Tellui Saba Na Mappela Kampongnge :

1. Rekko de ada tongenna to mapparentae.
2. Rekko De Nappasiduppa rapang pammarentae.
3. Rekko Tuli makkita riasei pammarentae.

Terjemahan :

Ada tiga penyebab suatu negeri menjadi panas. Panas di sini dalam artian gejolak/berkecamuk.

1. Manakala yang memerintah mengeluarkan pernyataan berubah-ubah.
2. Manakala pemerintah dalam mengeluarkan kebijakan publik tanpa pertimbangan yang matang.
3. Manakala Pemerintah tidak lagi memperhatikan dengan sungguh-sungguh kehidupan rakyatnya.

Mari kita renungkan :

Ketika hidup masih berantakan hubungan baik terus terjaga. Bukan hanya dengan para tetangga,tapi juga dengan teman-teman yang berada di tempat lain.

Tetapi ketika nasib mulai berubah dan meraih pencapaian,demi pencapaian, bukannya mensyukuri, malah sebaliknya sering kali membuat orang lupa diri.

Apalagi setelah menempati kedudukan yang terhormat atau menjadi pemilik dari sebuah perusahaan, jangankan teman jauh malahan tetangga juga sudah tidak lagi sempat disapa.

Merasa diri di atas angin, berada dalam posisi sebagai pengambil keputusan, bahkan mungkin memiliki kapasitas dalam menentukan hitam putihnya keberadaan orang lain atau bahkan sebuah negara.

Ia merasa bahwa wewenang yang ada padanya, kehebatan yang dimilikinya, sudah menjadi abadi di dalam dirinya. Bila kondisi ini dibiarkan berlanjut, maka orang akan menjadi lupa diri.

Menganggap orang lain tidak lagi penting, merasa tidak perlu lagi menghargai orang lain, bahkan tidak lagi merasa perlu menjawab permohonan ataupun pertanyaan yang diajukan. Karena merasa tidak lagi membutuhkan orang lain.

Mereka tidak lagi membutuhkan kritikan dan saran orang lain, bahkan orang semacam ini memandang enteng orang-orang sekelilingnya apalagi lawan-lawannya.

Nah, bagaimana misalnya kalau seorang pemimpin negara yang sudah dirasuki hasrat keangkuhan, biasanya aturan-aturan akan dilanggarnya. Sumpah dan janji yang pernah diucapkan terlupakan semua.

BACA JUGA :  Pandai-pandailah Bersyukur

Tapi niscaya, cepat atau lambat keangkuhan dan angkara murka akan tumbang dengan sendirinya, bahkan istana kesombongannya akan berubah menjadi gubuk derita.

Kajao Lalliddong, seorang pemikir dan penasihat ulung dari Tanah Bugis telah menanamkan nilai-nilai atau sifat-sifat yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin, yaitu :
1. Lempu’ (kejujuran),
2. Acca (kepandaian),
3. Asitinajang (kepatutan),
4. Getteng (keteguhan),
5. Reso (usaha, kerja keras),
6. Siri (harga diri).

Manakala seorang pemimpin sudah keluar dari sifat-sifat di atas, maka seorang pemimpin tinggal menunggu konsekwensinya.

Pokok-pokok pikiran Lamellong yang dianjurkan kepada pemimpin ada empat hal, yakni :
1. Tidak membiarkan rakyatnya bercerai-berai;
2. Tidak memejamkan mata siang dan malam;
3. Menganalisis sebab akibat suatu tindakan sebelum dilakukan; dan
4. Raja harus mampu bertututur kata dan menjawab pertanyaan

Ungkapan di atas sekaligus menggambarkan bahwa, nasihat itu pada dasarnya bermuatan saran atau kritikan untuk memperbaiki sikap bertindak seorang pemimpin pada rakyatnya.