panggung yang rapuh

kelap kelip lampu berkuning yang merah
menggusur lampion-lampion syurga
mengajak mata jelita berdansa
di atas kaki para penikmat

berdiri teguh kukuh perkasa
menggertak angkara yang murka
lalu lalang para pejalan kaki dan roda
meniti panggung yang rapuh

senja itu dalam detik itu
pekik melolong di mana-mana
lantas ini bukan hukuman
itu cuma teguran kecil

bentukmu tak berbentuk lagi
kini bertukar wajah menyeramkan
tak ada lagi pesona di matamu
tapi hati ini yang luka

kaki para pejalan dan roda-roda
sekejap saja jatuh menggelepar
dalam gulita gelapnya malam
tersungkur jatuh dalam pesona
yang sangat mengerikan itu

dari kejauhan kucoba mengintip
lalu ku mengendap mendekat
biar rupamu kian jelasnya
astagfirullah … astagfirullah …

di balik kemerincing yang runcing
tertancap erat menusuk puing-puing
tak ada lagi harapan yang kuharap
selain bersujud memelas kasih
dari dzat yang mematikan

di palung hati yang terdalam ini
biar kulukis dalam hari-hariku
biar imanku yang kian menipis
kan kucoba memulainya lagi
mumpung belum aku mati

ahad hari ini, 30-9-2018

BACA JUGA :  Lagu Bugis : Ala Masea-sea