Bangsa Indonesia adalah bangsa yang kaya dengan budaya, salah satu tradisi persembahan tumbal atau sesajen ke penguasa tempat tertentu seperti penguasa laut, penguasa gunung, penghuni kuburan keramat, dan lain-lainnya.

Para pelaku sesajen biasanya tidak menerima apabila dikatakan bahwa ritual yang seperti termasuk menyembah berhala atau menyembah jin, ataupun setan, karena menurutnya itu hanyalah ungkapan rasa syukur kepada Allah yang telah melimpahkan rezki di darat maupun di laut.

Beberapa tokoh agamapun membenarkan ritual-ritual persembahan tumbal dan sesajen itu, sehingga para pelaku memandang bahwa ritualnya itu adalah suatu kebaikan dalam agama Islam.

Allah memerintahkan kepada manusia untuk menyembah kepada-Nya (baca QS. Al Baqarah:21), karena tujuan penciptaan manusia memang hanya untuk menyembah kepada Allah (baca QS. Adz Dzariyat:56), yaitu melakukan ibadah dengan mengikuti syariat yang telah diturunkan Allah (baca QS. Al Jatsiyah:18).

Beberapa unsur yang terkandung dalam menyembah kepada Allah, yaitu:
1. Mengagungkan Allah, yaitu meyakini kebesaran Allah sebagai satu-satunya Tuhan yang mencipta, memelihara dan mengatur, yang mampu mendatangkan segala-galanya bagi manusia.
2. Melakukan ketaatan kepada Allah melalui pelaksanaan ibadah yang telah disyariatkan sebagai wujud pengakuan sebagai hamba.
3. Menyeru Allah, yaitu memuji-memuji, meminta berkah, kebaikan, kesembuhan, pertolongan pada-Nya atau perlindungan dari keburukan, menyerahkan urusan kepada Allah (bertakwa), atau bernazar kepada Allah.

Apabila ketiga unsur di atas kita lakukan kepada selain Allah, maka berarti kita telah menyembah berhala, karena hakikat berhala adalah segala sesuatu yang diseru selain Allah.

Adapun wujud menyembahnya adalah:
1. Mengagungkannya dengan keyakinan bahwa yang diberi tumbal atau sesajen ini memiliki kekuatan untuk mendatangkan kebaikan dan keburukan.
2. Melakukan ketaatan kepada yang diagungkan itu, antara lain pesta adat persembahan tumbal, ritual persembahan tumbal.
3. Menyebut-nyebut namanya dalam niat persembahan tumbal/sesajen,dilakukan di tempat yang diyakini bisa sampai tumbal/sesajen itu kepada yang diseru dan mengharap dari kegiatan ini berkah atau terlindung dari keburukan.

BACA JUGA :  Pernyataan Kajao Lalliddong terbukti sekarang ini

Bila memenuhi ketiga unsur di atas, maka walaupun niatnya cuma syukuran, tidak ada niat mempersekutukan Allah, istilahnya bukan menyembah, atau doanya hanya kepada Allah, namun karena persembahan tumbal atau sesajen itulah yang menunjukkan adalah kesyirikan di dalamnya, yaitu melakukan amalan yang tidak disyariatkan kepada sesuatu selain Allah. Karena tumbal dan sesajen itu adalah makanan favorit bangsa jin golongan setan yang bisa membuatnya semakin kuat, semakin kebal dan semakin sakti.

Persembahan atau Sesajen

Kalau alasannya syukuran kepada Allah, maka tidak perlu diungkapkan melalui tumbal atau sesajen karena Allah tidak butuh tumbal dan sesajen, yang diinginkan Allah hanyalah keikhlasan kita untuk menyembelih hewan kurban pada waktu yang disyariatkan.

Kalau alasannya sebagai sedekah kepada makhluk gaib karena mereka juga makhluk Allah, maka itupun tidak boleh, karena kita tidak diperintahkan bersedekah kepada makhluk gaib, yang diperintahkan adalah bersedekah kepada makhluk yang nyata seperti manusia, binatang yang butuh makanan dari manusia. Kalau sedekah untuk manusia maka tidak perlu pakai ritual-rutual perdupaan langsung saja berikan kepada mereka untuk menikmatinya.

Kalau alasannya untuk melestarikan budaya semata, maka itu boleh asalkan tidak ada dalil yang melarangnya. Tetapi persembahan tumbal dan sesajen itu termasuk menyeru dan berkurban kepada selain Allah maka banyak dalil yang melarangnya, makanya haram dilakukan dan amat berbahaya bila dilakukan karena bisa menghapus segala pahala ibadah kita (simak QS. Az Zumaar:65), termasuk dosa besar yang tidak terampuni (baca QS. An Nisaa:48), dan bisa menyeret kita kedalam neraka Jahanam (baca QS. Al Bayyinah:6).

Akhirnya, kami hanya mengabarkan, Anda yang menentukan. Namun yang pasti Allah sebaik-baik penolong.