Silariang merupakan bentuk perkawinan yang menyimpang dari aturan adat orang Bugis dan ini berkonsekuensi siri (rasa malu/harga diri). Di mana silariang juga sebagai bentuk penyimpangan norma dan aturan adat Bugis pada umumnya.

Silariang dapat disebabkan beberapa faktor, misalnya derajat yang tidak setara, terlanjur sudah dijodohkan dengan pilihan orang tua, dan lain-lain. Meskipun telah dinikahkan secara resmi oleh penghulu/imam, tetap dalam bayang-bayang intaian maut dari pihak to masiri selama pelariannya.

Sebagai upaya penyelesaian secara adat terhadap silariang pihak pemuda biasanya melakukan upaya mendatangkan utusan kepada pihak keluarga si perempuan untuk merundingkan hubungan dari keduanya. Dengan harapan kefuanya bisa kembali rujuk dan diterima lingkungan keluarga.

Seperti diketahui, bahwa pernikahan adalah suatu hubungan antara pria dan wanita yang sudah cukup umur, yang dapat melakukan perbuatan hukum (dewasa), sehat jasmani maupun rohani. Keabadian ikatan pernikahan merupakan tujuan dasar aqad nikah dalam pandangan Islam.

Janji yang diikrarkan setelah aqad berlaku untuk selamanya, sepanjang hayat manusia. Supaya suami dan isteri secara bersama-sama dapat mewujudkan sebuah mahligai rumah tangga yang sakinah, mawaddah, dan warahmah. Sedangkan Nikah adalah suatu akad yang mengandung kebolehan berjima’ (berhubungan intim) dengan
lafal nikah, kawin, atau yang semaknanya.

Nikah merupakan salah satu sunnah Rasul. Meskipun lafal nikah, dalam bahasa Indonesia sering dibedakan dengan lafal kawin, namun masyarakat Bugis lebih sering menggunakan lafal nikah untuk
menunjukkan akad yang membolehkan hubungan suami istri.

Adapun sistem perkawinan yang dilarang di suku Bugis dikenal dengan istilah ”Silariang ” yang mana Silariang dianggap tidak sesuai dengan Syari`at Islam dan Hukum Adat Bugis yang berlaku.

Perkawinan lari atau melarikan adalah bentuk perkawinan yang tidak didasarkan atas persetujuan lamaran orang tua, tetapi berdasarkan kemauan sepihak atau kemauan kedua pihak yang bersangkutan. Lamaran dan atau persetujuan untuk perkawinan di antara kedua pihak orang tua terjadi setelah kejadian melarikan, atau yang bersangkutan telah memiliki keturunan (anak).

Dalam proses perkawinan ini kedua pihak yang bersangkutan lari dari kediamannya dan atau untuk berdomisili di tempat lain kemudian melangsungkan pernikahan di tempat domisili yang baru tersebut, dan tanpa wali dari orang tua kedua pihak.

Kasus silariang di Tanah Bugis, sejak dahulu hingga kini masih sering terjadi. Pelaku silariang tidak perduli sanksi yang bakal dihadapi, meskipun harus berhadapan dengan ujung badik di belakang persoalan.

Bagi pelaku silariang, selama cinta bersemi, sanksi maut pun akan tetap dihadapi. Dalam kasus silariang ini, pelaku tidak jarang diadang oleh tomasiri (dari pihak keluarga perempuan) yang kadang berakhir dengan penganiayaan atau bahkan pembunuhan.

Perempuan yang melakukan kawin lari disebut tomasala sedangkan keluarga perempuan yang malu akibat perbuatan si perempuan, disebut tomasiri. Bagi suku Bugis, sejak dari dulu berlaku hukum adat, khususnya menyangkut masalah siri, dan di sisi lain berlaku pula hukum positif yang disebut hukum pidana oleh negara.

Di satu sisi, hukum adat mengatakan, membunuh si pelaku silariang dengan alasan siri (malu/harga diri), tidak bisa dikenakan hukuman, karena ia (orang yang membunuh pelaku silariang) dianggap sebagai pahlawan yang membela siri-nya (harga dirinya). Di sisi lain, hukum pidana tidak menerima alasan kalau ada terjadi kasus pembunuhan, termasuk alasan siri, maka pelakunya bisa dikenakan pasal pembunuhan atau penganiayaan. Namun untuk menengahi perkara ini biasanya diambil jalan tengah untuk berdamai.

Perkawinan Silariang Dalam Pandangan Hukum Adat Bugis

Kata Adat sendiri berasal dari bahasa
Arab yang berarti kebiasaan. Kebiasaan tersebut ditiru dan akhirnya berlaku untuk seluruh anggota masyarakat. Hukum adat
tidak tertulis akan tetapi dipatuhi oleh anggota masyarakat adat. Hukum adat merupakan bentuk dari adat yang memiliki akibat hukum.

Hukum adat berbeda dengan hukum tertulis ditinjau dari bentuk sanksi yang diberikan kepada orang yang melakukan pelanggaran. Bentuk sanksi hukum adat menitikberatkan pada bagian moral serta material, hukum adat tidak mengenal penjara sebagai tempat para pelangar menjalani hukuman yang telah
ditetapkan oleh hakim.

Terdapat pengertian hukum adat yang
dikemukakan oleh para ahli dan peneliti
terkait bidang tersebut, yaitu :
1. Hukum adat, adalah hukum yang mengatur terutama tingkah laku manusia Indonesia dalam hubungan satu sama lain, baik yang merupakan keseluruhan kelaziman dan kebiasaan (kesusilaan) yang benar-benar hidup di masyarakat adat karena dianut dan dipertahankan oleh anggota-anggota masyarakat itu, maupun yang merupakan keseluruhan peraturan-peraturan yang mengenal sanksi atas pelanggaran dan yang ditetapkan dalam keputusan-keputusan para penguasa adat yaitu mereka yang mempunyai kewibawaan dan berkuasa memberi keputusan dalam masyarakat adat itu, ialah yang terdiri dari lurah, penghulu agama, pembantu lurah, wali tanah, kepala adat, hakim “.

2. Hukum adat adalah hukum baik dalam arti adat sopan santun maupun dalam arti “hukum”. Dengan sekaligus runtuhlah tembok pemisah antara hukum (yang tertulis) dan kesusilaan (adat, kelaziman, kebiasaan), yang biasanya dibuat oleh pengarang-pengarang hukum Barat, terutama mereka yang ada di
kontinen Eropa Barat”.

3. Hukum adat adalah merupakan keseluruhan adat (yang tidak tertulis) dan hidup dalam masyarakat berupa kesusilaan, kebiasaan dan kelaziman yang mempunyai akibat hukum.

4. Hukum adat, merupakan adat yang disertai dengan sanksi. Apabila ada adat yang tidak memiliki sanksi maka hal tersebut berupa bentuk aturan perilaku dan secara terus menerus berlaku dalam masyarakat sehingga disebut sebagai kebiasaan yang normatif. Oleh karena itu, perbedaan antara hukuma dat dengan adat kebiasaan itu sendiri tidak jelas titik batasannya. Dari beberapa pengertian hukum adat yang telah dikemukakan di atas mencerminkan bahwa, hukum adat tidak lepas dari masyarakat sebagai bagian dasar terbentuknya hukum tersebut.

Adat adalah kebiasaan atau perilaku. Di mana perilaku yang ditimbulkan oleh manusia yang kemudian dicontoh oleh orang lain dan lambat laun juga ditiru oleh keturunannya. Pada akhirnya kebiasaan tersebut menjadi adat dan berlaku untuk anggota masyarakat untuk kemudian disebut sebagai hukum adat. Adapun orang yang pertama kali mengembangkan hukum adat secara ilmiah adalah Cornelis Van Vollenhoven yang merupakan pakar hukum adat Hindia Belanda.

BACA JUGA :  Pengertian Sunge dan Sumange

Alur terbentuknya hukum adat Cornelis Van Vollenhoven menyebutkan, bahwa terbentuknya hukum adat memiliki alur yang dimulai dari adanya pikiran kemudian kehendak dan selanjutnya terwujud dalam bentuk perilaku sampai akhirnya menjadi kebiasaan. Dan Perkembangan dari kebiasaan tersebut lama kelamaan menjadi adat kemudian hukum adat.

Sanksi merupakan bagian dari kaidah hukum dan atas dasar tersebut maka ini dapat menjadi bukti sebagai kategori hukum yang modern. Sanksi yang ada dalam hukum adat memiliki tujuan untuk menetralkan kembali ataumengembalikan fungsi-fungsi kehidupan bermasyarakat yang menjadi tidak seimbang akibat adanya pelanggaran yang dilakukan.

Terdapat dua jenis pemberlakuan sanksi yakni:

1. sanksi yang diberlakukan untuk pelaku
sebagai orang yang melanggar, dan
2. sanksi yang berlaku secara kolektif karena berhubungan dengan kehidupan orang banyak.

Contoh kasus penerapan sanksi secara
perorangan adalah kasus pembunuhan atau pencurian. Adapun pemberlakuan sanksi secara kolektif dalam hal ini juga berhubungan dengan kedudukan keluarga atas orang yang melakukan pelanggaran sehingga pihak keluarga juga menanggung akibat dari perbuatan anggota keluarganya.

Kehidupan Masyarakat Bugis

Pada umumnya dahulu kala masyarakat Bugis sehari-harinya bertani. Laki-laki bekerja di sawah dengan berjalan kaki. Jarak sawah dengan rumah tidak terlalu jauh. Hanya sebagian masyarakat yang memiliki sawah sehingga sebagian lainnya bekerja pada pemilik tersebut. Sementara kaum perempuan sehari-harinya kadang membantu suami di sawah.

Suku Bugis sangat menghormati perempuan. Hal tersebut terlihat dari kehidupan sehari-hari, kaum laki-laki tidak boleh mendekati sumur apabila perempuan sedang mandi. Kaum laki-laki diperbolehkan beraktivitas di sumur apabila kaum perempuan telah menyelesaikan aktivitasnya dan pulang ke rumah. Apabila ada yang melanggar maka akan mendapatkan sanksi adat berupa denda sebab pelanggaran tersebut termasuk dalam pelanggaran asusila bahkan nyawa bisa menjadi taruhannya.

Masyarakat Bugis dikenal sebagai masyarakat yang memegang teguh adat istiadat serta menegakkan hukum adat yang berlaku di daerahnya. Di daerah Bugis terdapat berbagai macam pelanggaran adat yang hingga kini masih terus terjadi seperti silariang. Sanksi atas pelanggaran adat tersebut juga dijunjung tinggi oleh masyarakat tanpa ada perbedaan antara satu dengan yang lain. Pelanggaran adat itu biasa disebut malaweng.

Hakikatnya kasus silariang tidak hanya terjadi di daerah Bugis melainkan juga terjadi di berbagai daerah di Indonesia. Hal yang membedakan adalah sanksi yang diberikan dari tiap-tiap daerah adat berbeda antara satu dengan yang lain. Terdapat bentuk sanksi yang tergolong ringan tetapi juga ada sanksi yang tergolong berat.

Apabila hal yang sangat memalukan bahkan sanksinya bisa sampai pembunuhan yang dilakukan oleh keluarga dari pihak perempuan yang merasa sebagai pihak yang dirugikan dan dibuat malu oleh laki laki yang membawa anak perempuannya.

Dalam berbagai kasus orang yang melakukan silariang menyadari bahwa hal tersebut salah dan akan mendapat sanksi akan tetapi pilihan silariang ini juga banyak dipilih oleh pasangan yang tidak direstui. Ada beberapa definisi mengenai silariang dapat dikemukakan sebagai berikut, yaitu :

1. Perkawinan silariang adalah apabila perempuan dengan laki-laki sepakat lari bersama-sama.
2. Silariang adalah apabila perempuan dengan laki-laki lari atas kehendak kedua belah pihak.
3.;Silariang adalah perkawinan yang dilangsungkan setelah laki-laki dengan perempuan lari bersama-sama atas kehendak sendiri-sendiri.

Dampak dan efek dari silariang ini tidak hanya melekat pada yang melakukan silariang, melainkan juga pada keluarga pihak laki-laki dan perempuan seperti adanya rasa malu. Oleh karena itu diberlakukan sanksi adat baik itu dikeluarkan dari anggota keluarga ataupun dibunuh tergantung dari kasus silariang yang terjadi.

Pada umunya, kasus silariang di daerah Bugis terjadi dengan beragam motif dan jenis kasus. Terdapat jenis silariang yang dikehendaki oleh laki-laki yang kemudian membujuk perempuan atau sebaliknya dan ada juga jenis silariang yang dikehendaki oleh kedua belah pihak baik laki-laki maupun perempuan.

Oleh karena itu, selain penting untuk mengetahui penerapan sanksi dari silariang juga penting untuk mengetahui dasar dari penerapan sanksi atas pelanggaran adat tersebut dan bagaimana tata cara penerapan yang dilakukan oleh pemangku adat dan masyarakat adat Bugis dalam memberi ganjaran terhadap orang yang melakukan silariang.

Menurut Andi Najamuddin Petta Ile dari Dewan Adat Bone, menjelaskan, bahwa bentuk perkawinan orang Bugis dahulu kala hanya melalui satu cara, yakni dengan cara massuro atau peminangan akan tetapi dengan berkembangnya zaman dan pematokan Doi Menre terlalu tinggi membuat sebagian masyarakat menempuh jalan pintas dalam
melangsungkan pernikahan. Jadi pada Suku Bugis, pernikahan dapat dilakukan melalui dua cara, yakni massuro (peminangan/pelamaran) dan silariang (kawin lari).

Perkawinan pada orang Bugis sangat terkait erat dengan masalah siri oleh karena itu, bagi orang Bugis terjadinya hubungan intim antara seorang laki-laki dan perempuan tanpa didahului dengan proses peminangan dan diakhiri penyelenggaraan akad nikah atau pesta pernikahan. Maka hal tersebut dianggap sebuah perbuatan yang sangat memalukan keluarga inti yang bersangkutan yang diistilahkan dengan mappakasiri.

Perkawinan semacam ini telah menyimpang dan melanggar aturan adat istiadat orang Bugis dengan istilah silariang, yakni di mana seorang pemuda bersama kekasih hatinya sepakat melarikan diri ke penghulu/imam untuk dinikahkan.

Silariang berarti berbuat salah, dalam hal ini berbuat salah terhadap adat perkawinan yang diwujudkan dengan kawin lari. Dengan peristiwa ini maka timbullah ketegangan dalam masyarakat, terutama keluarga gadis yang lari atau dibawa lari.

Pihak keluarga gadis menderita siri sehingga tomasiri berkewajiban patettong siri keluarganya dengan membunuh lelaki yang melarikan gadisnya, kecuali bila lelaki tadi telah berada dalam rumah atau pekarangan pemuka masyarakat. Setidak-tidaknya telah sempat membuang penutup kepalanya ke dalam pekarangan rumah anggota adat tersebut yang berarti ia sudah ada dalam perlindungan, maka ia tak dapat diganggu lagi, begitu pula kalau ia sedang bekerja di kebun, di ladang atau di sawahnya.

BACA JUGA :  Tuah Bugis Dua Temmassarang Tellu Temmallaiseng

Penyebab umum terjadinya silariang ialah karena yang bersangkutan tidak dapat melakukan syarat-syarat terlaksananya
pernikahan secara sah. Dan adapun jalan
keluarnya ialah berusaha melakukan
perkawinan di luar tata cara perkawinan adat dengan jalan silariang.

Bila to silariang tadi telah berada di rumah salah satu pemuka masyarakat dalam hal ini kepala desa, imam atau kadhi maka menjadi kewajiban baginya untuk segera menikahkan to laosala/tosilariang.

Sebagai langkah pertama dihubungilah orang tua gadis (to masirina) untuk diminta persetujuannya agar anak gadisnya dapat dinikahkan. Tetapi biasanya orang tua tak dapat memberi jawaban apalagi bertindak sebagai wali. Karena merasa antara ia dengan anak gadisnya tak ada hubungan lagi yang disebut dengan riassakkareng atau ripaoppangi tana (dianggap telah mati).

Sebab itu tak ada jalan lain lagi bagi imam atau kadhi kecuali mengawinkan tolarisala tersebut, dalam hal ini ia sendiri bertindak sebagai wali yang disebut dengan wali hakim.

Selanjutnya setelah imam atau kadhi menikahkan tolarisala tadi tidak berarti ketegangan dalam masyarakat telah pulih karena peristiwa adatnya belum selesai. Timbullah pertanyaan tentang prosedur apa yang harus dilalui tolarisala agar ketegangan dengan keluarga berakhir dan dia diterima sebagai keluarga yang sah dalam adat.

Hubungan antara tomasiri dengan tolarisala sebagi tomappakasari tetap tegang, dan dendam tomasiri akan terus berlangsung selama tolarisala belum maddeceng. Tolarisala yang meminta perlindungan disebut maddanreng. Misalnya maddanreng di rumah kades, imam, dan tokoh masyarakat adat.

Pada dasarnya perlindungan diri Tosala oleh pemangku adat di mana Tosala mendapat hak untuk tidak dihukum atau dibunuh oleh Tomasiri dan perkaranya akan diselesaikan setelah diberikan sanksi atau hukuman dari sesuai adat berlaku, maka pulihlah sirina bagi keluarga gadis yang dipermalukan.

Seperti diketahui, bahwa segala perbuatan yang dapat menimbulkan ketersinggungan
terhadap harkat dan martabat manusia merasa terhina maka hal itu dinamakan siri dengan siri inilah sehingga untuk menjaga dan mempertahankannya mendorong manusia untuk bertindak secara rasional maupun secara irasional.

Oleh kerena itu silariang dalam masyarakat suku Bugis merupakan perkawinan yang tidak sewajarnya karena tidak sesuai norma adat yang berlaku dalam masyarakat, menimbulkan siri bagi keluarga pelaku silariang utamanya bagi keluarga perempuan.

Faktor Penyebab Terjadinya Silariang

Terlepas dari historis silariang, di mana silariang akan selalu bersinggungan
dengan budaya dan adat istiadat setiap suku. Nilai-nilai budaya pada suku manapun di negara ini akan selalu menukik kedalam identitas pernikahan kapan dan di manapun dilangsungkan.

Pada suku Bugis tradisi doi menre/doi balanca telah menjadi bagian integral untuk melangsungkan pernikahan kedua insan yang saling mencintai, namun akibat doi menre terkadang berujung pada jalan pintas yakni silariang.

Faktor yang paling banyak menyebabkan silariang pada suku Bugis adalah sebagai berikut :

1. Menentang perjodohan (kawin paksa).

Kebiasaan sebagian orang tua, dalam mencarikan jodoh anaknya selalu mencari dari keluarga dekat, baik itu sepupu satu kali, dua kali dan tiga kali. Tujuannya, agar harta warisan itu tidak jatuh keluar.

Bagi golongan masyarakat keturunan bangsawan pada umumnya mereka mencarikan jodoh anaknya dari golongan sederajat, turunan bangsawan. Ini dilakukan untuk menjaga kemurnian darah dan keturunannya. Namun dalam perjalanan hidupnya, ternyata anak tidak selamanya mau mengikuti pilihan orang tuanya. Mereka juga punya pilihan tersendiri untuk hidup berumah tangga. Rasa cinta yang mendalam dari kedua pasangan ini membuat mereka jadi pembangkan pada pilihan orang tuanya.

Mereka tidak ingin kawin dengan pemuda atau gadis pilihan orang tuanya. Karena sama-sama tetap pada pendiriannya, maka si anak melakukan silariang, sebagai jawaban atas sikap orang tuanya. Silariang dengan cara menentang perjodohan (kawin paksa) ini, kadang berakibat fatal bagi anak.

Orang tua yang merasa dipermalukan (tomasiri) itu, kadang tidak mau lagi mengakui anaknya. Kadang ada tomasiri yang menganggap anaknya sudah mati (riassakkareng) oleh orang tuanya atau keluarganya, sehingga putuslah hubungan silaturrahmi orang tua dan anak. Apabila silaring ini dilakukan dengan cinta sejati dari kedua sejoli, maka tidak begitu bermasalah. Sebab keduanya sudah siap membangun sebuah rumah tangga yang bahagia, walau tidak dapat restu dari orangt uanya.

2. Faktor ekonomi

Menurut adat suku Bugis, sebelum melakukan suatu pernikahan, terlebih dahulu pihak laki-laki melamar yang disertai dengan persyaratan berupa uang belanja (doi menre) berikut mahar
dan mas kawinnya serta beberapa
persyaratan lainnya. Bilamana persyaratan yang ditetapkan oleh pihak perempuan tidak dapat dipenuhi oleh pihak laki-laki, karena kondisi ekonominyam emang tidak memungkinkan, yang bisa menyebabkan perkawinannya batal.

Sedang disisi lain, keduanya sudah saling mencintai, maka mereka menempuh jalan dengan cara kawin lari (silariang) agar bisa selalu bersama. Pemberian doi menre terlalu tinggi itu, biasanya dijadikan sebagai alasan untuk menolak pinangan laki-laki yang melamar anak gadisnya itu.

Sebab dengan memasang tarif yang tinggi bisa membuatnya mundur. Tetapi bila cinta sudah menyatu, apapun rintangan di depannya pasti akan dilabrak. Kalau tidak mampu memenuhi persyaratan pinangan yang terlalu tinggi, mereka bisa mengambil jalan pintas dengan jalan silariang.

Kadang memang ada orang tua yang tidak mau mengerti dengan perasaan anaknya. Mereka lebih mencintai uang dari pada masa depan anaknya. Doi menre yang tinggi itu dianggapnya sebagai suatu kebanggaan bagi diri dan keluarganya. Permintaan uang atau mas kawin yang tinggi memang tidak masalah sepanjang pihak laki-laki mampu. Tetapi kalau tidak, apa yang terjadi, mereka menjadi tomasala atau silariang.

BACA JUGA :  Pesan-pesan Leluhur Bugis yang Perlu Diketahui

Permintaan doi menre yang terlalu tinggi dari pihak perempuan itu disebabkan karena dalam pelaksanaan pesta pernikahan, terlalu konsumtif. Banyak embel-embel yang mengiringi pelaksanaan pesta pernikahan itu yang memakan biaya yang cukup tinggi seperti sewa baruga, musik, serta acara seremonial lainnya.

Padahal dalam agama, yang paling penting dalam suatu perkawinan adalah akad nikah yang biayanya tidak begitu tinggi. Bilamana pihak laki-laki kurang mampu memenuhi permintaan yang terlalu tinggi tersebut, bisa saja mengambil jalan pintas, yakni silariang.

3. Lamaran ditolak

Orang tua dari pihak perempuan menolak lamaran dari laki-laki yang mau melamar anak gadisnya, bukanlah ditolak tanpa alasan. Yang menyebabkan sehingga lamaran dari pihak laki-laki itu ditolak oleh pihak keluarga perempuan, yaitu perbedaan strata status sosial dalam masyarakat.

Tiap masyarakat di mana saja berada memiliki perbedaan strata sosial, apakah dari segi pendidikan, harta benda, maupun perbedaan keturunan. Saat ini di masyarakat suku Bugis juga mengenal stratifikasi sosial menurut kelas sosial, yaitu:

a. Kelas atas, termasuk dalam golongan inia dalah keluarga golongan ningrat atau bangsawan, orang-orang kaya, juga pejabat tinggi dalam suatu pemerintahan.

b. Kelas Menengah, yaitu berasal dari kalangan rakyat biasa, orang yang hidupnyas ederhana, tidak lebih juga tidak kekurangan; dan

c. Kelas Bawah, yaitu termasuk dalam golongan ini adalah mereka yang berpenghasilan rendah, dan keluarga miskin. Bila kedua pasangan yang akan melangsungkan perkawinan ini berasal dari status yang sama, kemungkinan besar tidak ada alasan untuk menolaknya dan perkawinan bisa berlangsung mulus.

Namun, kadang juga terjadi, ada pemuda dari golongan bangsawan ingin mengawini gadis dari kalangan biasa (bukan golongan ningrat), ataupun sebaliknya ada gadis dari golongan ningrat yang dilamar oleh laki-laki yang bukan dari golongan ningrat.

Bagi orang tua yang mengerti permasalahan anak, tidak jadi masalah, tetapi kalu orang tua itu tetap berpegang teguh pada tradisi, yang harus sama-sama kelasnya, maka ada kemungkinan perkawinan itu dibatalkan.

Ketidaksetujuan orang tua terhadap hal ini membuat mereka silariang. Meskipun silariang yang dilakukan dari anak bangsawan itu cukup berat misalnya tidak lagi diakui sebagai keluarga, tetapi itulah suatu keputusan final bagi mereka yang tidak bisa dipatahkan oleh siapapun.

4. Tingkah laku laki-laki buruk

Setiap orang tua pasti menginginkan anaknya hidup bahagia kelak. Untuk hidup bahagia itu, juga harus mencari calon suami dari keluarga baik-baik pula.

Bilamana, orang tua melihat, kehidupan pemuda yang melamar anaknya tingkah lakunya buruk, pengangguran, maka orang tua yang mengetahui latar belakang pemudatersebut, mereka akan menolak lamarannya padahal anak mereka saling mencintai.

Karena penolakan inilah mereka mengambil jalan pintas dengan melakukan silariang. Walau tidak bisa dipungkiri, bahwa keluarga baik-baik itu belum tentu pula menjamin keharmonisan suatu rumah tangga, tetapi itulah, perkenalan pertama memang sangat menentukan.

5. Pergaulan Bebas

Kalangan remaja pada dasasrnya selalu mencari hal-hal yang bersifat instant, atau mereka hanya bertindak sesuai naluri dalam dirinya tanpa memikirkan dampak yang akan terjadi pada apa yang mereka lakukan.

Pergaulan bebas yang dilakukan oleh remaja tidak terlepas dari pengaruh lingkungan, kurangnya perhatian keluarga. Mulanya berkenalan, kemudian pacaran, lama-lama berhubungan intim seperti layaknya suami istri. Kontak pertama sangat mengesankan, begitu pula kontak kedua dan seterusnya.

Namun beberapa bulan kemudian, membuat gadis itu hamil (mallise’) Si gadis hamil, orang tua pun tak setuju dengan pemuda itu. Atau si gadis itu sendiri takut pada orang tuanya yang menyebabkan mereka harus Silariang dengan pacarnya.

6. Adanya stratifikasi sosial

Dalam tubuh masyarakat yang membagi golongan masyarakat, dari golongan
bangsawan (ningrat), biasa dan jelata, klen-klen atau kasta-kasta.

Dalam hal ini, seseorang yang lebih tinggi derajatnya dalam masyarakat tersebut dilarang untuk menikahi kaum bawahan yang lebih rendah derajatnya, perkawinan itu sedapat mungkin dilakukan di antara warga se-klen, atau setidaknya antara orang-orang yang dianggap sederajat dalam kasta.

Bila pernikahan seperti itu tetap dilaksanakan maka mempelai tersebut dianggap melanggar aturan adat, hal ini menyebabkan ia untuk membayar denda kepada adat atau bahkan menerima sanksi adat, biasanya pemuka adatlah yang berwenang menjatuhkan hukuman tersebut. Menurut adat idealnya
perkawinan dilaksanakan dengan seseorang yang sebangsa dan sederajat, kedudukan dan harta.

7. Panjangnya proses yang harus dilalui sebagaimana telah ditentukan oleh adat. Di mana mempelai harus melaluinya untuk mencapai pelaminan dengan harapan sang mempelai tidak melanggar aturan adat dan terhindar dari sanksi yang akan diberikan kepada orang yang melanggar aturan adat. Dengan banyaknya fase-fase dalam adat yang harus dilewati.

8. Upacara adat dalam segala bentuk. Pada umumnya dilaksanakan sejak masa pertunangan (pacaran), penyampaian lamaran, upacara pernikahan, upacara keagamaan dan terakhir acara kunjungan mempelai ke tempat orang tua atau menantu, dan lain-lainnya.

Perasaan siri yang tinggi hanya timbul pada saat adanya berita anaknya melakukan silariang tetapi setelah pelaku silariang datang maddeceng (diterima kembali oleh keluarga perempuan), maka perasaan siri (rasa malu) keluarga lambat laun semakin berkurang bahkan akan dilupakan.

Umumnya penyebab terjadinya Silariang yang paling mendominan adalah mahalnya doi menre atau doi balanca mungkin bisa ditawar tapi hubungan asmara kedua insan ini untuk membina rumah tangga juga tak kalah pentingnya.

Namun terkadang jalinan kasih itu harus menelan pil pahit akibat restu kedua orang tua yang mereka harapkan tidak terijabah hanya karena perbedaan kasta atau status sosial. Akibatnya, mimpi-mimpi akan ikatan rumah tangga yang indah harus sirna di tangan sang pemberi restu.