Sejarah Keberadaan Bissu di Bone

636

BISSU adalah sebutan atau gelar bagi pemimpin ritual agama Bugis kuno, sebelum pengaruh Islam masuk. Bissu, berasal dari kata bessi, yang dalam bahasa Bugis memiliki arti bersih. Mereka disebut bissu karena tidak “berdarah”, ”suci (tidak kotor)”, dan “tidak haid” bagi yang perempuan.

Ada pula yang menyatakan bahwa kata bissu berasal dari kata Bhiksu atau Pendeta Buddha. Dan pendapat ini yang lebih mengena karena jauh sebelum ada Bissu telah ada agama Buddha.

Bhiksu merupakan kata terapan yang diberikan kepada seorang pria yang ditahbiskan dalam lingkungan biara Buddhis. Kata ini seringkali dirujukkan sebagai rohaniawan agama Buddha.

Pendapat yang pertama mengatakan Bissu, berasal dari kata bessi, yang dalam bahasa Bugis memiliki arti “bersih” dan apabila dikaji sama sekali tidak ada sangkut pautnya dalam pemaknaan bahasa Bugis.

Karena kata bessi dalam bahasa Bugis bermakna benda logam yang kuat. Kata bessi merupakan adopsi dan serapan dari kata besi. Karena besi dengan sifatnya yang kuat maka dalam bahasa Bugis dikenal kata aju bessi (kayu yang kuat). Oleh karena itu kata Bissu lebih tepat dikatakan berasal dari kata Bhiksu.

Hubungan Bissu dengan Bhiksu adalah keduanya berjenis kelamin laki-laki yang ditunjuk sebagai pemimpin ritual. Namun Bissu dalam Bugis berasal dari laki-laki yang memiliki watak dan karakter layaknya perempuan yang disebut calabai.

Berdasarkan Kitab La Galigo, kitab rakyat Bugis kuno, manusia tidak dapat berhubungan dengan penciptanya. Keadaan ini membuat lara sang pencipta, sehingga ia pun menurunkan manusia tanpa kelamin yang jelas, untuk memimpin upacara adat keagamaan. Oleh karena tanpa kelamin yang jelas, manusia ciptaan terakhirnya ini kerap disebut waria.

Sebenaranya waria itu adalah wanita tapi pria, maksudnya seorang berjenis kelamin pria namun tingkah, gaya, dan kelakuannya seperti perempuan atau layaknya perempuan. Salah satu penyebabnya adalah faktor lingkungan. Biasanya seorang lelaki tulen selalu bergaul dengan waria, maka tingkahnya pun lama-lama akan terpengaruh dan bergaya lemah gemulai seperti waria. Meskipun pada awalnya ia seorang pria petinju.

Pada masa pra Islam Bissu merupakan golongan yang sangat penting dan sangat diperlukan dalam kehidupan masyarakat Bugis. Di pundak bissu inilah semua upacara keagamaan dibebankan, untuk dilaksanakan demi memuji sang pencipta. Upacara adat keagamaan Mattemmu Taung (upacara syukuran diakhir tahun) merupakan salah satu upacara yang mengedepankan peran bissu. Acara ini harus dipimpin oleh bissu. Upacara tradisional di Sulawesi Selatan ini bermakna mencari keselamatan dan perlindungan dari sang pencipta.

Masa kerajaan pra-Islam di tanah Bone adalah masa kejayaan para bissu. Sehingga nyaris tidak ada kegiatan upacara ritual tanpa kehadiran bissu sebagai pelaksana sekaligus pemimpin prosesi upacara. Pada saat tersebut, setiap wilayah adat (ranreng) memiliki komunitas bissu. Di Kerajaan Segeri dan Kerajaan Bone dikenal komunitas bissu dengan sebutan Bissu Patappuloe (40 orang bissu). Pada setiap upacara ritual, ke-40 bissu itu harus hadir.

Bissu klasik atau Bisu pra-Islam tidak terbentuk begitu saja, mereka memiliki keahlian tertentu di antara orang-orang sekitarnya. Misalnya, memiliki kemampuan sebagai penghubung kepada dewata. Ia memberikan pengetahuan spritual kepada masyarakat sekitarnya. Selain karena keahliannya itu mereka tidak memiliki libido atau gairah seks terhadap lawan jenisnya. Karenanya digelarlah sebagai bissu.

Jadi keberadaan bissu klasik benar-benar menjadi kebutuhan masyarakat pada masanya, berbeda dengan bissu modern seperti sekarang ini hanya karena gaya dan perilakunya seperti perempuan maka langsung mau disebut bissu. Mereka hanya pelakon belaka. Karena terbukti setelah Islam masuk maka peran bissu peranan bissu tergantikan oleh para penghulu Islam.

Namun perlu dipahami, keberadaan bissu sekarang ini setelah masuk Islam, ia hanya sebagai pelakon sejarah bahwa di masa lalu mereka (bissu) pernah ada. Dan hal ini tetap perlu dilestarikan sebagai pembelajaran sejarah dan budaya bagi anak-anak kita ke depan.

Di masa kerajaan Bugis komunitas bissu juga menjadi penghuni istana kerajaan, ia bertugas menjaga permaisuri (isteri raja). Mereka dipercaya oleh raja untuk menjaga dan menemani istrinya ketika bepergian. Raja tidak pernah curiga karena bissu klasik memang tidak mempunyai gairah seks. Bissu klasik hanya fokus pada pengabdian. Selain menjaga permaisuri juga bertugas dan merawat benda-benda pusaka kerajaan, serta menjadi pelaku dalam acara ritual kerajaan.

Matoa Saidi (almarhum)

Sampai sekarang, peran bissu masih dapat dijumpai seperti di daerah Bone, Soppeng, Wajo, Luwu, dan Pangkep (Sigeri) walaupun jumlah dan kualitasnya pun semakin menyusut dari hari ke hari.

Menyusutnya peran bissu di samping tidak lagi berperan layaknya pra-Islam, serta tidak adanya kemudian perhatian dari dewan adat untuk kemudian lebih memperhatikan nasib mereka. Bissu yang masih tersisa sekarang ini adalah sebagian kecil yang masih mewarisi tradisi Bugis klasik kebanyakan hanya bissu pelakon (bissu modern) sebagai katalis sejarah..

Berbagai faktor eksternal dan faktror internal yang menjadikannya demikian. Faktor eksternal antara lain adalah pergseran pemahaman tentang keagamaan dan perubahan sistem pemerintahan dari sistem kerajaan ke negara kesatuan yang bermuara pada melemahnya lembaga adat dan hak tanah adat. Sementara faktor internal komunitas bissu adalah bagaimana bissu harus beradaptasi jaman yang penuh perubahan, dan regenerasi kepemimpinan serta keanggotaan baru.

Pada masa Kerajaan Bone , bissu menempati posisi terhormat di dalam masyarakat Bugis sebagai penasihat spiritual kerajaan, seorang bissu bukanlah orang sembarangan. Menjadi bissu dipercaya merupakan anugerah dari dewata. Tidak semua orang, bahkan jenis calabai, bisa menjadi bissu atas kehendak sendiri. Walaupun sebahagian besar bissu pada mulanya memiliki kecenderungan sebagai calabai.

Perubahan dan tanda-tanda untuk menjadi seorang bissu biasanya dimulai sejak kanak-kanak, ketika seorang anak mengidap ambiguitas orientasi seksual dan di saat yang sama menampakkan keterkaitan dengan dunia gaib. Anak-anak dengan keunikan ganda ini kemudian akan dipersiapkan menjadi bissu.

Untuk menjadi bissu diperlukan banyak persyaratan untuk membuktikan bahwa dia menerima berkat itu diantaranya berbaring dalam sebuah rakit bambu di tengah danau selama tiga hari tiga malam tanpa makan, minum dan bergerak. Jika berhasil, maka dia kemudian akan ditahbiskan menjadi bissu sejati.

Keberadaan bissu dalam sejarah manusia Bugis dianggap sezaman dengan kelahiran suku Bugis itu sendiri. Untuk menjadi seorang bissu harus melalui proses yang panjang dan tidak mudah. Walaupun bissu ini adalah lelaki yang memiliki figur feminin, namun tidak boleh identik dengan perempuan.

BACA JUGA :  Renungan, Bone dan Sejarah Kotak Kosong

Runtuhnya Kerajaan Bone di tanah Sulawesi pada masa pemerintahan La Pawawoi Karaeng Sigeri tahun 1905 berakibat buruk bagi kehidupan kaum bissu. Kehidupan mereka di dalam istana kerajaan terpaksa ditinggalkan dan kembali hidup berbaur di tengah masyarakat.

Dalam kehidupan kesehariannya, para bissu ini seolah menarik diri. Bahkan mereka cenderung menyembunyikan identitasnya sebagai bissu. Hal ini kemudian memuncak setelah agama islam mulai masuk dan dianut orang Bugis.

Tari Maggiri diperankan oleh Bissu

Bertolak dari kenyataan inilah eksistensi bissu cenderung fenomenal mengingat keberadaannya yang kontroversial dalam masyarakat Bugis modern yang Islami. Bissu juga dianggap menyimpang dari agama karena kecenderungannya menganggap arajang dan mustika arajang memiliki kekuatan gaib dari leluhur. Oleh anggota DI/TII dibawah pimpinan Kahar Muzakkar.

Kenyataan itu menjadi bertentangan dengan keyakinan dan kepercayaan para penganut agama Islam yang kemudian menyebabkan timbulnya pengejaran dan pembunuhan dalam tubuh komunitas bissu. Pengejaran dan pembunuhan yang di alami oleh komunitas bissu mulai pada tahun 1950. Kejadian ini berlangsung secara bertahap dan puncaknya itu terjadi pada tahun 1966.

Pada masa pergolakan DI/TII, tahun 1950-an, pasukan Kahar Muzakkar memberantas para bissu karena dianggap penyembah berhala dan tidak sejalan dengan syariat Islam. Ribuan perlengkapan upacara dibakar atau ditenggelamkan ke laut. Banyak sanro (dukun) dan bissu dibunuh, atau digunduli lalu dipaksa menjadi laki-laki normal. Kahar Muzakkar menganggap kegiatan para bissu ini adalah menyembah berhala, tidak sesuai dengan ajaran Islam dan membangkitkan feodalisme.

Penderitaan para sanro dan bissu masih berlanjut ketika Orde Lama ditumbangkan oleh Orde Baru pada tahun 1965. Para bissu dan mereka yang percaya akan kesaktian arajang menjadi tertuduh penganut komunis atau anggota Partai Komunis Indonesia (PKI).

Mereka dianggap tidak beragama, melakukan perbuatan syirik, dianggap menganut ajaran animisme. Barang siapa masih menganggap arajang sebagai benda kramat berarti menduakan Tuhan. Di antara mereka yang tertangkap harus memilih antara mati di bunuh atau memilih masuk agama Islam serta menjadi manusia normal (pria).

Gerakan pemurnian ajaran Islam tersebut di kenal dengan nama “Operasi Toba” (Operasi Taubat) yang gencar-gencarnya terjadi pada tahun 1966. Sejak itu, upacara Mappalili mengalami kemunduran, upacara-upacara bissu tidak lagi diselenggarakan secara besar-besaran. Para bissu bersembunyi dari ancaman maut yang memburunya.

Namun beberapa tahun belakangan, para bissu mulai mendapatkan keberanian untuk menunjukkan identitasnya. Bahkan kembali melakukan berbagai ritual keagamaan. Kembalinya fungsi bissu sebagai bagian dari acara ritual Bugis, sesungguhnya melalui pengorbanan yang panjang.

Bissu bisa bertahan hingga saat ini karena punya fungsi sosial yang terekam dalam masyarakat. Sejak zaman Bugis kuno hingga sekarang ini masih ada sebagian masyarakat Bugis yang percaya bissu dapat menghubungkannya dengan leluhur dan mengabulkan segala hasratnya.

Kini para bissu terpaksa bekerja sendiri untuk mendapatkan penghasilan. Hal ini disebabkan tidak adanya lagi perhatian dari pemerintah terhadap kelangsungan hidup mereka. Tidak ada lagi galung arajang (sawah kerajaan) yang menjadi sumber kehidupan sepanjang tahun seperti pada masa kerajaan.

Salah satu atraksi bissu

Mereka menggantungkan hidup pada panggilan orang-orang yang menggelar upacara adat. Sebagian besar di antara mereka menjadi perias pengantin dan penyedia perlengkapan pesta-pesta pernikahan untuk bisa tetap bertahan dengan kondisi kehidupan yang sangat berbeda di mana mereka tidak lagi diperhatikan di dalam kehidupan masyarakat sekarang ini.

Keberadaan Bissu di Bone pada Masa Kerajaan

Keberadaan Bissu dalam sejarah masyarakat Bugis dianggap sezaman dengan kelahiran suku Bugis itu sendiri. Dalam tradisi adat dan budaya Sulawesi Selatan yang berakar kepada kerajaan Luwu, calabai yang bertransformasi menjadi bissu, sesungguhnya mendapat tempat terhormat.

Diriwayatkan dalam Epos Galigo, bahwa Raja Luwu diturunkan dari langit bersama Latimojong dan Lae Lae, yang merupakan bissu pertama. Berawal dari sinilah Bissu kemudian menyebar ke seluruh wilayah Sulawesi Selatan termasuk Bone.

Sebelum kelahiran Kerajaan Bone, keadaan pada waktu itu berada dalam kekacauan (sianrebale) yang disebabkan oleh tidak adanya lagi hukum yang dapat memberikan tekanan sebagai pegangan serta pedoman hidup bagi masyarakat secara keseluruhan.

Dikisahkan, bahwa To Manurung datang di tengah kelompok masyarakat yang sedang bermusuhan satu dengan yang lainnya, masyarakat yang chaos tidak ada yang taat pada aturan dan peri kemanusiaan, sianrebale tauwe (orang saling membunuh sesamanya), komunitas jadi kacau, yang kuat memaksa yang lemah, kekerasan terjadi dimana-mana. Kekacauan ini sudah berlangsung lama, sehingga beberapa pemimpin atau Matowa-matowa wanua (kalula) menyadari perlunya tokoh penyelamat.

Munculnya Manurunge ri Matajang yang kemudian diangkat sebagai raja Bone yang pertama berawal ketika Puang Matowa sebagai pemimpin bissu tampil sebagai juru bicara masyarakat Bone untuk kemudian memohon kepada Manurunge ri Matajang agar berkenan menetap di Bone dan bersedia diangkat menjadi pemimpin atau raja.

Tersebut dalam lontara’ bahwa dialog Puang Matowa dengan Manurunge ri Matajang dilukiskan sebagai berikut :

Iana mai kilaowang riko lamarupe,

Maelokkeng tamaseang tamaraddena mai ritanata,

Aja’na tallajang,

Tudanni mai naidina kipopuang,

Elomu eloku rikkeng passuromu kuwa,

Namauna anammeng napattaromeng,

Rekkuwa muteaiwi kitea toi sa,

Narekko tudanno mennomai,

Naikona potakkeng mudongiri temmatippekkeng,

Artinya :

kami datang kepadamu kiranya engkau mengasihi kami, agar menetaplah di tanah kami. Engkaulah yang kami angkat menjadi raja guna memimpin kami. Walau anak dan istri kami, apabila engkau tidak menyetujuinya, kami akan menurut kepadamu. Asalkan engkau menjaga keselamatan kami serta harta benda kami.

Kemudian selanjutnya To Manurung mengikuti permintaan masyarakat untuk memimpin mereka sambil berkata :

Tedua nawa-nawago temmabbaleccogo

Ujujungi uparibotto ulu,

Upate ri pakka-pakka ulaweng ada-adammu tomaegae,

Riwettu mabbulo sipeppa’mu mae pangajika arung.

Artinya :

tidak bercabang hati kami dan tidak akan mengakui dikemudian hari. Saya junjung tinggi diatas kepala atas kata-kata dan persatuanmu untuk mengangkat saya menjadi raja.

Demikianlah sehingga Manurunge ri Matajang diangkat sebagai raja pertama di Tanah Bone yang diperkirakan terjadi pada tanggal 6 April 1328 M dan dua tahun kemudian 1330 baru resmi menjadi raja setelah melalui uji coba kemampuan.

Gambaran dialog antara rakyat dengan To Manurung yang kemudian berakhir dengan suatu kesepakatan berupa kontrak sosial melahirkan sebuah ikrar atau kesepakatan bersama atas kehendak rakyat untuk membangun negeri Bone yang aman dan sentosa. Meskipun kontrak tersebut secara konsepsional masih sederhana namun diakui bahwa sifat kerakyatan tersebut merupakan akar budaya Sulawesi Selatan.

BACA JUGA :  Agama Towani To Lotang

Manurunge ri Matajang memerintah di Kerajaan Bone dalam keadaan makmur, tentram dan damai. Beliau merupakan peletak dasar pembangunan Kerajaan Bone. Datangnya To Manurung merupakan awal terbentuknya sistem politik yang lebih teratur dan terbentuknya organisasi sosial yang mengantarkan kaum-kaum pada kemaslahatan hidup.

Selama Bone masih berbentuk kerajaan, peranan bissu sangat besar sekali. Tugas bissu adalah merawat dan menjaga arajang, menentukan dan memimpin jalannya upacara-upacara di istana serta bertindak sebagai sanro (dukun) kerajaan. Mereka tinggal dalam tembok istana pada sebuah rumah yang disebut ”Bola Payung” hidupnya tergantung dari dapur istana.

Kesibukan Bissu adalah mengurus pemujaan arajang dan pelaksanaan upacara-upacara, yakni pelantikan raja, upacara perkawinan, upacara kelahiran bila ada anak raja yang lahir, upacara pemakaman bila raja wafat dan sebagainya.

Di masa kerajaan Bone mempunyai 40 orang bissu dipimpin oleh seorang Puang Matowa dan wakilnya disebut Puang Lolo. Mereka mempunyai organisasi sendiri, bahasa kelompok sendiri di samping bahasa Bugis dan masing-masing mempunyai tugas sebagai pembagian kerja mereka. Pakaiannya disebut ”Baju bodo” atau ”Baju garusu”. Pakaian ini  sama dengan pakaian adat yang biasa dipakai oleh wanita Bugis. Warna pakaian disesuaikan dengan tugas-tugasnya yang berhubungan dengan upacara kerajaan.

Pada bulan Mei 1950 untuk pertama kalinya selama Kerajaan Bone terbentuk terjadi suatu demonstrasi rakyat di Kota Watampone yang menuntut dibubarkannya Negara Indonesia Timur, dihapuskannya pemerintahan kerajaan dan menyatakan berdiri di belakang pemerintahan Republik Indonesia.

Tanggal 21 Mei 1950 terbentuklah Komite Nasional Indonesia (KNI) Daerah Bone. Setelah pelantikan KNI maka terjadilah peristiwa penyerahan kekuasaan legislatif dan pemerintahan kerajaan kepada KNI dan beberapa hari kemudian para anggota Ade Pitue mengajukan permohonan berhenti.

Disusul pula beberapa tahun kemudian terjadi perubahan nama distrik/onder distrik menjadi kecamatan sebagaimana yang berlaku sekarang ini. Demikian perjalanan panjang Kerajaan Bone hingga memasuki masa kemerdekaan. Hingga saat ini senantiasa memperlihatkan kemajuan.

Pembekuan Komunitas Bissu di Bone

Peran dan fungsi dari keberadaan komunitas Bissu di Bone pun lama kelamaan semakin tidak mempunyai arti seiring dengan semakin kuatnya pengaruh Islam di dalam kerajaan. Hal ini pun kemudian memuncak di tahun 1950 setelah terjadi suatu demonstrasi rakyat di Kota Watampone yang kemudian menuntut dibubarkannya Negara Indonesia Timur serta dihapuskannya pemerintahan kerajaan dan menyatakan berdiri dibelakang pemerintahan Republik Indonesia.

Berawal pada tahun 1950 inilah merupakan awal upaya penghancuran seluruh komunitas Bissu baik yang ada di Bone maupun di daerah Sulawesi Selatan lainnya karena istana tidak lagi menjadi pusat pemerintahan dan pusat kebudayaan orang Bugis. Tidak ada lagi sumber dana tetap untuk biaya upacara dan biaya hidup para Bissu yang tinggal di Bola Arajang.

Seiring dengan bergesernya nilai-nilai lama oleh nilai-nilai yang baru, maka nilai tradisional pun berangsur-angsur terkikis, dan bahkan hilang dalam masyarakat. Hal inilah yang kemudian menjadi tantangan yang harus dihadapi oleh komunitas Bissu sejak tahun 1611 M hingga sekarang ini. Maka pada tahun 1950 sampai pada tahun 1966 terjadi pembataian dalam tubuh komunitas Bissu yang ada di Kabupaten Bone beserta daerah-daerah di Sulawesi Selatan lainnya.

Kejadian ini dimulai pada masa pergolakan DI/TII di bawah pimpinan Kahar Muzakkar di Sulawesi Selatan (1950-1965) yang menilai, bahwa kepercayaan yang selama ini dilakoni oleh para bissu tidaklah sesuai dengan ajaran Islam yang telah menjadi agama mayoritas masyarakat Bone pada waktu itu.

Tentara Islam Indonesia kemudian berusaha keras menghapuskan dan melarang semua yang mereka anggap tidak sesuai dengan ajaran Islam. Pasukan Kahar Muzakkar memberantas para bissu karena dianggap penyembah berhala dan tidak sejalan dengan syariat Islam. Bissu dianggap menyimpang dari agama islam karena kecenderungannya selama ini telah menganggap arajang memiliki kekuatan gaib.

Oleh karena itu, alat-alat upacara yang sering digunakan ataupun benda-benda arajang yang selama ini dianggap sakral dan memiliki kekuatan gaib oleh para bissu dihancurkan dan dibakar oleh pasukan DI/TII sebagai langkah awal untuk membersihkan kebudayaan dan tradisi lama di masyarakat yang tidak sesuai dengan ajaran Islam.

Petaka gempuran kelompok DI/TII juga dirasakan secara langsung oleh Puang Saidi (almarhum) beliau adalah Puang Matowa Bissu di Segeri Pangkep semasa hidupnya. Ia termasuk orang yang diburu untuk dinaturalkan kelelakiannya. Rambut panjangnya dipotong habis. Bahkan, ia pun harus meraih cangkul dan pergi ke sawah (maggalung). Tidak ada lagi calabai, atau bissu, karena Islam hanya mengenal lelaki atau perempuan.

Pasukan DI/TII tidak hanya sampai di situ, mereka terus berlanjut untuk terus memurnikan keislaman dan menghilangkan kemusyrikan dari para bissu. Perlengkapan upacara dari para bissu dilenyapkan dengan cara dibakar atau ditenggelamkan ke laut supaya tidak ada lagi ritual-ritual yang selama ini sering dilaksanakan oleh para bissu terhadap arajang.

Banyak bissu dibunuh ataupun dipaksa menjadi pria yang harus bekerja keras agar mereka tidak lagi melaksanakan segala kegiatan-kegiatannya terutama yang menyangkut dengan arajang.

Rumah arajang juga dihancurkan untuk menghentikan aktivitas dan kegiatan mereka yang kesemuanya itu selalu diawali di rumah arajang sebagai tempat rutin dalam melakukan ritual-ritual bagi arajang. Pada saat itu rumah Arajang dihancurkan berserta isi-isinya.

Dulu rumah Arajang masih berada di daerah Bukaka. Setelah kejadian itu rumah Arajang tidak terurus lagi. Rumah itulah yang kemudian dibongkar dan dipindahkan ke jalan La Tenritatta Watampone (tempat Bola Soba sekarang ini). Namun tidak semua peralatan Bola Soba saat ini asli karena pada saat dipindahkan sudah banyak kayu-kayu beserta papannya yang sudah rapuh.

Penderitaan para bissu kemudian berlanjut pada masa Orde Baru. Gerakan pembantain besar-besaran itu diberi nama ”Operasi Toba” (operasi taubat) yang lancarkan oleh masyarakat pada masa rezim Orde Baru antara tahun 1965-1967. Para bissu dan mereka yang percaya dengan kesaktian dari arajang menjadi tertuduh penganut komunis atau anggota Partai Komunis Indonesia yang merupakan partai terlarang di Indonesia sampai sekarang ini.

Bissu yang tertangkap harus memilih antara mati dibunuh atau memilih masuk agama tertentu secara benar serta harus bersikap sebagai pria normal bukan sebagai waria. Para bissu bersembunyi dan tidak berani menampakkan diri dimasyarakat sebagai seorang bissu. Gerakan pemurnian ajaran Islam atau “Operasi Toba” ini gencar-gencarnya terjadi pada tahun 1966. Para bissu bersembunyi dari ancaman maut yang memburunya.

BACA JUGA :  Sejarah Rumpa'na Bone Tahun 1905

Identitas mereka sebagai seorang bissu disembunyikan dengan berpenampilan sebagai pria normal. Masyarakat tidak lagi peduli dengan nasib mereka karena sebagian dari masyarakat memang mendukung gerakan ”Operasi Toba” tersebut. Sebagian masyarakat yang masih bersimpati kepada para bissu memilih diam tanpa bisa berbuat sesuatu.

Setelah peristiwa ini jumlah serta tingkat kualitas dari komunitas bissu semakin mengalami penurunan. Setelah masa itu pun tekanan dan hujatan kepada komunitas bissu masih terus berlangsung, terkadang bissu dianggap sebagai kelompok orang-orang sesat yang masih sering menyembah-nyembah pohon, bahkan tak jarang beberapa kelompok agamawan bersama dengan aparat mendatangi acara-acara adat yang digelar lalu membubarkannya.

Maka seiring dengan berjalannya waku tradisi ataupun berbagai macam ritual-ritual mereka yang selama ini terus dilakoni seketika lenyap dan tidak lagi tampak di masyarakat.

Dampak Pembekuan Komunitas Bissu

Terjadinya pengejaran dan pembunuhan komunitas bissu di Bone menyebabkan masyarakat tidak lagi mengenal dan merasakan kehadiran bissu ditengah-tengah masyarakat.

Bissu yang masih hidup atau lolos dari ”Operasi Toba” pada saat itu hanya dikenal sebagai seorang calabai yang setiap saat mendapat cemohan dari masyarakat, karena pandangannya yang mengatakan bahwa nasib mereka akan sial selama 40 hari ketika melihat salah seorang calabai melintas di depan mereka.

Sehingga komunitas bissu yang ada menutup diri dari masyarakat mulai dari pasca penumpasan 1967 sampai 1990. Kehidupan dan pergaulan mereka menjadi sangat terbatas. Nasib mereka selama sesudah penumpasan menjadi menderita di samping mereka harus berusaha sendiri untuk menafkahi kehidupannya. Mereka juga harus senantiasa mendengar cemohan dari masyarakat yang senantiasa memojokkan akan keberadaannya.

Masyarakat Bugis sebagai pemilik tradisi ini sebagian besar berubah menjadi menyudutkan keberadaan komunitas bissu. Berbagai tekanan menjadikan mereka sebagai suatu komunitas yang terasing, walaupun beberapa di antaranya masih dapat bertahan dengan berkompromi dengan perubahan. Komunitas bissu menjadi tercerai berai, jumlah dan kualitasnya semakin menyusut sampai sekarang.

Perubahan zaman membuat status bissu tidak lagi mendapat tempat terhormat dan memberikan keuntungan materi. Bissu tak lebih sebuah warisan budaya, yang menjadi pelengkap bagi kehidupan tradisional masyarakat Bugis. Hal inilah yang membuat sehingga regenerasi di kalangan bissu yang ada di Bone menjadi tersendat dan semakin berkurang tanpa ada regenerasi baru.

Pada tahun 1990 para bissu yang masih tersisa di Bone mulai kembali mencoba tampil di masyarakat walaupun dalam jumlah yang sedikit melalui pekan budaya pertama karena pada saat itu Bone diminta menampilkan 40 orang bissu.

Di bawah inisiatip Andi Mappasissi Petta Awampone, bissu yang masih tersisa kemudian dikumpulkan. Karena jumlah yang ada tidak lagi mencukupi 40 orang maka dikumpulkanlah waria untuk kemudian mencukupkan menjadi 40 orang supaya bisa tampil pada pekan budaya pertama dengan status sebagai pelakon seorang bissu

Kemudian setelah itu, perlahan bissu mulai dikenal kembali dan mendapat tempat tersendiri dalam masyarakat di Kabupaten Bone walaupun hanya dikenal sebatas suguhan pariwisata bagi para wisatawan lokal maupun wisatawan asing melalui antraksi maggiri.

Keinginan komunitas bissu untuk tetap menjaga kebudayaan mereka kemudian menjadi kenyataan setelah era orde baru berakhir di tahun 1998, zaman yang sebelumnya memojokkan keberadaannya di masyarakat karena dianggap sebagai anggota Partai Komunis Indonesia.

Sejak saat itu komunitas bissu yang ada di Bone kemudian tidak segan-segan lagi menampilkan diri mereka sebagai seorang bissu dalam masyarakat. Mereka bahkan terus memperjuangkan nasibnya untuk tetap mendapat tempat tersediri di masyarakat dengan kembali aktif mengumpulkan anggota-anggotanya yang masih tersisa.

Usaha dari komunitas bissu di Bone untuk mencukupkan anggota mereka sebanyak 40 orang mengalami hambatan, hal ini disebabkan sebagai dampak dari penumpasan yang mereka alami sejak tahun 1965.

Untuk mencukupkan anggotanya, mereka kemudian memediasi waria yang ada untuk dijadikan seorang bissu. Perjuangan dari komunitas bissu di Kabupaten Bone yang masih tetap setia menjaga tradisi budaya klasik mereka sebagai sebuah kebudayaan masa lalu yang masih bisa dilihat secara langsung.

Walaupun sudah mengalami pergeseran nilai yang cukup besar akhirnya berhasil yang ditandai dengan dilantiknya 40 orang bissu di Bone pada tanggal 4-6 Oktober 2003. Pada saat inilah Kabupaten Bone kemudian mempunyai 40 orang bissu lagi. Namun sampai tahun 1998 komunitas itu terus berkurang karena tidak adanya regenerasi.

Setelah pelantikan komunitas bissu di Bone mereka kemudian diberikan tempat di Bola Soba sebagai pusat kegiatan mereka sekaligus diberi kepercayaan menjaga dan mengelolanya.

Bagunan yang didirikan pada akhir abad XIX tahun 1890 oleh Panglima tertingi kelaskaran Kerajaan Bone bernama Abdul Hamid yang bergelar Petta Ponggawae, pertama kali dibangun di atas tanah yang sekarang ini berdiri rumah jabatan bupati Bone.

Kehidupan bissu sekarang ini telah mengalami pergeseran peran karena berbagai ritual yang menempatkan bissu jadi penting telah tereduksi oleh zaman. Hubungan antargenerasi di kalangan bissu pun, makin memprihatinkan.

Saat ini berbagai ritual yang dahulu melibatkan bissu sudah berbeda dengan tujuan sesungguhnya. Misalnya, tarian penyambutan tamu istimewa sere leluso yang sarat makna dan hanya dilakukan oleh bissu, sekarang sudah dilakonkan dengan leluasa oleh sanggar-sanggar seni di Kabupaten Bone.

Demikian sejarah panjang keberadaan bissu di Bone. Sejatinya pemerintah, tokoh-tokoh agama, dan tokoh-tokoh adat hendaknya berperan aktif dalam memperhatikan keberadaan komunitas Bissu yang ada sekarang ini sebagai wujud pelestarian tradisi budaya klasik yang merupakan warisan leluhur Bugis yang masih bisa didapatkan sampai saat ini sebagai suguhan pariwisata daerah karena fungsi dan status yang mereka bawa sekarang ini sudah berbeda dari yang sebelumnya.

Para Komunitas Bissu, supaya tetap bisa memelihara tradisi budaya klasik itu serta terus berusaha mencari regenerasi agar di masa mendatang masyarakat masih bisa melihat secara langsung salah satu peninggalan tradisi Bugis klasik walaupun sudah berbeda dengan sebelumnya.