Mitos dalam suku Bugis

Mitos adalah kisah berlatar masa lampau, mengandung penafsiran tentang alam semesta seperti penciptaan dunia dan keberadaan makhluk di dalamnya, serta dianggap benar-benar terjadi oleh yang empunya cerita atau penganutnya. Dalam pengertian yang lebih luas, mitos dapat mengacu kepada cerita tradisional.

Pada umumnya mitos menceritakan terjadinya alam semesta dan bentuk topografi, keadaan dunia dan para makhluk penghuninya, deskripsi tentang para makhluk mitologis, dan sebagainya.

Mitos dapat timbul sebagai catatan peristiwa sejarah yang terlalu dilebih-lebihkan, sebagai alegori atau personifikasi bagi fenomena alam, atau sebagai suatu penjelasan tentang ritual. Mitos disebarkan untuk menyampaikan pengalaman religius untuk membentuk model sifat-sifat tertentu, dan sebagai bahan ajaran dalam suatu komunitas.

Mitos dalam kehidupan masyarakat Bugis dikelompokkan dalam empat kategori, yakni :

1 Mitos penciptaan semesta dan dunia, yang meliputi fenomena kosmik (bencana alam), cuaca (bulan berpayung), binatang dan peternakan, penangkapan ikan dan berburu, tanam-tanaman dan pertanian.

2. Mitos tentang alam gaib, yang meliputi dewa-dewa roh, kekuatan sakti, makhluk gaib, dan alam gaib.

3. Mitos sekitar lingkaran kehidupan, meliputi lahir, masa bayi, masa kanak-kanak, tubuh manusia, rumah dan pekerjaan rumah, mata pencaharian dan hubungan sosial, perjalanan perhubungan, cinta pacaran, menikah, kematian, dat pemakaman, dan lain-lain.

4. Mitos seputar kesaktian, yang meliputi kekebalan, dukun, pengobatan tradiosional, dan lainnya.

Dalam gambaran mitologi tersebut, orang Bugis menggambarkan dunia dan isinya menjadi empat macam citra, yaitu :

(1) Lino (dunia nyata)
(2) Bajo-bajo/Wajo-ajo (dunia bayangan)
(3) Makare’ (dunia gaib/keramat), dan
(4) Mallinrung (dunia maya).

Citra dunia nyata (lino) dibagi pula ke dalam 4 macam, yaitu :
1. Bottillangi (dunia atas, langit, bitara) dengan segala isinya yang dijaga oleh dewata langit yang disimbolkan sebagai kepala (ulu) manusia.
2. Alekkawa (dunia tengah, permukaan bumi) yang dijaga oleh dewata to Mallinoe (membumi) dan dilambangkan sebagai dada manusia.
3. Peretiwi (dunia bawah, dasar bumi) yang dijaga oleh dewata-dewata tanah dan dilambangkan sebagai perut dan pantat manusia.
4. Buriliu (dunia air, dasar samudra, muara air dan dilambangkan sebagai kaki tangan manusia)

Citra dunia bayangan (wajo-ajo) merupakan duplikat dari dunia nyata. Setiap unsur alam nyata memiliki bayangan sebagai zat yang halus selalu mengikuti aslinya. Dunia tersebut bukan dunia fiksi atau imajinasi, tetapi bisa tampak nyata bagi orang yang telah mencapai tahap terawang.

Citra alam gaib (makare’/ keramat) yang di dalamnnya bersemayam berbagai makhluk dan kekuatan-kekuatan sakti, manusia turunan dewa (tomanurung) , dewa-dewa dan tuhan, citra alam gaib ini direpresentasikan dengan puncak gunung atau pohon besar dan benda-benda pusaka yang bertua. Tempat dan benda benda tersebut merupakan tempat bersemayamnya mahluk halus, karena itu dipandang sebagai tempat atau benda yang keramat.

Citra dunia maya (mallinrung) adalah dunia di luar jangkauan panca indera manusia, suatu dunia di luar batas akalnya. Orang Bugis menyebut dunia maya ini dengan sebutan Pammasareng, yaitu alam roh (banampati) tempat bermukimnya leluhur (turioloe) dan mahluk halus (tenrita).

Berikut beberapa mitos ‘pamali’ yang ada dalam kehidupan masyarakat Bugis adalah :

1. dilarang tidur dengan tangan menyilang di wajah (kening), katanya nanti sial.
2. dilarang duduk berselonjor dengan ujung kaki saling silang, juga menghindari sial.
3. dilarang menyapu kotoran ke luar rumah jika sudah malam, nanti rejeki kita ikut terbuang.
4. menyimpan sapu tepat dibelakang pintu dgn posisi terbalik.
5. tidak menjual peniti, silet, dan benda-benda besi yang tajam lainnya di malam hari.
6. membakar sabut kelapa di gerabah kecil setiap malam jumat.
7. gadis bugis tidak boleh sekolah tinggi
gadis bugis harus di rumah untuk belajar memasak dan menjahit.
8. gadis bugis yang ke luar rumah citranya buruk.
9. gadis bugis harus di rumah memakai bedak basah.
10. gadis bugis tidak boleh pacaran
11. gadis bugis umur belasan sudah dipaksa untuk menikah.
12 gadis bugis harus menikah dengan sesama keluarga kalaupun tidak harus sesama suku karena itu banyak keturunan bugis yang lahir kelainan genetik.
13. gadis bugis kelak harus selalu tunduk kepada suami meskipun kekerasan dalam rumah tangga terjadi.
14. gadis bugis dirumah slalu dibiasakan pakai daster dan sarung.

Dalam kehidupan masyarakat Bugis senantiasa memandang alam dan isinya misalnya tumbuhan sebagai mitra yang tak terpisahkan. Hal itu diwujudkan dalam simbol-simbol, di antaranya :

. Daun sirih simbol harga diri
• Daun sarikaja simbol kekayaan
• Daun waru simbol kesuburan
• Daun tebu simbol kenikmatan
• Daun ta’baliang simbol penangkis bala
• Bunga cabbéru simbol keceriaan
• Daun cangadori simbol penonjolan
• Maja alosi atau mayang pinang

Mitos-mitos di atas sampai saat ini sebagian besar masih dipraktikkan dalam kehidupan masyarakat Bugis. Meskipun mitos namun berbagai larangan tersebut mempunyai makna tersendiri dalam kehidupan sosial Bugis.

N1
loading...