Setelah jatuhnya Kerajaan Gowa, Kerajaan Bone menjadi yang terkuat di seantero Sulawesi. Sejak awal telah merdeka dan menyebarkan pengaruh ke seluruh negeri di Sulawesi. Kerajaan Luwu dan sejumlah negara kecil lain bersekutu dengan Bone, begitupun Kerajaan Soppeng.

Pada tahun 1824, tentara KNIL Belanda sudah mengatur strategi untuk melancarkan serangan ke Kerajaan Bone. KNIL adalah singkatan dari bahasa Belanda, yaitu het Koninklijke Nederlands(ch)-Indische Leger, atau Tentara Kerajaan Hindia Belanda. Meskipun KNIL melayani pemerintahan Hindia Belanda, banyak di antara anggota-anggotanya yang adalah penduduk bumiputra di Hindia Belanda dan orang-orang Indo-Belanda, bukan orang-orang Belanda.

Saat Belanda mengalami pengalihan kekuasaan VOC, pemerintahan diambil alih oleh Herman W. Daendels. Daendels adalah jenderal yang sangat disiplin, tegas dan kejam. Tindakan deandels ini di mata Belanda sangat dibenci, akhirnya Deandles diundang untuk pulang ke Negara asal pada tahun 1811 dan penggantinya adalah Jenderal Jassens.

Namun, ternyata Jassens lemah dan kurang cakap, dia selalu terbayang oleh ancaman Inggris. pada Bulan agustus 1811 Inggris menyerang namun tidak berhasil. Akhirnya mereka membuat perjanjian. Isi pokok perjanjian adalah wilayah nusantara diserahkan kepada Inggris. Indonesia pun jatuh ke tangan Inggris.

Pada tanggal 17 Maret 1824, di London, Antara Kerajaan Britania Raya dan Kerajaan Belanda menandatangani Perjanjian Britania-Belanda yang juga dikenal dengan Perjanjian London atau Traktat London (Treaty of London). Perjanjian ini ditujukan untuk mengatasi konflik yang bermunculan akibat pemberlakuan Perjanjian Britania-Belanda.

Ilustrasi Perang Bone Pertama Tahun 1824

Seiring dengan dinamika dan waktu. Setelah peralihan kekuasaan dari Inggris ke Belanda, suasana masih tetap damai, tetapi setelah Raja Bone ke-24 La Mappasessu (1812-1823) meninggal pada tahun 1823, dan digantikan oleh saudarinya We Imaniratu, bergelar I Manneng Arung Data, Sultanah Salimah Rajiyatuddin (1823-1835), mencoba merevisi Perjanjian Bongaya, beserta semua anggota persekutuan itu, yang jatuh atas pemerintahan itu, hukum yang sama harus diberlakukan.

BACA JUGA :  Penetapan Hari Jadi Bone

Antara tanggal 8 Maret sampai 21 September 1824, GubJend. G.A.G.Ph. van der Capellen mengadakan lawatan ke Sulawesi dan Kepulauan Maluku. Semua penguasa datang memberikan penghormatan (juga perwakilan Ratu Bone), kecuali penguasa Suppa dan Tanete.

Van der Capellen berharap bahwa perundingan dengan negara-negara tersebut tidak akan membawa keuntungan apapun. Sekembalinya ke Batavia, sebuah ekspedisi dipersiapkan dan sekitar 500 prajurit diberangkatkan dengan membawa 4 meriam, 2 howitzer, beserta 600 prajurit pembantu pribumi untuk menghukum Bone.

Pasukan tersebut dipimpin oleh letnan kolonel Hubert Joseph Jean Lambert de Stuers, yang tiba di Tanete pada tanggal 15 Juli 1824, pasukan laut dipimpin oleh kapten letnan Buys. Meskipun telah mencoba mendekati kerajaan, pasukan tersebut masih saja gagal ketika mendarat dan Tanete mengadakan gerakan perlawanan.

Sebelum penyerbuan ke ibukota dilakukan, Hubert de Stuers dapat mendekati musuh kembali dan penguasanya dijatuhkan dan di tempat itu, We Imaniratu menyerahkan diri.

We Imaniratu tertawan akan tetapi sebagian laskar Bone lari ke pedalaman dan bergabung bersama penduduk untuk melancarkan serangan atas Belanda. Namun masalah di Tanete cepat dibereskan Belanda dengan baik. Meskipun Suppa masih kuat. LetKol. Reeder melancarkan serangan bersama 240 prajurit yang dipersenjatai sejumlah moncong senjata.

Pada tanggal 14 Agustus 1824 serangan Belanda diperbaharui. Orang Bugis membiarkan pasukan Belanda mendekat tanpa ancaman apapun hingga di kaki sebuah bukit dan barulah mereka melancarkan serangan dengan cara bergerilya. Setelah kehilangan sepertiga pasukannya, Belanda harus mundur.

Selanjutnya, De Stuers menyerbu bersama komisaris pemerintahan Tobias ke Suppa dan makin mendekat. Pada pagi hari tanggal 30 Agustus 1824 operasi itu berhasil diselesaikan, setelah tembakan meriam peringatan ke benteng musuh, tetapi kekuatan yang dibawa De Stuers tak cukup kuat.

BACA JUGA :  JK dan Tukang Becak

Setelah berhasil menguasai Suppa, maka Belanda berpikir Bone juga melemah, maka We Imaniratu dibebaskan. Namun di luar perhitungannya, We Imaniratu kembali menggalang kekuatan. Dengan korban tewas sebanyak 14 jiwa dan 60 korban luka-luka, pasukan Belanda harus kembali dan harus melancarkan ekspedisi lain ke Bone. Belanda mengalami kegagalan dalam ekspedisi pertama ini.

Rujukan:

1. 1876. A.J.A. Gerlach. Nederlandse heldenfeiten in Oost Indë. Gebroeders Belinfante, Den Haag.

2. 1900. W.A. Terwogt. Het land van Jan Pieterszoon Coen. Geschiedenis van de Nederlanders in oost-Indië. P. Geerts. Hoorn

3. 1900. G. Kepper. Wapenfeiten van het Nederlands Indische Leger; 1816-1900. M.M. Cuvee, Den Haag.