Bagaimana orang Bugis menerima agama Islam? Kemudian bagaimana mereka mempraktikkan adat. Dan bagaimana pula mereka menjalani keduanya? Dalam tulisan ini kita akan membahasnya.

Di Sulawesi Selatan, dalam berbagai catatan sejarah, bahwa ratusan tahun lalu, Islam telah mendarat dan bergumul seluk-beluk adat, keyakinan, dan kebudayaan. Khususnya masyarakat Bugis yang sarat dengan peradaban turun temurun.

Sara’ (syariah) dan ade’ (adat) menjadi dua hal yang saling menemukan bentuk dalam dinamika kehidupan masyarakat Bugis. Saat kehidupan diatur dengan pangngadereng (undang-undang sosial) sebagai falsafah tertinggi yang mengatur masyarakat sampai penaklukan seluruh tanah Bugis tahun 1906, maka unsur yang awalnya hanya terdiri atas empat kemudian berubah menjadi lima.

Ini untuk mengakomodasi diterimanya Islam sebagai pegangan hidup. Sistem yang saling mengukuhkan pangngaderreng didirikan atas, yaitu:

1) wari (protokoler kerajaan),
2) ade’ (adat-istiadat),
3) bicara (sistem hukum),
4) rapang (pengambilan keputusan berdasarkan perbandingan), dan
5) sara’ (syariat Islam)

Fragmen sejarah (pangngadereng) ini kemudian menjadi karakter penting bagi orang Bugis. Ada dua sifat yang senantiasa menjadi saling berkaitan. Bukan bertentangan, tetapi saling melengkapi. Di satu sisi, selalu terbuka terhadap perkembangan dan kemajuan yang ada sekarang dan yang akan datang. Pada saat yang sama, di sisi lain bersemayam kesadaran akan masa lampau untuk selalu menjaga tradisi dan pesan orang tua.

Perkembangan selanjutnya dalam persinggungan Islam dan adat ini dengan adanya pengemban unsur pangngadereng
tersendiri sesuai dengan tugas dan fungsinya yang terpisah. Pilar ade’ diemban raja dan struktur kerajaan sekaligus sebagai kekuasaan eksekutif yang mengelola jalannya pemerintahan. Sementara sara’ dipangku oleh kadhi, imam, khatib, bilal, dan doja (penjaga masjid). Kelangsungan dua pilar ini secara berkesinambungan masing-masing bersentuhan dalam siklus kehidupan manusia. Secara terpisah namun berjalan seiring.

Ade’ dan sara’ sebagai unsur pangngadereng bukan dikotomis, yaitu sikap menempatkan dua hal yang berbeda dan sangat sulit untuk disatukan. Di mana sara’ secara khusus menangani hal yang berkaitan dengan fikih Islam dan praktik ibadah lainnya. Begitu pula keseharian yang bersentuhan dengan sara’ seperti penyunatan, perkawinan, pewarisan, dan lain-lain. Di samping tugas-tugas mengadili perkara Islam seperti pewarisan, sekaligus kadhi menjadi pendamping raja dan eksekutif pemerintahan lainnya dalam status sebagai penasihat. Termasuk dalam hal pembicaraan adat.

Sehingga, dapat dilihat bahwa Islam menjadi alat kontrol bagi pelaksanaan adat. Di kalangan Bugis hanya mau bertindak atas dasar assituruseng (kesepakatan umum). Sementara abiasang (kebiasaan) sebagai titik awal dalam yang mewarnai aktivitas komunal. Dalam dua prinsip ini tercermin asas kebebasan yang terukur (kemerdekaan).

Bugis berpandangan hanya adatlah yang menjadi dewa). Kesatuan antara adat dan Islam semuanya berhulu kepada manusia sebagai individu untuk untuk memahami ajaran Tuhan melalui Islam. Ketika melaksanakan Islam berdasarkan spirit siri (malu) kepada Tuhan, pada proses berikutnya melahirkan ketakwaan kepada Allah. Keberadaan adat dan agama menjadi interaksi antar pelbagai elemen masyarakat. Walaupun pergantian kekuasaan berganti secara turun temurun tetapi kelangsungan adat tetap utuh dan muncul sebagai pengukuh kehidupan.

Posisi adat dalam keberagamaan orang Bugis memiliki posisi yang khas. Pergulatan pemikiran Islam Indonesia tidak dapat melepaskan diri dari aspek adat sebagai bagian penting. Sebagaimana kajian Adlin Sila di masyarakat Jawa bahwa tidak memungkinkan untuk melakukan klaim Islam Indonesia dengan hanya semata-mata melihat satu suku atau etnis saja. Sementara pola perjumpaan adat dan Islam menemukan bentuk dalam beberapa gambaran seperti di Minangkabau yang mengalami konflik antara keinginan untuk mempertahankan adat dengan penerimaan Islam sebagai agama dan jalan hidup.

Adapun dalam tradisi Aceh adat
berjalan paralel dengan praktik beragama. Ini menunjukkan adanya proses transformasi agama ke dalam adat dengan respon yang berbeda-beda. Pertemuan keduanya berlangsung secara dinamis sehingga bisa mendapatkan tempat dalam kelangsungan budaya.Proses dialogis dan tranformasi berjalan secara berkesinambungan.

Setiap tradisi memiliki cara pandang yang berbeda sehingga dinamisasi ini kemudian akan membentuk sikap yang berbeda
dalam memahami keberadaan agama dan adat dalam tempat yang sama.Pandangan ini kemudian dapat digunakan untuk mengkaji bagaimana kelangsungan adat dan agama sehingga menemukan persentuhan sehingga terjalin relasi yang sama. Sekaligus menjadi konsepsi hidup yang tetap relevan sampai hari ini. Ini dimungkinkan karena ada nilai budaya secara spesifik berbeda dengan nilai budaya yang dianut masyarakat lain. Praktik kehidupan kemudian menjembatani adat dan agama sehingga lahir dalam bentuk formula tersendiri.

Oleh karena itu, pandangan ini menjadi titik tolak untuk mengeksplorasi pertanyaan utama yang patut dikaji, bagaimana interaksi antara Islam dan adat dalam masyarakat Bugis dalam hubungannya dengan akulturasi budaya.

Akulturasi Agama dan Budaya dalam Masyarakat Bugis

Kehadiran Islam dalam masyarakat Bugis merupakan bentuk penerimaan nilai yang sama sekali baru ke dalam budaya yang sudah wujud secara mapan. Namun, kehadiran budaya baru ke dalam budaya yang sudah ada ini tidak meruntuhkan nilai dan tanpa menghilangkan jati diri asal.

Dalam pertemuan dua budaya baru, memungkinkan terjadinya ketegangan. Sebagaimana respon kalangan tradisional dalam budaya Minang terhadap gerakan
pembaharuan yang mengalami pergolakan. Bahkan sampai terjadi peperangan. Sementara dalam akulturasi yang berproses di generasi kedua keturunan India Amerika terjadi konflik di antara keluarga.

Tetapi dalam kasus pertemuan agama Islam dan budaya Bugis justru yang terjadi adalah perpaduan yang saling menguntungkan. Islam dijadikan sebagai bagian dari identitas sosial untuk memperkuat identitas yang sudah ada sebelumnya.

Kesatuan Islam dan adat Bugis pada proses berikutnya melahirkan makna khusus yang berasal dari masa lalu dengan menyesuaikan kepada prinsip yang diterima keduanya. Pertemuan arus kebudayaan melahirkan model adaptasi yang berbeda, atau bahkan sama sekali baru dengan yang sudah ada sebelumnya.

Model adaptasi menjadi ‘di antara bentuk akulturasi’. Dengan proses akulturasi yang berjalan beriringan, maka dua arus
kebudayaan yang bertemu melahirkan integrasi. Jika ini disebut sebagai model, maka dapat pula menjadi sebuah solusi.

Pembentukan identitas yang sudah selesai kemudian memerlukan klarifikasi dari
unsur luar. Di tahap awal tentu akan menimbulkan konflik. Tetapi dalam proses yang ada terjadi proses restrukturisasi. Ini pula yang muncul dalam beberapa ritual yang ada dalam kebudayaan Islam Bugis.

Tradisi Islam Arab yang hadir tidak serta merta secara utuh diterima sebagaimana apa yang sudah ada. Tetapi justru dilakukan penyesuaian dengan ritual yang sudah ada dalam tradisi Bugis. Sepanjang tidak bertentangan dengan prinsip keagamaaan dalam Islam, maka ritual tersebut tetap dipertahankan dengan melakukan penyesuaian secara harmonis.

Penerimaan Islam sebagai ajaran, tidak menghilangkan “wajah lokal” yang diwarisi secara turun temurun. Model adaptasi seperti ini kemudian lahir dari adanya strategi penerimaan yang memungkinkan adanya integrasi dua budaya yang bertemu. Adanya pengakuan masing-masing kehadiran dua budaya selanjutnya memunculkan penyatuan.

Masuknya Islam dengan membawa ajaran “baru” bagi kebudayaan Bugis kemudian mempengaruhi tradisi yang sudah ada.
Namun berubahnya budaya yang sudah ada merupakan penyesuaian atas pandangan atas pengakuan kebenaran agama yang diterima. Maka, budaya Bugis kemudian hadir dalam bentuk nilai dan standar yang baru pula sesuai dengan hasil pertemuan dua budaya.

Keselarasan dan sinkronisasi yang terjadi karena antara agama Islam dan budaya Bugis dapat digandengkan dengan terbukanya pertimbangan para pelakunya. Walaupun wujud diferensiasi, tetapi ada identitas kolektif yang bermakna kemudian digunakan untuk memaknai tradisi masa lalu dengan kehadiran Islam sebagai agama yang baru diterima.

Adanya kritik yang tidak menempatkan tradisi sebagai bagian beragama. Padahal dalam pembentukan nilai selalu saja masa lalu masih memiliki posisi yang khas dalam setiap kebaruan yang muncul. Secara fungsional, tradisi bisa saja menolak perubahan dan penggantian dengan agama yang datang. Pada sisi lain, justru legitimasi untuk kemudian mengikat budaya yang ada dengan legitimasi pandangan hidup, keyakinan, pranata dan aturan dengan kerangka Islam terbentuk menjadi sebuah kesatuan yang baru.

Dua pola yang muncul dalam akulturasi budaya dengan agama adalah bentuk dialogis dan integratif. Jika dalam budaya Jawa, Islam dan budaya mengambil pola dialogis, maka sebaliknya dalam tradisi Melayu mengambil bentuk integratif.

Pada budaya Jawa Islam berhadapan dengan budaya kejawen bahkan muncul dalam bentuk ketegangan ketika Islam mulai menyebar di masa kolonial. Ada pula resistensi dari budaya lokal dan tradisi yang sudah mengakar. Sehingga muncul perbedaan pandangan antara penafsiran legal dengan penafsiran mistis.

BACA JUGA :  Bugis Tak Sekadar Nama

Respon terhadap keyakinan dalam budaya senantiasa menunjukkan toleransi yang memadai, kalau tidak dikatakan sebagai penerimaan. Sementara pola integrasi,
Islam berkembang dan masuk menjadi penyanggah terpenting dalam struktur masyarakat, termasuk dalam urusan politik.

Gambaran bentuk integratif ini seperti dalam budaya Melayu dan Islam. Islam terbentuk menjadi karakter bagi kelangsungan budaya di lapisan masyarakat. Ini semakin dipermudah dengan tersedianya struktur kerajaan dan kesultanan yang masih tetap berdiri berdampingan dengan nilai demokrasi. Secara kultur kemudian terjadi model yang berjalan sebagaimana struktur masyarakat yang ada.

Sebagaimana dalam perkembangan masyarakat Australia, situasi ini berada dalam kondisi di mana arus modernisme berlangsung. Agama tetap menjadi salah satu tumpuan, termasuk dalam kondisi ketika tidak menerima salah satu agama apapun.

Adapun dalam budaya Bugis, Islam melembaga menjadi kekuatan sosial. Penghargaan terhadap seorang manusia Bugis ditentukan pada kemauan dan kemampuan menjaga siri (malu). Pelembagaan siri ke dalam kehidupan sosiokultural dan kemudian
mengamalkan secara intens yang melahirkan harmoni kehidupan.

Interaksi dengan laut, sompe’ (merantau) melahirkan identitas kultural yang khas. Gambaran ini menegaskan citra orang Bugis sebagai penganut agama yang fanatik sekaligus memegang teguh adat yang diwariskan leluhur secara turun temurun. Hal ini dapat saja terjadi karena adanya keserasian dalam tradisi keagamaan sehingga terserap dalam tradisi yang sudah mapan. Sekaligus menolak adanya sinkretisasi dalam ajaran
agama. Melainkan ajaran agama yang datang dalam status asing menemukan lahannya dalam budaya lokal.

Dalam penyebarannya di Sulawesi Selatan, bahwa Islam maupun Kristen sudah sampai ke Sulawesi Selatan yang saat itu dalam kekuasaan kerajaan Gowa di Makassar pada pertengahan abad ke-16. Di mana Kristen tersebar melalui pedagang Portugis, sementara Islam dibawa oleh pedagang Melayu dan pedagang Makassar yang berdagang sampai ke negeri-negeri Islam.

Selanjutnya permulaan abad ke-17,
Islam mulai menyebar; ditandai dengan penerimaan Islam oleh Raja Gowa dan Raja Tallo sebagai agama resmi kerajaan. Adapun tanggal resmi penerimaan Islam kedua kerajaan tersebut pada malam Jumat 9 Jumadil Awal 1014 H bertepatatan dengan 22 September 1605. Saat itu Mangkubumi Kerajaan Gowa dan Tallo, I Malingkaeng Daeng Manyonri mula-mula menerima dan mengucapan syahadat selanjutnya diikuti Raja Gowa ke14 Mangaranngi Daeng Manrabia.

Perkembangan berikutnya, Islam menyebar tidak saja sampai di keseluruhan tanah Makassar dan Bugis tetapi juga menjangkau Ternate, Seram, Ambon, Buton, dan kerajaan lainnya di timur Nusantara. Saat Sultan Malikussaid mangkat padaNovember 1653, Kerajaan Gowa telah mendakwahkan Islam
sampai ke seluruh kerajaan sekitar termasuk menjalin hubungan merat dengan Mufti Besar Arabia di Mekkah, Raja Mataram di Jawa, Sultan Aceh di Sumatra, dan bangsawan melayu dari Patani yang berada di daratan Asia.

Penyebaran Islam saat itu berkembang
melalui jalur pesisir dalam walaupun tidak semata-mata identik dengan Islam. Karena proses perdagangan juga mengambil bagian dalam penyebaran ini. Perkembangan Islam juga bergerak secara agraris. Ketiga pola ini secara bersama-sama memberikan andil dalam perkembangan Islam sehingga keseluruhan daratan Sulawesi menerima Islam sebagai agama.

Migrasi menjadi satu tradisi bagi orang Bugis. Dalam fase kehidupan tertentu seseorang menjadikan sompe’ (merantau) sebagai bagian untuk menempa diri. Ini ditunjang pula dengan kemampuan untuk membangun sebuah kapal yang dinamai padewakang. Kemampuan kapal ini mengarungi samudra sampai ke Vancouver di Kanada. Kemampuan yang sama untuk berlayar sampai ke Eropa dan Afrika. Pelayaran yang sampai ke Kamboja, Sulu (Filipina) Australia Utara sudah berlangsung sejak abad ke-18. Ini dibuktikan dengan nama-nama tempat tersebut sudah tertulis dalam aksara lontara dari peta peninggalan abad ke18.

Kemampuan tambahan juga menjadi pelengkap untuk kukuhnya tradisi melaut ini dengan adanya keterampilan untuk menjadikan bintang dan langit sebagai panduan navigasi. Kelengkapan lainnya adalah kesepakatan undang-undang maritim Amanna Gappa sebagai ketentuan hukum di laut dan pengaturan perdagangan antar pulau.

Orang Bugis juga dicitrakan sebagai pekerja keras dan sukses dalam membuka relung ekonomi yang belum tereksploitasi sebelumnya. Usaha dijalankan dengan membuka lahan pertanian, mengembangkan ternak ikan dan mendirikan usaha kecil. Metode penangkapan ikan yang khas dan unik dengan menggunakan bagang tetap berlangsung hingga kini tersebar di berbagai perairan di Nusantara.

Adaptasi dalam budaya lokal ketika melangsungkan migrasi menjadi keterampilan tersendiri. Diaspora (persebaran) Bugis ini kemudian terbentang di semenanjung Malaysia sampai ke bagian timur Indonesia. Perjumpaan dengan bangsa-bangsa dan keberadaan Makassar sebagai salah satu pusat perdagangan sampai saat ini memberikan kesempatan untuk berinteraksi dengan pendatang. Sekaligus senantiasa membuka diri dengan peluang dan informasi baru yang datang setiap saat.

Identitas Islam salah satu bagian dari ciri orang Bugis. Perkembangan keilmuan ditandai dengan kokohnya dua madrasah sejak awal yang turut dalam pengajaran Islam. Pesantren As’adiyah di Sengkang dan Pesantren Mangkoso di Barru keduanya berawal dengan nama Madrasah Arabiyah Islamiyah (Sekolah Arab Islam).

Sehingga penghargaan bagi guru agama yang dianggap memiliki kompetensi keilmuan yang memadai dipanggil dengan gelar gurutta (guru kita). Sikap ini menggambarkan bagaimana Islam dijadikan sebagai entitas sekaligus hubungan antara manusia dengan Tuhan melalui keinginan untuk menguatkan kapasitas keagamaan.

Perempuan memiliki keiginan kuat untuk mengamalkan ibadah. Sehingga di beberapa tempat ditemui adanya kelompok kecil perempuan yang mengikuti salat Jumat di belakang laki-laki. Ketika terdapat kelompok besar, maka perempuan melaksanakan makkammisi, yaitu salat berjamaah duhur pada hari Kamis dilanjutkan dengan medengarkan ceramah. Ini dimaksudkan agar perempuan tidak ketinggalan dari apa yang dilakukan laki-laki untuk memperkuat ibadah dengan salat Jumat.

Dalam pandangan orang Bugis, adat mendasari segenap gagasannya dalam hubungan dengan sekitarnya, bahkan dengan makrokosmos. Sekaligus adat ini yang menjadi nafas dalam kehidupan sosial politik.

Bagi orang Bugis, adat tidaklah sekadar
kebiasaan semata. Di mana adat itulah sebagai jiwa yang luhur dari pembentukan wujud watak masyarakat. Bagi orang Bugis yang tertuang dalam Lontara, bahwa pelanggaran terhadap adat merupakan pelanggaran terhadap aturan kehidupan itu
sendiri. Akibatnya bukan saja akan ditimpakan kepada pelanggar tetapi justru akan menimpa keseluruhan masyarakat penganutnya.

Jika itu hanya kebiasaan, maka tidak akan ada konsekwensi bagi pelaku apalagi masyarakat. Konsepsi sosial seperti ini merupakan bagian ekspresi yang muncul dalam pembentukan jati diri dalam melihat budaya dan agama di masyarakat Islam Indonesia. Titik sentral dari proses ini ada pada pangngaderreng. Di mana semua sistem yang sudah menjadi pilar pendukung pangngaderreng telah terkait dan semua pihak berkewajiban untuk menurut kepada status dan peranan yang sudah ditentukan.

Dimasukkannya Islam sebagai pilar pangngaderreng, maka menjadi kewajiban individu yang bersifat pribadi untuk menyelaraskan tuntutan Islam terhadap tradisi yang sudah ada. Saat yang sama adat sudah menggariskan penghargaan dan hukuman dalam upaya untuk mempertahankan sikap dan tingkah laku sebagai milik bersama. Untuk itu, posisi yang sama didapatkan Islam ketika
sudah didaulat masuk ke dalam sistem tata sosial. Proses ini terjadi walaupun terdapat perbedaan diantara dua kebudayaan yang ada kemudian menyatu secara sadar.

Salah satu sumber pandangan hidup yang menjadi pegangan dengan adanya pesan Lontara, yang diterjemahkan yaitu :

” Hai kalian pemangku adat. Pahami benar-benar apa yang disebut adat. Pelihara dan hormati ia, sebab adat itulah yang disebut manusia. Jika engkau tak memahami yang disebut adat, maka tak jadilah orang disebut manusia. Karena tiadalah pokok-pangkal adat itu melainkan kejujuran itu sambil engkau perkuat takutmu kepada Dewata dengan mempunyai rasa malu yang mendalam. Sebab sesungguhnya orang yang kuat takutnya kepada Dewata lagi pula mendalam rasa malunya, dia itulah yang tak pernah
terpisah dari kejujuran”.

Sebelumnya kedatangan Islam, masyarakat Bugis sudah mengenal dewata sewuae (tuhan yang satu). Kesamaan pandangan ini dengan aqidah Islam ini memudahkan terjadinya akulturasi kedua kebudayaan. Dalam proses yang beriringan ditemukan kesamaan filosofis sehingga terjadi penyatuan. Penyesuaian yang ada dengan intensitas yang berbeda dimulai karena adanya unsur kesamaan dan juga keterkaitan.

Adapun pengaruh Islam menjadi dominan ketika dipandang sebagai “jalan yang lebih baik”. Konvensi raja-raja Bugis-Makassar dengan pernyataan paseng(ikrar) menyatakan, bahwa “barang siapa di antara mereka menemukan jalan yang lebih baik, maka hendaknya menyampaikan hal yang lebih baik yang ditemukannya itu kepada orang lain”.

Sejalan dengan konvensi itu, maka dilakukanlah seruan kepada raja-raja Bugis-
Makassar untuk menempuh “jalan yang lebih baik” itu dengan memeluk agama Islam. Seruan itu diterima dengan baik sehingga Islam menyebar dengan jalan damai.34 Keberlanjutan vitalitas budaya tercermin dari kesediaan untuk berubah dan mengintegrasi pandangan yang sudah wujud dengan pola yang sama sekali baru.

BACA JUGA :  Mengenal Ka'bah

Praktik Islam Bugis

Dengan adanya kesinambungan antara adat dan Islam kemudian dalam berbagai aktivitas kehidupan selalu saja kegiatan keagamaan yang disertai dengan spiritualitas yang berasal dari kearifan yang diemban adat. Ketika menempuh siklus kehidupan, maka sandaran utama berada pada dua panduan yaitu adat dan Islam.

Dalam prinsip ini, semua adat yang bertentangan dengan syariat serta merta ditinggalkan. Hanya adat yang tidak menjadi aturan pokok dalam beragama yang tetap dijalankan. Sebagaimana dikatakan, bahwa ” Islam yang datang ke tanah Bugis diberi baju adat”.

Eksistensi budaya Bugis sudah ada sebelum sebelumnya datangnya Islam. Sehingga kultur yang tidak diatur sama sekali oleh ketentuan syariah sama sekali tidak ditinggalkan. Setidaknya ada lima hal yang sarat dengan muatan adat dan Islam dalam praktik kehidupan masyarakat Bugis. Praktik tersebut adalah pernikahan, prosesi haji, rumah baru, warisan, dan posisi sakral barzanji.
1) Pernikahan.
Ukuran pernikahan ditandai dengan mahar. Bagi Bugis di wilayah Soppeng mahar dinilai dengan kati(mata uang emas). Sementara masyarakat Bugis di Bone, Maros, dan Pangkep dinilai dengan real (mata uang Saudi Arabia).

Secara umum mahar berupa dalam wujud tanah. Sangat jarang dijumpai pihak keluarga perempuan mau menerima mahar dalam bentuk seperangkat alat salat dan al-Qur’an.

Mahar dimaknai sebagai pemberian laki-laki kepada perempuan sehingga harus berharga.
Maka ukuran berharga itu diletakkan di dalam wujud sebidang tanah. Ini merupakan syarat pernikahan yang menjadi ketentuan dalam Islam. Tetapi bentuknya yang tidak ditentukan, semangatnya dalam bentuk pemberian laki-laki kepada perempuan. Sehingga masyarakat Bugis menentukan kelaziman dengan tanah. Sebagai sumber kehidupan yang menjadi pegangan perempuan.

Dalam prosesi pernikahan ini, ada unsur matoa (orang dituakan). Saat lamaran sampai syukuran atas selesainya seluruh rangkaian pernikahan yang ditandai dengan berkunjungnya pasangan baru ke rumah-rumah keluarga dan ziarah kubur, maka prosesi dan perangkatnya dipimpin matoa ini. Matoa akan mewakili keluarga laki-laki dan begitu juga matoa yang ditunjuk pihak perempuan untuk senantiasa berkomunikasi dalam menjalankan rangkaian pernikahan.

Pembicaraan pertama yang diselesaikan saat melamar adalah mahar dan apa yang menjadi pemberian pihak laki-laki kepada pihak perempuan. Termasuk di dalamnya hantaran yang akan diusung saat pengantin laki-laki diantar ke rumah pengantin perempuan. Mapparola (kunjungan balasan) juga akan mengusung balasan pemberian kepada pengantin laki-laki dari pengantin perempuan.

Selanjutnya diputuskan pula waktu pernikahan akan dilangsungkan. Serta disetujui pula bagaimana seluruh kegiatan ini akan berlangsung sampai kedua pasangan menemukan tempat tinggal yang akan dibicarakan saat usai mengunjungi kuburan keluarga besar masing-masing pihak. Kesemua urutan pernikahan ini semata-mata adalah adat Bugis tetapi tidak dilarang dalam prinsip Islam sehingga tetap berlangsung sampai sekarang.

Pernikahan menjadi lambang saatnya melepas seorang anak kepada kehidupan keluarganya sendiri. Semalam sebelum dilangsungkan akan nikah, dilaksanakan acara mappacci (membersihkan). Dalam acara ini, segenap keluarga memberikan doa restu sekaligus merelakan calon pengantin untuk keluar dari lingkungan rumah yang selama ini didiami.

Malam itu juga dilangsungkan mampanre temme (khatam al-Qur’an) sebagai lambang bahwa sudah menamatkan al-Qur’an sehingga berkewajiban menjadikan al-Qur’an tidak saja sebagai bacaan tetapi juga sebagai pedoman. Anak laki-laki yang akan berangkat ke rumah mempelai perempuan untuk acara akad nikah meminta restu kepada kedua orang tua.

Biasanya anak tidak hanya mencium tangan orang tua tetapi juga bahkan mencium kakinya. Ini dilakukan sebagai tanda hormat telah membesarkan sang anak dan kesudian untuk mengantar ke bahtera rumah tangga yang akan dilakoni.

Dalam pernikahan Bugis selalu memperhatikan asitinajang (kepantasan). Ketika keluarga laki-laki akan melamar seorang perempuan, maka aspek pertama yang diperhatikan adalah asitinajang ini. Tabu bagi keluarga laki-laki untuk melamar perempuan yang tingkatannya lebih di atas. Sehingga muncullah istilah mempe aju ara (memanjat pohon beringin) di mana tindakan ini tidak mungkin dilakukan.

Pohon beringin melambangkan kekeramatan, sehingga tidak mungkin untuk melakukan sesuatu kepada benda ini. Sikap yang sama dilakukan kepada perempuan yang tidak sederajat. Kecuali jika keluarga laki-laki memiliki status sosial tertentu yang bisa diandalkan sehingga kemudian akan menikahkan putranya dengan perempuan yang lebih di atas kedudukannya.

Sebaliknya, pihak perempuan ketika menerima pinangan seorang laki-laki akan mempertanyakan dengan kata santrimo. Ini berarti mempertanyakan kemampuan calon suami mampu menjadi imam bagi istrinya. Termasuk secara teknis untuk menjadi imam salat bagi perempuan.

2) Haji

Adapun haji bagi orang Bugis bisa saja bermakna status sosial. Status haji itu dilambangkan dengan panggilan aji lolo
(haji muda) jika di keluarga itu sudah ada haji sebelumnya. Begitu pula perlakuan secara berbeda akan didapatkan seseorang dengan
status haji dengan yang belum haji.

Dalam acara pernikahan, acara keluarga dan posisi di masyarakat. Ada beberapa hal yang mencirikan haji orang Bugis dengan haji suku lain. Ketika menyelesaikan rangkaian haji dengan wukuf di Arafah dan kembali ke Mekkah, seusai tahallul maka seseorang yang menjalankan ibadah haji belum mau mengenakan songkok haji (putih) bagi laki-laki dan cipo-cipo (penutup kepala) bagi perempuan jika belum mengikuti prosesi mappatoppo. Prosesi ini dengan adanya seseorang yang mempunyai kapasitas haji mengenakan songkok atau cipo-cipo itu ke atas kepala seornag haji baru.

Saat kembali ke tanah Bugis, haji baru ini tidak akan mengerjakan kegiatan selama kurang lebih empat puluh hari. Haji masih mengenakan surban. Sementara Hajjah mengenakan jubah Arab yang berwarna hitam yang disebut dengan pakambang. Pakaian ini pulalah yang digunakan turung (turun) dari tanah marajae (Mekkah) ke toddang anging (tanah air).

Tradisi Bugis mengajarkan ketika seorang sudah kembali dari tanah marajae dan
menyandang status haji, maka harus senantiasa menjaga perilaku. Pantangan bagi seorang haji untuk berlaku di laur dari tuntunan agama. Justru seorang haji diharapkan menjadi pionir dalam masyarakat. Status sosial yang diberikan kepada haji menuntut tanggungjawab sebagai teladan, penyokong kegiatan keagamaan dan sekaligus panutan bagi keluarga.

Apresiasi terhadap seorang yang menyandang status haji menunjukkan penghargaan kepada seseorang atas sempurnanya ibadah. Sekaligus menjadi dukungan lingkungan untuk mengupayakan konsistensi sang haji untuk
berada dalam koridor kesempurnaan keislaman.

3) Upacara sejak mendirikan rumah baru sampai pindah ke rumah baru tersebut.

Istilah masuk rumah baru disebut dengan menre’ bola (naik rumah). Walaupun sekarang ini tidak semua bangunan bertingkat seperti rumah tradisional orang Bugis tetap saja istilah menre bola digunakan. Ketika membangun rumah, prosesi awal adalah menentukan “posi bola” (titik tengah rumah). Posi bola inilah yang dijaga dengan baik oleh pemilik rumah. Biasanya ditempatkan secara khusus dan tidak akan pernah berada di ruang publik dari wilayah rumah.

Saat membangun rumah,maka ditempatkanlah pisang yang utuh dalam rangkaian tangkai yang baru saja ditebang. Pisang itu ditempatkan di posi bola dan boleh dimakan siapa saja dengan tidak mengambil kulitnya. Kulitnya dibiarkan tetap ditempat gantungan dan kemudian dibiarkan kering.

Ini menjadi simbol harapan pemilik rumah untuk tetap mendapatkan limpahan rezeki berupa makanan dan tidak akan kekurangan makanan. Rumah melambangkan dua hal dari segi pembagian ruang. Lego-lego (teras) menjadi area interaksi dengan masyarakat. Sementara ruang tengah sampai jongke
(ruang dapur) sampai ke belakang adalah wilayah keluarga. Ini didasarkan kepada pola kepemilikan ruang dalam Islam.

4) warisan.

Secara syariah, warisan dibagi atas dasar laki-laki mendapat dua bagian dari bagian yang didapatkan perempuan. Namun demikian, praktik ini justru tidak dipilih dalam masyarakat Bugis. Pembagian warisan didasarkan pada persetujuan di antara keluarga yang berhak menerima warisan. Keturunan langsung seseorang yang meninggalkan warisan mengadakan musyawarah dan menentukan bagian masing-masing. Bukan didasarkan pada jenis kelamin. Tetapi beberapa pertimbangan yang muncul adalah keadaan ekonomi keluarga masing-masing, jika sudah berkeluarga.

Sementara bagi yang masih bujang biasanya mendapat bagian lebih besar. Adapun anak bungsu selalu mendapatkan rumah beserta isinya. Atau saudara yang memelihara orang tua sampai wafatnya. Walaupun diberlakukan prinsip “mallempa urane majjujung makkunraie” (laki-laki memikul dan perempuan menjunjung), namun ini tidak dilaksanakan secara harfiah. Tetap saja saudara-saudara selalu bertenggang rasa untuk berbagi dengan saudara yang lain. Jika terdapat saudara yang belum menamatkan pendidikan, maka ada saja yang bersedia untuk menanggung urusan pendidikan saudara yang lebih muda.

BACA JUGA :  Cara Menulis Gelar Akademik di Belakang Nama

Sementara untuk urusan pernikahan
sepeninggal orang tua menjadi tanggung jawab kakak-kakaknya. Harta warisan hanya dibagi jika kedua orang tua sudah wafat.bAdapun ketika masih ada salah satu di antara orang tua, harta yang ada masih menjadi urusan orang tua. Ketika kedua orang tua sudah tiada, maka biasanya ditunjuk satu orang keluarga terdekat yang lebih tua untuk memfasilitasi musyawarah. Biasanya berasal dari paman atau bibi. Dalam beberapa contoh juga difasilitasi oleh kepala desa.

5) Barzanji

Barzanji menjadi ritual yang mengitari seluruh siklus kehidupan orang Bugis. Mulai dari menjemput kehidupan seorang bayi (akikah) sampai pada pernikahan. Hanya pada mattampung (prosesi pemakaman mayat) dan maddoja bine (menunggu benih padi untuk ditebar), barzanji tidak hadir, tetapi selain itu barzanji selalu hadir dalam denyut nadi
kehidupan orang Bugis.

Acara aqiqah disertai dengan pembacaan
barzanji, adapun untuk pernikahan setelah mappanre temme(khatam al-Qur’an) dilanjutkan dengan pembacaan barzanji.
Begitupula saat syukuran atas adanya kendaraan baru, memasuki rumah baru, melepas kepergian haji, dan selama perjalanan haji setiap malam Jumat barzanji dibaca di rumah yang berangkat haji. Saat kembali dari haji dan merayakan kesyukuran atas kepulangan dari tanah sucipun dilengkapi dengan bacaan barzanji.

Pembacaan barzanji dipimpin oleh imam desa atau imam kampung yang memang menjadi pampawa sara’ (pegawai syariat). Penunjukan ini berdasarkan kesepakatan tidak tertulis masyarakat. Kemudian mendapatkan pengesahan perangkat desa dengan melantiknya menjadi pegawai pencatat nikah.

Adapun sang empu hajat selalu memulai dengan madduppa(mengundang) imam dan menyatakan hajatnya. Selanjutnya Sang Imam akan menyampaikan kepada matoa untuk hadir dan menyertai pembacaan barzanji.

Di masa lalu ketika mengundang
menggunakan daun sirih. Tetapi seiring dengan perkembangan zaman, maka sekarang ini biasanya menggunakan rokok. Saat menyatakan hajat, maka pihak pengundang akan menyodorkan rokok dengan dialasi piring dan ditutupi dengan kain selebar sapu tangan. Kecuali ketika acara hanya berlangsung sangat sederhana seperti mabbaca doang nabi (membaca doa keselamatan Nabi), maka tidak dilangsungkan pembacaan barzanji.

Selain itu, barzanji selalu menjadi bagian acara yang penting untuk dilakukan. Untuk menunjukkan derajat pelaksanaan barzanji ini, bahkan kadang dipersepsikan sebagai kewajiban untuk melaksanakan pembacaanbbarzanji ketika melakukan perhelatan acara tertentu. Sehingga kemudian dianggap tidak memenuhi kewajiban ketika tidak melaksanakan barzanji.

Barzanji mengandung sejarah perjalanan
kehidupan Nabi Muhammad SAW dibacakan sebagai upaya untuk memaknai sebagai bagian sejarah Islam. Sekaligus sebagai sarana untuk mempertahankan kecintaan kepada Rasulullah SAW.

Adapun sebagai ganjaran atas ketaatan terhadap ketentuan agama, maka diyakini akan mendapatkan kehidupan yang damai. Ketika melanggar aturan tersebut, maka diberikan hukum berupa pengusiran dari tanah Bugis seperti zina bagi pelaku yang belum menikah. Atau kadang juga dihukum secara sosial dengan diberikan status “dipaoppangi tanah”. Ini berarti secara harfiah “ditutupi dengan tanah”. Secara konteks bermakna “dianggap mati”. Sehingga dalam kehidupan sehari-hari tidak lagi diberikan ruang untuk berinteraksi dan tempat di masyarakat.

Sementara bagi yang melanggar dengan status pelanggaran berat akan dihukum dengan riladung“dibuang ke laut” seperti pelaku zina yang telah mempunyai pasangan. Jika melanggar ketentuan siri (malu), maka bisa saja hukuman mati. Apalagi kalau mappakasiri (mempermalukan) seseorang, maka dapat saja dieksekusi dengan kematian.

Untuk hal-hal etika, maka tatanan diatur dalam bentuk pemmali (pantangan). Apabila pantangan-pantangan dipatuhi, maka akan mendatangkan ketenangan dan kedamaian hati pelakunya. Sebaliknya ketika pantangan dilakukan, maka mungkin saja akan mendapatkan teguran atau akibat dari perbuatan itu.

Pelanggaran atas pemmali ini bisa juga mendatangkan kecemasan, kekagetan, tidur yang tidak nyaman atau perasaan selalu tersentak-sentak. Pantangan itu antara lain seperti tidak boleh berbicara ketika makan, dilarang berada di ruang tamu ketika orang tua menerima tamu, tidak boleh duduk berhimpitan di depan dapur.

Semua larangan itu akan berfungsi sebagai alat kontrol sekaligus alat pemaksa sebagai penjabaran dari kearifan yang terkandung dalam wejangan paseng. Sekaligus akan mendatangkan keamanan dan ketentraman.

Bugis Keteguhan Adat dalam Kepatuhan Beragama

Ada dua hal yang menjadi sayap bagi seorang manusia Bugis; di satu sisi ia tetap memegang teguh adat istiadat, namun di sisi yang lain mematuhi semua urusan yang berkenaan dengan syariat.

Adanya ritual yang tetap berlangsung dalam masyarakat Bugis, namun pada saat yang sama tidak dipraktikkan oleh masyarakat Islam lain. Ini semata-mata merupakan ritual yang menjadi hasil kesinambungan nilai adat dan syariat yang dihasilkan atas pertemuan dua budaya.

Praktik ini tetap berlangsung karena dipandang sebagai bagian yang tidak melanggar apapun dalam kehendak fikih. Sebaliknya justru menemukan tempat yang tepat untuk tetap berlangsung sebagaimana adanya. Apa yang dipraktikkan sekarang ini sudah mengalami modifikasi dan penyesuaian dengan ajaran Islam. Sehingga apa yang dikontruksi dalam pelbagai aspek kehidupan masih dalam koridor keislaman yang sah dan tidak menyimpang.

Bagi masyarakat Bugis, pemaknaaan awal agama selalu saja mengaitkan apa yang ada dalam lingkungan pribadi. Sementara apa yang datang berusaha untuk dikompromikan dengan realitas wilayah pribadi.

Dalam penerimaan agama, sebagaimana masyarakat Bugis tidak serta merta meninggalkan adat yang sudah ada sebelumnya. Tetapi meninjau dengan
pandangan Islam. Pada gilirannya kemudian meninggalkan praktik yang tidak sejalan dengan Islam. Proses transformasi terjadi secara spontan dengan melihat aspek fungsional.

Kemudian keyakinan beragama yang diperlukan secara fungsional untuk kehidupan beragama diinterpretasi dalam wujud kebiasaan kelompok. Adapun respon yang ditunjukkan secara sadar untuk melakukan harmoni Islam dengan adat tanpa dilalui dengan ketegangan dan pertikaian.

Berbeda dalam proses pendidikan warga Amerika keturunan Asia selalu menemukan rintangan dalam bentuk faktor ketidaksepahaman antara dua budaya. Begitu pula dengan generasi pertama imigran di dua puluh empat negara Eropa, terjadi kesenjangan dan pertikaian sehingga menimbulkan masalah. Awalnya dimulai dari identitas yang senantiasa dikaitkan dengan lingkungan sebelumnya tanpa membuka pandangan untuk menerima nilai yang ada.

Dimensi beragama yang ditunjukkan masyarakat Bugis mengedapankan penghayatan dan pengamalan dengan
muatan konsep nilai berunsur adat. Penempatan adat dalam posisi untuk menjadi pendukung bagi kelangsungan agama. Sejak awal agama dianggap sebagai “jalan benar”. Hanya saja adat yang tidak melanggar ketentuan itu tetap dipertahankan.

Nilai dan konsep Islam tetap menjadi gagasan utama. Pada tingkatan praktik keseharian kemudian agama dikerangka dalam bentuk adat. Tanpa melakukan dikotomi antara kutub adat dan Islam. Tetapi justru menempatkan tradisi dalam keberagamaan.

Dalam kehidupan Bugis terjadi keharmonisan dua muatan dalam satu praktik. Ketika Islam menjadi keyakinan dan adat menjadi praktik, maka nilainya keduanya menemukan bentuk dalam tradisi Bugis. Di mana penerimaan agama kemudian ditempatkan dalam lingkungan sosial tanpa melepaskan ade’ (adat) yang sudah melembaga.

Sementara spiritualitas yang dibawa Islam tidak dijadikan sebagai perbedaan kultural. Tetapi dimensi agama dan budaya selanjutnya bergandengan dengan membentuk keyakinan dan kebersamaan melalui praktik Islam Bugis.

Penutup :

Apabila kita menarik kesimpulan ada proses dalam dialog dan dialektika sehingga Islam dan adat secara berdampingan dapat menjadi nilai yang tunggal. Keberlangsungan ini wujud dalam konteks kesadaran untuk menerima ide dan keyakinan yang berasal dari luar kebudayaan yang suda ada sebelumnya.

Proses yang terjadi adalah dengan menempatkan sara’ sebagai bagian
pangngadereng di mana sudah ada pilar ade’. Praktik Islam seperti pernikahan, prosesi haji, rumah baru, warisan, dan pandangan tentang barzanji sudah melalui proses dialog bukan dalam waktu singkat. Hal ini merupakan penerimaan dengan memperhatikan keberadaan pandangan Islam sebagai adaptasi dari nilai yang terbentuk atas pertemuan dua budaya.

Islam Bugis sebagai cara hidup masyarakat Bugis menunjukkan adanya kesatuan sistem adat dengan agama. Tidak saja dalam wilayah asal yang didiami di provinsi Sulawesi Selatan tetapi juga menjadi perkembangan masyarakat Bugis yang mendiami kawasan lain. Walaupun ini tidak bersifat tunggal tetapi ada pergulatan dan respon yang sangat variatif sehingga
muncul wujud Islam Bugis. Kemudian memunculkan identitas keberagamaan yang tidak melepaskan diri dari ekspresi adat yang berlangsung secara turun temurun.

Sistem pangngadereng Bugis yang terbentuk sebelum Islam seperti ade, rapang, wari, bicara turut andil dalam menentukan harmonisasi dan berseminya dua kutub yang berbeda sehingga memuluskan lahirnya sara’ dan menjadikan sistem pangngadereng Bugis semakin sempurna.