Dalam tulisan ini kita akan mengurai perbedaan kata Siri Napesse’ dan kata Siri Napasse. Kelihatannya sama, tapi coba kita perhatikan di mana letak perbedaannya. Perbedaannya ada dua, yaitu cara penulisannya dan cara penyebutannya.

Sebelum lanjut, mari kita bahas lebih dahulu perbedaan kedua kalimat tersebut secara harfiah seperti berikut ini.

A. Siri Napesse’
Siri Napesse terdiri atas dua kata, yaitu siri dan pesse’. Siri diterjemahkan sebagai malu dan disimbolkan sebagai harga diri.

Sedang kata pesse’ diterjemahkan sebagai memijit/menekan. Dalam memijit berarti terjadinya saling menekan anggota tubuh seperti ketika tangan memijit dan ketika jari-jari tangan menggenggam sesuatu. Hal ini disimbolkan sebagai toddo’ atau prinsip. Di mana prinsip itu dipegang dengan erat jangan sampai lepas.

Siri Napesse’ adalah sebuah konsep yang sangat menentukan dalam identitas orang Bugis pada umumnya. Konsep SIRI mengacu pada harga diri sedangkan PESSE’ mengacu pada prinsip/pegangan yang kukuh (getteng).

Hal itu ditunjukkan pada falsafah Bugis ” akkatenning masse’ sirimu” artinya jagalah harga dirimu. “Ciceng (siseng) muatu teddeng sirimu, nateddeng matteru” artinya sekali saja jatuh harga dirmu, jatuh/hilang seterusnya.

Untuk mengetahui lebih jauh tentang bagaimana pentingnya menjaga Siri Napasse’ simaklah falsafah Bugis berikut ini. ” sirie mitu rionroang rilino, rekko lenynye ni sirie, pada toha bonara’e” artinya hanya dengan harga diri kita hidup di dunia, apabila harga diri sudah tidak ada, sama halnya bangkai binatang.

Dari uraian di atas, maka adapun makna falsafah SIRI NAPESSE’ yaitu hanya karena harga diri kita hidup di dunia ini, jika harga diri itu sudah hilang maka lebih baik mati karena engkau sama sekali tak berarati lagi, bahkan binatang lebih berharga dibanding dirimu.Itulah sebabnya harga diri itu harus dijaga baik-baik.

Untuk menerapkan falsafah Bugis siri napesse’ dalam pergaulan sehari-hari, maka yang harus dipahami adalah sebagai berikut :

1. Bertutur katalah yang baik

Menjaga kehormatan diri dengan bertutur kata yang baik adalah kita sebagai makhluk sosial yang berinteraksi dengan berbagai ras umat manusia dengan beragam pemahaman dan sikap.

Tutur kata yang baik mencakup cara penyampaian yang baik dan konten yang baik, penyampaian yang baik harus dengan halus dan beradab bukan dengan suara keras dan membentak-bentak. Konten yang baik di sini berisi hal yang positif dan setiap tutur kata yang positif tentu harus disampaikan dengan cara yang baik

BACA JUGA :  Bugis dan Mappalecce Bola

Bertutur yang baik itu mencakup semua kalangan baik kedua orang tua, suami, istri, anak-anak, orang-orang terdekat, pembantu, karyawan maupun lainnya termasuk agama lain.

Ketika kita akan berbicara, sebaiknya pikirkan dulu apa yang akan kita bicarakan. Agar di dalam kalimat yang kita ucapkan tidak menyinggung dan menyakiti persaan orang lain.

Bahkan ketika kita berdebat untuk mempertahankan pendapat, manakala disanggah lawan debat, maka dengarkan lebih dahulu biarkan mereka bicara, kemudian utarakan sanggahan itu dengan tutur dan prilaku yang baik dan santun. Bisa saja karena kesantunan akhirnya lawan debat akan mengalah dan Anda pemenangnya

Memang emosi Anda sedang diuji ketika mendengar omongan yang menyakitkan, namun berusahalah sabar menerima, mengimbangi dengan tindakan bijaksana, membalas dengan dengan tutur kata yang menyejukkan, sekali lagi Anda pemenangnya.

2. Berperilaku yang sopan

Sikap dan perilaku sopan adalah sebuah kewajiban yang harus dilakukan setiap manusia yang ada di dunia. Sebagai makhluk mulia harus bersikap dan berperilaku sopan santun yang baik sesama yang lain. Bersikap dan berperilaku sopan harus kita lakukan di rumah maupun di luar rumah.

Contoh sikap dan perilaku sopan, antara lain : bersikap dan berperilaku sopan terhadap orang tua, bapak ibu guru, teman, ataupun orang lain. Kita juga harus bersikap dan berperilaku sopan santun baik di lingkungan rumah, keluarga, sekolah, kampus, kantor, bahkan di manapun kita berada.

Hal itu ditunjukkan dalam falsafah Bugis, yaitu : ” gau pinru tau, tau pinru deceng” artinya perbuatan mewujudkan manusia, dan manusia mewujudkan kebaikan. Apabila kita implementasikan semua itu, maka kita sudah memegang harga diri dan harkat martabat keluarga. Artinya Anda sudah memegang Siri Napesse’.

Namun dalam kenyataanya, pada zaman sekarang di mana sikap sopan santun sepertinya dianggap sebagai ajaran yang tidak berguna. Sebaiknya, kita tunjukkan kepada semua orang bahwa masih ada sikap sopan yang ada pada diri kita. Karena dengan cara kita bersikap dan berperilaku sesungguhnya mencerminkan jatidiri seseoang dan keluarga.

BACA JUGA :  Butir-butir dalam falsafah Bugis : Getteng, Lempu, dan Ada Tongeng

Hal itu ditunjukkan pula dalam falsafah Bugis, yaitu : “paribbotto ului padammu rupatau, parilojeng pulawengngi padammu ripancaji” artinya tempatkan sesamamu di atas nampang emas, niscaya engkau di atasnya. Hal ini bermakna apabila kita menghargai sesama, dan sebagai mahluk mulia ciptaan Tuhan, berarti sama halnya menghargai diri sendiri.

B. Siri Na Passe

Sama dengan sebelumnya , Siri Na Passe juga terdiri dua kata, yaitu siri dan passe, di mana siri disimbolkan sebagai harga diri. Sedang kata passe berarti pedis disimbolkan sebagai rasa empati. Jadi passe dimaknai sebagai perasaan empati terhadap penderitaan yang dirasakan orang lain, baik kelurga maupun kelompok atau marga. Ia merasa sepenanggungan.

Oleh karena itu, siri na passe diartikan sebagai harga diri dan rasa empati. Dalam bahasa Makassar disebut siri’ na pacce. Jadi siri na passe adalah gambaran rasa malu yang disimbolkan sebagai harga diri serta rasa sependeritaan dan sepenanggungan.

Lebih jauh dijelaskan, siri inilah yang mendorong orang Bugis sangat patuh terhadap pangadereng karena siri pada sebagaian unsurnya dibangun oleh perasaan halus, emosi dan sebagainya. Dari sinilah timbul berbagai penafsiran atas makna siri seperti malu, hina, aib, iri hati dan harga diri atau kehormatan.

Pada hakikatnya budaya siri adalah produk kecerdasan lokal Bugis untuk membangun tatanan sosial. Sedang passe yaitu semacam perangsang untuk meningkatkan perasaan setia kawan yang ada dikalangan orang Bugis.

Dengan passe berarti adanya perasaan ikut menanggung dan berbelas kasihan terhadap penderitaan orang lain termasuk orang yang telah dibuat malu.

Oleh karena itu, konsep passe ini menjadi sarana untuk memulihkan harga diri orang yang telah dibuat malu atau dipermalukan. Selain itu pesse juga melambangkan solidaritas bukan hanya pada seseorang yang telah dipermalukan tetapi siapa saja dalam kelompok sosial yang sedang dalam keadaan serba kekurangan, berduka, mengalami musibah, dan sebagainya.

Jadi, rasa saling pesse antar anggota sebuah kelompok adalah kekuatan pemersatu yang amat penting. Hal ini ditunjukkan pada pepatah Bugis yang mengatakan “Iya sempugi ku, rekkua de-na sirina, engka messa pessena”, artinya kalaupun saudaraku sesama Bugis tidak lagi menaruh siri atasku, paling tidak dia pasti menyisakan passe.

BACA JUGA :  Gender dan Bugis

Dengan begitu, antara “siri dan passe” harus tetap ada keseimbangan agar bias saling menetralisir keadaan-keadaan ekstrem yang dapat menjadi pemecah belah persatuan dan kesatuan komunitas Bugis.

Untuk pemulihan siri tersebut dapat ditempuh melalui nilai-nilai pangadereng, yaitu:
1. empat hal yang memperbaiki kekeluargaan, yakni:
a. kasih sayang dalam keluarga;
b. saling memaafkan yang kekal;
c. tidak segan saling memberi pertolongan/pengorbanan;
d. saling mengingatkan berbuat kebajikan.

2. empat pula keberadaan pangadereng, yakni:
a. ade’ – untuk kasih sayang;
b. bicara – untuk saling memaafkan;
c. rapang – untuk saling memberi pengorbanan; d. wari – untuk mengingati berbuat kebajikan.

Tujuan hidup menurut pangadereng adalah melaksanakan tuntutan fitrah manusia agar mencapai martabatnya. Orang yang memiliki rasa siri yang tinggi berarti orang yang mempunyai sifat yang mulia dan tinggi nilai martabatnya di tangah-tengah masyarakat.

Untuk mencapai hal tersebut, maka prilaku setiap individu didasari pada sifat “acca na lempu, warani na getteng, mappasanre ri Puang SeuwaE”, artinya pandai dan jujur, berani dan teguh pendirian, berserah kepada Tuhan. Ungkapan ini menunjukkan bahwa esensi siri hanya mungkin diperoleh seseorang yang pandai dan jujur, berani, teguh pendirian, serta bertakwa kepada Allah SWT.

Dari uraian di atas dapat kita simpulkan sebagai berikut:
1. Siri Napesse’ bermakna harga diri dan prinsip yang kuat, menjaga harga diri dan martabat dengan memegang teguh prinsip (toddo’);
2. Siri Na Passe bermakna harga diri dan rasa sepenanggungan, rasa persaudaraan, saling menolong dan membantu satu sama yang lainnya (empati).
3. Siri artinya malu disimbolkan sebagai harga diri dan martabat
4. Napesse’ artinya dipegang, memegang yang disimbolkan sebagai prinsip hidup atau toddo’
5. Na Passe artinya dengan rasa empati.

Bahasa Bugis memang rumit, jika intonasi dan aksen tidak tepat dapat pula mengaburkan makna. Namun demikian tidaklah sukar apabila kita ingin mengkajinya secara detail dan masif.