ilustrasi

Berikut ini kita akan membahas sekaligus menjawab pertanyaan apa perbedaan gelar akademik S1, S2, dan S3. Baik, mari kita cermati penjelasan di bawah.

Sebenarnya S1, S2, dan S3 merupakan tahapan/tingkatan dalam dunia akademik/perkuliahan, namun demikian program tersebut tidak sekadar sebagai tahapan melainkan memiliki tujuan yang berbeda.

Program S1 biasa juga disebut program sarjana. Sedang S2 biasa disebut program magister. Sementara S3 sering disebut program doktoral. Ketiga program tersebut tentu berbeda sewaktu masih di sekolah seperti SD, SMP, SMA di mana setiap tingkatan yang mempunyai tujuan dan cara belajar yang sama dan bersifat sangat umum.

Program S1, S2, dan S3 tidak sama dengan diploma. Apabila kuliah pada tingkat diploma tidak perlu harus memulai dari D1, D2, D3, ataupun D4. Akan tetapi pada program S1, S2, dan S3 harus dijalani secara bertahap yaitu Anda lebih dahulu harus mulai dari S1.

Hal itu disebabkan cara belajar dan tujuan yang hendak dicapai disetiap program berbeda-beda. Nah, perbedaan ketiga program tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut:

1. Perbedaan fungsi dan tujuan

Pada program S1 lebih banyak mempelajari teori-teori sesuai program studi yang diambil. Misalnya program studi yang diambil adalah program studi bahasa Indonesia, maka yang dipelajari tentu teori-teori tentang bahasa/linguistik. Begitupun program studi sosiologi tentu yang dipelajari umumnya teori-teori sosiologi, baik teori sosiologi klasik maupun sosiologi modern, dll.

Adapun tujuan program S1 yaitu: memperkenalkan kepada mahasiswa pada program atau jurusan yang diminati, agar nantinya mahasiswa memiliki bekal untuk bisa berpikir secara sistematis. Meskipun S1 lebih banyak mempelajari tentang teori akan tetapi juga mempelajari tentang penelitian.

Jadi pada tahap ini mahasiswa mempelajari teori yang satu dengan lainnya kemudian menghubungkannya satu sama lain sesuai program studi yang diambil/diminati.

Oleh karena itu, program sarjana (S1) harusnya mengajarkan khasanah ilmu yang ada sehingga ia menjadi orang yang terdidik. Yang diharapkan lulusan S1 dapat menerapkan ilmunya untuk persoalan-persoalan yang generik. Artinya jenis persoalan yang memang sudah pernah diajarkan.

Sementara pada program S2 merupakan lanjutan program sebelumnya (S1). Pada tahap ini mahasiswa diperhadapkan atau mempelajari suatu kajian ilmu yang lebih detail dan mendalam (komprehensif). Hasil kajiannya itu dituangkan dalam bentuk tesis.

Program S2 lebih memikirkan hal-hal yang sifatnya strategis dan akibatnya, lebih jauh ke depan. Karena itu lulusan S2 biasanya mendapat pekerjaan dengan posisi yang lebih tinggi, dibandingkan S1.

Lulusan S1 lebih banyak di tingkat taktis, oleh karena itu biasanya mereka berada di lapangan dan mengerjakan hal-hal yang taktis, bukan strategis. Sedang Lulusan D3, lebih taktis lagi, biasanya dibagian-bagian lapangan, dan sifatnya praktis.

Selanjutnya pada program S3 bertujuan untuk menghasilkan indivudu yang mampu sesuai bidang yang diminati. Di mana mahasiswa S3 ini diarahkan untuk bisa melakukan penelitian secara mandiri.

Pada program S3 ini mahasiswa sudah harus mampu berpikir kritis dan lebih detail dari jenjang sebelumnya. Mereka sudah harus mampu dan berteori meskipun teorinya itu tidak pernah ada sebelumnya.

Pendidikan doktoral (S3) dimaksudkan untuk menghasilkan peneliti. Para doktor akan mempelajari, merenungi dan melakukan penelitian untuk menemukan hal-hal, yang bagi orang lain sebenarnya masalah itu tidak ada, akan tetapi mereka mempunyai kemampuan untuk “melihat” masalah yang tidak dapat dilihat oleh orang lain.

Setelah itu, mereka melakukan usaha, penelitian untuk mencari solusi / jalan keluar dari hal / masalah yang dicoba untuk dilihatnya tadi. Artinya mereka mampu menemukan dan berpikir mandiri dan hasil pikirannya itu dipertahankan secara ilmiah dalam bentuk disertasi.

2. Perbedaan SKS dan Waktu Kuliah:

Pada program S1 beban SKS yang harus dicapai biasanya antara 144-160 SKS. Dan biasanya dijalani dalam kurun waktu 4 tahun atau 8 semester. Dalam kurun waktu tersebut harus mengikuti kuliah kerja nyata.

Pada program S2 (magister) beban SKS yang harus dipenuhi biasanya 36 SKS yang dijalani selama 4 semester atau 2 tahun

Kemudian program S3 (doktoral) umumnya dapat diselesaikan dalam kurun waktu 3-5 tahun atau dijalani selama 6 hingga 14 semester. Untuk beban SKS pada tahap ini biasanya setiap jurusan dan universitas berbeda-beda.

3. Syarat Kelulusan:

Pada program S1 (sarjana) salah satu syarat bisa lulus dengan menyusun skripsi. Di mana skripsi ini memuat tulisan penalaran ilmiah yang menggambarkan terhadap suatu fenomena dengan menggunakan suatu teori yang pernah dipelajari sebelumnya yang disertai penjelasan-penjelasan dengan kaidah-kaidah penulisan skripsi yang baik dan benar atau sesuai ketentuan.

Pada program S2 (magistet) salah satu yang harus dipenuhi adalah menyusun tesis. Di mana kita dituntut membuat karya ilmiah yang harus dikembangkan sesuai dengan teori yang dipilih. Dan tentu saja dalam penulisannya sesuai kaidah-kaidah serta penulisan dan pemaparannya lebih baik dibanding dengan skripsi.

Dalam sebuah disertasi tidak hanya mengetes suatu teori, bahwa apakah teori tersebut masih relevan atau tidak dalam suatu fenomena, melainkan dituntut membuat suatu terobosan baru. Sehingga membuka kemungkinan pengajuan suatu terobosan teoritis yang baru.

Sementara pada program S3 (doktoral) harus membuat disertasi sebagai syarat kelulusan dan memenuhi hal-hal ain yang telah ditentukan. Disertasi merupakan paparan diskusi yang menyertai sebuah pendapat atau argumen.

Oleh karenanya, pendapat atau argumen itu sendiri disebut sebagai tesis. Umumnya, istilah disertasi dan tesis dipakai untuk mengacu pada pemaparan diskusi yang bersifat akademis.

Dari beberapa uraian di atas, dapat dikemukakan hal-hal sebagai berikut:

S1

Strata satu (S1) yaitu gelar akademik yang mempelajari hal-hal yang sifatnya dasar dan umum. Mempelajari hal bersifat lebih umum dan memiliki cangkupan yang lebih luas. Pada jenjang S1 akan mempelajari hal-hal yang sifatnya dasar. Tujuan utamanya untuk mengenalkan mahasiswa pada bidang/jurusan yang ia minati dan membekalinya untuk berfikir sistematis.

S2

Jenjang strata dua (S2) bersifat lebih fokus. Mahasiswa S2 dididik untuk menguasai (bukan sekedar mengenal) bidang yang ia minati.

Adapun jenjang S3 ditujukan untuk menghasilkan individu-individu yang mampu mengembangkan bidang minat tersebut. Mahasiswa S3 diarahkan untuk dapat melakukan penelitian sencara mandiri.

Dalam bahasa yang sederhana di S1 mahasiswa mempelajari satu atau lebih metode, di S2 mahasiswa mengembangkan metode, sedangkan di S3 mahasiswa menghasikan metode baru.

Oleh karena itu, Tugas Akhir mahasiswa S1 adalah mengaplikasikan suatu metode untuk menyelesaikan sebuah persoalan. Sedang Tesis S2 mengembangkan metode yang spesifik agar dapat diaplikasikan untuk persoalan yang lebih luas. Kekudian disertasi S3 menghasilkan metode baru yang lebih baik daripada metode yang sudah ada sebelumnya.

S2 lebih memikirkan hal-hal yang sifatnya strategis dan akibatnya, lebih jauh ke depan. Karena itu lulusan S2 biasanya mendapat pekerjaan dengan posisi yang lebih tinggi, dibandingkan S1.

Lulusan S1 lebih banyak di tingkat taktis, oleh karena itu biasanya mereka berada di lapangan dan mengerjakan hal-hal yang taktis, bukan strategis. Lulusan D3, lebih taktis lagi, biasanya dibagian-bagian lapangan, dan sifatnya praktis.

Sementara pendidikan doktoral (S3) dimaksudkan untuk menghasilkan peneliti.
Di mana para doktor akan mempelajari, merenungi dan melakukan penelitian untuk menemukan hal/masalah, yang bagi orang lain sebenarnya masalah itu tidak ada, tapi mereka mempunyai kemampuan untuk “melihat” masalah yang tidak dapat dilihat oleh orang lain. Setelah itu, mereka melakukan usaha, penelitian untuk mencari solusi/jalan keluar dari hal/masalah yang dicoba untuk dilihatnya tadi.

Pendidikan sarjana (S1) harusnya mengajarkan khasanah ilmu yang ada sehingga ia menjadi orang yang terdidik. Diharapkan lulusan S1 dapat menerapkan ilmunya untuk persoalan-persoalan yang generik. Artinya jenis persoalan yang memang sudah pernah diajarkan.

Pendidikan magister (S2) adalah kelanjutan dari pendidikan S1. Ia mengusai state of the art dan best practices di bidangnya. S2 semacam lisensi untuk mempraktikkan profesi bidang ini.

Pendidikan doktoral (S3) dimaksudkan untuk menghasilkan peneliti. Peneliti adalah orang yang suka mencari, kemudian mengkodifikasi pengetahuan baru. Jadi syarat pertama seorang doktor sebenarnya adalah keinginan menulis pengetahuan baru. Syarat kedua, tentu keinginan tahu serta kegigihan untuk menggunakan metoda riset untu k mencari pengetahuan baru.

Lulusan S1 menguasai aksiologi ilmu (penggunaan ilmu). Lulusan S2 lebih menekankan penguasaan komponen epistemologi ilmu yang meliputi sumber, sarana, dan tatacara menggunakan sarana tersebut untuk mencapai pengetahuan ilmiah.

Sedang S3 diharapkan tidak hanya sekadar menguasai komponen aksiologi dan epistemologi ilmu, akan tetapi lebih dari itu masuk pada ontologi ilmu yang meliputi apa hakikat atau bentuk yang hakiki dari ilmu, kebenaran dan kenyataan yang inheren dengan pengetahuan ilmiah tersebut.

Ingat :

Ilmu tanpa Agama Buta, Agama Tanpa Ilmu Lumpuh. Albert Einstein adalah seorang ilmuwan pernah mengatakan “ilmu tanpa agama buta, agama tanpa ilmu lumpuh”.

Ada dua entry point yang perlu penekanan di sini pertama, tentang pentingnya agama untuk mendasari ilmu pengetahuan dan yang kedua perlunya ilmu dalam pengamalan agama.

N1
loading...