Bahasa bugis mempunyai kosakata yang cukup banyak. Kosakata tersebut dituturkan dengan berbagai dialek, idiolek, logat, dan sosiolek. Bahkan ada di antara kosakata bugis itu yang sifatnya ambigu, di mana mempunyai arti ganda, tidak jelas dan membingungkan sehingga meragukan atau sama sekali tidak dipahami orang lain. Karena ketidakjelasannya bahkan kelompok penuturnya pun menjadi bingung.

Penyebab ambigu itu sendiri di antaranya struktur kalimat yang tidak tepat, serta pemakaian kalimat yang tidak tepat. Sebelum kita membahas dan mengurai terminologi bugis ” Seppa’ Sikadong terlebih dahulu kita cermati pengertian dialek, idiolek, logat, dan sosiolek.

DIALEK adalah ragam bahasa dari sekelompok penutur yang jumlahnya relatif yang berada pada suatu tempat, wilayah, atau daerah tertentu. Meskipun memiliki Idiolek masing-masing, para penutur dalam suatu wilayah tertentu memiliki ciri khas tersendiri yang membedakannya dengan penutur lainnya.

LOGAT adalah cara mengucapkan kata (aksen) atau lekuk lidah yang khas, yang dimiliki oleh masing-masing orang sesuai dengan asal daerah ataupun suku bangsa. Logat dapat mengidentifikasi lokasi di mana pembicara berada, status sosial-ekonomi, dan lain lainnya.

IDIOLEK adalah ragam bahasa yang unik pada seorang individu. Hal ini diwujudkan dengan pola pilihan kosakata atau idiom (leksikon individu), tata bahasa, atau pelafalan yang unik pada setiap orang.

Sementara SOSIOLEK dari sosial dan dialek adalah ragam bahasa yang terkait dengan suatu kelompok sosial tertentu. Sosiolek terjadi pada berbagai kelompok masyarakat menurut kelas sosial, usia, serta pekerjaan.

Nah, apakah itu Seppa’ Sikadong ?

Seppa Sikadong adalah salah satu ragam kosakata bugis yang jarang digunakan dalam komunikasi sehari-hari. Namun istilah ini hanya digunakan pada konteks tertentu seperti pada benda tajam (badik/kawali) dengan pengucapan sedikit berbeda yakni sippa rikadong.

BACA JUGA :  Gender dan Bugis

Yang membedakan keduanya adalah huruf (i) yakni Seppa – Sippa. Perbedaan itu disebabkan selain huruf lontara bugis tidak mempunyai konsonan juga karena faktor logat atau aksen. Jadi sedikit saja salah mengucapkan kata maka maknanya bisa berbeda.

Misalnya :
Seppa’ = memasukkan barang ke tempat / lubang terdalam tidak bisa lagi didorong masuk. Contohnya, memasukkan badik pada sarungnya dengan pas. Hanya bisa ditarik tapi tidak dapat didorong lagi kelebih dalam.

Seppa = terkoyak bagian tengah, sisi pinggir yang terkoyak tidak bersatu tetapi sisi lainnya tetap terhubung.

Sippa = merupakan alur retakan.

Sikadong = saling menerima, baku cocok, keduanya saling mengangguk tanda setuju.

Sippa sikadong = adalah retakan pada tengah bilah Badik/kawali dari punggung Badik/kawali. Jenis pamor badik seperti ini selain bernilai seni juga tergolong cukup langkah, tuahnya dipercaya cocok untuk kerezekian dan memudahkan segala urusan.

Dilihat dari maknanya seperti tersebut di atas, seppa’ – seppa – dan sippa, ketiganya menjadi kata simbolik bertuah. Sebab dari terpisah menjadi bersatu, meski robek, terkoyak namun tidak terpisah, pertemuan kedua belah pihak menghasilkan sesuatu yang pas-pas.

Seperti diketahui, Badik/kawali bagi masyarakat bugis mempunyai kedudukan yang tinggi. Tidak hanya berfungsi sekadar sebagai senjata tikam, melainkan juga melambangkan status, pribadi, dan karakter pembawanya.

Kebiasaan Mattappi atau membawa Badik/kawali di kalangan masyarakat terutama suku bugis merupakan pemandangan yang lazim ditemui sampai saat ini terutama di Bone. Dahulu, di Bone manakala ada orang bepergian dengan tidak membawa badik (mattappi) dianggap sebagai orang sombong.

Kebiasaan tersebut bukanlah mencerminkan bahwa suku bugis adalah masyarakat yang gemar berperang atau suka mencari keributan melainkan lebih menekankan pada makna simbolik yang terdapat pada Badik/kawali tersebut. Meskipun demikian kalau dipermalukan terutama menyangkut harga diri, ia akan terbangun dan mengajak “siakatenning jari” atau duel. Ketika itu, tidak ada jalan lain selain cappa kawali / ujung badik yang bicara.

BACA JUGA :  Sosok Pemimpin Penipu Rakyat Menurut Kajao Lalliddong

Pentingnya kedudukan Badik/kawali di kalangan masyarakat bugis dan makassar membuat masyarakat berusaha membuat/mendapatkan badik yang istimewa baik dari segi pembuatan, bahan baku, pamor maupun tuah yang dipercaya dapat memberikan energi positif bagi siapa saja yang memiliki atau membawanya.

Jadi makna yang terkandung dalam terminologi bugis ” Seppa’ Sikadong ” antara lain :
1. sesuatu yang mengarah kesempurnaan
2. Sesuatu yang memiliki keseimbangan/keselarasan
3. Sesuatu yang saling menerima
4. Sesuatu yang terpisah dalam
kesatuan
5. Sesuatu yang dilakukan dengan bijak
6. Sesuatu yang menjadi ciri dan identitas
7. Sesuatu yang simbolik/pelambang
8. Sesuatu yang bernilai tuah bagi yang mempercayainya.
9. Dll.