Anekdot merupakan cerita singkat dan lucu serta menarik, yang biasanya menggambarkan kejadian atau orang sebenarnya dalam bentuk kelakar. Anekdot selalu disajikan berdasarkan pada kejadian nyata melibatkan orang-orang yang sebenarnya, apakah terkenal atau tidak, biasanya di suatu tempat yang dapat diidentifikasi.

Namun, seiring waktu, modifikasi pada saat penceritaan kembali dapat mengubah sebuah anekdot tertentu menjadi sebuah fiksi, sesuatu yang diceritakan kembali tetapi “terlalu bagus untuk nyata”.

Anekdot bukanlah lelucon, karena tujuan utamanya adalah tidak hanya untuk membangkitkan tawa, tetapi untuk mengungkapkan suatu kebenaran yang lebih umum daripada kisah singkat itu sendiri, atau untuk melukiskan suatu sifat karakter dengan ringan sehingga ia menghentak dalam kilasan pemahaman yang langsung pada intinya.

Dengan demikian sebuah anekdot lebih dekat dengan tradisi tamsil daripada dongeng yang secara terbuka diciptakan dengan karakter hewan dan tokoh manusia yang umum.

Anekdot terkadang bersifat sindiran alami. Di bawah rezim otorita seorang pemimpin sering menjadi sasaran anekdot. Biasanya melahirkan berbagai macam anekdot politik kemudian tersebar di masyarakat sebagai satu-satunya cara untuk membuka dan mencela kejahatan dari sistem politik dan pemimpinnya.

Dalam perkembangannya makna anekdot dipakai untuk setiap kisah singkat yang digunakan untuk menekankan atau mengilustrasikan apapun poin yang si penulis inginkan.

Anekdot memang tidak sepopuler puisi maupun pantun. Namun anekdot terkadang berisi humor, kritik, dan pendapat yang terkesan tegas, nyata, tetapi tetap menggelitik dan menghibur. Salah satu anekdot yang paling terkenal adalah anekdot “Hukum Peradilan”

Anekdot Hukum Peradilan

Pada zaman dahulu di suatu negara (yang pasti bukan negara kita) ada seorang tukang

pedati yang rajin dan tekun. Setiap pagi dia membawa barang dagangan ke pasar dengan

pedatinya. Suatu pagi dia melewati jembatan yang baru dibangun. Namun sayang, ternyata kayu

yang dibuat untuk jembatan tersebut tidak kuat. Akhirnya, tukang pedati itu jatuh ke sungai.

BACA JUGA :  Gara-gara Sikontol Panjang

Kuda beserta dagangannya hanyut.

Si Tukang Pedati dan keluarganya tidak terima karena mendapat kerugian gara-gara

jembatan yang rapuh. Kemudian, mereka melaporkan kejadian itu kepada hakim untuk

mengadukan si Pembuat Jembatan agar dihukum dan memberi uang ganti rugi. Zaman dahulu

orang dapat melapor langsung ke hakim karena belum ada polisi.

Permohonan keluarga si Tukang Pedati dikabulkan. Hakim memanggil si Pembuat

Jembatan untuk diadili. Namun, si Pembuat Jembatan tentu protes dan tidak terima. Ia

menimpakan kesalahan kepada tukang kayu yang menyediakan kayu untuk bahan jembatan itu.

Kemudian, hakim memanggil si Tukang Kayu.

Sesampainya di hadapan hakim, si Tukang Kayu bertanya kepada hakim “Yang Mulia

Hakim, apa kesalahan hamba sehingga hamba dipanggil ke persidangan?” Yang Mulia Hakim

menjawab, “Kesalahan kamu sangat besar. Kayu yang kamu bawa untuk membuat jembatan itu

ternyata jelek dan rapuh sehingga menyebabkan seseorang jatuh dan kehilangan pedati beserta

kudanya. Oleh karena itu, kamu harus dihukum dan mengganti segala kerugian si Tukang

Pedati.” Si Tukang Kayu membela diri, “Kalau itu permasalahannya, ya jangan salahkan saya,

salahkan saja si Penjual Kayu yang menjual kayu yang jelek.” Yang Mulia Hakim berpikir,

“Benar juga apa yang dikatakan si Tukang Kayu ini. Si Penjual Kayu inilah yang menyebabkan

tukang kayu membawa kayu yang jelek untuk si Pembuat Jembatan. ” Lalu, hakim berkata

kepada pengawalnya, “Hai pengawal, bawa si Penjual Kayu kemari untuk

mempertanggungjawabkan perbuatannya!” Pergilah si Pengawal menjemput si Penjual Kayu.

Si Penjual Kayu dibawa oleh pengawal tersebut ke hadapan hakim. “Yang Mulia Hakim,

apa kesalahan hamba sehingga dibawa ke sidang pengadilan ini?” kata si Penjual Kayu. Sang

Hakim menjawab, “Kesalahanmu sangat besar karena kamu tidak menjual kayu yang bagus

BACA JUGA :  Air kelapa muda bisa membantu bila Anda kehabisan bensin

kepada si Tukang Kayu sehingga jembatan yang dibuatnya tidak kukuh dan menyebabkan

seseorang kehilangan kuda dan barang dagangannya dalam pedati. ” Si Penjual Kayu menjawab,

“Kalau itu permasalahannya, jangan menyalahkan saya. Yang salah pembantu saya. Dialah yang

menyediakan beragam jenis kayu untuk dijual. Dialah yang salah memberi kayu yang jelek

kepada si Tukang Kayu itu.” Benar juga apa yang dikatakan si Penjual Kayu itu. “Hai pengawal

bawa si Pembantu ke hadapanku!” Maka si Pengawal pun menjemput si Pembantu.

Seperti halnya orang yang telah dipanggil terlebih dahulu oleh hakim, si Pembantu pun

bertanya kepada hakim perihal kesalahannya. Sang Hakim memberi penjelasan tentang

kesalahan si Pembantu yang menyebabkan tukang pedati kehilangan kuda dan dagangannya

sepedati. Si Pembantu tidak secerdas tiga orang yang telah dipanggil terlebih dahulu sehingga ia

tidak bisa memberi alasan yang memuaskan sang Hakim. Akhirnya, sang Hakim memutuskan si

Pembantu harus dihukum dam memberi ganti rugi. Berteriaklah sang Hakim kepada pengawal,

“Hai, Pengawal, masukkan si Pembantu ini ke penjara dan sita semua uangnya sekarang juga!”

Beberapa menit kemudian, sang Hakim bertanya kepada si Pengawal, “Hai, Pengawal

apakah hukuman sudah dilaksanakan?” Si Pengawal menjawab, “Belum, Yang Mulia, sulit sekali

untuk melaksanakannya.” Sang Hakim bertanya, “Mengapa sulit? Bukankah kamu sudah biasa

memenjarakan dan menyita uang orang?” Si Pengawal menjawab, “Sulit, Yang Mulia. Si

Pembantu badannya terlalu tinggi dan gemuk. Penjara yang kita punya tidak muat karena terlalu

sempit dan si Pembantu itu tidak punya uang untuk disita.” Sang Hakim marah besar, “Kamu

bego amat! Gunakan dong akalmu, cari pembantu si Penjual Kayu yang lebih pendek, kurus, dan

punya uang!”. Kemudian,si Pengawal mencari pembantu si Penjual Kayu yang lain yang

berbadan pendek, kurus, dan punya uang.

Si Pembantu yang berbadan pendek, kurus, dan punya uang bertanya kepada hakim,

BACA JUGA :  Gara-gara Sikontol Panjang

“Wahai, Yang Mulia Hakim. Apa kesalahan hamba sehingga harus dipenjara?” Dengan

entengnya sang Hakim menjawab,”Kesalahanmu adalah pendek, kurus, dan punya uaaaaaang!!!”

Setelah si Pembantu yang berbadan pendek, kurus, dan punya uang itu dimasukkan ke penjara dan uangnya disita, sang Hakim bertanya kepada khalayak ramai yang menyaksikan

pengadilan tersebut, “Saudara-saudara semua, bagaimanakah menurut pandangan kalian,

peradilan ini sudah adil?” Masyarakat yang ada serempak menjawab, “Adiiiiilll!!!!”

Air kelapa muda bisa membantu bila Anda kehabisan bensin

Disebuah warkop bilangan kota Watampone saya duduk sambil menikmati secangkir “kopi tua”. Memang pahit tapi terasa pula manisnya.

Sesaat kemudian datang seorang sahabat bang Kajao begitu namanya. Jo’ duduknya sini, lalu saya tawarin minum kopi. Ma kasih Nih masih ada minuman saya, jawabnya.

Lho memang dari mana itu isinya apa. Tangan kiri Jo’ pegang botol aqua. Ini air kelapa muda, jawabnya.

Bang Kajaopun memperbaiki duduknya lalu mengisahkan apa yang baru saja dialaminya. Pendek kata air kelapa muda yang ada di botol aqua itu, sangat membantunya ketika motornya kehabusan bensin.

Sehari berlalu … Sayapun penasaran apa yang diceritakan, lalu saya mencobanya ternyata betul apa yang dibilang bang Jo’.

Mulanya saya juga tidak percaya tetapi setelah dicoba ternyata betul.

Nah, bagi Anda yang bepergian jauh dengan motor jangan lupa membawa sebotol air kelapa muda, ini cukup membantu Anda bila diperjalanan kehabisan bensin sedangkan penjual bensin jauh.

Begini caranya, saat motor tiba-tiba berhenti karena kehabisan bensin maka jangan kesal, tarik nafas lalu ambil botol air kelapa yang dibawa.

Buka penutupnya lalu baca bismillah … kemudian pelan-pelan tuangkan di mulut Anda. Bila badan telah terasa segar maka doronglah motor Anda ke tempat penjualan bensin. Silakan mencoba …