Perang Bone Keempat Tahun 1905

Perang Bone Keempat ditandai dengan ekspedisi Belanda di Sulawesi Selatan yang dilakukan oleh Tentara Kerajaan Hindia Belanda (KNIL) tahun 1905. Di mana dalam ekspedisi itu Tentara Belanda memaksa kerajaan-kerajaan di Sulawesi Selatan untuk menandatangani Korte Verklaring, yaitu Pernyataan atau Deklarasi Singkat.

Pernyataan deklarasi itu memuat tentang perjanjian standar di mana penguasa asli Indonesia setuju untuk menerima kedaulatan Belanda. Bagi pihak Belanda ekspedisi itu merupakan “kewajiban”, karena Belanda memiliki tanggung jawab atas hukum dan ketertiban.

Sasaran utama ekspedisi tersebut adalah kerajaan Sulawesi Selatan yang paling kuat, yaitu: Bone, Luwu, dan Wajo. Ekspedisi tersebut didahului dengan negosiasi, yang berakhir dengan kegagalan.

Pada tanggal 14 Juli 1905, dalam sebuah surat kepada Gubernur Kroesen, Gubernur Jenderal J. B. van Heutsz menyatakan niatnya untuk menduduki seluruh Sulawesi Selatan dan memaksa penguasa setempat untuk menandatangani Deklarasi Singkat yang mereka sebut “Pacificatie politiek” atau “Kebijakan Perdamaian”.

Dan juga ekspedisi tentara Hindia Belanda tersebut terjadi pro-kontra pihak Belanda sendiri, bahkan mendapat teguran dari Gubernur Sulawesi, Alexander Kroesen, dalam sebuah surat tertanggal 11 Februari 1904.

Sebenarnya ekspedisi kali ini sangat bermuatan strategis di mana Sulawesi Selatan adalah kawasan “kunci” untuk mengendalikan apa yang disebut Timur Besar. Selain itu juga motif ekonomi, yakni untuk memperluas kekuatan pengumpulan pajak dari pemerintah Sulawesi.

Kampanye melawan Bone

Pada tanggal 18 Juli 1905, 25 kapal perang Belanda dan satu kapal angkutan berlabuh sekitar 5000 meter dari Pantai Bajoe. Keesokan harinya tanggak 19 Juli 1905 sebuah konvoi armada Belanda berlayar ke Teluk Bone untuk mengirimkan Sebuah Surat berisi tuntutan kepada La Pawawoi Karaeng Sigeri, Raja Bone ke-31.

Dalam isi surat itu Belanda menuntut agar Raja Bone menyerahkan tugas kepolisian di Pelabuhan Bajoe dan Pallime kepada Belanda dan bahwa ia akan menerima kompensasi karena menyerahkan haknya untuk mengimpor dan mengekspor barang impor melewati pelabuhan.

Raja Bone La Pawawoi diberi waktu 1×24 jam untuk merespon. Kemudian surat tuntutan Belanda tersebut dibawa oleh seorang kurir untuk diserahkan kepada Raja La Pawawoi pada tanggal 21 Juli 1905.

Namun Raja Bone La Pawawoi Karaeng Sigeri menolak tuntutan dan ultimatum Belajda tersebut. Bahkan ia marah dan merobek-robek surat itu setelah membaca dan mempelajari isinya. Menurut La Pawawoi isi surat itu merupakan bentuk pemaksaan dan pelecehan bagi rakyat Bone.

Lalu kemudian La Pawawoi Karaeng Sigeri menunjuk anaknya sendiri Abdul Hamid Baso Pagilingi Petta Ponggawae, sebagai panglima tertinggi Kerajaan Bone. Dan memerintahkan agar mengumumkan keadaan perang di seluruh kerajaan. Dia kemudian mengambil “osong” (sumpah kesetiaan) masing-masing dulung dari komandan regional Kerajaan Bone. Agar mulai mempersiapkan pertahanan di tempat-tempat yang kemungkinan akan dilewati oleh Belanda.

Adapun Panglima Perang adalah putra sendirinya yang bernama Abdul Hamid Baso Pagilingi dibantu oleh Ali Arung Cenrana, La Massikireng Arung Macege, La Mappasere Dulung Ajangale, La Nompo Arung Bengo, Sulewatang Sailong, La Page Arung Labuaja.

Karena permintaan Kompeni Belanda merasa tidak diindahkan ia sangat marah. Kemudian Belanda menyusun serangan untuk menggempur Bone dari segala penjuru. Pada tanggal 20 Juli 1905 tentara Belanda mendarat di Ujung Pattiro dan juga memasuki muara Sungai Cenrana.

Tepat 27 Juli 1905 Bone mulai diserang tentara Belanda dan puncaknya 30 Juli 1905. Penyerangan dipimpin Kolonel van Loenen dengan persenjataan yang lengkap. Perangpun berkobar kedua pihak korban berjatuhan. Laskar Bone tidak mau menyerah, ribuan mayat laskar berani mati jatuh bergelimpangan. Begitu pula di pihak Belanda ratusan tentaranya tewas terkena parang dan badik.

Kemudian La Pawawoi Karaeng Sigeri bersama putranya Baso Pagilingi mundur ke arah Palakka dan selanjutnya ke Pasempe. Sementara tentara Belanda memburu terus, hingga akhirnya Arumpone La Pawawoi dengan laskar serta sejumlah keluarganya mengungsi ke Lamuru, Citta dan terus ke Pitumpanuwa Wajo.

Tanggal 2 Agustus 1905 tentara Belanda menyerbu ke Pasempe, akan tetapi Arumpone dengan laskar dan keluarganya sudah meninggalkan Pasempe dan mengungsi ke Lamuru dan selanjutnya ke Citta.

Dalam bulan September 1905 M. Arumpone dengan rombongannya tiba di Pitumpanuwa Wajo. Tentara Belanda tetap mengikuti jejaknya dan nanti pada tanggal 18 November 1905 barulah bertemu laskar pemberani Arumpone dengan tentara Belanda di bawah komando Kolonel van Loenen.

Pada saat itu tepat 18 November 1905, Baso Pagilingi Petta Ponggawae gugur terkena peluru Belanda, maka Raja Bone La Pawawoi Karaeng Sigeri memilih untuk menyerah. Pertimbangannya adalah kondisi laskar yang semakin menurun dan gugurnya Panglima Perang Bone yang gagah perkasa.

Arumpone ditangkap dan dibawa ke Parepare, selanjutnya naik kapal ke Ujungpandang. Selanjutnya dari Ujung Pandang dibawa ke Bandung. Sepeninggal La Pawawoi Karaeng Sigeri, pemerintahan di Bone hanya dilaksanakan oleh Ade Pitu Bone.

La Pawawoi Karaeng Sigeri ditangkap lalu diasingkan ke Bandung pada tanggal 14 Desember 1905. Di sana beliau meninggal pada tahun 1911. Untuk mengisi kekosongan pemerintahan di Bone selama 26 tahun, maka Belanda menunjuk La Mappanyukki menjadi raja Bone ke-32 tahun 1931.

Rujukan:

1. (2007). “Taking and Returning Objects in a Colonial Context: Tracing the Collections Acquired during the Bone-Gowa Military Expeditions”. Dalam Pieter J. ter Keurs. Colonial Collections Revisited. Leiden: CNWS Publications.

2. Michielsen, A. W. A. De expeditie naar Zuid-Celebes in 1905–1906. Indisch militair tijdschrift, vols. 35, 36, 37. Batavia: Kolff 1915-1916.

 

N1
loading...