Pepatah Bugis Klasik

Pepatah merupakan pribahasa yang berisi nasihat atau ajaran yang diwariskan dari orang-orang terdahulu. Pepatah ini biasanya diungkapkan dalam berbagai kegiatan dalam suasana riang gembira.

Contoh:

Baik mata di rantau orang, jangan sampai berbuat salah (saat berada di perantauan, jagalah selalu menjaga sikap dan perilaku dengan baik)

Air tenang menghayutkan.(orang pendiam, tetapi berilmu banyak)

Berjalan pelihara kaki, berkata pelihara lidah. ( dalam melakukan suatu pekerjaan hendaknya selalu berhati-hati)

Genggam bara api biar menjadi arang (lakukan sesuatu dengan dengan kesabaran agar mendapatkan hasil yang maksimal)

Demikian halnya pada Bugis dalam memberikan wejangan, petuah, ataupun nasihat selain menggunakan tutur kata yang lumrah biasa juga diselipi pepatah. Bahkan wejangan seperti ini menjadi pelajaran wajib di sekolah-sekolah Bugis di masa lalu, namun entah, apakah sekarang ini masih ada.

Contoh :

1. Ininnawa mitu denre sisappa, sipudoko, sirampe teppaja (Hanya budi baik yang akan saling mencari, saling menjaga, dalam kenangan tanpa akhir)

2. Pada lao, teppada upe’ (Takdir setiap orang berbeda-beda)

3. Iyyapa narisseng mukkurui sewwae jama-jamang narekko purani rilaloi (Barulah dapat diketahui kedalaman dan luasnya suatu sungai, kalau sudah kita arungi atau seberangi)

Maksudnya : sulit tidaknya sebuah pekerjaan ataupun suatu usaha baru dapat diketahui jika telah pernah kita kerjakan atau alami.

4. Taro Ada Taro Gau (Seia antara kata dan perbuatan)

Maksudnya : segala sesuatunya apabila sudah diucapkan jangan diingkari, kata haruslah sama dengan perbuatan. Harus berani mempertanggungjawabkan apa yang telah diucapkan dan dilakukan.

5. Resopa temmangingi namalomo naletei pammase dewata (kerja keras mendatangkan rezeki Tuhan)

Maksudnya : Hanyalah dengan kerja keras disertai doa kepada Tuhan segala yang dicita-citakan dan dikerjakan dapat tercapai.

6. Duami kuala sappo unganna panasae belo kanukue ( dua kujadikan pagar kejujuran dan kesucian.

Maksudnya : Hanyalah dua yang dapat kita jadikan pegangan dalam berinteraksi sosial yakni kejujuran dan kesucian hati.

7. Tellui somperenna lino : Lempuu, Getteng, Ada Tongeng na Appasikua. Narimakkuannanaro aja’ lalo musala panguju, aja’to mutettangngi sempajangmu, aja’ lalo mucapa-capai pappasekku, nasaba’ anu maddupa tu matti’

Maksudnya : Ada tiga hal yang menjadi kiat utama merantau yakni Kejujuran, Keteguhan hati, tutur kata yang berlandaskan kebenaran, dan keikhlasan menerima apa adanya. Oleh sebab itu, janganlah kamu salah rencana dan salah melangkah, dan juga janganlah kamu pernah meninggalkan sembahyang lima waktu, serta janganlah kamu memandang remeh petuah ini, karena itu mengandung kebenaran yang akan menjadi kenyataan kelak.

8. Tellui sitinro, Cinnae udaanie , napassengereng (tiga beriringan, cinta, rindu, dan kenangan indah)

Maksudnya: Tidak dapat dipisahkan antara cinta, rindu, dan kenangan. Hal ini barulah bisa terwujud apabila dalam praktiknya disertai kejujuran dan budi pekerti yang baik.

9. Pada idi pada elo, sipatuo sipatongkok.
Maksudnya: Sehidup semati.

10. Anre bajekmu lollong paddoko

Maksudnya: Baru kau tahu, kalau seperti itu, mengapa tidak dipikirkan risikonya.

11. Mattajeng laso arung

Maksudnya : Penantian yang sia-sia, jangan menunggu sesuatu hasil yang muluk-muluk tanpa disertai usaha sebelumnya.
.
12. Mappada canggoreng nallupai ulina

Maksudnya : orang yang tidak tahu budi dan membalas kebaikan orang yang pernah menolongnya. Orang yang tidak kenang budi.

13. Ritomainge’e eppa’ masero madecceng :
Mammulanna, namaiseiwi topurae mamaseiwi; maduanna, tenri ellauwi nabbere, temmattajeng pamale’; matellunna, tulung ngengngi sukkara’na taue risingangka-gangkanna pattulung; maeppa’na mappangaja’ lettu’ riperu’e

Artinya : Bagi orang yang panjang ingatannya ada empat hal yang sangat baik : Permulaannya mengasihani orang yang pernah mengasihaninya, kedua memberi tanpa diminta dan tidak menunggu pembalasan, ketiga menolong kesukaran orang dengan sepenuhnya, keempat memberi nasihat dengan tulus.

14. Limai uwangenna riallolongengi deceng, seuwani pakatunai alemu risilasannae, maduanna saroko maserisilasannae, matellunna makkareso patujue, maeppa’na moloie roppo roppo narawe’, malimanna molae laleng namatike’ nappa sanre’ ri Allah SWT.

Maksudnya : Lima jenis sifat manusia menghasilkan kebaikan, pertama merendahkan diri sepatutnya, kedua mencari kawan/sahabat sepatutnya, ketiga berbuat/bekerja yang baik dan benar, ke empat kembali apabila menghadapi rintangan, kelima waspada dalam perjalanan sambil berserah diri kepada Allah SWT.

15. Aja mumae’lo nabe’tta taue’ makkella, ricappa’na lete’ngnge. (Janganlah engkau mau didahului orang menginjakkan kaki dihujung titian)

Maksudnya : Janganlah engkau mau didahului orang lain untuk mengambil rezeki halal.

16. Naiya accae ripatoppoki jekko, aggati aliri, narekko teyai maredduk, mapoloi.

Maksudnya : kepandaian yang disertai kecurangan ibarat tiang rumah, kalau tidak tercerabut, ia akan patah. Di Bugis, tiang rumah dihubungkan satu dengan yang lain menggunakn pasak. Jika pasak itu bengkok sulit masuk ke dalam lubang tiang, dan patah kalau dipaksakan.

Ini adalah kias terhadap orang pandai tetapi tidak jujur. Ilmunya tak akan mendatangkan kebaikan (berkah), bahkan dapat membawa malapetaka. Iya, ilmunya tinggi tapi buta paham.

17. Ola’ku kuassukeki, ola’mu muassukeki

Maksudnya : takaranku kujadikan ukuran, takaranmu kau jadikan ukuran. Setiap orang mempunyai prinsip atau landasan berpikir sendiri-sendiri dalam memandang sesuatu. Oleh karena itu harus ada saling pengertian atau tenggang rasa supaya tak terjadi pertikaian.

18. Agana ugaukengngi, pakkadang teppadapi, nabuwa macenning.

Maksudnya: Hasrat hatiku menggelora untuk memilikinya, tapi kemampuanku sangat terbatas.

19. Mau luttu maasuwaja, tatteppa rewe’ muwa tosiputotoe.

Maksudnya: Walaupun pergi jauh kemana-mana, kalau sudah jodoh pasti surut kembali.

20. Melle’ki tapada melle, tapada mamminanga, tasiyallabuang.

Maksudnya: Mari kita saling menjalin hubungan mesra supaya cita-cita segera menjadi kenyataan.

21. Iyyaro mai melleku, tebbulu te’ttanete, lappa maneng mua.

Maksudnya: Kasih sayang yang kuberikan padamu tak satupun dapat menghalangi.

22. Iyya memeng-paro mai; lejjai addenengku; mattaro pura-e.
Maksudnya:Yang ingin menjalinkasih padaku adalah merek yang mencurahkan sepenuh hatinya.

23. Iyya siya menasakku, mattonra jari tokki lete ri manipi.

Maksudnya: Harapanku ingin hidup semati denganmu.

24. Teyawa naparampaki teddung makape-kape, tenna pacinaongi.

Maksudnya: Saya tidak akan menumpahkan kasih kepada orang yang tidak bertanggung jawab.

25. Lele akkutana mukki ala tebbulu-ekki; naleworo tasi.

Maksudnya: Boleh tanyakan betapa lembut jiwaku, betapa bulan hatiku, tak perlu diragukan.

26. Duppa mata nini tokko; ennau mata-tokko; ajak murikapang.

Maksudnya: Jika kita bertemu pandang, berusahalah menghilangkan kesan yang dapat mencurigakan.

27. Sipongemmu kupacokkong, ribola tudangengmu; teyana mawela.

Maksudnya: Sejak kita bertemu di rumahmu, sejak itulah aku kenang selalu.

28. Rekkuwa tennungi melle; taroi temmasakka; napodo malampe

Maksudnya: Bila menaruh kasih jangan berlebihan, agar tambah bersemi lebih lama.

29. Laoko kuturutokko, kupabokongitokko; nyameng kininnawa.(kurelakan kepergianmu dengan hati tulus)

Maksudnya: Dengan sepenuh hati dan segenap jiwaku mengantar dikau ke pulau idaman.

30. Ininnawa sabbara’-e , lolongeng gare deceng (kesabaran mendapatkan kebaikan)

Maksudnya: Orang yang sabar tulus ikhlas senantiasa mendapat kebajikan yang diidamkan

31. Tellu Riala Sappo : Tauwe Ri Dewatae, Siri Ri Watakkaleta, Nenniya Siri Ri Padatta Rupa Tau (Hanya tiga yang dijadikan pagar : rasa takut kepada Tuhan, rasa malu pada diri sendiri, dan rasa malu kepada sesame manusia)

Maksudnya : Rasa takut kepada Tuhan membawa ketakwaan dan memperkuat iman. Rasa malu kepada diri sendiri akan menekan niat buruk dan memperhalus akal budi, dan rasa malu kepada sesama manusia dapat membendung tingkah laku buruk dan meninggikan budi pekerti.

N1
loading...