Perang Bone Ketiga ditandai dengan ekspedisi balasan tentara Belanda Koninklijk Nederlandsch-Indisch Leger (KNIL) ke Kerajaan Bone pada tahun 1859-1860.

Di mana ekspedisi sebelumnya Belanda mengalami kekalahan telak sebanyak 528 serdadunya tewas, yaitu 316 serdadu Eropa dan 212 pribumi. Mereka terbunuh baik di medan pertempuran maupun setelah ekspedisi berakhir.

Teluk Bone ombaknya bersahabat, tetapi di sepanjang pesisirnya berbagai penyakit bisa menyerang utamanya malaria. Itulah salah satu penyebab ekspedisi pertama dan kedua ke Bone berakhir tanpa hasil.

Tentara Belanda awalnya memang menguasai tapi tidak mampu bertahan akibat tantangan alam. Di mana antara Bone-Bajoe diliputi hutan belantara tempat sarang nyamuk malaria. Oleh karena itu, banyak tentara Belanda yang terbunuh tidak hanya akibat serangan mendadak laskar Bone tetapi juga serangan penyakit malaria. Karenanya ia pun memilih hengkang dari Kerajaan Bone.

Pasukan Belanda dipimpin oleh LetnanJenderal Jan van Swieten mendarat di Makassar 16 Oktober 1859 dan pada tanggal 3 November 1859 meneruskan perjalanan ke Bone dan menyusun rencana untuk menyerbu benteng di Bajoe dengan kekuatan besar sehingga harus bergerak cepat.

Sepanjang perjalanan menuju Bone tanggal 22 November 1859 angkatan laut Belanda mulai menembaki kubu pertahanan musuh di sungai Tangka dan di saat yang sama angkatan darat menguasai benteng lainnya.

Lantas Van Swieten memberikan perintah untuk membuat pertahanan bentuk persegi dengan pagar kayu runcing yang kuat di halaman yang besar dekat Balangnipa dan sebagai komandan militer yaitu Kapiten Wiegand mengatur segalanya di sana.

Sekarang, untuk ketiga kalinya ibu kota Bone diserang. Di mana pendudukan atas Bajoe setelah ekspedisi pertama ditinggalkan akibat kondisi yang buruk. Sebagian besar sakit dan yang masih sehat mengalami kelelahan sehingga laskar Bone dengan leluasa bisa mendekati barak tanpa dapat dicegah.

BACA JUGA :  Soeharto Jenderal Murah Senyum

Mayor Staring mengalihkan komando kepada Kapiten Rijkens dan menukar pasukan. Pada tanggal 3 Desember 1859, Van Swieten tiba di Bajoe dan memerintahkan bertolak ke Palakka 3 hari kemudian, yaitu tanggal 6 Desember 1859, kemudian melancarkan serangan lanjutan atas Pasempe dan Pompanua.

Di tengah jalan, mereka berhadapan dengan benteng pertahanan yang kukuh di wilayah Bone dan menyerangnya. Dari pihak Belanda yang dipimpin Van Swieten tidak bisa melancarkan tembakan secara jitu.

Namun kubu pertahanan Bone yang terbuat dari pagar kayu itu harus dirusak dan banyak perwira Belanda yang terkena tebasan kalewang. Termasuk Letnan Royen dan Mayor Kroesen terkena kibasan kalewang laskar Bone, namun akhirnya benteng itu berhasil dikuasai Belanda.

Setelah menguasai benteng, barisan tentara Belanda melanjutkan perjalanan dan tiba di Palakka yang selanjutnya dijadikannya titik tolak operasi lanjutan.

Di saat yang sama, Ratu Bone We Tenriawaru, Besse Kajuara melarikan diri dan persiapan selanjutnya pasukan Belanda bergerak menuju Pompanua. Kapiten Steck, anggota staf ekspedisi, dan Johannes Isaak de Rochemont ditugaskan menyelidiki jalan. Mereka melewati kampung Mico tanpa perlawanan.

Dari Mico mereka bergerak lagi ke Pompanua melalui kampung Lanca dan membangun bivak di Lanca. Pompanua harus tunduk tanpa perlawanan, dan di sinilah berbagai tanda-tanda kalau perang tampaknya mendekati akhir.

Pada tanggal 28 Desember 1859, ekspedisi dinyatakan berakhir oleh Van Swieten dan biaya ekspedisi tersebut tidak perlu membebani, sehingga Van Swieten membawa pulang Batalyon XIV ke Surabaya dan kedua kompi dari Batalyon VIII ke Makassar.

Di awal tahun 1860, blokade pantai dihentikan, Pemerintah Hindia Belanda menyatakan Tanah Bulukumba Lama, Kajang dan Sinjai hingga sungai Tangka menjadi miliknya sebagai tanda kemenangan dan berada di bawah pemerintahan sendiri serta Tangka hingga Cenrana.

BACA JUGA :  Bukit Cempalagi, Riwayatmu Dulu

Sementara sisa-sisa bagian Kerajaan Bone menjadi tanah perdikan (daerah bebas pajak) dari penguasa namun Dewan Adat Bone diizinkan berkuasa. Selanjutnya La Singkeru’ Rukka Aru Palakka dipilih Belanda menjadi penguasa baru pada tanggal 30 Januari 1860.

Pada tanggal 4 Februari 1860, perjanjian dengan Soppeng ditandatangani, 9 hari kemudian, yaitu tanggal 13 Februari 1860 yang dihadiri sejumlah penguasa termasuk La Singkeru Rukka dan Dewan Adat serta pembesar kerajaan terkemuka lainnya, menghadiri upacara perjanjian itu. Dan Saat itulah Belanda menjajah kembali dan benteng permanen di Bajoe tak diperlukan lagi. Benteng itu dihancurkan dan semua pasukan kembali ke Batavia.

Rujukan:

1. Terwogt WA. 1900. Het land van Jan Pieterszoon Coen: Geschiedenis van de Nederlanders in oost-Indië. Hoorn: P. Geerts.

2. Kepper G. 1900. Wapenfeiten van het Nederlands Indische Leger: 1816-1900. Den Haag: M.M. Cuvee.

3. Gerlach AJA. 1876. Nederlandse heldenfeiten in Oost Indë (3 jilid). Den Haag: Gebroeders Belinfante.

4. Perelaer MTH. 1872. De Bonische expedities. Krijgsgebeurtenissen. Celebes in 1859-1860. Volgens officiële bronnen bewerkt (2 jilid). Leiden: Gualth. Kolff.