Kajao Lallidong  adalah seorang penasihat pribadi raja Bone saat kerajaan Bone mencapai puncak kejayaannya. Nama aslinya adalah Lamellong, namun karena keahliannya diberi gelar Kajao Lallidong, artinya cendekia dari Kampung Lalliddong.

Puncak ketenarannya pada masa pemerintahan Raja Bone VII La Tenrirawe Bongkange. Dan pada masa itu pula tata pemerintahan di kerajaan Bone mulai terbentuk dengan baik. Ditandai dengan lahirnya konsep Pangadereng, yakni ade, bicara, rapang, dan wari.

Dari kata “Kajao” artinya adalah seorang yang berpengatahuan luas di zamannya, ahli tata negara dan ahli pemerintahan.

Kajao Lallidong berani meluruskan pendapat, memberikan nasihat, saran-saran yang berguna kepada raja Bone (Arumpone) dalam menjalankan pemerintahan.

Nasihat dan saran-saran Kajao Lallidong mengandung mutu dan nilai yang tinggi sehingga selalu mendapat perhatian Arumpone (Raja Bone).

Kajao Lallidong selaku penasihat pada masa pemerintahan  Raja Bone ke-6 La Uliyo Bote’e tahun 1535-1560 serta dimasa pemerintahan Raja Bone ke-7 La Tenrirawe Bongkange, tahun 1560-1564.

Untuk lebih jelasnya, berikut petikan percakapan antara Kajao Lallidong dengan raja Bone La Tenrirawe Bongkange perihal persoalan pemerintahan.

Kajao Laliddong berkata:

Wahai, Arumpone, Apakah yang menyebabkan sehingga kemuliaan raja itu tidak jatuh, kerajaannya senantiasa teguh berdiri, rakyatnya tidak bercerai-berai dan harta benda tidak terhambur?”

Jawab Arumpone :“Kejujuran dan kepintaran, Kajao!”

Itu juga, tapi sebenarnya bukan juga, karena semua itu ada empat pokok penyebabnya,” Lalu Kajao Lallidong menambahkan.

“Pertama, kalau ada yang hendak dikerjakan oleh Baginda, sebaiknya tidak tidur siang dan malam memikirkan akibat pekerjaan itu. Baru dikerjakan jika sudah ditetapkan dan kesudahan pekerjaan itu adalah kebaikan.

Kedua, hendaklah mengeluarkan perkataan yang benar, menyesuaikan pembicaraan dengan sepantasnya, sanggup menghadapi pembicaraan orang dan dapat memberikan jawaban yang tepat.

Ketiga, menepati janji serta tidak undur dari apa yang telah diucapkan.

Keempat, pesuruh raja tidak lalai dan tidak pelupa akan apa yang disuruhkan kepadanya.

Arumpone bertanya:

“Lalu apa pokok dari kepintaran itu, Kajao?”

“Jujur, itulah pokoknya!” jawab Kajao

“Apa saksinya?” “Seruan! (Obbie)”

“Apakah seruan itu?”, kejar Arumpone.

“ Seruan itu adalah
1. Jangan mengambil barang yang bukan milikmu.
2. Jangan mengambil tanaman yang bukan kau tanam.
3. Jangan mengambil kayu yang sudah dipotong-potong (Wattawali), kalau bukan engkau yang potong.

Sebab jika itu terjadi, musuh akan mudah masuk ke dalam negeri dan sulit diusir keluar,” jawab Kajao tenang.

Senang mendengar jawaban Kajao, Arumpone bertanya lagi,

“Baik. Lalu apakah yang menyebabkan runtuhnya sebuah kerajaan besar, Kajao?”

“Ada lima tandanya suatu kerajaan besar akan runtuh.

1. Raja dalam negeri itu sudah tidak mau dinasehati lagi atau ditegur akan kesalahannya.
2. Kalau tidak ada lagi orang pandai dalam negeri.
3. Kalau Pabbicara (hakim) makan suap.
4. Kalau rakyat berbuat sesuka hatinya lantaran tak ada lagi yang ditakutinya.
5. Kalau raja sudah tidak suka lagi memberikan pengasihan atau pengampunan kepada rakyatnya sebagaimana mestinya.”

Arumpone terdiam sejenak.

“Oh Begitu. Lalu apa tandanya suatu daerah kecil akan menjadi besar?”

“Juga lima tandanya,” jawab Kajao.

“Pertama, rajanya jujur dan pintar.

Kedua, rajanya menerima petunjuk dari penasihatnya.

Ketiga, bermufakat dengan orang-orang tua dalam negeri.

Keempat, tenrilukai bicarae (apa yang telah diputuskan tidak boleh dibatalkan lagi).

Kelima, bersatu hati rakyat dalam negeri.”

Penasaran, Baginda Arumpone melancarkan pertanyannya lagi, “Kajao, tadi adalah tanda kerajaan yang baik. Tapi kalau kerajaan yang tidak baik, apa tanda-tandanya?”

“Juga ada lima tandanya. Jawab Kajao

Pertama, terlalu banyak keinginan rajanya.

Kedua, pabbicara (hakim) makan suap.

Ketiga, rajanya suka murka jika ripakainge (dinasihati).

Keempat, jika raja tidak melarang putra-putranya dan kawan-kawannya berbuat sewenang-wenang terhadap rakyatnya.

Dan terakhir, kalau tidak memperkuat putusan yang telah diambil orang-orang tua dalam negeri!”

“Apa pula tandanya padi berhasil dalam negeri, Kajao?”

“Ada lima tandanya.

Pertama, jika raja jujur.

Kedua, jika pabbicara (hakim) jujur dalam memutuskan perkara dan tidak makan suap.

Ketiga, tak ada pencurian dalam negeri.

Keempat, jika benar putusan suatu perkara.

Kelima, jika rakyat dalam negeri bersatu,” jawab Kajao merendah.

Penasihat pribadi raja Bone seperti Kajao Lallidong sebenarnya dimiliki pula oleh beberapa kerajaan  lainnya di Sulawesi Selatan, seperti raja Sidenreng dengan Nene’ Mallomo, raja Luwu dengan Maccae, dan raja Gowa dengan Ahli Nujum Boto Lempangang. Namun yang paling dikenal saat ini adalah Kajao Lallidong.

Percakapan antara Kajao Lallidong dengan raja Bone ini baiknya diresapi dan dengan jernih ‘ditarik’ di kekinian negeri kita atas multi persoalan terus melanda. Inilah salah satu tujuan melihat kembali kearifan lokal, ketika terjerembab baru kita menyadari.

Bandingkan sekarang, pemerintahan sudah didukung teknologi canggih, tapi negara masih terseok-seok lantaran moral pemerintah yang runtuh dengan sistem aturan dan kebijakan tumpang tindih.

N1
loading...