Mudik atau kembali ke udik atau kembali kampung sudah menjadi kebiasan masyarakat perantau sejak dahulu. Di kalangan Bugis disebut MATTANA UGI yaitu kembali ke tanah Bugis.

Mattana Ugi seperti momentum Idul Fitri biasanya terjadi kegiatan “Mattana Ugi” secara besar-besaran. Mereka yang menyebar di daerah perantauan saling mengabarkan “Uppanna to Mattana Ugi”, yaitu kapan kita ke tanah Bugis atau kapan pulang kampung. Mudik besar-besaran ini menambah susana hangat idul fitri di kampung masing-masing.

Istilah Mattana Ugi biasanya dilakukan bagi perantau Bugis meninggalkan kampung halaman dengan melintasi laut. Ia meninggalkan kampung menuju negeri lain dengan berbagai alasan seperti ekonomi, ilmu pengetahuan, ekspansi daerah, ekspansi keturunan, dan alasan lainnya.

Bahkan ada yang merantau dalam satu kelurga ayah, ibu, dan anak. Hal ini terjadi apabila sebelumnya sudah ada keluarganya yang sukses di perantauan.

Di antara mereka ada yang tinggal menetap di daerah perantauan, ia beranak-pinak dan menjadi penduduk setempat, menciptakan marga. Mata pencahariannya sudah menetap, ada pedagang, pejabat publik,politikus, TNI, Polisi, dan lain-lain.

Tak heran kalau ada orang Bugis belum tahu sejarah dan adat istiadat kampungnya karena ia lahir di perantauan. Mereka pernah sekalipun menginjakkan kakinya di Tanah Bugis.

Bugis merupakan kelompok etnik dengan wilayah asal Sulawesi Selatan. Ciri utama orang Bugis adalah bahasa dan adat-istiadat, sehingga pendatang Melayu dan Minangkabau yang merantau ke Sulawesi sejak abad ke-15 (1401-1500) telah terakulturasi, juga dikategorikan sebagai orang Bugis.

Di kalangan bugis dikenal istilah Passompe Baku-baku, yaitu merantau tetapi ia tidak berdiam lama di perantauan, sebulan atau lima bulan kemudian ia kembali kampung.

Tak berselang lama di kampungnya ia kembali merantau, mungkin karena dompet menipis. Jadi di tempat rantauannya hanya mencari duit, kalau sudah ada yang terkumpul dan cukup buat ole-ole keluarga ia pulang lagi begitu seterusnya.

Orang bugis memang hobi merantau, suka dengan kehidupan yang menantang. Ia meninggalkan kampung halaman meskipun harus melewati tingginya gelombang.

Ada yang merantau ke pulau jawa, Sumatera, Kalimantan, Papua, negeri jiran, sampai ke benua lain.

Umumnya, momen mudik atau Mattana Ugi bugis rantau, seperti acara keagamaan (lebaran) , acara adat, serta seremonial lainnya. Momentum ini selain melepas kerinduan pada kampung halaman, keluarga juga silaturahmi dengan kerabat lainnya. Dan setelah seminggu atau beberapa bulan kemudian ia kembali ke daerah rantauan.

Mudik atau Mattana Ugi di kalangan Bugis di mulai setelah Islam masuk. Agama Islam masuk ke Sulawesi sejak abad ke-16, yang menjadi pusat peradaban Islam di Sulawesi adalah Kerajaan Gowa. Gowa memeluk Islam tahun 1603

Meski telah masuk sejak abad ke 16, Islam baru mengalami perkembangan pesat pada abad ke-17 setelah raja-raja Gowa dan Tallo menyatakan diri masuk Islam. Islam dinyatakan resmi sebagai agama kerajaan Gowa pada tanggal 9 Jumadil Awal 1051 H / 20 September 1605 M.

Di kerajaan Bone sendiri Islam masuk tahun 1610 namun baru mengalami perkembangan tahun 1611 pada masa pemerintahan Raja Boe ke-11 La Tenriruwa (1611-1616), perkembangan Islam selanjutnya diteruskan raja-raja berikutnya.

Pada tahun 1611 Masehi banyak orang Bugis yang merantau ke luar daerah seperti di beberapa wilayah di Indonesia, Malaysia, Brunai,Singapura, dan bahkan sampai ke tana Arabe’ (tanah Arab), dan tana Massere (tanah Mesir).

Mereka sampai ke tanah Arab dan Mesir untuk mempelajari apakah itu agama Islam sebenarnya. Ketika Gowa mengajak Bone memeluk Islam, para Ade’ Pitu tidak langsung mau menerimanya, namun ia pergi mencari tahu Agama Islam yang sesungguhnya.

Secara pesat Islam berkembang di Bone pada tahun 1631 Masehi pada masa pemerintahan Raja Bone ke-13 La Maddaremmeng (1631-1644). Di masa pemerintahannya La Maddaremmeng menghapus perbudakan di Sulawesi Selatan, beliau anti perbudakan sehingga banyak dibenci oleh raja-raja di Sulawesi. Ia penganut dan menjalankan syariat Islam yang taat.

Dari sinilah awal orang Bugis melakukan mudik atau Mattana Ugi pada masa pemerintahan La Maddaremmeng tahun 1631 Masehi. Di mana pada masa itu upacara keagamaan dirayakan setiap tahunnya, dan berlangsung sampai sekarang

Oleh : Mursalim (Teluk Bone)

N1
loading...