BENDERA SAMPARAJAE Terbuat dari kain berwarna biru sutra, berbentuk travesium, pinggirannya berwarna merah, terdapat hiasan bunga berdaun empat. Bentuk bunga bersegi empat, dua daun bunga berwarna daun emas. Dua daun lainnya berwarna besi. Kedua daun ini disebut BRANI yang berarti “BERANI” dan berubah menjadi musuh dalam pertempuran.

BENDERA SAMPARAJAE, Berfungsi sebagai bendera angkatan laut Kerajaan Bone. Mempunyai arti mencerminkan sikap dan kekuatan serta semangat yang dimiliki orang Bone.

Di era Pemerintahan Bupati Bone ke-18  Dr.H.Andi Fahsar Mahdin Padjalangi,M.Si. mewajibkan seluruh Aparatur Sipil Negara di Lingkup Pemerintah Kabupaten Bone menggunakan PIN SAMPARAJAE yang diperkuat dengan Peraturan Bupati Bone Nomor 19 Tahun 2016 Tentang Perubahan Atas Peraturan Bupati Bone Nomor 24 Tahun 2015 Tentang Pakaian Dinas Pegawai Negeri Sipil Di Lingkungan Pemerintah Daerah Kabupaten Bone.

Tindak lanjut perubahan peraturan itu kemudian Bupati Bone mengeluarkan Surat Edaran Nomor 061/283/II/ORGANISASI Tentang Penggunaan Pakaian Dinas Pegawai Negeri Sipil Di Lingkungan Pemerintah Daerah Kabupaten Bone.

Di mana dalam surat edaran itu terdapat penggunaan PIN SAMPARAJAE bagi Seluruh PNS di Lingkungan Pemerintah Kabupaten Bone.

SEJARAH SINGKAT BENDERA SAMPARAJAE

Setelah Perjanjian Bongaya tahun 1669 tempat pembuatan perahu pinisi yaitu Ara ikut terimbas. Kekuasaan beralih kepada leluhur Bone seperti Puang Rangki, Puang Lompo. Para raja Bone tak puas kalau tidak menggunakan perahu buatan Ara dan Lemo-Lemo Mandar sebagai tumpangan dinasnya dalam menjalankan roda pemerintahan.

Dalam catatan harian raja Bone ke-22 La Temmassonge Toappewaling (1749-1775) tertulis bahwa mereka sering memesan perahu di Bulukumba. Dalam catatannya tertulis tanggal 9 Juni 1753 berangkat ke Pattingaloang melihat perahu pesanannya dari Bulukumba seharga 40 real.

BACA JUGA :  Mengenal sosok Andi Fahsar

Kemudian Tanggal 25 Maret 1755 La Temmassonge memerintahkan lagi membeli Satu Ajowa atau 2 ekor kerbau seharga 16 real atau diperkirakan setara dengan 5 ekor kerbau pada saat itu.

Perahu itu dipergunakan berlayar melewati Sungai Walennae masuk ke Danau Tempe apabila hendak ke Parepare atau ke Sulawesi Utara melalui sungai dan laut.

Perahu perang itu dikerjakan oleh Daeng Mangali tidaklah terlalu besar namun untuk kepentingan perang menjaga kawasan laut kerajaan Bone sangat andal pada masa itu.

Perahu perang itu dinamai Ellung Mangenre dari sinilah pada lambang Kabupaten Bone terdapat gambar JANGKAR melambangkan sifat kebaharian yang perkasa dari rakyat Bone .

Seperti yang telah dibuktikan oleh sejarah Perahu Ellung Mangenre milik kerajaan Bone dengan Bendera Samparajae sebagai lambang kebesaran kerajaan didalamnya terlukis gambar Jangkar.

Sehingga dapat ditarik kesan bahwa sifat pelaut ini merupakan khas dari pada penduduk Bone.

Dari sini pula berawal terciptanya bendera Samparajae yang juga mengandung unsur historis. Kesemuanya menggambarkan tata kehidupan yang khas serta mengandung unsur-unsur historis, kultur, patriotik, sosiologi, ekonomis, dan agraris terutama yang melambangkan kepribadian.

Samparajae adalah bendera kerajaan Bone dimasa lalu yang erat hubungannya dengan Perahu Perang Ellung Mangenre yang diawali Raja Bone ke-22 Latemmassonge Toappewaling Matinroe ri Mallimongan Makassar sekarang. Kemudian dipergunakan raja-raja Bone selanjutnya.

Oleh karena itu SAMPARAJAE mempunyai arti mencerminkan sikap, kekuatan, dan semangat yang dimiliki orang Bone di manapun ia berada.