Bugis memang punya ciri khas dan kaya akan budaya. Suku yang awalnya mendiami dan beranak pinak di jasirah Selatan Sulawesi ini kini menyebar hingga belahan dunia. Mereka pun menyebar dan tumbuh kembang di tanah perantauannya. Di negeri rantau ia mampu menaklukkan gelombang kehidupan dan melakukan kontak sosial dengan siapa saja.

Di rantauan ia berkembang biak melalui hubungan pernikahan dengan warga setempat, bahkan hingga beranak cucu dan cicit. Tak heran kalau di beberapa tempat menyebar nama kampung Bugis. Karena kampung itu rata-rata dihuni komunitas keturunan Bugis.

Di manapun berada orang Bugis sentiasa tetap berpegang pada prinsip-prinsip hidup warisan leluhurnya. Mereka adalah keturunan yang diajarkan bagaimana mempertahankan kehormatan keluarga. Keturunan yang dibesarkan dengan memandang perempuan sebagai simbol kehormatan keluarga.

Dalam hal menjaga martabatnya ia adalah
keturunan yang diajarkan untuk menjaga martabat orang lain dan dirinya sendiri. Mereka adalah keturunan yang diajarkan untuk tidak tunduk kepada orang lain, bebas merdeka berjuang dan berusaha untuk bertahan hidup.

Orang Bugis adalah keturunan yang berabad abad mentalnya telah dibentuk dan ditempa dengan keras oleh gelombang. Mereka diajarkan berani menghadapi masalah dan tidak lari dari kenyataan hidup. Keturunan yang bisa jujur akan diri sendiri, sesama manusia dan Tuhannya. Ia pun dikenal sebagai keturunan yang tangkas dan tidak mudah menyerah dan berputus asa.

Nah, yang akan dibicarakan di sini adalah bagaimana pandangan orang Bugis itu sendiri dalam hal mempertahankan nilai dan martabat dalam kehidupannya.

Sebagaimana diketahui, leluhur Bugis telah mengajarkan kepada anak-generasinya semacam wasiat kehidupan dengan mengedepankan kebaikan dan kebajikan. Hal itu tertuang dalam prinsip sipakatau, sipakalebbi, dan sipakainge. Di mana dalam melakukan interaksi sosial mengarusutamakan keharmonisan hidup. Namun demikian tidak mengesampingkan hal-hal yang bisa merusak citra dan harga diri keluarganya.

Seperti dijelaskan sebelumnya, utamanya lelaki Bugis sejak anak-anak beranjak dewasa mereka telah diberi berbagai wejangan dari orang tuanya bagaiman berperilaku dan bertutur kata yang baik. Namun begitu, tidak diajarkan kepada anak-anaknya menjadi seorang penakut dalam hal menjalankan kebenaran.

Orang tua Bugis akan menjadi bangga melihat anak-anaknya sebagai seorang pemberani di jalan yang lurus. Sebaliknya ia akan mencerca habis-habisan apabila anak-anaknya berperilaku buruk tidak menentu terlebih atas perilakunya itu bisa berimbas malu keluarga (mappakasiri-siri).

Meskipun demikian orang tua Bugis biasanya tetap mengingatkan anak laki-lakinya, agar jangan pernah dipermalukan di depan umum, apapun risikonya. Seperi ditempeleng di depan umum, dikata-katai yang menjurus merendahkan martabat keluarganya. Hal-hal seperti ini bisa berakibat fatal bahkan seringkali berakhir nyawa taruhannya. Dalam situasi seperti ini emosional yang berbicara.

Orang Bugis dikenal mempunyai falsafah yang disebut “eppa cappa” atau empat ujung, yakni cappa lila (bicara), cappa laso (kawin), cappa kallang (ilmu), dan cappa kawali (sigajang). Falsafah ini diturunkan kepada kaum lelaki Bugis untuk mengakselerasikan dalam pergaulan sosialnya.

Dalam Lontara Paseng Toriolo orang Bugis mengatakan, Engka eppa cappa’ bokonna to laoe, iyanaritu saisanna : Cappa’ lilae, Cappa’ orowanewe, Cappa kallangnge, enrengnge Cappa’ kawalie,

Artinya terdapat empat ujung yang menjadi bekal bagi orang yang bepergian, di antaranya, yaitu :Ujung lidah, Ujung kelelakian (ujung kemaluan), Cappa Kallang (Ujung pena/ Polpen), dan Ujung badik/kawali (senjata).

BACA JUGA :  Mengenal Ka'bah

Ketika menghadapi sebuah masalah, orang Bugis mengedepankan Ujung Lidah, menyelesaikan dengan jalan diplomasi atau pembicaraan terlebih dahulu.

Bila gagal dengan ujung lidah, maka bisa dilakukan dengan mengadakan hubungan pernikahan antara kedua pihak yang bertikai, diharapkan dengan adanya hubungan ini bisa menjalin kekerabatan yang lebih kuat.

Apabila cara di atas gagal maka cara berikutnya Cappa Kallang, yaitu dengan ilmu pengetahuan, dan kalau inipun mengalami kegagalan maka jalan terakhir adalah dengan “peperangan” untuk mempertahankan harga diri, menunjukkan keberanian dalam kebenaran.

Falsafah Eppa Cappa’ ini bukan hanya efektif dalam penyelesaian Perkara atau masalah saja, tapi dalam proses pembauran atau interaksi sosial kemasyarakatan.

Adapun makna falsafah EPPA CAPPA, yaitu :

1. CAPPA’ LILA (Ujung lidah)

Diartikan sebagai kecerdasan yang mencakup semua hal, baik kecerdasan emosional sampai kecerdasan spiritual, sehingga dapat membedakan baik-buruk.

Dalam kehidupan manusia, berbicara mempunyai dua fungsi utama, yaitu selain sebagai alat untuk melahirkan perasaan juga sebagai alat komunikasi.

Dengan berbicara, manusia dapat mengungkapkan segala perasaan yang sedang dialaminya, misal kemarahan, kesedihan, bahagia, dan lain sebagainya.

Dengan berbicara, manusia dapat mengutarakan isi hatinya, menyampaikan pesan kepada orang lain, dengan kata lain berbicara adalah alat untuk berkomunikasi manusia dalam suatu pergaulan didalam masyarakat.

Sebagai alat untuk berkomunikasi, berbicara dapat memperlancar pergaulan atau hubungan, melahirkan gagasan, ide, isi hari, perasaan, inisiatif dan kreativitas, menambah pengetahuan, dan menyampaikan informasi.

2. CAPPA’ LASO (Ujung Kemaluan/Kelelakian)

Bisa diartikan bahwa dalam mencari jodoh, hendaklah mencari jodoh dari kalangan bangsawan, kaya, keturunan yang baik-baik, atau orang yang berpengaruh. Cara ini salah satu cara raja-raja Bugis melakukan ekspansi tanpa kekerasan, seperti yang dilakukan raja Bone ke-16 Lapatau Matanna Tikka.

Strategi cappa laso ini, diyakini dan terbukti mampu meredakan perseteruan antara ketiga kerajaan Bone, Luwu, dan Gowa. Dengan adanya keturunan di masing-masing kerajaan mampu menciptakan kerukunan dan persahabatan ketiga kerajaan yang dikenal Perjanjian Tana Bangkalae. Perjanijian ini masih bisa dilihat situsnya di kota Watampone.

3. CAPPA’ KALLANG (ujung pena/polpen)

Bermakna ilmu pengetahuan, bahwa tidak cukup hanya ujung lidah atau kemampuan berbicara, dan ujung kemaluan atau melalui hubungan pernikahan, namun harus didukung pula dengan ilmu.

Cappa’ kallang juga mengacu pada kemampuan menulis serta penggunaan media informasi dan komunikasi untuk mengembangkan diri.

Dalam lontara Toriolo, dijelaskan “rekko eloki malampe parenggerang siko lampe ittana, winrui bate lima”, artinya jika ingin memanjangkan daya ingat maka menulislah.

4. CAPPA’ KAWALI (ujung badik)

Adalah jalan terakhir, bermakna bahwa dalam pergaulan hendaklah menjaga harkat dan martabat sebagai orang Bugis yang menjunjung tinggi adat “siri napesse” (memegang teguh adat dan prinsip hidup).

Bila menghadapi permusuhan, maka di sinilah fungsi ujung yang terakhir, harga diri menjadi taruhan, keberanian pantang mundur ditunjukkan untuk dipertaruhkan, dengan catatan bahwa kita dalam posisi yang benar. Lawan tak dicari, apabila sudah menyangkut harga diri, pantang berbalik.

Dalam adat Bugis, faktor harga diri adalah harga mati yang harus dibayar meskipun dengan nyawa. Manakala sudah terjadi kondisi seperti ini biasanya berakhir dengan “sigajang” sebagai pilihan terakhir.

BACA JUGA :  Masyarakat memerlukan kecepatan, keamanan, kemudahan, dan kejelasan informasi

Dalam proses sigajang ini didahului dengan kata-kata … mupakasirisika bela … eloko ga siakkatenning tayya … ( kau membuatku malu … maukah kau saling pegang lengan?).

Maksud saling pegang lengan di sini adalah baku tikam atau sigajang. Kedua pihak saling berpegangan tangan/lengan dan tangan lainnya masing-masing memegang badik lalu saling tikam. Apabila saat itu belum terjadi sigajang, maka kedua pihak yang berseteru berjanji untuk bertemu di suatu tempat.

Setelah perjanjian mematikan itu, keduanya pulang ke rumah masing-masing untuk menyiapkan senjatanya yang paling mauso atau ampuh. Pakaian yang dikenakan hanya celana pendek dengan sarung dililit di pinggang. Tidak ada lagi cara untuk melerai, mereka masing-masing mempertahankan harga diri.

Tiba di tempat perjanjian, keduanya bertemu, diawali saling mengumpat dan menggertak satu sama lain. Emosipun memuncak sambil menepuk dada “mate memenno narekko loko mate” lalu keduanya berhadapan dan saling berpegangan lengan … lalu … kemudian … mereka sigajang … akhirnya keduanya terbujur kaku. Itulah jalan terakhir yang biasa dilalui orang Bugis.

Ada beberapa aksi mematikan yang sering dilakukan Bugis-Makassar di antaranya:

1. Sigajang Laleng Lipa adalah Tradisi Suku Makassar

Suku Makassar dikenal temperamen, suka mengamuk, dan siap mempertaruhkan nyawa untuk sesuatu permasalahan.

Tak tanggung-tanggung, pertumpahan darah bisa saja terjadi walaupun permasalahannya dianggap sepele. Suku Makassar mengenal istilah siri na pacce, sehingga permasalahan biasanya diselesaikan dengan pertempuran.

Kebanyakan terjadinya pertumpahan darah karena persoalan malu dan dipermalukan. Soal malu dan dipermalukan banyak diwarnai oleh kejadian-kejadian yang dilatari adat yang sangat kuat.

Walaupun, nyawa yang menjadi taruhannya suku Makassar tetap memiliki cara-cara khusus untuk menyelesaikan permasalahan dengan bijak. Sebagaimana dalam pepatah Makassar yang kira-kira maknanya, ketika badik telah keluar dari sarungnya pantang diselip dipinggang sebelum terhujam ditubuh lawan.

Makna filosofinya mengingatkan agar suatu masalah selalu dicari solusi terbaik tanpa badik. Hal ini biasanya dilakukan dengan musyawarah melibatkan kedua belah pihak bermasalah serta dewan adat.

Jika dalam musyawarah tidak tercapai kesepakatan, makan berhadap-hadapan atau pertempuran adalah pilihan terakhir. Namun, hal ini juga dilakukan dengan cara-cara tersendiri.

Suku Makassar berhadap-hadapan dengan lawan yang diselesaikan dengan assigajangeng (baku tikam) adalah cara terakhir, dilakukan dalam satu sarung. Masing-masing bersenjata badik/kawali dengan ring hanya selembar sarung. Tempat,waktu dan penyaksi ditentukan.

Biasanya hal ini sulit dihindari kalau masalah menyangkut siri. Maka kedua petarung menyiapkan badik terbaik miliknya. Badik warisan turun temurun yang riwayatnya panjang banyak mengarungi peperangan dan duel satu lawan satu di masa lalu,

Tentu tak terbilang nyawa meregang dipisahkan tubuhnya oleh badik bertuah itu. Tuak dan jeruk nipis disiapkan sebagai air rendaman badik agar sang badik menajam dan mauso (ampuh melukai dan membunuh).

Dua perwakilan keluarga (laki-laki) yang bertikai harus diselesaikan dengan saling tikam di dalam sebuah sarung. Tradisi yang di lakukan pada masa kerajaan di mana merupakan upaya terakhir dari suatu permasalahan adat yang tidak bisa terselesaikan melalui musyawarah untuk mencapai mufakat.

BACA JUGA :  Pertemuan Islam dengan Adat Bugis

Walaupun nyawa jadi taruhannya, namun jika melakukan sigajang kedua belah pihak yang bertikai tidak harus lagi ada rasa dendam yang terpendam dan menganggap perkara sudah selesai. Walaupun kadang hasil dari Sigajang Laleng Lipa kebanyakan berakhir imbang. Kalau tidak sama-sama meninggal, keduanya sama-sama hidup.

Akan tetapi seiring dengan kemajuan pendidikan maka ritual semacam ini telah ditinggalkan oleh masyarakat makassar. Akan tetapi kini tradisi Sigajang ini telah dilestarikan sebagai warisan budaya leluhur Sulawesi Selatan, yang dipentaskan di atas panggung dan menyebar keberbagai daerah di Sulawesi Selatan.

Biasanya pementasan ini diawali dengan aksi bakar diri meski lengan penari dibakar dengan obor namun para penari tetap terseyum seolah tidak merasakan panas sengatan api. Setelah itu barulah kedua kubu perserta sigajang leleng lipa diberi mantra oleh seorang empu dan melakukan pementasan sigajang laleng lipa.

Adapun Nilai-nilai dari ritual Sigajang Laleng Lipa, yaitu sarung sebagai simbol persatuan dan kebersamaan masyarakat Makassar, berada dalam satu sarung berarti kita dalam satu habitat bersama.

Jadi sarung yang mengikat kita bukanlah ikatan serupa rantai yang sifatnya menjerat, akan tetapi menjadi sebuah ikatan kebersamaan di antara sesama manusia.

Inilah ciri khas budaya Makassar, ketika sebuah perselisihan tak dapat lagi dihindari, maka harga diri harus ditegakkan dengan cara saling meniadakan nyawa. Di saat seperti itu konflik berdarah mengacu kepada sebuah orientasi ujian kemuliaan seorang manusia.

2. Massallo Kawali adalah Tradisi Suku Bugis

Massallo Kawali menyimbolkan semangat orang Bugis untuk melundungi dan mempertahankan harga diri. Massallo Kawali ini juga dilakukan para laskar Bone di zaman kerajaan. Para laskar passiuno melatih ketangkasan untuk menghadapi musuh dengan menggunakan badik. Dilakukan dalam bentuk tim. Di masa perang Bone banyak tentara Belanda yang tewas mengenaskan dari tangan laskar passiuno (pasukan berani mati kerajaan Bone).

Massallo Kawali ini di peragakan oleh enam orang masing-masing menggunakan badik (kawali). Sebelum massallo didahului ritual khusus. Di masa kerajaan Bone ritual tolak bala melibatkan sesepuh ataupun bissu.

3. Maggiri Kawali juga tradisi dari Bugis

Maggiri ini dilakukan oleh bissu dengan ritual mantera menggunakan bahasa to langi. Lalu dengan keris menggorok leher dan bagian tubuh lainnya. Uniknya ternyata tak mempan dengan senjata tajam.

Selain sebagai penasihat kerajaan pada masa sebelum Islam, bissu mempunyai peranan dalam pengejaran Arung Palakka oleh tentara Gowa. Melihat pengejaran pasukan Gowa terhadap Arung Palakka, bissu mengambil inisiatif mengalihkan perhatian dengan melakukan tari maggiri untuk menarik perhatian pasukan kerajaan Gowa, yang saat itu hampir saja menemukan Arung Palakka.

Pasukan kerajaan Gowa pun asyik melihat tari-tarian bissu yang dinamakan sere bissu sehingga melupakan pengejaran terhadap Arung Palakka. Kesempatan itu dimanfaatkan oleh Arung Palakka untuk meloloskan diri.

Akhirnya perjuangan La Tenritatta Arung Palakka tidak sia-sia, ia pun berhasil memerdekakan kerajaan Bone dari penindasan kerajaan Gowa. Perjuangannya itu dilakukan dengan segala daya upaya dan strategi.

Itulah berbagai tradisi mematikan yang biasa dilakukan Suku Bugis-Makassar di zaman kerajaan. Dan tradisi tersebut sering dipentaskan kelompok-kelompok seni di masa sekarang ini