Ningsih Tinampi, “dukun” pengobatan alternatif yang dipercaya mampu mengusir santet. Namanya semakin santer sejak beliau mendokumentasikan kegiatannya di channel YouTube-nya.

Mungkin sebagai penonton Youtube, kita sudah bosan dengan tontonan yang itu-itu saja. Kalau nggak nge-prank, geledah rumah publik figur, palingan juga cerita yang mistis-mistis. Tentu saja, semua itu harus didahului dengan judul yang bombastis supaya mudah memancing para netizen untuk ngeklik.

Ada konten baru yang tengah ramai diperbicangkan di Youtube kita. Kalau yang lainnya hanya mampu menayangkan cerita-cerita berbau horor dengan pembawaannya yang bikin dag-dig-dug disertai musik-musik yang bikin merinding, maka channel Youtube yang ini tidak. Nama channel-nya Ningsih Tinampi.

Meskipun pesan yang ia bawa sarat akan mistis, tapi dia tidak membutuhkan gimmick-gimmick tak perlu untuk bisa menarik perhatian. Bahkan, judul yang ia berikan juga seolah sekenanya saja. Nggak perlu memikirkan kata kunci yang trending ataupun yang gampang bikin orang penasaran.

Coba bayangkan? Bagaimana bisa video yang dijuduli “H” saja, bisa ditonton 49 ribu kali? Dan sehari bisa upload sekitar 10-an video dengan viewer beragam, dari 19 ribu sampai 99 ribu. Apakah masih ragu-ragu menyebut ini begitu luar biasa? Lantas, apa sih yang channel ini berikan kepada para penontonnya?

Sesuai namanya, channel ini memang merekam kegiatan yang dilakukan oleh Bu Ningsih Tinampi sebagai “dukun” pengobatan alternatif. Beliau mengklaim bisa mengobati segala macam penyakit baik medis maupun non medis. Nah, proses penyembuhan penyakit non medis inilah yang jadi “konten” menarik untuk dilihat.

Pasalnya, rata-rata dari orang yang datang ke sana adalah pasien yang sudah berobat ke mana-mana tapi nggak tidak sembuh-sembuh juga. Ada pula yang meskipun merasakan sakit, tapi tenaga medis melihatnya tidak terjadi apa-apa. Lantaran penyakit yang diderita ini dipercaya dikarenakan santet, guna-guna, dan semacamnya.

BACA JUGA :  Legenda Kayu Sanrego

Nah, di channel YouTube Ningsih Tinampi ini, video-video tersebut memperlihatkan Bu Ningsih sedang mengobati pasien-pasiennya dengan cara yang unik. Biasanya, di awal proses pengobatan, beliau akan berperang dengan makhluk yang menempel di tubuh pasiennya.

Aksi ini, seperti yang biasa kita lihat di televisi ketika seorang ustaz sedang me-ruqyah. Namun, yang menjadikannya berbeda, di tengah-tengah proses pengobatan tersebut, beliau mengajak ngobrol makhluk yang sedang menempel tersebut. Semacam ada proses negosiasi di dalamnya yang bisa diobrolkan dengan sangat santai dan akrab.

Dalam video berjudul, “Gak Takutkah dengan Munculnya Anaknya”

Di situ Bu Ningsih mengecoh makhluk yang menyebut dirinya sebagai anak buah Dajjal untuk diajak ikut beliau saja. Supaya keduanya bisa berteman. Dengan dalih, beliau akan mengajak seluruh orang untuk tidak taat beribadah. Saat si makhluk tersebut sudah menyetujui hal tersebut, lantas Bu Ningsih bertanya, “Bagaimana caranya supaya kamu (makhluk yang menempel) bisa keluar dari tubuh anak ini?” untuk memahami cara yang tepat mengeluarkan makhluk tersebut.

Karena proses pengobatan tersebut tidak dilakukan di ruangan tertutup, melainkan di sebuah ruangan pengobatan yang lumayan luas, maka kegiatan ini bisa “ditonton” oleh pasien dan keluarga pasien yang lain. Sambil sesekali mendengarkan wejangan atau ilmu-ilmu yang diberikan oleh Bu Ningsih.

Meskipun postingan di channel YouTube Bu Ningsih baru sering diperbincangkan akhir-akhir ini, sebetulnya beliau sudah rajin upload di Youtube sejak setahun yang lalu. Dan klinik pengobatan alternatif ini sendiri, sudah ada sekitar 5 tahun yang lalu.

Pengobatan alternatif Ningsih Tinampi ini pun semakin ramai. Bahkan karena saking ramainya, di sekitar kliniknya yang terletak di Gang Lambau, Dusun Lebaksari, Desa Karangjati, Kecamatan Pandaan, Pasuruan, Jawa Timur ini, banyak tetangganya yang menjadikan rumahnya sebagai homestay. Dengan tarif rata-rata Rp100 ribu per malam.

BACA JUGA :  Misteri Suku Oni

Homestay ini cukup membantu pasien-pasien yang sedang mengantri menunggu gilirannya. Homestay tersebut tidak sekadar sebagai tempat untuk menunggu berobat. Bahkan untuk menunggu antrian pendaftaran saja, ada yang harus menunggunya satu sampai dua hari.

Sebagai seorang perempuan paruh baya, cara beliau mengobati sungguh identik dengan “ibu-ibu” pada umumnya. Sikap dan gaya bicaranya yang tegas, luwes, grapyak, dan bawel begitu melekat pada dirinya. Apalagi pas asyik ngobrol sama jin-jin yang menempel di tubuh pasien-pasiennya.

Kamu cukup membayangkan bagaimana ibumu di rumah yang ngomel-ngomel kalau kita dianggap main hape mulu dan sama sekali nggak bantuin pekerjaan rumah. Atau kita nggak segera salat padahal waktu salat sudah hampir habis. Nah, begitulah cara Ningsih Tinampi beraksi.

Sebetulnya fenomena pengobatan alternatif ini tidak terjadi kali ini saja. Tahun 2009 lalu, misalnya. Kita dihebohkan oleh Ponari, dukun cilik asal Jombang yang dipercaya dapat menyembuhkan berbagai penyakit melalui air yang dicelup dengan batunya. Dan membuat banyak orang berbondong-bondong datang padanya.

Kedua hal tersebut merupakan contoh tentang bagaimana masyarakat masih mempercayai pengobatan alternatif sebagai jalan untuk mencari kesembuhan. Meskipun kehidupan saat ini dianggap sudah modern, tapi hal ini bisa dipahami. Pasalnya, masyarakat kita dari dulu memang mempercayai pengobatan semacam ini. Dan kepercayaan tersebut sudah mengakar kuat.