MERDEKA adalah sebuah kata bak peluru meriam menyasar terbang mengangkasa lalu jatuh ke bumi seperti meteorid. Dengan terjangnya, peluru merdeka itu membentuk lubang menganga di Nusantara hingga hari ini.

Merdeka atau Mati sapaan indah masa kini, tetapi menjadi tutur mematikan bagi para kesumah bangsa dalam upaya merebut dan mempertahankan nilai-nilai luhur kemerdekaan dari belenggu tiga ratus lima puluh tahun.

Tidak hanya itu, setelah berhasil lepas dari belenggu kincir angin, tidak berarti para passiuno (laskar berani mati) itu sudah bisa duduk melenggang menikmati waktu bersama keluarga di gubuknya yang reot.

Akan tetapi, para pejuang yang tersisa itu kembali berhadapan bencana baru, dengan hadirnya “samurai tak bermata” dari negeri terbit matahari. Meskipun ia hanya tiga setengah tahun mencengkeram, namun mampu meluluhlantakkan sendi-sendi kehidupan bangsa Indonesia. Perjuangan pun … Belum Selesai ….

SUNGGUH tak terasa, tanggal 17 Agustus tahun 2019 ini bangsa Indonesia merayakan hari kemerdekaan untuk ke-74 kalinya. Semarak itu ditandai dengan kibaran merah putih mulai dari pelosok desa hingga pelosok kota. Tak ketinggalan berbagai kegiatan atraksi dan pertunjukan pun sontak mewarnai semangat NKRI.

BETUL, kehidupan rakyat  memang mulai mengalami perubahan sejak kumandang proklamasi. Berangsur sedikit demi sedikit berkurangnya diskriminasi di semua lini kehidupan.

Katanya seluruh rakyat mendapatkan hak dan kewajiban yang sama pula. Bumi dan air NKRI adalah milik bangsa dan harus dipergunakan dan dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk kesejahteraan hidup seluruh rakyat Indonesia.

Alhasil kata orang, semua itu bagai angin syurga yang diimpikan para pendiri republik ini. Yang berjalan dalam praktik selama ini justru sebaliknya. Selain karena terlalu lama dibelenggu, juga karena sistem sosial budaya yang dimiliki bangsa ini yang dominan adalah feodalistik, hierarkis-vertikal, sentripetal, etatik, nepotik, dan bahkan despotik. Cerita ini pun masih akan mewarnai syair dan lirik perjalanan hidup bangsa Indonesia ke depan … entah kapan berakhir.

BACA JUGA :  Kajian, Benarkah Raja Bone Pertama Bernama La Ubbi ?

Setiap tahun peringatan proklamasi kemerdekaan disertai semangat riuh rendah itu, belum memberikan kesan yang sangat berarti untuk cita-cita kemerdekaan Indonesia. Peringatan kemerdekaan itu tampaknya masih didominasi kata “seremonial” belaka.

Seiring hari-hari berlalu bangsa dan negara ini belum bisa membasuh darah dan air mata para pahlawan, cita dan harapannya masih seperti tulang-tulangnya yang berserakan di jantung pertiwi. Generasinya belum menemukan hakikat dan nilai sebuah perjuangan.

Hal itu ditandai belum mampu-nya melahirkan kebijakan-kebijakan yang sifatnya fundamental yang mengarah pada kesejahteraan rakyat, bangsa, dan negara. Bahkan masih merujuk pada kapitalisme, yang tragisnya hukum kita pun masih didominasi oleh hukum-hukum kolonial. Akibatnya kemiskinan menjadi ‘penyakit tumor’ umum rakyat.

Tak heran kalau masih ada terdengar prosa-prosa sinis yang mengatakan:

” Negara pun gagal membebaskan rakyatnya dari sebuah belenggu, yaitu amoral, kebodohan, dan rasa aman, di mana kriminalitas menjadi menu harian rakyat negeri ini. Bukan hanya tak aman dari sesama, rakyat pun tak aman dari penguasa kita sendiri”

Sebagai pemerintah dan warga negara yang baik prosa sinis di atas tidak harus membuat kita terpana lalu bersungut, sejatinya untuk menyikapi kondisi seperti itu menjadi bahan introspeksi bagi kita semua untuk memikirkan jalan yang terbaik.

MEMANG, untuk mendapatkan sebuah “solusi” dibutuhkan “Revolusi  Pemikiran Tajam” dengan pelibatan seluruh komponen. Apabila seluruh pihak berperan, baik kalangan akademis, politik, ekonomi, maupun sosial kemasyarakatan, niscaya akan melahirkan ” the best solution”.

Dengan perayaaan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan setiap tahun memberikan persepsi “kita sudah merdeka” dan itu patut kita syukuri, namun akan sia-sia belaka apabila kemerdekaan itu belum diperoleh secara penuh. Bahkan disinyalir munculnya penjajahan gaya baru.

BACA JUGA :  Pengaruh Globalisasi Terhadap Eksistensi Kebudayaan Daerah

Di tengah suasana perayaan kemerdekaan bangsa ini, tentu layak kita bertanya : Apa sebetulnya kemerdekaan yang hakiki itu? Betulkah kita telah benar-benar merdeka? Betulkah kita telah sungguh-sungguh terbebas dari segala bentuk penjajahan? Dan kapan semua itu bisa terjawab?

Imperialisme pada hakikatnya adalah politik suatu bangsa atau negara untuk menguasai bangsa atau negara lain demi kepentingan pihak yang menguasai. Di mana dalam kondisi seperti Indonesia adalah bekas tanah kolonial dan Belanda sebagai pihak imprealis.

Sementara itu, hakikat penjajahan tak lain sebagai bentuk perampasan hak asasi dan perbudakan. Di mana terjadi serangkaian ekpsloitasi satu pihak atas pihak lain secara zalim dan mengenaskan.

Apabila kita melirik sejarah, penjajahan gaya lama dilakukan dengan menggunakan kekuatan militer. Mengambil alih dan menduduki satu negara atau wilayah serta membentuk pemerintahan kolonial di negara atau wilayah jajahan.

Cara ini secara umum sudah lama ditinggalkan. Sebab penjajahan secara militer ini mudah membangkitkan perlawanan dari penduduk negeri yang dijajah. Karena mereka secara nyata merasakan langsung penindasan dan pengeksploitasian atas diri mereka, negeri mereka, dan sumber daya mereka seperti halnya Nusantara di masa lalu.

Namun dari  itu kaum penjajah kemudian menempuh gaya penjajahan baru. Penjajahan seperti ini berjalan senyap dan tak mudah dirasakan oleh pihak terjajah. Di mana penjajahan seperti ini berinfiltrasi/menyusup dalam bentuk kontrol atas berbagai kebijakan, baik ekonomi, politik, sosial, budaya, hukum dan bahkan agama di negeri yang dijajah. Tujuannya tetap sama mengambil kekayaan negeri terjajah demi kesejahteraan dan kemakmuran kaum penjajah.

Dengan demikian penjajahan Gaya Baru sama berbahayanya dengan penjajahan Gaya Lama. Bahkan boleh jadi lebih berbahaya, sebab dengan penjajahan gaya baru bersifat senyap dan masif, pihak terjajah sering tak merasa sedang dijajah.

BACA JUGA :  Indonesia dalam Ancaman Globalisasi

Meskipun demikian kita semua berharap semoga guyonan-guyonan tersebut di atas bisa menjadi cambuk dan penyemangat anak bangsa untuk lebih berpikir cerdas disertai tindakan nyata untuk bersama-sama membangun negeri ini, NKRI Bisa dan Bisa!!!

Perjuangan itu tak pernah berakhir … MARI bergandeng tangan menjalin persatuan dan kesatuan, serta tidak saling menghianati, menjaga negeri ini, mengisi kemerdekaan dengan melakukan hal-hal positif yang lahir dari pemikiran cerdas, berdaya guna, disertai asas manfaat untuk bangsa, negara, dan agama.

Merdeka! Merdeka! Merdeka! Sumange’ Teallara! Teguh dalam Keyakinan Kukuh dalam Kebersamaan.

Dr.Andi Maryam, S.K.M., S.S.T., M.Kes.