Jika membaca sejarah, peristiwa Sianre Bale salah satu catatan dan lembaran hitam yang tak pernah hilang bagi masyarakat Bone. Di mana peristiwa itu terjadi perang saudara sesama orang Bone, peristiwa yang mengerikan itu tercatat sebagai sesuatu kejadian yang luar biasa pada masa itu.

Pada peristiwa kelam itu, perang terhadap sesama, Siapa yang kuat itulah yang menang, itulah hukum rimba yang kuat memakan yang lemah dan yang lemah termakan yang kuat. Jadi yang lemah selalu menjadi korban.

Keadaan negeri-negeri diwarnai dengan kekacauan. Hal ini disebabkan karena tidak adanya arung (raja) sebagai pemimpin yang mengatur tatanan kehidupan bermasyarakat. Terjadilah perang perkauman (anang) yang berkepanjangan.

Kelompok-kelompok atau perkauman yang biasa juga disebut Kalula itu dipimpin oleh seorang ponggawa yang disebut Ponggawa Kalula. Masing-masing ponggawa kalula memimpin warganya untuk menguasai kelompok lain.

Awalnya, kelompok-kelompok itu hidup berdampingan, namun karena adanya agitasi dan pengaruh dari luar kelompok-kelompok itu menyebabkan situasi menjadi berubah “sianre bale “.

Akibatnya yang menjadi tumbal adalah masyarakat kecil yang tidak tahu apa-apa. Mereka dilibatkan pada persoalan yang tidak diketahui ujung pangkalnya. Masyarakat dihasut sedemikian rupa oleh orang-orang yang menganggap dirinya “super hebat” pada masa itu.

Kesuksesan orang hebat itu mampu mempengaruhi salah satu ponggawa kalula. Mereka menjalankan taktik “pisahkan dan kuasai”. Orang hebat itu meyakini, apabila seluruh perkauman yang ada masih bersatu, tidak mungkin kita kuasai sebelum dicerai-beraikan.

Sepak terjang Agitator membuahkan kemenangan yang ditandai dengan mengalirnya darah-darah segar rakyat tak berdosa sebagai tumbal keserakahan orang hebat (agitator).

Para kaum saling membunuh antara satu dengan yang lainnya, tidak ada saling mempercayai, tidak ada lagi pemimpin yang bisa diikuti petunjuknya.

Kelompok-kelompok masyarakat saling bermusuhan dan berebut kekuasaan. Kelompok yang kuat menguasai kelompok yang lemah dan memperlakukan sesuai kehendaknya. Saling memakan bagaikan ikan. Tidak ada lagi adat istiadat, apalagi norma-norma hukum yang dapat melindungi yang lemah. Kehidupan manusia saat itu tak ubahnya binatang di hutan belantara, saling memangsa satu sama lain, siapa yang kuat itulah yang menang.

Terbayang kengerian pada masa itu, anak-anak menjadi yatim piatu, isteri-isteri menjadi janda, suami-suami menjadi duda, mereka hidup dalam suasana yang mencekam. Pase ini terjadi kekosongan pemimpin definitif yang bisa mengatur roda kehidupan. Bayangkan, jika keadaan seperti itu terjadi sekarang, hanyalah Maha Pencipta Maha Tahu.

Namun berselang kemudian rakyat dan para ponggawa kalula sadar kalau ia termakan agitasi orang hebat. Untungnya datang penengah yang mereka anggap sebagai To Manurung. Rakyat dan ponggawa yang masih hidup menyepakati dan menunjuk To Manurung sebagai pemimpinnya.

Itulah periode pertama nasib sial dengan kotak kosong, artinya negeri mengalami kekosongan yang luar biasa, tidak ada lagi yang memikirkan kepentingan rakyat, terjadinya ketidakpastian hukum di tengah masyarakat, tidak ada satu pemimpin yang bisa diikuti petunjuknya, dan dekadensi moral merajalela.

Peristiwa Kotak kosong berikutnya terjadi pada tahun 1905, di mana pada saat itu Bone dipimpin oleh La Pawawoi Karaeng Sigeri. Beliau sempat memerintah selama 10 tahun (1895-1905).
Kepemimpinannya berakhir juga diakibatkan ulah orang hebat, yakni orang Belanda. Di mana Belanda menjalankan siasatnya yang dikenal “devide et impera” Politik pecah belah atau politik adu domba, yaitu strategi politik, militer, dan ekonomi yang bertujuan mendapatkan dan menjaga kekuasaan dengan cara memecah kelompok besar menjadi kelompok-kelompok kecil yang lebih mudah ditaklukkan.

Bone Tua yang dipimpin Raja Bone I – XXXI yang sebelumnya berjalan adem-adem berubah menjadi “Bone Malapeta” Rumpa’na Bone di mana Belanda menyerang Bone setelah menaklukkan dan berhasil mengadu domba kerajaan-kerajaan lainnya.

Tidak hanya merontokkan kerajaan-kerajaan tetangga, namun Belanda berhasil menciptakan “orang-orang penghianat”. Mereka merekrut orang Bone yang bisa dijadikan sebagai penghianat.

Setelah rakyat dan raja Bone disingkirkan,alhasil, sang Agitator Belanda yang dibantu para penghianat menguasai Bone. Artinya, Bone pada masa itu dikuasai harkat dan martabatnya oleh orang luar, yaitu Belanda.

Agitator Belanda mampu mengobrak-abrik tanah Bone. Terjadi kekosongan pemerintahan selama 26 tahun, selama itu pula rakyat Bone hidup penuh derita. Kelaparan, pembunuhan dan pemerkosaan terjadi di mana-mana, anak-anak menjadi yatim piatu, isteri-isteri menjadi janda, suami-suami menjadi duda. Sungguh tragis …

Setelah meluluhlantakkan Bone, akhirnya Belanda menunjuk La Mappanyukki menjadi pemimpin atau raja Bone ke-32 (1931-1946). Bone kembali berdaulat setelah mengalami kotak kosong selama 26 tahun.

Akankah terulang peristiwa-peristiwa kelam itu, saya kira TIDAK !!! tapi tergantung cara berpikirnya orang Bone itu sendiri. Sekarang zaman sudah berubah, kata orang alam demokrasi, bebas menentukan pilihan masing-masing, tapi INGAT jangan pernah lupa sejarah.

N1
loading...