Dewasa ini, hampir bisa dipastikan bahwa setiap orang yang memiliki telepon pintar, juga mempunyai akun media sosial, seperti Facebook, Twitter, Path, Instagram, dan sebagainya. Kondisi ini seperti sebuah kebiasaan yang mengubah bagaimana cara berkomunikasi pada era serba digital seperti sekarang.

Jika dahulu, perkenalan dilakukan dengan cara konvensional, yakni biasanya dengan saling tukar kartu nama, sekarang setiap kita bertemu orang baru cenderung untuk bertukar alamat akun atau membuat pertemanan di media sosial.

Evolusi yang terjadi di bidang teknologi maupun inovasi internet menyebabkan tidak hanya memunculkan media baru saja. Berbagai macam aspek kehidupan manusia, seperti komunikasi maupun interaksi, juga mengalami perubahan yang sebelumnya tidak pernah diduga.

Dunia seolah-olah tidak memiliki batasan. Tidak ada kerahasiaan yang bisa ditutupi. Kita bisa mengetahui aktivitas orang lain melalui media sosial, sementara kita tidak kenal dan tidak pernah bertemu tatap muka atau berada di luar jaringan (luring) dengan orang tersebut.

Media sosial bahkan menjadi senjata baru bagi banyak bidang.Kampanye politik pada Pemilu banyak melibatkan peran media sosial. Perusahaan-perusahaan saat ini memberikan perhatian khusus untuk mengelola media sosial dan menjalin hubungan yang baik dengan pelanggan mereka secara daring (dalam jaringan).

Iklan menjadi berubah dari cara tradisional yang diproduksi oleh perusa-haan dan tentu dengan biaya yang tidak sedikit. Hal tersebut merupakan sebuah tantangan sekaligus kenyataan yang tidak bisa dipungkiri. Kehadiran media sosial dan semakin berkembangnya jumlah pengguna dari hari ke hari memberikan fakta menarik betapa kekuatan internet bagi kehidupan.

Jumlah waktu yang dihabiskan khalayak untuk mengakses internet dan media sosial bisa mencapai 6 jam per hari, melebihi aktivitas untuk mengakses media tradisional lainnya.

Dewasa ini media tradisional tidak lagi menjadi media yang dominan diakses oleh khalayak. Kebutuhan akan menjalin hubungan sosial di internet merupakan alasan utama yang dilakukan oleh khalayak dalam mengakses media. Kondisi ini tidak bisa didapatkan ketika khalayak mengakses media tradisional.

Tidak mengherankan, kehadiran media sosial menjadi fenomenal. Facebook, Twitter, YouTube, Instagram hingga Path adalah beberapa ragam media sosial yang diminati oleh banyak khalayak.

Oleh karena itu, melalui tulisan ini, penulis ingin membahas hegemoni media sosial dari perspektif psikologi sosial terapan dengan harapan dapat memberi kontribusi terhadap upaya pengendalian perilaku penggunaan media sosial agar semakin tepat-guna, baik oleh diri sendiri, komunitas, institusi, maupun pihak-pihak lain yang membutuhkan.

Dunia maya seperti laiknya media sosial merupakan sebuah revolusi besar yang mampu mengubah perilaku manusia dewasa ini, di mana relasi pertemanan serba dilakukan melalui medium digital.

Istilah media sosial tersusun dari dua kata, yakni “media” dan “sosial”. Media, diartikan sebagai alat komunikasi, Sedangkan kata sosial, diartikan sebagai kenyataan sosial bahwa setiap individu melakukan aksi yang memberikan kontribusi kepada masyarakat.

Dari pengertian masing-masing kata tersebut, dapat disimpulkan bahwa media sosial adalah alat komunikasi yang digunakan oleh pengguna dalam melakukan proses sosial.

Dewasa ini, aktivitas daring yang dilakukan oleh khalayak di seluruh penjuru dunia terbilang masif dan intensif. Ada banyak motif dan tujuan yang mendasari khalayak dalam mengakses layanan daring, khususnya media sosial.

Salah satu fenomena dalam kemajuan teknologi internet, gawai seperti telepon genggam, dan budaya siber adalah selfie atau swafoto. Kata ini pun telah resmi menjadi kata baru yang dicantumkan dalam kamus Oxford English Dictionary pada tahun 2013 dan secara sederhana berarti ‘foto diri yang disebarluaskan melalui media sosial.

Dan selfie didefinisikan sebagai potret diri instan, yang dibuat ditransformasikan melalui internet sebagai bentuk komunikasi visual instan tentang di mana kita berada,apa yang kita lakukan, apa yang kita pikirkan, dan siapa yang kita pikir melihat kita.

Ada beberapa ulasan yang bisa dipaparkan dalam kajian ini terkait dengan fenomena swafoto menggunakan perspektif psikologi sosial.  Pertama, kegiatan tersebut sebagai wujud dari eksistensi diri. Berswafoto dan menyebarkannya di media sosial tidak sekadar terfokus pada penampilan diri si pengguna.

Swafoto merupakan upaya representasi diri di media sosial, sebuah upaya agar dianggap ‘ada’ atau eksis dalam jaringan. Seseorang yang melakukan swafoto juga tengah berusaha mengkonstruksikan identitas sosialnya dengan cara memaksimalkan atau meminimalkan
karakter positif atau negatif dalam dirinya supaya self-esteem tetap terpelihara.

Swafoto yang sukses ditandai dengan banyaknya pujian, pemberian tanda ‘jempol’ atau ‘like’ atau tanda ‘hati’. Bila sudah demikian, maka individu merasa puas dan semakin terdorong untuk kembali melakukan swafoto dan mengunggahnya di media sosial. Namun, bila kondisinya terbalik, individu dapat merasa diacuhkan dan tidak dihargai oleh lingkungan sosialnya. Keadaan tersebut bisa memicu keinginan untuk tidak kembali mengunggah swafoto atau tetap melakukan swafoto, namun dengan evaluasi tertentu.

Kedua, swafoto merupakan salah satu bentuk narsisme digital. Sebuah swafoto yang diambil menunjukkan bahwa penggunanya tengah merancang dirinya dan hasil rancangan itu, selain untuk eksistensi diri, juga sebagai bentuk pertunjukkan di depan panggung untuk menarik kesan pengakses atau pengguna lain dalam jaringan pertemanan di media
sosial.

Sebuah swafoto juga, misalnya, harus dilihat dari latar belakang objek foto tersebut. Banyak foto diri dengan latar belakang sebuah lokasi tertentu dan ini menunjukkan bahwa si pengguna sedang berada di tempat tersebut. Dilain kesempatan, swafoto di dalam kendaraan, seperti pesawat terbang, untuk menunjukkan ia berada dalam perjalanan, menggunakan pesawat tersebut, dan sebagainya.

Pengunggahan swafoto menjadi simbol bahwa pengguna sedang mewujudkan eksistensi dirinya yang tidak sekadar sebagai objek foto, tetapi ada maksud tertentu di dalamnya.

Ketiga, swafoto juga dapat menandakan bahwa pengguna melakukan keterbukaan diri di media sosial. Swafoto menjembatani pertumbuhan wilayah hidup seseorang karena menuntun mereka menjadi terbuka untuk membagikan foto diri kehadapan khalayak melalui akun media sosial yang dimiliki. Efek selanjutnya dari keterbukaan diri itu adalah interaksi dan komunikasi yang terjadi dengan pengguna lain akan semakin erat.

Bahkan dalam beberapa kasus, pengunggahan swafoto menyebabkan bertambahnya jalinan pertemanan yang baru, sehingga jaringan sosial yang dimiliki semakin luas, atau dengan kata lain, wilayah hidup seseorang akan semakin lapang.

Masih ingatkah Anda dengan fenomena fanatisme relawan pendukung Jokowi dan Prabowo dalam kontestasi Pemilu 2014 lalu? dan kini babakan kedua berlanjut 2019. Kedua kelompok saling berlomba mengusung masing-masing calon, baik sebelum Pemilu diadakan maupun beberapa bulan setelahnya.

Atmosfer semangat hingga gaduh yang disebabkan oleh opini maupun pemberitaan terkait figur Jokowi atau Prabowo, menjadi warna yang tidak bisa dielakkan. Ada banyak stereotipe Jokowi yang dijadikan ‘senjata’ oleh kubu pendukung Prabowo, di antaranya prokomunis, pro-Syiah, dan ketidakjelasan nasab (silsilah dalam keluarga).  Begitu pula sebaliknya, stereotipe Prabowo yang acap kali dijadikan ‘senjata’ oleh kubu Jokowi adalah sejumlah kasus pelanggaran HAM.

Stereotipe menjadi materi dasar belief dalam diri individu maupun kelompok (kolektif), dan dalam situasi tertentu, belief tersebut menjadi prasangka yang selanjutnya dapat menyulut perilaku diskriminasi maupun tindakan nonkooperatif lainnya, seperti fitnah dan permusuhan antarkelompok.

Fenomena tersebut, merupakan perilaku kolektif diartikan sebagai aksi yang dilakukan secara bersama-sama atau serentak dengan cara yang mirip oleh sejumlah besar orang dalam kelompok dalam suatu situasi atau kejadian tertentu, yang terkadang dapat berupa aksi yang tidak biasa.

Perwujudan perilaku kelompok pendukung Jokowi dan Prabowo uniknya terjadi secara masif di lingkungan daring atau berkutat dalam konstelasi media sosial yang terhimpun dalam komunitas-komunitas tertentu. Ajang debat kusir dan adu berita hoax seolah menjadi paket menu yang biasa dijumpai dalam arus notifikasi media sosial
kita, seperti Facebook dan Twitter, selain berita atau status dukungan untuk mereka.

Ada beberapa faktor penentu perilaku kolektif, antara lain structural conduciveness, yakni faktor struktur situasi sosial yang memudahkan terjadinya perilaku kolektif, seperti keberagaman agama, suku, ideologi, dan ras dalam sebuah wilayah; structuralstrain, yakni kesenjangan, ketidakserasian antar kelompok sosial, etnik, agama, dan lain-lain yang membuka peluang bagi terjadinya berbagai bentuk ketegangan.

Semakin besar ketegangan struktural, maka semakin besar pula peluang terjadinya perilaku kolektif; general belief, yaitu desas desus yang dengan sangat mudah dipercaya kebenarannya dan kemudian disebarluaskan; precipitating faktor, yaitu faktor penunjang kecurigaan dan kecemasan yang dikandung masyarakat; mobilisasi para peserta, yakni perwujudan perilaku kolektif yang digiring oleh pimpinan, baik untuk bergerak menjauhi situasi berbahaya atau untuk mendekati orang yang dianggap sasaran tindakan.

Keanggotaan di kelompok dianggap meningkatkan efektivitas aksi individual, di dalam kelompok individu yang menjadi bagian kelompok akan mengubah cara berperilakunya sesuai norma yang berlaku dalam kelompok.

Sehingga individu-individu di dalam suatu barisan massa, tidak peduli pekerjaan, karakteristik, inteligensi, atau atribut lainnya, akan bereaksi yang diarahkan oleh collective mind atau group mind. Mereka akan bereaksi mengikuti pemikiran kelompok dan menghasilkan perilaku yang berbeda dengan perilaku saat mereka terpisah dari kelompok.

Efek contagion akan menyebarkan emosi dan perilaku dari satu kepala ke lainnya, sehingga menyebabkan individuindividu dalam massa bereaksi dengan cara yang sama.

Jika dikaitkan dengan perilaku pendukung Jokowi dan Prabowo, kumpulan pengguna media sosial tertentu pada awalnya memperlihatkan gejolak dan reaksinya dengan proses yang disebut milling, yaitu proses di mana individu-individu menjadi semakin tegang, gelisah, dan bergairah.

Dengan meningkatnya emosi, kegairahan dan stimulasi timbal balik, maka orang-orang lebih memungkinkan untuk bertindak impulsif di bawah pengaruh impuls bersama yang disebut dengan collective mind atau group mind.

Jika intensitas proses ini meningkat, maka penularan sosial (social contagion) akan timbul yang melibatkan diseminasi impuls atau kata hati yang cepat dan irasional. Peristiwa penularan sosial ini sering menyebabkan pengguna media sosial menjadi aktif dalam berperilaku secara bersama-sama, meski dalam situasi daring. Selanjutnya, kegairahan bersama dalam kumpulan pengguna dapat melibatkan proses reaksi sirkular (circular reaction).

Dengan demikian, bila seseorang menjadi gelisah, resah atau bergairah, maka emosi dan perilaku tersebut akan menjadi suatu model yang memengaruhi orang lain. Proses saling menstimulasi ini menghasilkan suatu spiral perasaan dan tindakan yang sirkular.

Selanjutnya, gaya hidup berbelanja di Indonesia selalu berubah seiring zaman, terlebih tren berbelanja elektronis yang diadaptasikan ke berbagai sosial media, mulai dari daya tarik banner iklan, video tutorial, diskon, pembayaran melalui rekening bersama hingga sistem pembayaran sesudah barang diterima (Cash On Delivery).

Kesuksesan perusahaan untuk memanfaatkan e-commerce dalam memasarkan produknya diikuti dengan ironi pengaburan realitas di kalangan masyarakat-belanja untuk kebutuhan atau bentuk sebuah impulsivitas.

Situs jejaring sosial seperti Facebook yang pada awalnya hanya berfungsi sebagai situs pertemanan dan pertukaran informasi sesama teman atau kerabat dekat, saat ini telah beralih fungsi sebagai lahan pemasaran suatu perusahaan maupun toko online dalam skala industri rumahan.

Tidak hanya situs jejaring sosial seperti Facebook. Media daring lainnya seperti forum, website, blog, dan mikroblog seperti Twitter dapat menjadi wadah untuk melakukan kegiatan ecommerce di dunia maya.

Bagi konsumen, belanja daring akan sangat tinggi jika mereka merasa puas akan kualitas jasa dari sistem penjualan online di situs tersebut. Kepuasan pelanggan saat berbelanja daring serta kepuasan pelanggan setelah melakukan pembelian menjadi indikator di mana suatu situs toko daring dapat mempertahankan pelanggannya dengan cara meningkatkan minat berbelanja kembali kepada situs tersebut.

Salah satu tujuan utama strategi pemasaran adalah untuk melakukan pengubahan sikap konsumen terhadap suatu produk melalui proses persuasi. Dalam banyak teori psikologi sosial tentang sikap, dijelaskan, bahwa terdapat hubungan yang sangat erat antara sikap dan perilaku.

Berlandaskan pada teori psikologi sosial yang mendukung hubungan erat antara sikap dan perilaku, maka apabila diterapkan pada perilaku konsumen kemudian dapat disimpulkan bahwa apabila sikap seseorang positif terhadap suatu produk, maka orang tersebut kemudian akan membeli produk tersebut.

Pengubahan sikap konsumen agar mereka membeli atau mengkonsumsi suatu produk dapat dilakukan melalui proses persuasi. Persuasi adalah pengubahan keyakinan dan sikap seseorang terhadap sesuatu objek ke arah tertentu yang dikehendaki oleh pemberi persuasi.

Fenomena media sosial yang juga menarik perhatian penulis adalah maraknya akun-akun pengguna yang dengan sengaja memasang foto profil bukan dirinya, tanpa foto profil, dan tanpa identitas jelas.

Selain akun pengguna tanpa identitas jelas, ironi perilaku pengguna media sosial juga tercermin dari upaya-upaya mereka untuk merekonstruksi identitas melalui tulisan status atau distribusi tautan laman tertentu yang sesungguhnya hanya untuk menjelaskan kepada khalayak tentang siapa dan bagaimana atau malah justru sebaliknya, yakni tidak mewakili identitas pengguna sama sekali.

Media sosial hadir layaknya sekumpulan negara atau masyarakat, di mana di dalamnya juga terdapat ragam etika dan aturan yang mengikat para penggunanya. Aturan ini ada karena perangkat teknologi itu merupakan sebuah mesin yang terhubung secara daring atau bisa muncul karena interaksi di antara sesama pengguna.

Sementara, belakangan ini muncul laman dan blog yang tidak jelas. Mereka tidak segan menggunakan atribut provokatif, seperti kata “Sebarkanlah” atau kata-kata bombastis sejenisnya. Pesan yang sering dipakai adalah “share ke yang lain, bagikan, atau simpan”” Terkadang disertai ancaman seperti surat berantai di masa lampau. Jika berita tidak di-sharing-kan, maka khalayak ‘disumpahi’ akan mendapat petaka, bencana dan duka lara.

Fenomena budaya share makin menggila seperti Pilpres saat ini. Beberapa figur ternama pendukung capres tertentu dengan atau tanpa sengaja memelintir berita, mengomentari lalu menjatuhan lawan politiknya. Hal ini juga dilakukan oleh media partisan.

Pola-pola pemberitaan hoax pun relatif selalu sama, yaitu membuat judul bombastis untuk menarik minat baca. Terkadang antara judul dan isi berita tidak sinkron. Celakanya, banyak pengguna media sosial di negeri ini yang malas membaca. Mereka cenderung mudah terprovokasi oleh judul yang tampak menarik dan lang-sung membagikan tautan laman tertentu tanpa menelaah lebih dulu.

N1
loading...