Sejarah Arajang di Kabupaten Bone

Dalam hidupnya, manusia tak pernah lepas dari kebudayaan dan adat istiadat. Budaya juga berfungsi sebagai identitas dan ciri khas. Untuk itu, keberadaannya amatlah penting. Tak heran jika setiap kelompok atau golongan masyarakat tertentu memiliki budaya yang berbeda-beda.

Kata kebudayaan diambil dari Bahasa Sansekerta, yakni “buddhayah” yang artinya adalah hal-hal yang memiliki arti budi, akal, dan daya manusia. Dimaksudkan dengan budi dan akal, dan potensi manusia dapat melangsungkan kehidupan. Budaya bersifat turun temurun, dari generasi ke generasi terus diwariskan.

Secara umum budaya dapat beraneka macam. Akan tetapi, berakhir pada intinya yang hanya satu yaitu cara hidup yang dimiliki bersama oleh kelompok masyarakat tertentu. Terbentuk dari banyak unsur dan menyeluruh. Walaupun tidak ada aturan tertulisnya, budaya dapat bersifat memaksa sekaligus memberikan pedoman untuk berperilaku supaya kehidupan lebih bermartabat dan bersahaja.

Kebudayaan merupakan hasil dari karya cipta, rasa, dan karsa manusia. Lingkupnya mencakup banyak aspek kehidupan seperti hukum, keyakinan, seni, adat atau kebiasaan, susila, moral, dan juga keahlian. Kehadirannya mampu mempengaruhi pengetahuan seseorang, gagasan, dan ide meskipun budaya itu sendiri bersifat abstrak.

Oleh karena itu, kebudayaan merupakan keseluruhan simbol yang digunakan manusia dalam hidupnya untuk mempertahankan keberadaannya sebagai mahluk hidup yang diperoleh dalam kehidupannya sebagai warga suatu masyarakat.

Simbol kebudayaan dapat dibagi atas dua aspek yaitu, pertama hal-hal yang abstrak, seperti ide-ide, pengetahuan, nilai-nilai, norma, dan aturan yang tidak dapat dilihat, karena tersimpan sebagai pengetahuan yang ada dalam pikiran, kedua yang agak konkret seperti benda, perilaku, dan tindakan.

Berdasarkan pengertian di atas, dapat diartikan, bahwa Kerajaan Bone seperti halnya kerajaan-kerajaan lainnya di Sulawesi Selatan mengenal adanya simbol kebudayaan seperti arajang. Di daerah Bugis seperti Bone, Soppeng, Wajo, Pinrang, dan Luwu, lebih dikenal dengan arajang, sedangkan di daerah Makassar seperti Gowa lebih dikenal dengan kalompoang.

Sebelum kedatangan Islam di Sulawesi Selatan, khususnya Kabupaten Bone masyarakat sudah mempunyai kepercayaan yang menyebut Tuhan dengan “Dewata SeuwaE`, berarti Tuhan kita yang satu dan memiliki adat istiadat yang terkandung dalam sistem pangngadakkang (Makassar) pangngadereng (Bugis) dengan empat unsur, yakni ade` (adat kebiasaaan), rapang (persamaan hukum), bicara (undang-undang) dan wari (pelapisan sosial)

Masyarakat Bone sebelum Islam percaya bahwa rajanya merupakan keturunan Dewa yang memilik kekuatan super natural, sehingga mereka sangat menghormati dan patuh kepada rajanya. Mereka juga beranggapan, apapun yang berhubungan dengan raja, dipercaya memiliki kekuatan gaib seperti benda-benda pusaka yang disebut Arajang. Khusus untuk masyarakat yang menganggap dirinya sebagai keturunan raja, mereka sangat menghargai Arajang.

Bentuk penghormatan mereka adalah melakukan ritual. Setelah kedatangan Islam, pangngadereng dilengkapi menjadi lima unsur dengan menambahkan unsur sarak (syariat) sebagai ketentuan hukum yang berlandaskan ajaran Islam. Kehadiran sara dalam unsur pangngadereng terjadi karena proses akulturasi budaya dan sara tidak serta merta mengubah budaya yang sudah ada, melainkan melakukan pengadaptasian.

Secara empiris, sebagai peninggalan budaya nenek moyang mereka, masih dapat dijumpai pada masyarakat Bone yang telah menganut agama Islam. Meskipun mereka mengaku beragama Islam dan seharusnya hal ini tidak dilakukan lagi, kenyataannya perilaku ritual tradisionlanya masih dilaksanakan dan menimbulkan pro kontra di kalangan masyarakat setempat.

Secara historis arajang atau sangat terkait dengan Tomanurung sebagai pemegang kendali politik, dalam hal ini penguasa atau Raja. Oleh karena itu raja dianggap sebagai wakil dari arajang dalam melaksanakan kekuasaannya. Sehingga perpindahan arajang kepada pemegang baru berarti berpindah pula keududukan kekuasaan dan hak untuk melaksanakan pengawasan atas tanah.

Arajang merupakan benda pusaka Kerajaan Bone yang sangat bermakna, sebab raja Bone memerintah atas nama arajanga. Hampir semua orang Bone mengenal adanya arajang, walaupun pemahaman setiap orang terhadap objek arajang tersebut berbeda-beda.

Selain itu arajang merupakan benda keramat atau simbol kekuasaan Kerajaan Bone pada masa lampau yang biasanya berupa benda-benda berupa keris, parang dan semacamnya Benda-benda kerajaan tersebut dikenal dengan beberapa nama, yakni ada yang dikenal dengan Latea Riduni, Lamakkawa, Lasalaga, dan Teddung Pulaweng, dan lainnya. Pada saat ini benda tersebut disimpan dengan rapi di dalam Museum Arajang Kabupaten Bone.

Bahkan disimpan dalam kamar khusus dan sebagai benda keramat yang harus dihormati. Tidak sembarang orang yang berkunjung ke Museum Arajang untuk melihat benda arajang, sebab dianggap mempunyai kekuatan sakti. Arajang masih dihormati oleh masyarakat Bone hingga saat ini, baik yang berada di Bone maupun yang berada di daerah lain. Salah satu bentuk penghormatan yang masih dapat disaksikan hingga saat ini adalah ketika akan melakukan ritual mattompang arajang setiap memperingati Hari Jadi Bone.

Ada ritual yang disebut dengan maduppa oleh Bissu, yaitu upacara menghadap ke arajang untuk meminta restu kepadanya agar pelaksanaan upacara dapat berjalan dengan lancar, tanpa sesuatu hambatan apapun. Arajang disimbolkan sebagai seorang raja atau tomanurung yang mampu menyelesaikan segala permasalahan di dalam masyarakat, baik masalah sosial maupun bencana alam.

Oleh karena itu antara nilai dan kepercayaan, serta pandangan hidup itu berbeda satu sama lainnya. Sebab sistem kepercayaan termasuk di dalamnya emosi keagamaan, kelompok keagamaan, dan sistem upacara keagamaan. Hal ini sangat terkait dengan ritual yang dilakukan pada arajang sebagai benda keramat yang dianggap mempunyai kekuatan sakti mandraguna.

Keadaan Geografi Kabupaten Bone

Bone merupakan salah satu kabupaten yang secara administratif masuk dalam wilayah Provinsi Sulawesi Selatan. Terletak di bagian Timur Provinsi Sulawesi Selatan, tepatnya berbatasan dengan Kabupaten Soppeng, Wajo, Barru sebelah Barat, berbatasan dengan Kabupaten Sinjai dan Gowa sebelah Selatan, berbatasan dengan Teluk Bone sebelah Timur.

Jarak Kota Watampone dari ibu kota provinsi Sulawesi Selatan sekitar 180 km, dengan waktu tempuh selama ± 4 jam. Dari ibu kota provinsi Sulawesi Selatan menuju Watampone dapat menggunakan kendaraan berupa bus maupun kendaraan pribadi. Watampone sebagai Ibukota Kabupaten Bone termasuk dalam wilayah Kecamatan Tanete Riattang, Tanete Riattang Timur, dan Kecamatan Tanete Riattang Barat.

Kabupaten Bone dengan luas wilayah sekitar 4.559 km persegi, terdiri dari 27 kecamatan, sebanyak 44 kelurahan, dan sebanyak 328 desa. Dengan jumlah penduduk tahun 2017 sebanyak 863.654 jiwa yang terdiri atas 422.818 jiwa penduduk laki-laki dan 441.236 jiwa penduduk perempuan.

Masyarakat Bone mayoritas beragama Islam, walaupun tidak ditemukan data tertulis secara pasti mengenai jumlah penduduk berdasarkan agama, namun dapat dilihat dengan sering ditemukan tempat ibadah berupa masjid. Selain agama Islam masyarakat Kabupaten Bone juga ada yang beragama Nasrani dan beragama Budha. Walaupun masyarakat Bone sudah mempunyai agama masing-masing, namun masih terdapat kepercayaan terhadap kekuatan-kekuatan gaib, mahluk-mahluk halus, dan kekuatan sakti berupa dewa-dewa.

Sehingga untuk menghindari adanya gangguan dari dewa atau kekuatan sakti tersebut, maka masyarakat mengadakan ritual atau upacara untuk meminta perlindungan kepada dewa yang menentukan nasib manusia (Dewa Patotoe), termasuk kepercayaan kepada arajang sebagai benda pusaka yang memiliki kekuatan magis.

Masyarakat Bone mengenal adanya kepercayaan kepada Dewata SeuwaE yang merupakan gerakan kerohanian yang bertujuan mencari hubungan batin antara manusia dengan Tuhan yaitu makhluk gaib yang dianggap ada mendiami alam gaib. Dewa-dewa dianggap sebagai personalitas hidup masyarakat dengan menaruh kepercayaan kepada dewa yang memelihara,/menjaga dan menggerakkan bala bencana dalam kehidupan manusia. Hal ini diwujudkan dengan melakukan prosesi ritual terhadap kekuatan gaib yang mendiami alam raya sebagai bagian dari kekuasaan Dewata Suwwae.

Eksistensi Arajang dalam Masyarakat Bone

1. Mitos tentang Arajang dan Tomanurung

Bagi masyarakat tradisional, mitos merupakan cerita yang benar dan menjadi milik mereka, seperti halnya cerita dalam La Galigo tentang Tomanurung, yang dianggap cerita yang sangat berharga dan penuh makna dan nilai dalam kehidupan orang Bugis, khususnya di Bone. Mitos selalu menyangkut suatu penciptaan yang dianggap sebagai jaminan eksistensi dunia dan manusia. Seperti halnya keberadaan arajang pada Kerajaan Bone tidak terlepas dari mitologi dan kosmologi orang Bone.

Mitos merupakan sebuah cerita pemberi pedoman atau arah tertentu kepada sekelompok orang. Mitos memberikan arah kepada kelakuan manusia dan merupakan pedoman bagi manusia untuk bertindak bijaksana. Bahkan mitos menyadarkan manusia akan adanya kekuatan-kekuatan ajaib. Seperti halnya cerita mitos tentang Tomanurung. Di mana Tomanurung dianggap sebagai peletak dasar pembentukan dan perkembangan kerajaan.

Selain itu Tomanurung memiliki sumber kekuasaan yang suci, bukan dari manusia, melainkan berasal dari dewa yang tidak diketahui nama dan asal-usulnya. Mitos Tomanurung seperti Manurunge ri Matajang digambarkan merupakan titisan dewa yang turun dari kayangan untuk menjadi pemimpin manusia di suatu negeri. Oleh karena itu arajang dianggap sebagai titisan dewa yang sangat dihormati beserta dengan rajanya. Jadi arajang merupakan pemilik kerajaan, sedangkan yang menguasai dianggap sebagai wakil arajang yang mewakili Tuhan.

Oleh karena itu yang dianggap sebagai pemilik kerajaan adalah Tuhan yang diwakili oleh arajang. Kemudian raja yang melaksanakan pemerintahan dibantu oleh perangkat-perangkatnya. Raja yang telah melakukan perjanjian dengan rakyatnya akan tetap menjadi raja sepanjang ia masih menaati isi perjanjiannya, namun apabila ia tidak lagi menaati perjanjiannya, maka ia akan dipecat sebagai raja, sebab dianggap bukan lagi wakil dari Tuhan.

Karena itu Arajang merupakan benda yang dianggap sangat penting pada terbentuknya suatu permukiman baru, sehingga sangat dihargai oleh suatu komunitas. Arajang dapat berupa apa saja yang mempunyai ciri-ciri yang unik, sehingga dianggap sebagai mahluk halus yang mendiami suatu wilayah yang mempunyai komunitas, bisa berupa besi, tanah, kayu, biji buah yang telah kering, tunggul pohon, bajak tua, berupa batu, dan peralatan kerajaan lainnya.

Keberadaan arajang tersebut berawal dari adanya komunitas pada masa lampau
yang menemukan benda keramat, kemudian benda tersebut dirawat bersama penemunya. Pada akhirnya penemu benda tersebut menjadi pemimpin pada suatu komunitas.

Negeri daam Situasi Tak Menentu

Karena munculnya seorang pemimpin biasanya bersama dengan keadaan negeri yang tidak menentu, kelompok yang mengalami kegoncangan, ancaman musuh dari luar. Oleh karena itu dalam kondisi demikian, maka anggota kelompok mengalami kesulitan untuk mengatasi berbagai persoalan yang muncul dan merasa kesulitan untuk menentukan langkah-langkah yang harus diambil untuk mengatasi kesulitan itu.

Dalam keadaan demikian, maka muncul seorang yang memiliki kemampuan yang menonjol yang diharapkan mampu mengatasi kesulitan yang ada. Dengan demikian muncullah seorang pemimpin dari hasil proses yang dinamis yang sesuai dengan kebutuhan kelompok ini. Namun apabila dalam keadaan demikian tidak muncul seorang pemimpin, biasanya kelompok ini akan mengalami disintegrasi kelompok (sianrebale)

Seperti halnya mitos tentang Tomanurung yang diyakini sebagai dewa yang turun dari kayangan untuk menjaga kemaslahatan manusia di bumi. Keterangan tentang La Galigo banyak diperoleh dari naskah klasik berbahasa Bugis, yang dikenal dengan nama “galigo”. Naskah La Galigo merupakan salah satu naskah mitologi yang yang terpanjang dalam bentuk prosa lirik. Dalam naskah tersebut, diterangkan bahwa masa paling awal, Patoto’e atau yang menentukan nasib disebut To Palanroe merupakan raja yang bersemayam di Boting Langi’ atau puncak langit ke tujuh bersama permaisuri yang digelar Palinge’e (maha pengatur).

Arajang di Bone

Seperti telah dibahas sebelumnya, bahwa keberadaan arajang sangat terkait dengan hadirnya Tomanurung yang dianggap sebagai wakil Tuhan. Kemudian Tomanurung bersama arajangnya turun ke bumi untuk memimpin manusia. Mitologi tentang arajang dan Tomanurung sangat terkait dengan sistem sosial atau sistem kekerabatan orang Bone. Raja diasosiasikan sebagai dewa, sehingga keturunannya dianggap sebagai bangsawan yang berdarah putih. Oleh karena itu, apabila seorang datu atau raja meninggal dunia, maka ia akan meninggalkan dua hal, yakni yang pertama adalah darah dan kedua adalah arajang.

Dapat dikatakan, bahwa prinsip kekerabatan orang Bone menganut sistem bilateral, dihitung berdasarkan garis ayah maupun dari garis keturunan ibu. Hal ini dapat dilihat pada gelar kebangsawanan yang akan diberikan kepada anaknya, yakni ketika ayahnya yang berdarah bangsawan, ibunya bukan, maka anaknya tidak mendapatkan gelar kebangsawanan, namun apabila keduanya (ayah dan ibu) berasal dari keturunan bangsawan, maka anaknya boleh mendapat gelar bangsawan.

Kelompok keluarga orang Bone dibangun berdasarkan beberapa generasi/keturunan yang dikenal dengan “Sulapa’ Eppae” yaitu empat generasi nenek, empat generasi cucu, empat generasi sepupu. Kelompok kekerabatan tersebut saling mengenal dan membentuk keluarga luas. Kekerabatan orang Bone mengenal panggilan dan sebutan kekerabatan. Kadangkala panggilan kekerabatan sama dengan sebutan kekerabatan, dan kadangkala panggilan kekerabatan berbeda dengan sebutan kekerabatan. Perbedaan antara sebutan kekerabatan dan panggilan kekerabatan, disebabkan karena adanya pada keturunan, yakni adanya istilah bangsawan dan bukan bangsawan.

BACA JUGA :  Pesan-pesan Kajao Lallidong

Seperti telah diungkapkan di atas, bahwa Bone adalah bekas kerajaan terbesar di Sulawesi Selatan, sehingga struktur masyarakatnya masih dipengaruhi oleh sistem kerajaan pada masa dahulu, khususnya pada panggilan kekerabatan dan sebutan kekerabatan. Dalam hal ini sebutan kebangsawanan semakin populer dan marak digunakan, seperti panggilan Andi dan sebutan Andi, bahkan gelar tersebut digunakan sampai ke kantor-kantor pemerintahan yang bersifat formal.

Dalam masyarakat tradisional secara realitas proses pelapisan sosial umumnya ditentukan oleh faktor yang bersifat mitos yang berkaitan dengan unsur-unsur yang bersifat“supranatural”. Kondisi sosial dan pemikiran demikian merupakan suatu hal umum yang terjadi atau berlaku pada semua kelompok etnis yang terdapat di Indonesia, termasuk di Bone, yang mana pelapisan sosial berasal dari adanya mitos tentang Tomanurung atau orang yang turun dari kayangan.

Masyarakat Bone mengenal adanya stratifikasi sosial atau lapisan sosial menurut dimensi kekuasaan sebagai dimensi yang cukup menonjol pada masa dahulu. Lapisan sosial tradisional masyarakat Bone membedakan status menurut kadar ke arung annya (keturunan).

Ukuran yang digunakan adalah soal asal keturunan sebagai unsur primer. Oleh karena itu perlu dibedakan dahulu jenis-jenis keturunan yang teradapat di Kabupaten Bone secara umum dibagi atas beberapa golongan, yaitu:

1. Ana’ mattola: yang berhak mewarisi tahta dan dipersiapkan untuk menjadi raja arung (raja/ratu). Tingkatan ini terbagi atas dua sub golongan yakni:
– ana’ sengngeng dan
– ana’rajéng.

2. Ana’ céra’ siseng/I: anak yang beradarah campuran atas kedua sub di atas yang kawin dengan perempuan biasa.

3. Ana’ céra’ dua/II: anak hasil perkawinan céra’ siseng dengan perempuan biasa.

4. Ana’ céra’ tellu/III: anak hasil perkawinan céra’ dua dengan perempuan biasa. Ketiga lapisan cerak ini menduduki golongan bangsawan menengah. Kemudian céra’ tellu ini dengan perempuan biasa akan menghasilkan bangsawan terendah. Ampo cinaga, anakkarung maddara-dara, dan anang.

5. Tau sama (orang biasa)/tau maradéka (orang bebas): di kalangan ini masih dibedakan atas keturunan leluhurnya yang masih terhitung bangsawan, betapapun rendahnya lapisan dan berapa jauhpun pertautannya (tau tongeng karaja) dan yang benar-benar keturunan orang biasa (tau sama mattanété lampé).

6. Ata (hamba sahaya): golongan yang hilang kemerdekaannya karena sesuatu ikatan langsung.

Meskipun penggolongan keturunan tersebut hanya bertahan sampai pada masa kemerdekaan, namun penggolongan keturunan tersebut sekarang ini tidak lagi dianut secara ketat, namun dalam berbagai hal, utamanya dalam kehidupan sosial kadangkala masih dipertanyakan, misalnya dalam hal meminang gadis, maka yang dipertanyakan adalah keturunan.

Bentuk stratifikasi ini dipengaruhi oleh adanya sistem kerajaan pada masa lampau yang sangat terkait dengan adanya Tomanurung, sehingga ada yang disebut bangsawan dan bukan dipengaruhi dengan sistem bilateral, yaitu untuk menentukan status atau gelar seorang anak dihitung berdasarkan garis ayah dan garis ibu.

Perwujudan tinggi dan kelas yang rendah, akibat dari adanya sesuatu yang dianggap berharga oleh masyarakat. Sesuatu yang dianggap berharga oleh masyarakat tersebut sangat berbeda-beda, karena sangat bergantung pada sistem nilai yang berkembang di dalam masyarakat yang bersangkutan.

Bagi bangsawan Bone, sampai saat ini, gelar (pattellarang) misalnya petta/daeng diberikan ketika orang tersebut telah melangsungkan pernikahan. Bahkan masuk dalam rangkaian acara pernikahan adat Bone. Gelar tersebut diambil dari nama nenek atau kakek, dari pihak ayah maupun dari pihak ibu yang dianggap bisa diteladani akhlaknya. Namun gelaran diambil dari keluarga ayah atau keluarga ibu yang dianggap mempunyai keturunan bangsawan yang masih asli (matase).

Selain dari keturunan yang matase, juga diambil berdasarkan sifat dan karakter yang bisa dijadikan suri tauladan. Selain gelaran diambil dari nama nenek atau kakak, gelaran juga bisa diambil dari paman atau bibi, juga bisa diambil dari keponakan (sigona/dipasigona) atau anak saudara laki-laki maupun anak saudara perempuan yang mempunyai darah kebangsawanan yang matase dan sifat yang terpuji. Gelaran juga diberikan sesuai dengan jenis kelamin, yakni apabila yang akan diberi gelar adalah perempuan, maka diambil pula dari nama nenek atau keponakan yang perempuan pula.

Dinamika sistem kekerabatan di Bone, akhirnya menghasilkan sistem piramida terbalik, yakni darah kebangsawan seseorang semakin berkurang. Misalnya seorang laki-laki bengsawan (A) menikah dengan seorang perempuan bukan bangsawan (B), maka hasil perkawinan kedua orang tersebut akan melahirkan seorang anak yang mempunyai kadar kebangsawanannya berkurang atau tidak lagi seratus persen seperti ayahnya.

Demikian juga apabila seorang perempuan (C) bangsawan menikah dengan seorang laki-laki bukan bangsawan (D), maka anak dari hasil perkawinan tersebut dianggap bukan bangsawan, sehingga tidak mempunyai gelar bangsawan.

Ada beberapa alasan seseorang dapat memperoleh kedudukan dalam masyarakat, yakni :
1. Diperoleh dengan sendirimya (berdasarkan keturunan)
2. Diperoleh secara sengaja berdasarkan usaha / perjuangan.

Bagi masyarakat Bone, gelar and juga diperoleh melalui 2 alasan sesuai dengan yang diungkapkan di atas, yakni gelar yang diperoleh berdasarkan keturunan, akan sendirinya berada pada kelas sosial tersebut. Seperti apabila seorang anak yang yang berasal dari ayah dan ibu adalah bangsawan, maka dengan sendirinya dia bergelar bangsawan (andi ) dan sebaliknya.

Sementara ada juga gelar karena kedudukan yang diperoleh melalui perjuangan atau usaha. Misalnya jabatan dalam suatu instansi dan gelar yang diperoleh karena jabatannya. Dengan demikian maka orang tersebut berusaha untuk menduduki jabatan penting agar dapat dengan mudah mendeklarasikan dirinya sebagai kelas sosial yang tinggi, baik dari kelas ekonomi maupun kelas karena keturunan.

Seperti yang banyak terjadi pada masyarakat Bone dewasa ini, karena mempunyai harta banyak dan mempunyai jabatan penting di pemerintahan, serta menganggap dirinya masih mempunyai hubungan kekerabatan dengan keluarga bangsawan, walaupun sudah jauh sekali, maka ia dengan mudah dan tidak segan-segan memberi gelar bangasawan pada dirinya +andi).

Uraian di atas menjelaskan, bahwa bangsawan Bone atau yang dikenal dengan akkarungeng berasal dari keturunan berdarah putih (maddarata takku) atau berasal dari sumber yang bersih. Di mana raja dianggap sebagai dewata (spirit) yang merupakan keturunan Batara Guru atau manurung (turun dari langit) yang dianggap sebagai mangkau pertama di Kerajaan Bone. Para keturunan mangkau dianggap to malebbi dan mampu menjaga “siri” berprilaku yang baik, dan bertutur kata yang baik, serta disenangi oleh masyarakat.

Selain itu untuk dinobatkan menjadi mangkau harus dari keturunan raja yang lebih dikenal dengan istilah anak mattola. Namun tidak dibenarkan anak mattola menjadi mangkau apabila masih ada golongan anak arung. Apabila hal ini dilanggar maka akan menimbulkan kekacauan di dalam Kerajaan Bone pada masa dahulu.

Pranata kekerabatan orang Bone akibat pengaruh keberadaan kerajaan Bone tergambar dengan jelas, bahwa para kerabat elit (bangsawan) perempuan dan laki-laki yang belum menikah bergelar andi dan apabila perempuan dan laki-laki telah menikah, maka diberi gelar petta dan disapa dengan puang.

Bahkan pada masa dahulu sebelum memberi gelar kepada seorang anak, terlebih dahulu meminta pendapat kepada raja apakah anak tersebut berhak menyandang gelar andi, apabila raja menyetujui, maka gelar tersebut boleh diberikan kepada yang bersangkutan.

Misalnya apabila kedua orang tuanya berasal dari keluarga bangsawan (andi) yang dianggap matasa’, maka anaknya akan diberi gelar andi, namun apabila hanya ibunya atau ayahnya yang berketurunan bangsawan, maka anaknya tidak berhak memperoleh gelar andi hanya daeng.

Begitu ketatnya gelar kebangsawanan pada masa dahulu, sehingga apabila ada seseorang yang memakai gelar andi yang bukan dari keluarga bangsawan, maka ia akan ditegur oleh mangkau agar tidak menggunakan gelar andi. Bahkan ada kepercayaan masyarakat, bahwa apabila menggunakan gelar andi bagi orang yang tidak pantas atau bukan keturunan mangkau maka orang tersebut akan (durhaka) mabusung kepada leluhur. Oleh karena itu, apabila seorang laki-laki bangsawan menikah dengan perempuan bukan bangsawan, maka anaknya tidak akan mendapat gelar kebangsawanan (andi).

Seiring dengan perkembangan zaman yang diiringi dengan perubahan struktur masyarakat Bone, maka gelar kebangsawanan tidak lagi menjadi suatu pranata kekerabatan yang ketat seperti pada masa kerajaan dahulu sebab adanya pola perkawinan eksogami dan sistem bilateral. Kelompok inilah yang mewarnai pelapisan sosial yang terdapat dalam struktur sosial orang Bone pada masa dahulu.

Dalam perkembangan zaman strata ketiga sudah mengalami perubahan menjadi strata kedua, sebab sudah mengalami pergeseran kriteria, dilihat dari derajat dan peranannya di masyarakat, tingkat pendidikan, kedudukan dan kemampuan ekonomi.

Di Sulawesi Selatan khususnya Bone, penghormatan kepada tokoh Bugis termasuk di dalamnya bangsawan biasanya dilakukan dengan menggunakan kata panggilan “Puang”, bukan “Daeng”.

Arajang sebagai Simbol Kekuasaan

Kekuasaan merupakan kemampuan menggunakan sumber-sumber pengaruh yang dimiliki seseorang atau sekelompok orang untuk mempengaruhi pihak lain, sehingga pihak lain yang dipengaruhi berperilaku atau bertindak sesuai dengan keinginan atau kehendak pihak yang mempengaruhi.

Karena itu, dibedakan antara kekuasaan dan kewenangan. Setiap kemampuan untuk mempengaruhi pihak lain disebut dengan kekuasaan, sedangkan kewenangan menekankan legalitas dari pengaruh yang ada pada diri seseorang. Oleh karena itu maka kewenangan diartikan sebagai kekuasaan yang melekat pada diri seseorang atau sekelompok orang yang telah mendapat dukungan dari orang yang dikuasainya.

Seperti telah diungkapkan sebelumnya, bahwa arajang merupakan simbol kekuasaan dan legitimasi sistem politik pada masa kerajaan di Sulawesi Selatan pada umunya dan khususnya di Bone. Di mana alat legitimasi yang digunakan oleh penguasa dalam hal ini raja untuk memiliki dan mempertahankan kekusaannya adalah arajang. Meskipun di dalamnya ada unsur mitos.

Benda-benda pusaka kerajaan, termasuk arajang sangat berperan dalam meraih dan memiliki kekuasaan. Konsep tentang adanya kekuasaan akan melahirkan hubungan antara pemimpin dengan yang dipimpin atau pengikut. Oleh karena itu maka struktur masyarakat Bone umumnya dapat dilihat sebagai masyarakat yang memiliki struktur sosial politik yang didominasi oleh ikatan solidaritas vertikal.

Seperti diketahui, ada tiga hal yang mendasari suatu legitimasi, yaitu:
1. Sifat rasional, yakni keyakinan pada keberlakuan peraturan yang dibuat dari
otoritas yang melekat pada peraturan-peraturan yang mengharuskan.
2. Sifat tradisional, yakni keyakinan pada kesucian tradisi yang sudah berjalan lama
dan keabsahan terhadap pelaksanaan otoritas yang melingkupi tradisi tersebut.
3. Sifat kharisma, yakni peletakan kesetiaan pada hal-hal yang sangat suci. Kepahlawanan atau sifat-sifat individu yang patut dicontoh, dan pola-pola normatif yang diperlihatkan olehnya.

Sementara itu, alat legitimasi yang bisa dijadikan sebagai jaminan oleh seseorang untuk mendapatkan kekuasaan dan dianggap mendapat restu dari penguasa alam adalah orang yang menguasai ornamen kerajaan yang disebut arajang. Oleh karena itu, siapapun yang memegang arajang, maka ialah yang dianggap sebagai penguasa atau raja.

Sistem Pemerintahan Kerajaan Bone dipimpin oleh seorang raja yang disebut dengan Mangkau. Di dalam menjalankan sistem pemerintahannya, Mangkau dibantu oleh beberapa pejabat kerajaan. Mereka ini terdiri atas: Ponggawa, Pangulu Lompo, Dulung, Pangulu caddi, Anreguru, Passiuno.

Kemudian Makkedang Ritana membawahi terdiri dari Ade pitu yang di bawahnya ada jabatan yang disebut Tomarilaleng yang terdiri dari Arung Macege, Arung Ujung, Arung Tibojong, Arung Ta, Arung Tanete Riawang, Arung Tanete Riattang, dan Arung Ponceng.

Selanjutnya ada Tomarilaleng Lolo, Arung Palili, Kepala Kampong, dan Pabbanua. Kemudian ada Kali (Kadhi), Imang, Guru, Katte, Bilala (Bilal), dan Doja. Selanjutnya ada kelompok Bissu yang terdiri dari Puang Matoa, Puang Lolo yang membawahi Calabai, Mujangka, dan Coro-coro. Masing-masing pejabat kerajaan tersebut mempunyai tugas yang telah diatur menurut peraturan kerajaan pada saat itu.

Asal mula sistem pemerintahan di Bone mengalami beberapa fase perkembangan, yakni sebelum masa pemerintahan kerajaan, dikenal adanya istilah anang, yaitu persekutuan yang terdiri dari beberapa orang atau keluarga yang dipimpin oleh orang tertua dalam keluarga. Pemimpinnya adalah seorang yang dianggap bijaksana.

BACA JUGA :  Bugis antara Keras, Lembut, dan Melankolis

Kemudian lama-kelamaan muncul keinginan untuk mempersatukan seluruh anang, yang wilayahnya terdiri atas wilayah pantai/laut dan wilayah daratan yang dijadikan sebagai tempat untuk bercocok tanam atau padang/hutan, yang disebut dengan allaong-rumang. Selain itu, juga dilengkapi dengan pasar untuk dijadikan sebagai tempat jual beli hasil-hasil bumi.

Akhirnya terbentuklah persekutuan yang lebih luas dan terorganisir, yang dikenal dengan Anang yang dipimpin oleh seorang yang berasal dari luar anang, dikenal dengan kepemimpinan Tomanurung, yang digelar Manurunge ri  Matajang.

Hingga saat ini para perangkat Kerajaan Bone masih eksis, namun tidak lagi mengurus masalah pemerintahan, akan tetapi mengurus masalah yang berkaitan dengan adat dalam masyarakat, seperti upacara adat yang menyangkut orang banyak, contohnya upacara pernikahan. Meskipun demikian dalam acara pernikahan adat, siapa saja yang pantas menggunakan walasuji atau bangunan dari bambu yang di pasang di depan rumah bagi yang akan melangsungkan pernikahan, terjadi pergerseran nilai. Di mana masyarakat dari golongan manapun bisa memasang walasuji di depan baruga/sarapo.

Berdasarkan tata cara pernikahan adat Bone yang disusun Andi Najamuddin Petta Ile, menyebutkan :

” Dipandang dari sisi kebudayaan, maka pernikahan merupakan tatanan kehidupan yang mengatur kelakuan manusia. Selain itu pernikahan juga mengatur hak dan kewajiban serta perlindungannya terhadap hasil-hasil pernikahan, yaitu anak-anak, kebutuhan seks (biologis), rasa aman (psikologis), serta kebutuhan sosial ekonomi, dan lai-lain.

Namun pada masyarakat Bugis, pernikahan bukan saja merupakan pertautan dua insan laki-laki dan perempuan, namun merupakan juga pertautan antara dua keluarga besar. Walaupun demikian, umumnya masyarakat Bone masih merasa terikat dengan pemimpin adat mereka, sehingga tetap menghormati dan menujunjung tinggi pemerintah dan pemimpin adat.

Sejak dahulu hingga dewasa ini arajang menjadi simbol kekuasaan, walaupun para keturunan datu Bone sudah cenderung berkurang, akibat pola pernikahan eksogami, namun arajang yang menjadi artefak yang bisa membuktikan, bahwa pernah ada kerajaan besar di Bone masa lampau. Arajang tidak dapat musnah hingga beberapa keturunan.

Walaupun nantinya lama kelamaan para keturunan raja sudah tidak ada lagi yang berhak memegang arajang, sebab darah kebangsawanannya sudah memudar atau sudah tidak mencapai seratus persen lagi. Mereka hanya dapat mengakui, bahwa dirinya adalah keturunan raja Bone, namun tidak dapat mengambilnya sebagai warisan kekuasaan”

Walaupun simbol kekuasaan saat ini berbeda dengan pada zaman dahulu, pada zaman dahulu sistem kerajaan masih ada. Namun pada saat ini arajang hanya bisa dikenang oleh masyarakat Bone, bahwa di Bone pernah berdiri suatu kerajaan besar dibuktikan dengan adanya artefak arajang yang ada saat ini.

Kebesaran dan keberadaan Kerajaan Bone bukan saja mempunyai gaung masa dahulu, tetapi juga sangat berpengaruh terhadap sistem sosial dan kebudayaan orang Bone masa kini. Di mana Bone tetap menjaga kearifan lokalnya, bahkan menjadi tolok ukur eksistensi kebudayaan Bugis di Nusantara.

Arajang sebagai identitas lokal

Identitas lokal merupakan ungkapan nilai-
nilai budaya yang membedakannya dengan daerah lain. Seperti telah dijelaskan sebelumnya, bahwa arajang merupakan alat legitimasi sistem politik pada masa kerajaan Bone dahulu. Bahkan pada umumnya raja-raja di Sulawesi Selatan memiliki arajang sebagai simbol kekuasaannya.

Di samping itu arajang bersifat teritorial, seperti arajang yang ada di Bone khusus dijadikan sebagai simbol kekuasaan raja Bone pada masa dahulu, demikian pula halnya arajang yang ada di daerah lain. Setiap raja yang telah meninggal dunia atau telah habis masa jabatannya memiliki keturunan dan didampingi oleh arajang sebagai simbol legitimasi.

Oleh karena itu, yang menandakan bahwa raja pernah ada dan berkuasa, maka di situlah arajang berfungsi. Sehingga walaupun keturunan dari raja telah tidak ada akibat pernikahan eksogami, maka arajang tetap ada dan tidak punah.

Seperti yang diungkapkan oleh salah seorang Budayawan Bone Andi Najamuddin Petta, bahwa fungsi arajang sekarang hanya sebagai identitas kelompok, orang Bugis kalau ditanya bilang orang Bugis Bone, artinya orang Bugis mengidentifikasi dirinya secara kolektif, karena dia punya arajang.

Kesatuan budaya dan adat istiadat, serta arajang memperkuat identitas kolektif orang Bone. Oleh sebab itu, pada saat ini seseorang yang masih menganggap dirinya sebagai bagian dari keturunan Bone atau bagian dari arajang, maka mereka akan datang ke arajang untuk melakukan penghormatan, baik yang tinggal di Bone maupun mereka yang berada di perantauan.

Untuk menjaga agar arajang tetap menjadi simbol kekuasaan raja Bone pada masa dahulu dan sebagai identitas orang Bone masa sekarang, maka arajang tetap dijaga dan dipelihara, bahkan ditempatkan di tempat terhormat seperti rakkeang rumah dan sebagian besar dikeramatkan.

Bahkan sangiang dianggapnya pula sebagai arajang, lalu diberi kelambu berwarna kuning dan terkadang tidak dapat diambil gambarnya oleh siapapun. Apabila arajang berserta tempatnya diambil gambarnya, maka akan ada bencana yang menimpa bagi si pengambil gambar.

Begitu tingginya nilai arajang bagi masyarakat Bone, sehingga tidak dibolehkan untuk mengambil gambarnya. Padahal arajang hanya berisi seperti bahan-bahan dari besi seperti parang, banranga, cangkul, pacul, rakkala, bempa/guci berisi air, padi,dll. Setiap malam Jumat di ruangan arajang disiapkan sirih dan perlengkapan berupa dupa dan lainnya.

Hal ini salah satu cara untuk menghormati arajang yang dianggap masih ada di Bone, bahkan dianggap sebagai benda yang memiliki roh, sehingga harus diperlakukan sama dengan raja pada saat raja masih hidup. Bahkan sampai saat oleh sebagain orang Bone menganggap arajang sebagai raja yang mempunyai kekuatan sakti mandraguna.

Oleh karena itu tidak jarang orang Bone yang datang ke tempat arajang dengan tujuan ingin menghadap arajang guna meminta berkah. Pada umumnya yang datang ke arajang adalah orang-orang yang diperintahkan melalui mimpi. Melalui mimpi mereka menginterpretasikan masing-masing mimpi itu, bahwa ia harus berkunjung ke arajang dengan membawa sesajen.

Adapun sesajen yang dibawanya adalah berupa kambing, ayam kampung, pisang, sokko lotong, dan kelapa muda, serta seperangkat sirih. Sesajen merupakan salah satu bentuk penghargaan kepada arajang agar apa yang menjadi permasalahan dalam hidup seseorang dapat terselesaikan.

Pada umumnya orang yang datang berziarah ke arajang adalah mereka yang diberi petunjuk melalui mimpi. Baik orang yang berasal dari daerah Bone sendiri maupun orang yang berasal dari luar Bone. Orang yang datang berkunjung ke arajang menganggap dirinya bagian dari arajang, yang dapat mempengaruhi kehidupannya. Sehingga apabila ia tidak melakukan sesuai dengan apa yang ada dalam mimpinya, maka dapat mempengaruhi kehidupannya ke arah yang buruk, begitupun sebaliknya.

Dewan Adat

Struktur lembaga kerajaan tetap eksis meskipun dalam hal ini Dewan Adat Bone tidak terorganisir secara baik, walaupun tidak semua, yakni disesuaikan dengan kondisi masyarakat Bone saat ini. Hubungan antara arajang sebagai pemimpin kelompok masyarakat yang akhirnya menciptakan ketergantungan kepemimpinan pada masa kini. Ketergantungan tersebut menciptakan jabatan kepemimpinan dalam masyarakat menjadi jabatan warisan di mana keturunan langsung arajang yang boleh dan dapat dipilih menjadi pemimpin seperti bupati.

Ada jabatan-jabatan tertentu yang masih eksis dalam lingkungan masyarakat Bone hingga saat ini, yakni jabatan yang masih dianggap penting dan masih dibutuhkan oleh masyarakat. Di mana aset bangsawan/keturunan masih tetap dipertahankan dan diturunkan dari waktu ke waktu. Walaupun mereka tidak lagi memerintah seperti dahulu, namun keberadaannya masih dihargai oleh masyarakat, khususnya pada saat pelaksanaan upacara adat dan ketika timbul permasalahan dalam masyarakat tetap menjadi rujukan meminta pertimbangan.

Pada akhir tulisan ini dapat disimpul, bahwa Arajang bagi masyarakat Bone dimaknai sebagai benda yang mempunyai kekuatan sakti. Pemahaman masyarakat tentang arajang sangat terkait dengan adanya mitos tentang Tomanurung yang turun dari langit beserta perangkatnya yaitu arajang.

Arajang masih dihargai sebagai warisan leluhur komunitas/kerajaan yang tidak dapat hilang begitu saja utamanya identitas kebangsawanan. Selain itu, arajang sebagai simbol kekuasaan juga dimaknai sebagai Tomanurung. Arajang atau Tomanurung melahirkan istilah bangsawan dan bukan bangsawan.

Terkait dengan arajang sebagai benda kerajaan yang mempunyai pengaruh sangat besar pada sistem sosial dan budaya masyarakat Bone yang sangat kaya dengan nilai-nilai kepemimpinan dan masih sangat relevan dengan kondisi saat ini.

Maka perlu kiranya nilai-nilai kepemimpinan yang melekat pada arajang dapat diterapkan dalam masyarakat, yang diawali dengan melakukan sosialisasi pada generasi muda, yang nantinya akan bisa diterapkan dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara.

Yang perlu mendapat perhatian saat ini, di mana nilai-nilai kepemimpinan kearifan lokal semakin hari semakin terkikis. Hal tersebut berakibat runtuhnya moral dan peradaban yang diperparah kurangnya kepedulian pihak-pihak terkait seperti lembaga adat.

Pada zaman dahulu Mappepaccing Arajang dilaksanakan oleh para Bissu atas restu sang raja atau Mangkau di dalam ruangan tempat penyimpanan Arajang tersebut. Upacara adat Mattompang Arajang atau biasa juga disebut Masossoro Arajang rutin dilaksanakan setiap tahunnya bertepatan dengan hari jadi Bone.

Upacara adat sakral tersebut merupakan menyucikan benda-benda pusaka kerajaan Bone yang disebut Mappepaccing Arajang atau dalam istilah Pangadereng RILANGIRIRi dan secara khusus disebut Massossoro Arajang (mattompang).

Yang dimaksud dengan arajang adalah benda atau sekumpulan benda yang sakral karena memiliki nilai magis dan pernah digunakan oleh para raja atau pembesar kerajaan. Benda-benda tersebut disimpan secara khusus dan sangat dihormati.

Mattaompang Arajang atau Massossoro Arajang Pertama kali dilaksanakan, yaitu setiap sang raja telah menggunakan pusaka-pusaka tersebut, maka sang raja menyuruh para pembantunya untuk membersihkan atau menyucikannya kembali. Dari situlah dilakukan secara turun temurun hingga saat sekarang ini.

Adapun benda-benda pusaka peninggalan kerajaan Bone yang disucikan atau dibersihkan pada saat prosesi mattompang arajang yaitu;

1. TEDDUNG PULAWENG (Payung emas)

Merupakan payung pusaka kerajaan Bone yang telah ada sejak zaman kejayaan raja Bone XV La Tenri Tatta Arung Palakka (1645-1696). Pusaka ini merupakan suatu pusaka karajaan yang diterima oleh kerajaan Bone sebagai bentuk penghargaan dari kerajaan Pariaman yang merupakan wujud sikap persaudaraan antara kedua kerajaan. Setelah pemerintahan raja Bone ke-15, maka pusaka ini menjadi suatu alat perlengkapan resmi pengangkatan dan pelantikan raja-raja hingga ke masa raja terakhir.

Adapun susunan dan bentuk Teddung Pulaweng, yaitu :
-Tongkat payung mempunyai tinggi 18 ruas yang terbuat dari emas.
-Daun payung bermahkotakan emas, di kelilingi 11 anting emas.
-Meliputi 72 helai jari-jari yang di lengkapi dengan 71 buah anting-anting kecil serta 57 buah anting-anting besar yang terbuat dari emas.
-Pada kain payung, tampak di hiasi dengan 2 susunan lilitan rantai emas, sebagai tanda kesatuan persaudaraan antara kerajaan Bone dan kerajaan Pariaman.

2. SEMBANGENG PULAWENG (Selempang emas)

Merupakan pusaka kerajaan Bone pada masa Raja Bone yang ke-15 La Tenri Tatta Arung Palakka. Pusaka ini dipersembahkan kepada pemerintah kerajaan Bone sebagai penghargaan atas keberhasilan kerajaan Bone membangun kerja sama dengan raja Pariaman.

Pusaka ini kemudian menjadi perlengkapan resmi dalam upacara pelantikan dan penobatan raja-raja Bone. Adapun susunan dan bentuknya adalah sebagai berikut :
-Terbuat dari emas berbentuk rantai-rantai yang berbentuk rantai-rantai yang berukuran besar dengan jumlah 63 potongan, panjang 1,77 meter mencapai 5 kg.
-Pada ujungnya tergantung 2 buah medali emas bertuliskan bahasa belanda sebagai tanda penghormatan kerajaan belanda kepada Arung Palakka raja Bone ke-15.

3. LA TEA RIDUNI (Kalewang)

Sebuah kalewang yang disebut ALAMENG, sarung serta hulunya berlapis emas dan di hiasai intan permata. Pusaka ini merupakan pusaka Raja Bone yang ke-15 La Tenri Tatta Arung Palakka.

Pusaka selalu di kebumikan bersama raja yang mengangkat, namun setiap kali itupun memunculkan diri di atas makam yang diliputi cahaya terang benderang. Sehingga atas kejadian itu, maka pusaka ini disebut La Tea Riduni (yang tak untuk di kebumikan).

Pusaka ini kemudian di simpan dan mendapatkan pemeliharaan, serta dipergunakan sebagai perlengkapan resmi dalam upacara pelantikan dan pengangkatan raja-raja Bone.

4. LA SALAGA (Tombak)

Merupakan sebuah tombak yang pada pegangan dekat mata tombak dihiasi emas. Tombak ini merupakan simbol kehadiran Raja Bone.
Tombak tersebut diberikan nama LA SALAGA dikarenakan pada saat perang raja-raja terdahulu sering menggunakan tombak ini dengan mempunyai kelebihan bahwa pada saat dilepaskan oleh pemiliknya tombak tersebut akan mencari sasaranya sendiri.

BACA JUGA :  Bugis dan Budaya Takbir Keliling

5. ALAMENG TATARAPENG (Senjata adat tujuh atau Ade’ Pitu)

Pusaka kerajaan ini adalah sejenis kalewang yang hulu serta sarungnya berlapis emas, dan merupakan kelengkapan pakaian kebesaran anggota Ade’pitu.

Selain itu adapula perlengkapan-perlengkapan yang dipakai oleh Bissu. Bissu adalah sebutan bagi pemimpin agama bugis kuno yang di percaya oleh para raja untuk melaksanakan upacara-upacara keagamaan demi memuji sang pencipta.

Bissu merupakan sosok manusia tanpa kelamin yang jelas (waria) namun dalam hal ini tidak semua waria bisa dapat diangkat menjadi bissu dikarenakan calon bissu yang akan diangkat haruslah di Bayyat atau sumpah agar tidak lagi mementingkan urusan duniawinya lagi. Maka dari itulah yang dipercayai untuk membersihkan benda-benda pusaka adalah Bissu.

Perlengkapan para bissu dalam melakukan prosesi tarian sakral yang dinamakan tarian SERE BISSU dalam mengiringi prosesi mattompang arajang, mulai dari awal mattompang hingga akhir prosesi mattompang arajang adalah sebagai berikut :

1. Bessi Banranga, yang terdiri atas sarung yang terbuat dari kayu, mata besi yang terbuat dari besi, tanda (poko pasorong) terbuat dari rambut manusia atau rambut ekor kuda.

2. Teddung Baburu (Payung Baburu), yang terdiri atas payung daun yang telah disambung rangkaian dengan bambu, kain sutra yang berwarna kuning atau orange sebagai sampul dari daun payung tersebut yang pinggirannya diberi hiasan renda-renda, dan tangkai payung yang terbuat dari bambu.

3. Tiang Bendera Arajang, yang terbuat dari kayu atau bambu yang dibungkus dengan kain berwarna kuning, merah, putih, dan hitam.

4. Lellu (Tandu), yang terdiri atas kain sutera yang berhiaskan sulaman benang emas yang berfungsi sebagai tenda dan tangkai tandu (ajelellu) yang terbuat dari kayu atau bambu.

5. Alameng, yang terdiri atas hulu yang terbuat dari kayu ditata dengan emas dan perak, mata yang terbuat dari besi, dan sarung yang terbuat dari kayu yang pada bagian dan tengahnya dibalut dengan perak atau emas sebagai pengikat.

6. Alusu (Anyam-anyaman bambu), yang terdiri atas kepala yang terbuat dari kayu, badan yang terbuat dari bambu yang dibalut dengan anyaman daun lontar yang berbentuk kotak kecil (persegi empat), dan ekor yag terbuat dari anyaman daun lontar.

7. Arumping (Anyam-anyaman kayu), yang terdiri atas kepala yang terbuat dari kayu, badan yang terbuat dari bambu yang dibungkus dengan kain berwarna merah atau putih, dan ekor yang terbuat dari pita yang disesuaikan dengan warna badan.

8. Tongkat Kayu, yang terdiri atas ujung kepala yang terbuat dari kain, kepala terbuat dari kain, bagian kepala yang terbuat dari kayu, bagian leher terbuat dari kain yang berbentuk pita, dan badan yang terbuat dari kayu yang bersegi delapan dan dibungkus dengan kain.

9. Oiye, yang berupa rangka yang terbuat dari irisan bambu dan dibungkus dengan anyaman daun lontar berwarna-warni.

10. Lae-lae (Lea-Lea), yang terbuat dari bambu yang terbagi dua bagian, yaitu bagian badan dan bagian daun yang terbelah.

11. Kancing, yang terbuat dari dua buah logam yang berbentuk piring dan diberi tali pengikat.

12. Ana’ Baccing, yang terbuat dari dua batang logam dan diberi tali pengikat.

13. Gendang, yang terdiri atas dua bagian yaitu bagian badan gendang yang terbuat dari kayu dan bagian atas dan bawah gendang yang ditutupi kulit kambing sebagai penutup. Dua bagian itu boleh ditabuh untuk mendapatkan fungsi gendang.

14. Pui-Pui, yaitu alat tiup yang terbuat dari pipa besi pendek yang pada bagian kepalanya terdapat semacam klep yang terbuat dari daun lontar yang jika ditiup menimbulkan getaran suara.

15. Gong, terbuat dari logam yang berbentuk bulat yang pada bagian tengahnya menonjol sebagai tempat jatuhnya pemukul.

II. PROSESI MATTOMPANG ARAJANG

Adapun prosesi-prosesi atau tahapan dalam kegiatan Mattompang Arajang akan diuraikan oleh penulis sebagai berikut :

1. MALEKKE TOJA (Memindahkan atau mengambil air)
Proses ini dilaksanakan beberapa hari sebelum kegiatan Masossoro Arajang (Mattompang) dilakukan. Kegiatan ini dilakukan dibeberapa tempat yaitu : di Bubung Parani, Bubung Bissu, keduanya berada di wilaya Kecamatan Barebbo yang disebut oleh para nenek moyang terdahulu berada di Saliweng Benteng (di luar dari benteng), dan Bubung Laccokkong yang ada di Kelurahan Watampone Kecamatan Tanete Riattang atau dalam bahasa terdahulu berada di Laleng Benteng (di dalam benteng).

Prosesi ritual adat pengambilan dilakukan dengan perjalanan menuju mata air suci. Saat ini pengambilan air suci hanya di satu tempat mata air saja yaitu di Bubung Lacokkong. Hal ini dikarenakan keterbatasan tenaga dan waktu yang memungkinkan hanya mengambil di satu tempat saja.

Sepanjang perjalanan, pembacaan doa-doa dengan bahasa Torilangi terus terucap dan bunyi-bunyian dari alat seperti ana baccing, kancing, gendang dan lain-lain terus dibunyikan seraya mengusir roh-roh jahat yang dapat mengganggu prosesi ritual pengambilan air suci.

Prosesi awal dalam pengambilan air dilakukan dengan doa dalam bahasa bugis (pembacaan mantera dengan bahasa torilangi). Prosesi dilakukan pada pukul 6 pagi di Museum kota Bone.

Toja (air) ini dimaksudkan untuk digunakan membersihkan benda-benda pusaka atau arajang, setelah dilakukan pengambilan air dari beberapa sumur tersebut maka air dibawa kedalam tempat benda-benda pusaka dan didiamkan.

2. MAPPAOTA
Pemangku adat mempersembahkan daun sirih yang diletakkan dalam sebuah cawan kepada Bupati Bone sebagai laporan bahwa upacara adat segera dimulai. Selanjutnya diiringi oleh para bissu ke tempat arajang.

Dalam prosesi ritual ini, Ota (daun sirih) diletakkan di depan pintu ruangan tempat arajang disimpan, dengan maksud memohon izin kepada dewa selaku leluhur terdahulu dan sebagai pemberitahuan bahwa arajang akan diambil dan dibersihkan.

3. MEMMANG TO RILANGI
Kata-kata yang diucapkan oleh bissu yang berisi permohonan izin untuk membersihkan arajang.

Proses ini diawali dengan iringan seperangkat bunyi-bunyian dari tempatnya dan diiringi dengan tarian yang disebut SERE ALUSU oleh para bissu. Secara religius para bissu lah yang menggerakkan dan memindahkan arajang atas persetujuan raja, karena mereka dianggap mengetahui serta mampu berhubungan dengan gaib yang menyertai arajang tersebut.

Kemudian arajang diserahkan kepada tokoh adat, kemudian dibawa kehadapan Bupati Bone untuk dikeluarkan dari sarungnya dan diletakkan kembali tanpa sarung.

4. MASOSSORO/MATTOMPANG ARAJANG
Setelah arajang diambil dari tempat pinyimpanannya dan telah mendapatkan restu dari leluhur maka ketua adat atau Ammatoa yang diwakili Puang lolo (wakil ketua adat) mengarak pusaka kerajaan yang ingin dibersihkan kepada Pattompang atau Passossoro untuk disucikan atau ditompang yang diiringi gendrang BALI SUMANGE serta Sere Bissu yang dilakukan oleh para bissu dengan mengelilingi para pattompang dan arajang yang dibersihkan.

Pada prosesi Mattompang Arajang oleh para bissu menggabungkan kelima gerakan sere, salah satunya gerakan sere terakhir yaitu Sere Maddampu Alameng/maggiri atau mencabut senjata.

Bissu berada pada keadaan antara sadar dan tidak sadar, bissu melakukan gerakan menusuk-nusuk diri dengan benda tajam sementara para bissu yang lainnya melakukan sere sambil bergerak mengelilingi hingga prosesi tersebut selesai.

Setelah tanda isyarat selesai dikeluarkan oleh para pattompang maka ketua adat atau ammatoa mengambil kembali arajang untuk dikembalikan di tempat penyimpanannya yang diwakili oleh puang lolo (wakil ketua adat).

Prosesi selanjutnya yang dilakukan oleh para bissu disebut Mappatinro Arajang (menidurkan nilai spiritual benda pusaka), kemudian bissu kembali membacakan mantra-mantra yang disebut Mamemmeng.

Adapun makna-makna yang ditimbulkan dari tarian sere bissu yang dilakukan oleh para penari bissu dalam prosesi acara mattompang arajang, mulai dari prosesi mattompang pertama hingga berakhirnya prosesi mattompang yaitu sebagai berikut:

1. Sere alusu : menggunakan Alusu (anyaman dari daun lontar) menyimbolkan tutur kata yang baik, sesama manusia tidak memandang strata sosial. Merujuk pada hal-hal yang halus/lembut.

2. Sere bibbi : gerakan Tangan yang meyimbolkan akan menyadari kesalahan dan kekurangan diri sendiri sebelum melihat kekurangan orang lain. Merujuk pada gerakan mencubit diri sendiri.

3. Sere mangko : gerakan Tangan, menyimbolkan merangkul dan menyatukan sesama masyarakat. Merujuk kepada gerakan yang menampung.

4. Sere lemma : gerakan Tangan menyimbolkan berperilaku sopan dan santun terhadap sesama, tidak memandang status. Merujuk kepada gerakan yang pelan.

5. Sere maddampu alameng/maggiri dengan Tappi  : yaitu menggunakan senjata untuk kebaikan dan menolak hal-hal buruk.Merujuk pada senjata yang dipergunakan dalam hal-hal baik.

Dari 5 hal di atas hanya ada satu hal yang berkaitan dengan senjata tajam secara khusus, yaitu Sere Madampu Alemeng. Hal ini disesuaikan dengan maksud dari tujuan bahwa kehidupan sosial bermasyarakat sangat penting memahami sendi-sendi sosial tanpa mengurangi rasa hormat sesama manusia yang diciptakan oleh sang pencipta, selain itu rasa saling menjaga kerukunan dan kesatuan.

Dari beberapa simbol pada acara mattompang, maka makna-makna yang tersirat di dalamnya, yaitu :

1. Makna silaturahmi dan persatuan.
Dilihat pada prosesi acara mattompang yang dilakukan pada setiap tahunnya bertepatan saat hari jadi Bone. Pejabat atau Bupati Bone memanggil dan mengundang para turunan-turunan raja atau pejabat baik yang berada di luar daerah, masyarakat Bone serta unsur-unsur yang masih berkaitan dengan masyarakat terdahulu.

2. Makna membersihkan atau menyucikan.
Pada prosesi mattompang arajang sekali dalam setahunnya setiap benda-benda yang pernah digunakan oleh para raja atau pejabat disucikan begitu pula para raja-raja beserta masyarakat agar tetap berfikir jernih dan tetap menjaga hal-hal yang disucikan. Terutama kepada pejabat dalam hal ini Bupati Bone agar tetap berfikir sehat dalam mengambil segala keputusan demi kepentingan masyarakat dan warganya demi mewujudkan cita-cita nenek moyang.

3. Makna magis/spiritual.
Dalam prosesi adat mattompang terdapat hal-hal yang tidak bisa diterima oleh akal sehat atau logika manusia biasa dikarenakan adanya mantra-mantra yang diucapkan dan mempercayai yang gaib, semua itu diartikan bahwa manusia di muka bumi ini diciptakan oleh hal yang gaib yaitu Allah yang berhak dan wajib di sembahnya.

4. Makna kelestarian budaya.
Prosesi adat mattompang tidak terlepas pada pendahulu-pendahulu masyarakat Bone yang telah mewariskan anak cucu mereka dengan budaya yang menandakan perjuangan, pengabdian serta rasa kasih sayang sesama. Maka dari itu diadakanlah acara tersebut.

Ada beberapa hal yang ingin dicapai melalui Mattompang Arajang ini, yaitu sebagai berikut :
1. Mempercayai tuhan yang suci dan berprilaku baik.
2. Saling menghargai sesama manusia dalam hidup bermasyarakat.
3. Pemimpin masyarakat atau pemerintah haruslah berfikir jernih demi warganya.
4. Membangun rasa solidaritas.

Oleh karena itu, makna ritual Mattompang Arajang dapat diungkapkan hal-hal berikut, yaitu :
1. Pelaksanaan Mattompang Arajang berlandaskan pada kebiasaaan-kebiasaan raja terdahulu yang ada di Kabupaten Bone. Kebiasaan tersebut meliputi hal-hal yang suci yang disukai oleh para raja serta selalu menghargai benda-benda pusaka yang telah digunakan oleh para raja. Tata cara pelaksanaanya dilakukan berdasarkan adat istiadat yang telah diwariskan oleh nenek moyang secara turun temurun.
2. Makna yang terkandung dalam ritual Mattompang Arajang adalah bentuk saling menghargai satu sama lain dalam hidup bermasyarakat dan tetap menjaga sopan santun serta etika dalam bermasyarakat, membersihkan diri dan tidak memandang rendah sesama mahluk hidup ciptaan Tuhan. Tidak melaksanakan ritual ini dianggap suatu tanda tidak menghargai raja-raja terdahulu dan tidak mensyukuri nikmat Tuhan.

Keanekaragaman budaya merupakan warisan secara turun temurun dipertahankan dan dilestarikan oleh pelaku budaya tersebut. Sebagaimana disebutkan dalam Undang-Undang Dasar 1945 menjamin hak kebebasan masyarakat dalam memelihara dan mengembangkan nilai-nilai budayanya.

Oleh karena itu, untuk menjaga kebudayaan agar tidak mengalami kepunahan akibat arus globalisasi, bangsa Indonesia wajib menjaga dan mengkaji kebudayaankebudayaan yang ada di daerahnya. Faktor yang mempengaruhi perkembangan dan perubahan budaya suatu bangsa adalah faktor sosial, ekonomi dan agama. Islam adalah agama yang berkembang pesat di Indonesia.

Secara teologis Islam merupakan sistem nilai dan ajaran yang bersifat Ilahiyah dan transenden. Sedangkan dari aspek sosiologis, Islam merupakan fenomena peradaban, kultural dan realitas sosial dalam kehidupan manusia. Hal ini menandakan bahwa budaya lokal memiliki peran yang cukup signifikan mengantar Islam menuju perkembangannya yang aktual sehingga peradaban Islam dapat diakui oleh dunia.