Suku Bugis mengenal lima jenis gender, yakni oroane (laki-laki), makkunrai (perempuan) calalai (perempuan berpenampilan layaknya laki-laki), calabai (laki-laki berpenampilan layaknya perempuan), dan bissu yang dianggap sebagai kombinasi dari semua jenis kelamin.

Bissu adalah suatu golongan yang banyak ditemukan di Sulawesi Selatan. Bissu merupakan kaum pendeta yang tidak mempunyai golongan gender. Sebutan Bissu berdasarkan keberadaan mereka yang di luar batas gender, yakni bukan laki-laki bukan juga perempuan. Dikatakan di luar batas gender karena ia tidak dapat dianggap banci atau waria. Mereka tidak memakai pakaian waria atau banci. Mereka memiliki pakaian sendiri sesuai dengan komunitas mereka.

Sejarah kemunculan Bissu di Sulawesi Selatan belum dapat dipastikan dengan benar. Sejarah kelahiran bissu hanya dapat ditemukan dari legenda dan cerita lisan masyarakat Sulawesi Selatan. Sejarah bissu dapat diketahui dari Kitab Galigo menggambarkan bissu telah ada sebelum kehadiran Suku Bugis secara umum.

Kehadiran bissu ke bumi sebagai penyempurnaan dari kehadiran leluhur orang bugis. Bissu diciptakan sebagai penyeimbang kehadiran Batara Guru sebagai manusia pertama yang turun ke bumi. Bissu sebagai perantara antara manusia dan dewata. Ia mampu menjadi perantara manusia yang hendak berkomunikasi dengan dewata di khayangan.

Selama tujuh pariama (70 tahun) yang disebut sebagai Bone pada awalnya hanya meliputi tujuh unit anang (kampung/wanua), yakni Wanua Ponceng, Ta, Tibojong, Tanete Riattang, Tanete Riawang, dan Macege, tenggelam dalam situasi konflik yang berkepanjangan. Kondisi ini dalam bahasa Bugis dikenal dengan istilah sianre bale.

Masing-masing anang dipimpin oleh seorang kalula, gelar pemimpin kelompok. Situasi politik ini merupakan akibat langsung dari kondisi tidak adanya lagi tokoh yang mereka anggap sebagai pemimpin besar yang dapat mempersatukan tujuan visi dan misi ke tujuh anang tersebut.

Menurut lontara, hal ini secara implisit dijelaskan dalam Sure Galigo, lebih disebabkan oleh punahnya dan sudah tidak terdeteksinya keturunan-keturunan Galigo di Bone. Ketujuh pemimpin kalula kelompok masyarakat (anang) saling mengklaim hak atas kepemimpinan wilayah Bone tersebut.

Konflik antarkalula berlangsung selama bertahun-tahun. Masing-masing mengklaim sebagai keturunan Galigo yang karena keterbatasannya tidak mampu menunjukkan bukti-bukti (mereka belummengenal silsilah), merasa berhak atas kepemimpinan dikalangan kalula.

Semangat kejahiliyahan membara untuk saling atas-mengatasi sehingga perang saudara (kelompok) tidak bisa dihindari. Bersamaan dengan itu tiba-tiba muncullah To Manurung yang tidak diketahui.

Kemunculan To Manurung ditandai dengan gejala alam yang menakutkan dan mengerikan. Terjadi gempa bumi yang sangat dahsyat,kilat dan guntur sambar menyambar, hujan dan angin puting beliung yangsangat keras. $etelah keadaan itu reda, tiba-tiba di tengah padang luasmuncul orang berdiri dengan pakaian serba kuning. Karena tidak diketahui asal usul kedatangannya, maka orang menyebutnya To Manurung

To Manurung duduk di atas batu besar dengan pakaian serba kuning dengan ditemani tiga orang, yaitu satu orang yang memayungi dengan payung kuning, satu orang yang menjaganya, dan satu orang lagi yang membawa salenrang.

Berkatalah orang banyak kepada Tomanurung, kami semua datang ke sini untuk memohon agar engkau menetap. Janganlah lagi engkau mallajang (menghilang). Duduklah dengan tenang agar kami mengangkatmu menjadi aung. Kehendakmu kami ikuti, perintahmu kami laksanakan. Walaupun anak isteri kami engkau cela, kami pun mencelanya. Asalkan engkau berkenan memimpin kami.

Tomanurung menjawab, Apakah engkau tidak membagi hati dan tidak berdusta. $etelah terjadi kontrak sosial antara Tomanurung dengan orang banyak, dipindahkanlah To Manurung ke Bone untuk dibuatkan rumah atau salassa.

Tomanurung tersebut tidak diketahui namanya sehingga orang banyakmenyebutnya Manurunge ri Matajang. Uniknya, kalau datang di suatu tempat dan melihat banyak orang berkumpul dia langsung mengetahui jumlahnya, sehingga digelar Mata Silompo’e.

BACA JUGA :  Apa Makna Kajao ?

Hal pertama yang dilakukan Manurunge ri Matajang adalah mappolo leteng, yakni menetapkan hak-hak kepemilikan orang banyak. Meredakan segala bentuk kekerasan dan melahirkan hukum adat, bicara, serta menentukan bendera kerajaan yang dinamai Woromporonge.

Dengan hadirnya To Manurung, maka terjadilah penggabungan kelompok-kelompok tersebut termasuk Cina Barebbo, Awangpone dan Palakka. Pada saat pengangkatan To Manurung terjadilah kontrak pemerintahan berupa sumpah setia antara rakyat Bone hal ini diwakili oleh penguasa Cina, sebagai tanda serta lambang kesetiaan kepada rajanya sekaligus merupakan pencerminan corak pemerintahan kerajaan Bone diawal berdirinya.

Di samping penyerahan diri kepada Sang Raja juga terpatri pengharapan rakyat agar supaya menjadi kewajiban bagi raja untuk menciptakan keamanan, kemakmuran, serta terjaminnya penegakan hukum dan keadilan bagi rakyat.

Berdasarkan lontara’ bahwa nama asli Bone adalah pasir, dalam bahasa bugis dinamakan Bone adalah kessi atau pasir. Dari sinilah asal usul sehingga dinamakan Bone. Adapun bukit pasir yang dimaksud kawasan Bone sebagian mengatakan, bahwa lokasi bangunan Mesjid Raya Watampone sekarang. Letaknya persis di jantung kota Watampone ibukota kabupaten Bone. Tepatnya di Kelurahan Bukaka Kecamatan Tanete Riattang.

Sejak adanya Manurunge, Bone mulai berkembang, selanjutnya digantikan turunannya secara turun temurun hingga berakhir berakhirnya masa sitem kerajaan di Bone.

Peran dan Sere Bissu Maggiri

ia merupakan trans gender yang berbeda dan tertanam karakteristik trans gender yang suci pada dirinya. Hal itu dapat terlihat dari perilaku yang ditunjukkannya dengan bertutur kata yang sesuai dengan norma adat yang berlaku, cara berpakaianyang sopan dan dianugrahi kekuatan yang tidak dapat dilukai oleh senjata tajam.

Kekuatan tersebut biasa ditunjukkan pada prosesi ritual adat di dalam kerajaan Bone. Karakteristik bissu yang trans gender membedakannya dengan trans gender yang tidak menjalankan kehidupan suci, yaitu bissu dianugrahi kemampuan untuk melakukan kontak dengan masa lalu dan masa depan.

Dengan kemampuan spiritual yang dianugrahi oleh dewatae kepada bissu, ia mampu mengobati masyarakat yang terkena wabah penyakit dan dapat menjadi ahli sanro karena kemampuannya yang dapat meramal masa depan. Hal ini ditunjukkan oleh bissu pada saat menentukan hari baik untuk pernikahan ataupun pelantikan raja.

Bissu yang trans gender mempunyai bahasa tersendiri dalam komunitasnya, setiap kegiatan ritual bissu memakai bahasa ini. Bahasa itu disebut denganTorilangi atau bahasa langit yang digunakan seraya berbicara dengan dewata sewwae.

Pada masa kerajaan Bone, bissu mempunyai struktur organisasi dalam melakukan prosesi ritual dan menjalankan aktivitas sehari-hari.

Struktur organisasi bissu terdiri atas: Puang Matowa, yaitu pimpinan tertinggi yang dipilih dari Puang Lolo kemudian dilantik di muka umum oleh raja. Puang Matowa berperan memelihara dan menjaga pusaka kerajaan yang dinamakan arajang.

Kemudian Puang Lolo, yaitu sebagai wakil Puang Matowa yang dipilih oleh Puang Matowa bersama masyarakat yang telah disetujui oleh raja, bissu biasa pembantu Puang Lolo.

Dalam kerajaan Bone, bissu memegang peranan dalam hal menyejahterakan masyarakat. Hal itu dapat dilihat saat bissu ikut berperan membantu kerajaan Bone yang saat itu dijajah dan ditindas oleh kerajaan Gowa. Di mana kerajaan Gowa yang masuk ke Bone berupaya menjadikan Bone sebagai kerajaan di bawah kerajaan Gowa. Kerajaan Gowa memaksa dan menindas kerajaan rakyat kerajaan Bone.

Melihat hal itu La Tenritatta Arung Palakka yang saat itu merasa terpanggil untuk membela dan memperjuangkan harkat dan martabat masyarakat Bone. Aung Palakka pun melakukan perlawanan terhadap kerajaan Gowa.

BACA JUGA :  Sistem Pemerintahan di Kerajaan Bone dari Masa ke Masa

Di masa perjuangan Aung palakka bissu berperan membantu arung Palakka dalam meloloskan diri dari pengejaran pasukan kerajaan Gowa yang saat itu mengejar La Tentitatta. Dalam kerajaan Bone sendiri, bissu mempunyai banyak peranan yang tidak dapat dilupakan oleh sebagian masyarakat di tanah Bone.

$elain sebagai penaselihat kerajaan pada masa sebelum Islam, bissu mempunyai peranan dalam pengejaran itu, keadaan Arung Palakka sedang terdesak sampai harus bersembunyi di dalam sebuah goa.

Melihat pengejaran pasukan Gowa terhadap Arung Palakka, bissu mengambil inisiatif mengalihkan perhatian dengan melakukan tari-tarian untuk menarik perhatian pasukan kerajaan Gowa, yang saat itu hampir saja menemukan Arung Palakka.

Pasukan kerajaan Gowa pun asyik melihat tari-tarian bissu yang dinamakan sere bissu sehingga melupakan pengejaran terhadap Arung Palakka. Kesempatan itu dimanfaatkan oleh Arung Palakka untuk meloloskan diri.

Akhirnya perjuangan La Tenritatta Arung Palakka tidak sia-sia, ia pun berhasil memerdekakan kerajaan Bone dari penindasan kerajaan Gowa. Perjuangannya itu dilakukan dengan segala daya upaya dan strategi.

Di zaman kerajaan Bone, bissu dianggap sebagai orang suci dan selalu dimintai pendapatnya oleh raja dalam hal pemerintahan, agama, sosial, meteorologi serta dipercaya dalam hal pengobatan. Pada zaman kerajaan, bissu diberi tempat di istana oleh raja. Kehidupan mereka ditanggung sepenuhnya oleh kerajaan, dan para bissu pun tidak pernah berbaur dengan masyarakat biasa karena dianggap sebagai orang suci di mana mereka telah mengabdikan diri sepenuhnya kepada Sang Pencipta serta tak lagi memiliki nafsu terhadap duniawi.

Bissu juga merupakan penasihat raja dan ahli ramal. sekarang ini bissu berperan dalam penjagaan benda-benda pusaka dan segala sesuatu yang berkaitan dengan kebudayaan Bone.

Dalam struktur budaya bugis, peran bissu tergolong istimewa karena dalam kehidupan sehari-hari dianggap sebagai satu-satunya operator komunikasi antara manusia dan dewa melalui upacara ritual tradisionalnya dengan menggunakan bahasa Torilangi, karenanya bissu juga berperan sebagai penjaga tradisi tutur lisan sastra bugis kuno.

Sure Galigo pabila hendak dibacakan, maka sebelum dikeluarkan dari tempat penyimpanannya, orang menabuh gendang dengan irama tertentu dan membakar kemenyan. Setelah tabuhan gendang berhenti, tampillah bissu mengucapkan pujaan dan meminta ampunan kepada dewa-dewa yang namanya akan disebut dalam pembacaan sure’ itu.

Bissu juga berperan mengatur semua pelaksanaan upacara tradisional, seperti upacara kehamilan, kelahiran, perkawinan, indo botting, kematian, pelepasan nazar, persembahan, tolak bala, dan lain-lain.

Ada lima macam sere bissu (tarian bissu) yang ada di kabupaten Bone, yaitu:

1. Sere Alusu, objeknya adalah alusu, anyaman dari daun lontar. Nilai yang terkandung dalam sere alusu adalah tutur kata yang baik, sesama manusia tidak memandang strata sosial, sere alusu merujuk pada hal-halyang halus atau lembut

2. Sere bibbi, objeknya adalah tangan, nilai yang terkandung di dalamnya adalah menyadari kesalahan dan kekurangan diri sendiri sebelum melihat kekurangan orang lain. Sere bibbi merujuk pada gerakan mencubit diri sendiri’.

3. Sere mangko’, objeknya adalah tangan, nilai yang terkandung dalam sere mangko adalah merangkul dan menyatukan sesama masyarakat. Sere mangko ini merujuk pada gerakan yang menampung atau mewadahi.

4. Sere lemma, objeknya adalah tangan, nilai yang terkandung dalam sere lemma adalah berperilaku sopan dan santun terhadap sesama, tidak memandang status. Dere lemma merujuk pada senjata yang dipergunakan dalam hal-hal baik.

5. Sere maddampu alameng atau maggiri, objeknya adalah tappi, nilai yang terkandung di dalamnya adalah menggunakan senjata untuk kebaikan dan menolak hal-hal buruk. Sere maddampu alameng atau maggiri merujuk pada senjata yang dipergunakan dalam hal-hal baik.

BACA JUGA :  Kajao Liliddong Pemikir Ulung dari Tanah Bugis

Keberadaan Sere Bissu Maggiri di Kabupaten Bone tidak lepas dari keberadaan kerajaan Bone. Sere Maggiri ini, diperkirakan muncul sejak zaman pemerintahan raja Bone pertama, yang bergelar To Manurung ri Matajang yang memerintah sekitar tahun 1330 Masehi.

Oleh karena itu, Tarian sere bissu maggiri hanya tumbuh dan berkembang di dalam istana dan diasuh oleh keluarga raja. Penarinya adalah bissu, petugas khusus dalam pelaksanaan upacara-upacara adat dan keagamaan suku Bugis. Selain itu bissu juga berperan mengawal permaisuri raja.

Sehingga keberadaan tari Sere Bissu Maggiri tersebut bersamaan dengan munculnya To Manurung dari khayangan yang turun ke bumi. Misi To Manurung adalah untuk menyelamatkan rakyat Bone dari kekacauan sianrebale yang terjadi setelah keturunan Sawerigading sudah tidak ada lagi.

Dengan demikian bissu menempati kedudukan sebagai pengapit To Manurung atau dengan kata lain sebagai silaowang To Manurung

Maggiri sendiri berarti menusuk-nusukkan keris ke tubuh bissu, terutama ke daerah-daerah yang vtal seperti leher, perut, dan pergelangan tangan, bahkan kelopak mata. Aksi seperti itu kemudian ditunjukkan kepada pasukan Gowa saat melakukan pengejaran terhadap La Tenritatta Arung Palakka.

Para bissu yang melakukan pertunjukan tarian ini dianggap kemasukan roh dan mendapat kemampuan kebal pada senjata tajam.

Tari Maggiri biasanya dipentaskan pada penyambutan tamu agung, atau menjadi pelengkap upacara adat tertentu. Tarian ini dapat dilakukan sendirian, dan bisa pula dilakukan secara bersama-sama oleh beberapa orang bissu.

Tari maggiri ini sarat dengan nuansa mistis dan memiliki keunikan tersendiri yang membuatnya menarik untuk disaksikan.

Sebelum memulai menari, terlebih dahulu seorang bissu mengganti pakaiannya dengan pakaian tari bissu yang pada umumnya berwarna kuning keemasan dengan dilengkapi berbagai aksesoris yang lazimnya dikenakan oleh perempuan.

Selain itu mereka juga menyiapkan beberapa peralatan pendukung seperti wadah baskom berisi air, beberapa helai daun-daunan, gendang, dan keris.

Setelah berganti pakaian dan melakukan ritual awal sebelum menari yaitu membaca doa khusus atau mantra. Seorang bissu dianggap sudah siap untuk memulai tarian, dan dengan diawali bunyi gendang pertama yang dipukulkan oleh pagganrang atau penabuh gendang sebagai tanda dimulainya tarian ini.

Selanjutnya bissu membawa alusu sambil melangkah masuk ke arena pertunjukan dengan menginjak kain putih yang terbentang yang disebut abbissungeng.

Hal-hal yang berkaitan dengan bissu selalu identik dengan bunyi-bunyian seperti gendang, pada saat diadakannya suatu hajatan berbagai bunyi-bunyian gendang yang ditabuh akan diperdengarkan dengan beragam nada yang dimainkan. Ada yang terdengar pelan dan ada pula yang cepat, disesuaikan dengan kebutuhan ritual.

Selanjutnya bissu melangkah perlahan, selangkah demi selangkah, dengan gerakan kaki yang pelan dengan diiringi alunan gendang yang makin lama semakin kuat terdengar.

Alusu yang dibawanya akan digoyangkan perlahan-lahan, dan menimbulkan suara-suara kecil, meskipun suara alusu tersebut nyaris tidak terdengar karena tenggelam dalam suara gendang yang ditabuh cukup keras.

Bunyi-bunyi yang terdengar dari alusu bertujuan agar apabila kita berdoa, maka doa yang kita panjatkan selalu didengarkan oleh Tuhan Yang Maha Kuasa. Jadi bunyi-bunyian tersebut dapat dianggap sebagai pengantar jalannya doa. Demikianlah seorang bissu akan terus bergerak dan berputar-putar secara perlahan di tengah tempat pertunjukan tarian tersebut.

Sampai saat ini “sere bissu maggiri” ini masih menjadi tarian populer di Kabupaten Bone khususnya menyambut dan menghibur tamu pemerintahan serta pagelaran adat lainnya. Meskipun sebagian besar pemerannya sudah mengalami modernisasi namun tidak menghilangkan kesakralannya.