We Tenrituppu menggantikan ayahnya menjadi Arumpone. Inilah Mangkau’ yang mula-mula mengangkat Arung Pitu (tujuh pemegang adat) di Bone, yaitu:

1. Matowa Tibojong (Arung Tibojong),
2. Matowa Ta’ (Arung Ta’)
3. Tanete Riattang (Arung Tanete Riattang)
4. Tanete Riawang (Arung Tanete Riawang)
5. Matowa Macege (Arung Macege), 6. Matowa Ujung (Arung Ujung)
7. Matowa Ponceng (Arung Ponceng).

Kepada Arung Pitue, Arumpone We Tenrituppu berpesan, ”Saya mengangkat Arung Pitu untuk membantu penyelenggaraan pemerintahan Bone. Hal ini saya lakukan karena sebagai seorang perempuan tentunya memerlukan bantuan.

“Namun saya mengangkatmu menjadi pemegang adat, tetapi kalian tetap tidak bisa melangkahi adat Bone, tidak bisa menyatakan perang, tidak bisa mewariskan kepada anak cucu, kalau saya tidak mengetahuinya. Kecuali apabila duduk semua turunan Mappajunge kemudian direstui oleh Mangkaue”.

Pada masa kekuasaan Raja Bone ke-10, We Tenrituppu (1602-1611), Karaenge ri Gowa datang ke Ajattappareng membawa Agama Islam.

Sepakatlah Tellumpoccoe (Bone, Soppeng, dan Wajo) untuk menghalangi, sehingga Karaenge ri Gowa kembali. Setahun kemudian Gowa datang lagi ke Padang-padang, namun tetap dihalangi Tellumpoccoe. Akhirnya terjadilah perang di sebelah timur Bulu Sitoppo dengan kekalahan TellumpoccoE.

Gowa melanjutkan penyebaran Agama Islam, Soppeng dengan mudah dikalahkan tanpa bantuan Bone dan Wajo, sedang Datu Soppeng Beowe dan rakyatnya menerima Islam (1609), setelah itu Wajo pun ditaklukkan.

Arung Matowa Wajo La Sangkuru dan rakyatnya juga menerima Islam (1610). Kemudian di Bone sendiri baru resmi memeluk Islam pada masa pemerintahan Raja Bone ke-11 La Tenriruwa (1611).

Sementara itu, We Tenrituppu pergi ke Sidenreng untuk mencari tahu tentang Islam dari Addatuang Sidenreng La Patiroi dan di sanalah Arumpone We Tenri Patuppu masuk Islam.

BACA JUGA :  Sejarah Persaudaraan Bone dengan Buton

Di Sidenrenglah beliau sakit yang menyebabkan meninggal dunia hingga digelari Matinroe ri Sidenreng (1611).

Dalam Lontara Akkarungeng ri Bone disebutkan, bahwa We Tenrituppu kawin dengan La Paddippung Arung Barebbo, hingga lahirlah anaknya La Pasoro, inilah yang kawin dengan We Tasi, lahirlah La Toge Matinroe ri KabuttuE.

La Toge kawin dengan We Passao Ribulu, lahirlah We Kalepu yang kawin dengan Daeng Manessa Arung Kading. Setelah We Tenri Patuppu bercerai dari Arung Barebbo, maka kawin lagi dengan To Lewoe Arung Sijelling, anak Arung Mampu Riawa.

Dari perkawinannya lahirlah anaknya La Maddussila, We Tenri Tana, We Palettei, La Palowe. La Maddussila Arung Mampu juga digelar Mammesampatue (memakai nisan batu).

Pergi ke Soppeng dan kawin dengan We Tenri Gella, saudara Datu Soppeng Beowe. Dari perkawinan ini lahirlah La Tenri Bali yang kawin di Bone dengan sepupu satu kalinya We Bubungeng I Dasajo.

We Bubungeng dan La Tenri Bali melahirkan anak La Tenri Senge’  Toasa Datu Soppeng. Yang kedua bernama We Yadda MatinroE ri Madello juga Datu Soppeng.

We Tenri Tana Arung Mampu Riawa kawin dengan Lebbie ri Kaju yang melahirkan We Tenri Sengngeng, yang kawin dengan La Poledatu Rijeppo saudara Datu Soppeng anak La Maddussila Arung Mampu Mammesampatue dengan istrinya We Tenri Gella. Inilah yang melahirkan La Patotonge, La Pasalappoe, La Pariusi Daeng Mangatta.

La Pariusi Daeng Mangatta inilah yang menggantikan Petta I Tenro menjadi Arung Mampu Riawa yang juga pernah menjadi Arung Matowa Wajo.

La Pallempae atau La Pasompereng Petta I Teko kawin dengan Karaenge ri Gowa. Dari perkawinannya lahirlah We Yama dan We Alima. We Alima kawin dengan Karaenge ri Gowa Tumenanga ri Pasi. Lahirlah I Baba Karaeng Tallo.

BACA JUGA :  Bukit Cempalagi, Riwayatmu Dulu

La Pasompereng diasingkan oleh Kompeni sebab perselingkuhan isterinya dengan Sule Datue di Soppeng yang bernama Daeng Mabbani. Dia membunuh Sule Datue di Soppeng maka diasingkanlah ke Selong.

Anak terakhir dari We Tenrituppu Matinroe ri Sidenreng adalah ; We Palettei Kanuwange, kawin dengan pamannya La Tenripale To Akkeppeang Matinroe ri Tallo. Tidak ada keturunannya, sehingga MatinroEle ri Tallo kawin lagi dengan anak Datu Ulaweng.

Dengan demikian Arung Pitu atau biasa disebut Ade Pitu dibentuk oleh
We Tenrituppu Ratu Bone ke-10 tahun 1602-1611. Beliau memerintah selama kurang lebih sembilan tahun.