Sejarah Penggunaan Gelar Andi
(oleh : H.Andi Bahram Sebbu)

Masyarakat Bugis sejak dahulu dalam mengeluarkan pendapat dijamin oleh kesepakatan adat dan keputusan raja atas pertimbangan dewan adat.

1. Hasil keputusan tudang sipulung
2. Saran dan pendapat peserta rapat adat
3. Mengajukan usul melalui koordinator kelompok
4. Keputusan rapat adat disetujui oleh pemangku adat ((raja)

Dalam Masyarakat Bone setiap kelompok dipimpin oleh seorang yang digelar kalula. Setelah To Manurung menjadi raja, maka kelompok-kelompok kalula bergabung menjadi beberapa wanua/kampung, yaitu:

1.Kelompok Penguasa Bone Tengnga yang terdiri dari: Cina, Barebbo, Awampone, dan Palakka. Keempat wilayah tersebut disebut Bone Tengah yang dipimpin oleh seorang kalula. Dan kalula inilah yang mewakili keempat daerah tersebut menyampaikan pendapat dalam rapat adat tudang sipulung.

2. Kelompok Penguasa Pitu Matteddung Tanre Ri Ajangale yang terdiri dari: Wanua Mampu, Bengo, Sailong, Amali, dan Timurung. Yang diketuai oleh seorang kalula. Dan kalula inilah yang mewakili keempat daerah tersebut menyampaikan pendapat dalam rapat adat tudang sipulung.

3. Kelompok Anang Takka yang terdiri dari: Gona, Salomekko, Bulutana, Abbumpungeng, Tarasu, Kajuara, dan Gona. Yang juga dipimpin seorang kalula. Dan kalula inilah yang mewakili keempat daerah tersebut menyampaikan pendapat dalam rapat adat tudang sipulung.

4. Kelompok Limampanua Rilaukale yang terdiri dari: Unra, Matuju, dan Jaling. Yang juga dipimpin seorang kalula. Dan kalula inilah yang mewakili keempat daerah tersebut menyampaikan pendapat dalam rapat adat tudang sipulung.

5. Kelompok Pitumpanua terdiri dari: Wanua Palakka, Camming, Ceppaga, Libureng, Sappiulo, Cempaniga, dan Gottang. Yang juga dipimpin seorang kalula. Dan kalula inilah yang mewakili keempat daerah tersebut menyampaikan pendapat dalam rapat adat tudang sipulung.

6. Limampanua ri Ajangale, yaitu : Otting, Ulo, Palongki, Lanca, dan Tajong. Namun masing-masing daerah tersebut mewakili diri sendiri tanpa dikoordinatori oleh kalula.

Nah, di masa pemerintahan Raja Bone ke-16 La Patau Matannatika (1696-1714) maka mulailah dibuat semcam diagram untuk stratifikasi masyarakat Bone yang diusulkan pada rapat adat (tudang pangadereng). Dalam rapat tersebut membahas pemberian gelar bagi keturunan anak raja, anak pattola, dan anak rakyat biasa.

Adapun penggolongan stratifikasi berdasarkan hasil rapat tudang pangadereng, yaitu:

BACA JUGA :  Terjebak Hitam Putih

1. Anak Arung Matasa (bangsawan asli). Yang termasuk dalam golongan ini, adalah:
a. anak pattola (putra putri mahkota)
b. anak pattola (bangsawang asli tetapi bukan putra putri mahkota). Artinya anak dari perkawinan antara ibu bapak yang sederajat maka nilainya tetap sama ibu bapaknya.

2. Anak Arung yang bukan anak pattola atau babgsawan asli. Yang termasuk dalam golongan ini, adalah:
a. anak rajeng (anak yang lahir dari bapak berderajat anak pattola (bangsawan asli) dan ibunya berderajat anak cipue’ (separoh) atau anak cera’.
b. anak cipue (cera’ ciceng) atau bangsawan sepatuh, yaitu anak yang lahir dari bapak berderajat anak pattola (bangsawan asli) dan ibunya anak merdeka atau biasa.
c. anak cera’ dua (anak yang lahir dari bapak berderajat anak cipue’ atau cera’ ciceng dan ibunya orang merdeka atau biasa.
d. Anak cera’ tellu (anak yang lahir dari bapak berderajat cera’ dua dan ibunya orang biasa atau merdeka.
e. anak cera’ eppa ( anak yang lahir dari bapak berderajat cera’ tellu dan ibunya berderajat orang biasa atau merdeka).

Penjelasan :
A. Perkawinan yang terjadi antara seorang bapak dan ibu yang keduanya memiliki tingkat derajat yang sama, maka anak putra putrinya mempunyai tingkatan derajat yang sama pula dengan ibu bapaknya.

B. Di luar tingkatan yang dimaksud cera’ lima, maka ia termasuk kategori golongan tau deceng.

C. To Maradeka (orang merdeka), yaitu :
a. To Deceng ( orang baik-baik )
b. To Sama ( orang biasa).

D. Ata (hamba sahaya), yaitu :
a. Ata Manasu atau Ata mana ( hamba sahaya warisan).
b. Ata Mabuang ( hamba sahaya baru ).
Tentang ata atau hamba sahaya tetap ada dalam penyebutannya, namun dalam segi perlakuan dan praktiknya, sejak masuknya Islam dicabut khususnya pada pemerintahan Raja Bone ke-13 Lamaddaremmeng atas persetujuan ade pitu.
c. anak karung (anak raja-raja)
d. anak manrapi ( ibu dari kasta golongan yang tingkatan derajatnya menurun).
e. Kadhi atau kali (berasal dari kalangan ulama yang diberi gelar seperti petta kalie (untuk Kadhi), puang imang (untuk Imam), puang katte (untuk khatib), dan pua’ doja (untuk penjaga masjid dan bilal).

BACA JUGA :  Merdeka !!! Perjuangan Tak Pernah Berakhir

Oleh karena itu pemberian gelar tergantung dan merujuk atau makkacue dari tingkat kebangsawanan dari bapak (ambe mappabbati). Sehingga gelar andi diberikan kepada bagi mereka yang keturunan anak pattola, atau bapak anak pattola.

Apabila kita meruntut sejarah, tidak pernah kita temukan kata “andi, petta, daeng”. Di mana kata ini khususnya di kalangan kerajaan Bone. Tidak didapatkan referensi dalam rapat adat atau tudang sipulung. Bahkan mulai Raja Bone pertama sampai raja yang terakhir La Pabbenteng. Gelar kebangsawanan hanya ada kata “La” untuk laki-laki dan “We” untuk perempuan, serta “Tenri” bagi perempuan yang belum menikah/gadis. Sedang kata “Puang” sapaan kepada seseorang yang dihargai meskipun ia bukan keturunan bangsawan.

Hanya di masa lalu ada kata “anri” yang merupakan simbol penyebutan kepada anak raja atau bangsawan atau tokoh. Karena kalau menyebut nama aslinya dianggap kurang sopan. Misalnya anak raja bernama Sitti dipanggil anri.

Berikut pendapat beberapa tokoh Bugis tentang gelar Andi

1. Andi Mattalatta
Asal usul gelar andi adalah pemberian Belanda kepada anak arung atau keturunan bangsawan atau anak pattola. Dengan tujuan membedakan bangsawan terpelajar dengan tosama atau tomaradeka atau orang biasa atau hamba sahaya.

2. Prof. Mattulada
Penggunaan gelar andi dimulai tahun 1930. Oleh para kepala swapraja dan keluarga bangsawan untuk memudahkan identifikasi keluarga anak raja. Di mana para anak raja terdahulu tidak pernah menggunakan nama depan andi, tetapi hanya La untuk anak bangsawan laki-laki dan We untuk anak bangsawan perempuan. Sementara untuk Makassar menggunakan gelar opu, daeng, karaeng, arung, bau atau puang.

3. H.Andi Sebbu
Pemberian gelar andi, petta, daeng berasal dari bahasa Lamakkaraseng (bahasa setara). Di mana bahasa Lamakkaraseng digunakan setara dengan pemberian nama atau gelar keturunan (abbatireng) bagi bangsawan Bugis, Makassar, Toraja, dan Mandar.

Misalnya :

1. Pemberian gelar sultan bagi keturunan bangsawan suku Makassar, yaitu Sultan Hasanuddin. Sedang pemberian gelar bagi keturunan anak Bugis Bone disetarakan dengan gelar sulewatang. Gelar La atau Sultan disetarakan dengan La atau Sultan bagi keturunan bangsawan Bugis. Misalnya La Patau Matanna Tikka, La Tenritatta Arung Palakka, dan bangsawan Wajo La Maddukelleng.

BACA JUGA :  Kajian Misteri “To Manurung ”

2. We Ummu Datu Larompong matinroe ri Tompo Tikka anaknya Pajunge ri Luwu disetarakan dengan pemberian gelar bangsawan perempuan di Bone, seperti Ratu Bone ke-11 We Tenrituppu matinroe ri Sidenreng.

3. I Mariama Karaeng Pattukangan, I Gumintiri Siti Asia Karaeng ri Gowa disetarakan dengan anak perempuan bangsawan Bugis Bone. Seperti I Yalu Arung Apala Eppona Arumpone matinroe ri Malimongeng.

4. Bangsawan Bugis Makassar juga diberi gelar setara dengan opu ri Luwu, karaeng untuk suku Makassar, arung ri Bone, Soppeng, dan Pinrang, dan puang ri Tana Toraja seperti Puang Sangalla.

5. Pengertian gelar Petta
Petta dalam bahasa Lamakkaraseng disetarakan dengan kata upe’ta. Kata upe’ta seperti dalam kalimat: “upe’ta muna idi pabbanuae, nasaba engka manneng mua isanre nasalewangeng pabbanuae”.

Diberikan gelar kepada seseorang yang telah berjasa du suatu wabua/kampung disetarakan dengan petta, andi, daeng, atau puang dan juga dapat diberikan pada keturunan bangsawan yang telah menikah.

6. Kesetaraan pemberian gelar Sombayya ri Gowa, Mangkau ri Bone, Pajung ri Luwu

Andi artinya adik atau yang muda pada suku Makassar disetarakan dengan panggilan andi atau daeng ri Bone, dan setara pula dengan panggilan andi atau daeng ri Luwu.

Akan tetapi panggilan gelar abbatireng ri Bone seperti arung, petta, andi, daeng, puang, cera’ ciceng sampai cera’ lima.

Kadhi, kalie, katte, to sama disepakati pada mada pemerintahan La Patau Matanna Tikka setelah masuknya Islam di Bone. Hal itu berdasarkan atas usul enam kelompok kalula yang disetujui oleh ade pitu.

Untuk era sekarang, bila seseorang akan diberikan gelar seperti andi, karaeng, petta, puang, daeng yang tidak memiliki silsilah keturunan atau panguriseng, dapat diberi gelar atas usul rakyat dan dirapatkan di dewan adat, dan dikukuhkan melalui pleno DPRD.

Mereka diberi gelar dengan pertimbangan, atas jasa-jasanya terhadap daerah. Hal itu terungkao dalam bahasa Bugis :
engka pa bate lana
engka pa bate limanna
engka topa bate pakkita
iyarega taneng taneng
cokkona riala tanra

Oleh: H.Andi Bahram Sebbu (topadammani)