Sebelum kita mengupas tentang Sawerigading terlebih dahulu dijelaskan apa itu makna mitos dan contohnya.

Mitos adalah kisah berlatar masa lampau, mengandung penafsiran tentang alam semesta seperti penciptaan dunia dan keberadaan makhluk di dalamnya serta dianggap benar-benar terjadi oleh si pembuat cerita.

Mitos itu digambarkan sebagai catatan peristiwa sejarah yang terlalu dilebih-lebihkan dan rekayasa belaka, kemudian disebarkan untuk menyampaikan pengalaman religius, untuk membentuk karakter dan sifat-sifat tertentu, dan sebagai bahan ajaran dalam suatu komunitas untuk diikuti. To Manurung dan Lagaligo, Sawerigading merupakan contoh kisah mitos.

Contoh Mitos dalam kehidupan masyarakat, di antaranya sebagai berikut :

1) Jika kita tertimpa cecak tandanya sial. Sial di sini yang maksudnya dari yang tertimpa cecak itu sendiri. Siapa yang tidak sial kalau sedang enak-enak nya duduk tiba-tiba tertimpa cecak.

2) Wanita tidak boleh duduk di depan pintu tandanya pamali. Zaman dahulu wanita masih menggunakan rok, belum ada yang memakai celana satu pun. Jadi, kalau ada wanita yang sering duduk di depan pintu biasanya kelihatan anunya. Hal ini bisa mengundang hawa nafsu.

3) Jangan bersiul pada malam hari karena akan mengundang setan. Hal ini dimaksudkan agar tidak mengganggu orang-orang yang sedang tidur. Dan masih banyak contoh lainnya utamanya dalam kehidupan suatu komunitas seperti pada suku Bugis dan lainnya.

Nah, sekarang mari kita simak tentang mitos Sawerigading yang berasal dari masyarakat Sulawesi Selatan. Dan mudah-mudahan setelah membaca alur kisahnya yang penuh rekayasa itu tidak ada lagi yang mengkultuskannya.

Sawerigading adalah nama seorang putera raja Luwu dari Kerajaan Luwu Purba, Sulawesi Selatan. Sawerigading berasal dari dua kata, yaitu “sawe” yang berarti lahir, dan “rigading” yang berarti di atas bambu besar atau betung.

Jadi Sawerigading berarti keturunan dari orang yang lahir di atas bambu betung. Nama ini dikenal melalui cerita yang termuat dalam Sure’ Galigo.

Kisahnya dimulai ketika para dewa di langit bermufakat untuk mengisi dunia ini dengan mengirim Patotoe di langit dan Nyili’timo di Peretiwi (dunia bawah) untuk menjadi penguasa di bumi.

Dari perkawinan Patotoe dengan Nyili’timo lahirlah putra mereka yang diberi nama Batara Lattu’, yang kelak menggantikan ayahnya sebagai penguasa di Luwu.

Setelah Batara Lattu’ cukup dewasa, ia dikawinkan dengan We Datu Sengeng. Dari perkawinan keduanya melahirkan anak kembar, yaitu Sawerigading (laki) dan We Tenriabeng (perempuan). Waktu kelahirannya diceritakan yang diperkirakan tahun 564 Masehi.

Namanya juga mitos, maka waktu kejadian, kelahiran, dan masa hidup Sawerigading dan We Tenriabeng inipun banyak versi tergantung daerah dan sipencerita.

Tapi kali ini kita akan menyimak ceritanya ketika perjalanan Sawerigading ke Negeri Cina Tiongkok. Diceritakan sebagai berikut :

BACA JUGA :  Bukit Cempalagi dan Misteri Tapak Kaki Arung Palakka

Berdasarkan pesan Batara Guru, kedua anak kembar itu harus dibesarkan terpisah sehingga tidak saling mengenal. Agar kelak bila mereka menjadi dewasa tidak akan saling jatuh cinta.

Namun suratan menentukan yang lain, sebab di rantau Sawerigading mendapat keterangan bahwa ia mempunyai seorang saudara kembar wanita yang sangat cantik, We Tenriabeng namanya.

Sejak itu hatinya resah hinggah pada suatu waktu ia berhasil melihatnya dan langsung jatuh cinta serta ingin mengawininya.

Maksud itu mendapat tentangan kedua orang tuanya bersama rakyat banyak, karena kawin bersaudara merupakan pantangan yang jika dilanggar akan terjadi bencana terhadap negeri, rakyat dan tumbuh-tumbuhan serta seluruh negeri kebingungan.

Melalui suatu dialog yang panjang, berhasil juga We Tenriabeng membujuk saudaranya untuk berangkat ke negeri Cina Tiongkok memenuhi jodohnya di sana yang bernamaI We Cudai. Wajah dan perawakannya sama benar dengan We Tenriabeng.

Pada waktu Sawerigading berangkat ke Cina Tiongkok, dan We Tenriabeng sendiri naik ke langit dan kawin dengan tunangannya di sana bernama Remmang ri Langi yang tampan gagah perkasa.

Dengan mengatasi hambatan demi hambatan, akhirnya berhasil juga Sawerigading mengawini We Cudai. Meskipun harus melalui pertempuran karena We Cudai juga punya tunangan yang bernama Settiaponga. Jadi untuk merebut We Cudai dari tangan Settiaponga, maka Sawerigading harus berperang di tengah laut dalam perjalanannya ke Cina Tiongkok.

Selanjutnya Sawerigading hidup rukun damai bersama Wecudai dan memperoleh tiga orang anak yaitu: La Galigo, Tenridio, dan Tenribalobo. Selain isteri, Sawerigading juga punya selir yang bernama We Cimpau dan memperoleh seorang anak bernama We Tenriwaru.

Dalam pada itu La Galigo pun menjadi dewasa, merantau, menyabung, kawin, berperang dan memperoleh anak. Pada suatu ketika We Cudai ingin berkunjung ke negeri suaminya, menemui mertuanya yang belum pernah dilihatnya.

Namun, Sawerigading bimbang mengingat akan sumpahnya dahulu, ketika hendak bertolak ke Tiongkok, bahwa seumur hidupnya tidak akan lagi menginjakkan kaki lagi di Tanah Luwu, tetapi ia sayang akan isteri, anak, dan cucu dibiarkan berlayar sendiri, akhirnya iapun ikut serta.

Sementara itu, Patotoe menetapkan akan menghimpun segenap keluarganya di Luwu. Dalam pertemuan keluarga besar itulah ditetapkan bahwa keturunan dewa-dewa yang ada di bumi harus segera kembali ke langit atau peretiwi dengan masing-masing seorang wakil.

Tidak lama setelah para kaum keluarga pulang ke negerinya masing-masing, maka Sawerigading bersama anak, isteri, dan cucunya pulang kembali ke Cina Tiongkok. Namun Di tengah jalan tiba-tiba perahunya meluncur turun ke peretiwi (dunia bawah).

Di sana ternyata disambut gembira penguasa untuk menggantikan neneknya sebagai raja peretiwi. Di peretiwi ia masih memperoleh seorang anak yang kemudian kawin dengan anak We Tenriabeng di langit, yang selanjutnya dikirim ke Luwu untuk menjadi raja di sana.

BACA JUGA :  Si Pengusir Santet yang lagi Populer di Youtube

Akhirnya tibalah saatnya pintu langit ditutup sehingga penguasa yang ada di peretiwi tidak lagi leluasa pulang pergi, dengan ketentuan sewaktu-waktu kelak akan dikirim utusan untuk memperbarui darah mereka sebagai penguasa.

Nah, apa yang bisa kita tarik dari cerita Sawerigading tersebut? Berikut pendapat sudut pandang masing-masing dari sisi mitos, legenda, sejarah, karya sastra, dan nilai budaya.

1. Sawerigading sebagai mitos

Sawerigading sebagai mitos dan legenda cukup beralasan sebab dalam cerita tersebut terdapat ciri-ciri cerita yang berkaitan dengan mitos penciptaan oleh dewa di langit dengan mengirim anaknya Batara Guru dan We Nyili’timo ke bumi. Batara Gurulah yang menciptakan gunung, sungai, hutan dan danau.

Menyusuli kehadirannya di sana muncullah tanaman seperti: ubi, keladi, pisang, tebu, dan lainnya. Kekuatan supernatural yang dimiliki para tokohnya, seperti naik ke langi, turun ke peretiwi, atau menyeberang ke maya atau dunia roh, kemampuannya meredakan angin ribut dan halilintar, kesanggupannya menghidupkan kembali orang mati dalam perang, gambaran tentang berbagai macam upacara, ritus dan aspek budaya lainnya merupakan ciri-ciri cerita mitos yang umum.

2. Sawerigading sebagai legenda

Sawerigading sebagai legenda didasarkan pada benda-benda alam yang dihubungkan dengan tokoh Sawerigading, seperti Bulupoloe di dekat Malili. Dikisahkan sebagai bekas tertimpa pohon Welenreng yang rebah karena ditebang untuk dijadikan perahu oleh Sawerigading.

Contoh lain, misalnya Batu cadas di daerah Cerekang banyak diambil untuk dijadikan batu asah, disebut sebagai kulit bekas tebasan pohon Welenreng itu. Selain itu, di gunung Kandora Tana Toraja terdapat batu yang dianggap penjelmaan We Pinrakati, isteri Sawerigading yang meninggal dalam keadaan hamil yang dijemput oleh Sawerigading di dunia roh.

Setiba kembali di bumi ia melahirkan seorang anak perempuan yang diberi nama Jamallomo. Anak tersebut kemudian menjelma menjadi batu. Gunung batu di daerah Bambapuang Enrekang, yang dari jauh tampak sebagai anjungan perahu, dianggap perahu Sawerigading yang karam dan telah menjadi batu.

Selanjutnya, Gong Nekara yang terdapat di Selayar dianggap gongnya Sawerigading yang selalu dibawa berlayar dan dibunyikan setiap memasuki pelabuhan. Demikian pula kepingan perahu yang terdapat di Bontote’ne dikisahkan dan dianggap perahu Sawerigading.

3. Sawerigading sebagai nilai sejarah

Sawerigading sebagai nilai sejarah yaitu adanya kronik di Bone, Soppeng yang menyatakan bahwa raja pertama mereka adalah Tomanurung yang bersumber dari keturunan Sawerigading.

Demikian pula kaum bangsawan di Sulawesi Selatan, termasuk Luwu, menganggap bahwa La Galigo dan Sawerigading adalah nenek-moyang mereka.

Dalam silsilah raja-raja di Sulawesi Selatan Lontara Panguriseng, di puncak silsilah itu terdapat tokoh-tokoh La Galigo, Sawerigading, Batara Lattu’ dan Batara Guru.

BACA JUGA :  Legenda Kayu Sanrego

Menurut Mills, yang menciptakan silsilah itu raja-raja itu sendiri untuk memperoleh legitimasi magis-religius yang menurut dugaan meniru model-model kronik Jawa. Sebenarnya mereka tidak menyebut tokoh Sawerigading sebagai tokoh sejarah, tetapi mereka mengklaim bahwa tokoh-tokoh itu benar-benar ada, walaupun sebagian besar ceritanya adalah fiksi belaka.

4. Sawerigading sebagai Sastra

Sawerigading dianggap sebagai karya sastra oleh beberapa tokoh antara lain Raffles, Matthes, R.A. Kern, dan lainnya, mengatakan cerita Sawerigading adalah sastra kuno yang dianggap suci oleh Bugis tetapi bukan sejarah. Demikian pula seperti Sure’ Galigo dianggap pedoman hidup dan sastra suci sebelum masuknya Islam di Sulawesi Selatan.

5. Sawerigading sebagai nilai budaya

Sawerigading sebagai nilai budaya antara lain nilai religius, sistem kepercayaan pra-Islam yang menggambarkan dunia gaib dan konsep kejadian manusia. Dalam cerita ini digambarkan bahwa dunia gaib adalah dunia dewa-dewa di langit, di bumi (sebagai Mula Tau) yang keturunan dewa-dewa.

Seiring dengan perkembangan Islam dan agama lain di Luwu, maka nilai religius dari cerita ini lambat laun akan mengalami kepunahan, karena tidak sesuai lagi dengan perkembangan masyarakat. Beberapa kepentingan cerita itu dalam kajian ilmu-ilmu sosial dapat diuraikan sebagai berikut :

1) Nilai sejarah dalam cerita Sawerigading dapat dilihat faktanya dengan adanya silsilah raja-raja di Sulawesi Selatan yang menghubungkan keturunan mereka dari Sawerigading.

Namun fakta sejarah ini perlu mengalami telaah kritis dengan memilah-milah antara fakta sejarah dengan cerita mitos yang telah diselipkan dalam penyusunan silsilah tersebut.

2) Nilai mitos dan legenda sangat dominan dalam mewarnai cerita Sawerigading. Terbukti dengan alur cerita, tokoh cerita tempat dan peristiwa cerita, sesuai dengan ciri-ciri yang dikategorikan cerita mitos dan legenda.

Walaupun cerita ini kurang bernilai sejarah dan lebih dominan bernilai mitos dan legenda, tetapi cerita ini dapat membantu dalam pengungkapan bukti-bukti yang bernilai arkeologis dalam merekonstruksi sejarah kebudayaan Sulawesi Selatan.

3) Semboyan daerah Luwu sebagai bumi Sawerigading, artinya masyarakat Luwu mengidentifikasikan jatidiri mereka dengan seorang tokoh mitologis agar dapat mempunyai implikasi positif. Hal ini mungkin dapat dibandingkan dengan menyebut Irak sebagai bumi Abunawas.

Saat ini banyak yang menggunakan nama Sawerigading sebagai nama suatu bangunan atau sebagai nama suatu yayasan. Misalnya Universitas Sawerigading di Makassar, Rumah Sakit Umum Daerah Sawerigading di Kota Palopo, Yayasan Sawerigading di Kota Jakarta dan masih banyak lagi yang lainnya.

Demikian kisah singkat tentang Sawerigading yang turut andil memperkaya khazanah budaya masyarakat Sulawesi Selatan dan cerita-cerita seperti ini masih banyak hidup di tengah masyarakat nusantara.

Referensi :

1. The I La Galigo Epic Cycle of South Celebes and its diffusion.
2. Dari berbagai sumber