Sebelum Islam menyebar, masyarakat Sulawesi Selatan menganut Animisme dan Dinamisme. Namun sebelum lanjut lebih jauh lebih dahulu kita ketahui arti Animisme dan Dinamisme.

Dinamisme adalah kepercayaan pada kekuatan gaib yang misterius. Adalah kekuatan gaib yang dipercayai terdapat pada benda-benda srperti keris, badik, patung, pohon, gunung, laut, dan sejenisnya. Dinamisme berasal dari kata Yunani “dynamis atau dynaomos” yang artinya kekuatan atau tenaga.

Sementara Animisme adalah kepercayaan yang mengajarkan bahwa tiap-tiap benda, baik yang beryawa maupun tidak bernyawa mempunyai roh. Animisme dianggap sebagai asas agama, karena mengarah dan berkaitan dengan penguasa alam yang berhubungan dengan sang pencipta (Tuhan).

Dengan demikian tujuan dalam menganut Animisme adalah untuk mengadakan hubungan baik dengan roh-roh yang ditakuti dan dihormati itu dengan senantiasa berusaha menyenangkan hati mereka.

Selain kepercayaan Dinamisme dan Animisme, ada juga yang disebut kepercayaan yang menganut Politeisme dan Monotheisme.

Politeisme adalah kepercayaan kepada dewa-dewa. Biasanya penganut kepercayaan politeisme bukan hanya memberi sesajen atau persembahan kepada dewa-dewa itu, tetapi juga menyembah dan berdoa kepada mereka untuk menjauhkan amarahnya dari masyarakat yang bersangkutan.

Sedangkan Monotheisme adalah faham yang meyakini, bahwa Tuhan itu tunggal, satu, dan personal, yang sangat ketat menjaga jarak dengan ciptaan-Nya.

Baik kita lanjut ke laptop, mengupas “Tradisi Melepas Ayam”. Masyarakat Sulawesi Selatan sebelum memeluk agama Islam, telah menganut kepercayaan Dinamisme dan Animisme. Kedua kepecayaan itu dalam bahasa Bugis biasa disebut “Pattoriolong” artinya kepercayaan warisan orang terdahulu.

Kepercayaan “patturioloang” (Animisme dan dinamisme) ini yang konon kabarnya, di mana kepercayaan, ritual, dan tata hidup bermasyarakat itu dibuat oleh “to manurung”, yaitu mempercayai kekuatan-kekuatan atau roh-roh yang menghuni tempat-tempat keramat yang memberi pengaruh bagi kehidupan masyarakat.

BACA JUGA :  We Oddang Riu, Gadis Cantik dari Kayangan

Salah satu bentuk pemujaan yang dilakukan adalah mempersembahkan tumbal atau sesajen berupa seekor ayam dengan tujuan sebagai jaminan keamanan dan kesembuhan.

Barangkali pembaca sudah biasa menyaksikan orang melepas ayam di tempat keramat, misalnya di depan rumah ada pohon besar yang dikeramatkan, lalu mereka melepas ayam sebagai tumbal atau persembahan. Mereka berharap agar penyakit yang diderita bisa sembuh.

Setelah komat-kamit dan mata sayup dengan secangkir air, sang dukun lalu bilang ” oh engka ta witae attoriolotta de naengka ta simpa-simpai iya monroe ri …” artinya oh ada saya lihat leluhurnya dan tidak pernah kita kunjungi dan sudah dilupakan, karenanya ia datang mengganggu yang ada di …

Lalu si pasien menjawab, oh iyye, pegani monro lamarupe, agana pale ripegau, makkuaniro nasaba idi ana’ rimunrie de na riisseng kasi’na. Artinya Oh iya dimana sekarang itu tinggalnya yang kuasa, apa yang bisa kulakukan, itulah karena kita ini sebagai anak belakangan, kita tidak tahu kasihan.

Dukun melanjutkan : de to wita nabela onrongna, engkaga pong loppo ri dare’ ta? tanya si dukun. Artinya saya lihat tidak terlalu jauh, apa ada pohon besar di kebunnya?

Lalu mengingat-ingat, si pasien menjawab: engka memeng tu, pong ajuara. Artinya memang ada itu pohon beringin.

Lanjut pak Dukun: passadia ki seddi manu’ lai sibawa komba’ inappa paleppasangengngi. Artinya sediakan saja ayam satu jantan dan satu betina kemudian lepaskan.

Itulah salah satu contoh yang dilakukan masyarakat Sulawesi Selatan pada umumnya sebelum menganut Agama Islam. Sebenarnya masih banyak contoh lainnya.

Banyak umat Islam yang bersifat jahiliyah keras kepala, bila diingatkan bahwa tidak baik melakukan persembahan tumbal ayam karena itu syirik, merekapun menjawab “urusi dirimu sendiri, karena ini warisan leluhurku, hanya adat, yang penting niat saya hanya kepada Allah.

BACA JUGA :  Bone Tuan Rumah Festival Sempugi 2018

Menurut para ulama, persembahan sesajen atau tumbal ayam adalah satu bentuk kesyirikan, karena:
1. Mempersembahkan tumbal ayam kepada jin setan yang menguasai tempat itu, berarti itu sudah termasuk pemujaan atau penyembahan terhadap jin setan tersebut. Persembahan ini biasanya dilakukan untuk mendapatkan kesembuhan dari penyakit yang kata dukun penyesat disebabkan oleh amarah penguasa penguasa tempat keramat tersebut.

2. Melepas ayam saat mendirikan rumah atau saat memasang kerangka rumah adalah persembahan tumbal kepada pattana kampong (penguasa kampung) agar memberi berkah pada rumah, melindunginya dari keburukan atau tidak memngganggu pembangunan rumah dan pemiliknya, biasanya yang dilepas adalah manu’ lai (ayam jantan).

Kemudia ayam yang telah dilepas tidak boleh lagi diambil oleh keluarga yang melepas tetapi boleh diambil oleh orang lain.

Ulama telah mensyiarkan, bahwa mempersembahkan sesajen atau tumbal melepas ayam kepada sesuatu yang kita takuti adalah termasuk perbuatan syirik.

Syirik adalah dosa besar yang tidak terampuni Allah (QS. An Nisaa:46), bisa menghapus pahala kita (QS. Az Zumar:65), dan termasuk melakukan kezaliman yang besar (QS. Luqman:13), yang dapat mengantar kita ke dalam neraka Jahanam (QS. Al Bayyinah:6).

Allah berpesan, “Janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku agar Aku sempurnakan nikmat-Ku kepadamu dan agar kamu mendapat petunjuk” (QS. Al Baqarah:150).

Jangankan seekor ayam dipersembahkan, seekor lalatpun yang dipersembahkan bisa menyeret kita ke neraka,

Dalam sebuah kisah yang diceritakan Rasulullah tentang dua orang lelaki yang hendak melewati sesuatu tempat keramat, setiap yang melewati tempat ini harus mempersembahkan tumbal kalau mau selamat.

Lelaki pertama tidak membawa apa-apa untuk dipersembahkan maka diapun mengambil seekor nyamut untuk dipersembahkan maka selamatlah ia tetapi masuk neraka, sedangkan lelaki kedua menolak mempersembahkan sesuatu apapun maka ia dibunuh tetapi masuk surga (HR. Ahmad).

BACA JUGA :  Pemmali, Larangan Sosial Bugis

Jadi bukan dari bendanya yang dipersembahkan sehingga disebut syirik melainkan:

1. Keyakinan kita bahwa di tempat itu ada kekuatan yang bisa mendatangkan kebaikan dan keburukan bagi manusia.

2. Kesediaan memberikan sesuatu padanya sebagai wujud pemghormatan kepadanya, dan

3. Persembahan itu dilakukan untuk mengaharap kebaikan dan perlindungan dari keburukannya.

Di setiap kesempatan para ulama menyampaikan, jauhilah persembahan tumbal kepada makhluk-makhluk gaib karena itu hanyalah tipu daya setan, bertaubatlah kepada Allah, sesungguhnya Allah penerima taubat, yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
Bila kita telah bertaubat maka Allah akan melindungi kita dari kejahatan-kejahatan setan, baik dari manusia maupun dari bangsa jin.

Namun semua itu tergantung dan terpulang kepafa para pembaca, sekali lagi kami hanya mengabarkan Anda yang menentukan.