelah itu, diam-diam Andi Inah mengikuti sang dokter dari belakang, sambil bertanya ” Dok…dok…dok. Kapan ibunda saya bisa keluar, iya sabar, nanti beliau sembuh total baru bisa diperkenankan pulang, jawab sang dokter.

Andi Inah pun balik menemani ibunya di ruang perawatan, namun dalam hatinya bertanya-tanya siapakah gerangan sang dokter misterius itu.

Sementara sang dokterpun berusaha dan memberikan pelayanan terbaik kepada ibunda Andi Inah, agar orang yang pernah mengusirnya itu bisa sembuh dengan cepat.

BACA JUGA :  Lirik Lagu Sumange'na Watampone

Sang dokterpun sebenarnya sangat mencintai kekasihnya Andi Inah, namun karena hanya perbedaan asal-usul dan suku yang menjadi penghambat untuk melanjutkan pernikahannya yang sebelumnya sudah direncanakan berdua.

Sementara itu, seorang saudagar kaya yang sering disapa Andi Lolo yang juga masih ada hubungan keluarga dengan Andi Inah. Ia pulang ke Bone dua kali setahun. Sebagai pengusaha tambang, tentu ia berdompet tebal dengan fasilitas hidup yang serba ada.

Ia pulang ke Bone untuk melepas kepenatannya dari rutinitas mengelola perusahaannya. Saat Andi Lolo ada di Bone ia sempat bertemu dengan kawan-kawan lamanya saat di bangku SMA.

Bukan hanya ingin berlibur dan bertemu teman lama saja, Andi Lolo juga ingin bertemu dengan Andi Inah orang yang dia sayangi dulu. Tapi tidak disangka Andi Inah malah bersifat dingin saat bertemu dengan si saudagar kaya.

Minah tak tahu bahwa dulu Andi Lolo pernah menyumbangkan beberapa fasilitas termasuk uang untuk kedua orang tuanya sewaktu Minah masih kuliah.

Andi Lolo bertanya, Ndi Inah, manah Puang, iyye ada di rumah sakit, jawab Minah. Oh kalau begitu kita sama-sama ke rumah sakit, kita pakai mobilku saja. Iyye, janganmi Puang biar saya naik ojek saja, karena saya mau singgah beli obat di apotek, jawab Andi Minah.

Setelah itu, Andi Lolo dengan seorang diri menuju rumah sakit untuk menjenguk ibunda Andi Inah. Sesampainya di rumah sakit, ia bercerita kepada ibunda Andi Minah yang sudah agak membaik kesehatannya, namun belum bisa bicara dengan baik, ia hanya bisa berucap dengan terbata-bata.

Sang saudagar bercerita panjang lebar, kalau kepulangannya bermaksud untuk melamar Andi Inah. “Kita dulu bilang Puang jangan kawin kalau bukan seketurunan dan dari unsur keluarga sendiri” dan sekarang saya datang puang untuk menikah dengan Anrikku Andi Inah.

Itulah kalimat yang disampaikan sang saudagar kepada ibunda Andi Inah, dan iapun menyetujui meskipun dengan ucapan terbata-bata karena belum pulih penyakit yang dideritanya.

Awalnya, memang Andi Inah pernah menjalin hubungan dengan Andi Lolo waktu sama-sama duduk di SMA. Namun, hubungan keduanya terputus, setelah Andi Lolo memilih merantau ke Kalimantan dan menjadi seorang pengusaha tambang di sana. Sementara Andi Inah memilih melanjutkan kuliahnya di Makassar, dan di situlah juga ketemu dengan Mas Herman.

Beberapa hari kemudian, ibunda Andi Inah sudah dinyatakan sembuh dan sudah bisa pulang ke rumah sambil berobat jalan. Mereka pulang di antar mobil punya sang saudagar. Meskipun, Andi Inah tidak mau naik di mobil itu tapi terpakasa harus ikut karena sudah ada ibundanya menunggu di mobil.

Sang dokterpun melihat dan merelakan kekasih pujaannya itu satu mobil bersama sang saudagar. Meskipun hatinya serasa diiris sembilu, tetapi ia harus bersabar menunggu, apa yang akan terjadi selanjutnya.

BACA JUGA :  Aku Masih Seperti Lima Tahun Yang Lalu

Sampai dirumah, Andi Lolo pun menyampaikan kepada ibunda Andi Imah, bahwa ia akan melamar Andi Imah sesuai perjanjian yang sudah disepakati antara Andi Lolo dengan ibunda Andi Imah sebelumnya. Ibunda Andi Imah pun menyetujui dan menerima Andi Lolo sebagai calon menantunya.

Sebagai anak yang harus berbakti kepada orang tua, Andi Inah tidak mampu menolak kehendak orang tuanya. Ia pun rela dipersunting oleh lelaki yang tidak dicintainya lagi.

Persiapan pernikahan Andi Lolo dengan Andi Aminah kini telah matang.Undangan pun disebar, baruga pengantin telah siap, pokoknya seluruh yang dibutuhkan sudah siap.

Tak luput, sang dokter yang merawat Ibunda Andi Inah juga mendapat undangan. Ketika sang dokter membuka isi undangan, alangkah terkejutnya, ternyata yang mau menikah tidak lain adalah kekasihnya … Andi Minah. Sontak ia duduk lemas sambil meneteskan air mata dan meratapi nasib kisah cintanya.

Akan tetapi dokter Herman tetap ingin datang untuk memenuhi dan menghargai undangan pesta pernikahan itu, meskipun getir rasanya.

Sementara itu, Andi Lolo dikenal seorang pengusaha tambang yang berhasil, kalau lagi pulang kampung ditraktir semua teman-temannya. Namun dibalik keberhasilan itu tidak ada yang menyangka kalau ia juga seorang bandar narkoba.

Tibalah hari pernikahan yang ditunggu-tunggu, baruga dipenuhi gadis-gadis pembawa bosara dengan memakai baju tokko sesuai adat bugis Bone, tetamu pada berdatangan, sanak keluarga mempelai sudah berkumpul di depan pelaminan.

Tak lama kemudian, sirene patroli terdengar di luar baruga, tiga orang dari petugas kepolisian melompat turun dari mobil patroli, ia mencari nama Andi Lolo. Seketika itu, suasana riuh langsung berbalik menjadi kepanikan. Andi Lolo pun diborgol oleh petugas dan dibawa pergi dengan mobil patroli. Andi Lolo ternyata selain sebagai pengusaha tambang juga bekerja sebagai bandar narkoba.

Menyaksikan peristiwa memalukan itu, ibunda Andi Inah langsung jatuh pingsan dan dilarikan ke rumah sakit. Setelah diperiksa,ia dinyatakan sakit jantung dan komplikasi dan memerlukan perawatan intensif. Kini, dokter Herman kembali merawatnya.

Dokter Herman tetap memberikan perawatan yang terbaik, sambil menutup wajahnya apabila ingin memeriksa kesehatan ibunda Andi Minah, ia tetap merahasiakan siapa dirinya yang sebenarnya.

Setelah seminggu dirawat di rumah sakit, ibunda Andi Imah berangsur sembuh dari penyakit yang dideritanya. Ketika mau keluar dari rumah sakit, ia memanggil sang dokter, lalu berkata engkaulah sesungguhnya menantuku, anak daraku adalah milikmu. Sambil merangkul sang dokter.

Sebenarnya ibunda Andi Minah sudah tahu sebelumnya bahwa dokter yang merawatnya itu adalah orang yang pernah ia usir dari rumahnya.

Sebulan kemudian, pesta pernikahan yang awalnya terjadi kegaduhan, maka kini pesta itu akan berubah dengan penuh kedamaian. Undangan pun kembali disebar untuk pernikahan Dokter Herman dengan Andi Minah. Selesai.

Oleh : Mursalim