Puisi untuk Nelayan Bugis

Orang-orang yang hari-harinya bekerja menangkap ikan baik yang hidup di dasar laut maupun di permukaan perairan disebut NELAYAN.

Saat ini masih banayak Nelayan-nelayan yang menggunakan peralatan yang sangat sederhana dalam menangkap ikan. Termasuk Saudara Bugisku di manapun ia berada pasti ada menghidupi keluarganya dengan profesi NELAYAN.

Bayangkan kalau tidak ada BAPAK NELAYAN pasti kita jadi vegetarian semua. Dengan jasa BAPAK NELAYAN kita bisa makan dendeng / Bale Pajje yang sebagian besar orang Bugis pasti mengenal dan suka yang namanya Coddo Lepe bin Bale Pajje.

Berikut sebuah puisi untuk BAPAK NELAYANKU seiring lagu TOTONA PASSOMPEE yang mengisahkan kehidupan seorang NELAYAN.

UNTUKMU NELAYANKU

Engkau berlari dalam gelisah menerjang badai
Engkau tahu harapan belum sirna
Sempatkah kau menatap awan lagi
Tak kala debur ombak masih meneriakkan asa

Engkau bertarung bersama tentara kecil dan besar
Basah kuyup tertepa laut asin
Menyatu dengan peluh dan rintih

Berdiri sendiri duduk terkawan
Di bawah layar terkembang
Wahai samudra kaulah tinta bagi hidupya
Ceritakanlah kembali hari-harinya dalam sonata yang indah

Dalam simponi ombak yang meliuk kesana kemari
kau pentaskan sebuah panggung abadi
Memang Sungguh…
Aku tak sabar menanti dan menunggunya
Tak lupa pula lengkungan senyumnya
Berjalan sabar menyisir teluk senja
Saat matahari beristirahat sejenak dari pekerjaanya

Siapakah namamu yang sebenarnya
Bermain dengan dadu Tuhan di neraka dunia
Di tempat yang dalam sedalam gubuk palung
Dan tempat yang gelap, Segelap hati yng tak tenang

Telah ku baca ceritamu
Telah kulukis kisahmu
Samuderapun kehabisan tinta untuk merangkumkan hidupmu
Kini ku sadari….
Hidup tak selalu semanis madu
Terkadang seasin ombak laut yang menerjang batu

N1
loading...