Kayu Sepang dalam bahas Bugis disebut ” aju seppang. Disebut seppang karena warnanya coklat kemerahan. Bagi orang Bugis kayu seppang bukan barang baru, sejak dahulu nenek moyang Bugis sudah mengenal barang super khasiat ini.

Kayu seppang banyak tumbuh di emper bukit dan semak-semak serta menjadi pembatas tanah ladang kebun warga di pedalaman Bugis sampai sekarang. Kayu seppang termasuk tumbuhan perdu, yaitu tumbuhan berkayu yang bercabang-cabang, tumbuh rendah dekat dengan permukaan tanah, dan tidak mempunyai batang yang tegak. Tingginya bisa mencapai antara 3-5 meter.

Tanaman seppang termasuk jenis pohon berduri dengan daun yang berukuran kecil. Buahnya mirip petai cina yang berwarna kehijauan, tapi buah seppang akan berubah warna menjadi merah kecoklatan ketika matang. Selain itu, terdapat bunga berwarna kuning atau oranye di puncaknya..

Kayu seppang umumnya digunakan sebagai minuman penyegar dan kulitnya bisa dibuat rempah untuk obat tradisi. Kayu seppang yang sudah matang dikeringkan kemudian dimasukkan barang sepotong dua potong di dalam gumbang kecil atau teko berisi air yang sudah dimasak. Tunggu 3-5 menit air dalam teko berangsur menjadi kemerahan / kuning oranye

Air berwarna merah itu Orang Bugis menyebut “wae seppang”. Apabila diminum rasanya hambar tapi kalau sudah bermalam rasanya menjadi gurih. Karena itu, apabila ingin membuat “wae seppang” yang baik maka carilah kayu seppang yang sudah matang/tidak terlalu tua.

Menurut cerita orang tua, salah seorang Raja Bone yang paling gemar minum “wae seppang” adalah La Maddaremmeng. Ketika ia berkeliling melakukan syiar Islam selalu membawa teko yang berisi air seppang. Minum air seppang bisa bertahan lama tidak cepat kehausan.

Air seppang juga sangat baik untuk berbuka puasa begitu pula saat makan sahur akhiri dengan minuman “wae seppang” insya Allah tidak merasa kehausan di siang hari. Hal ini penulis sudah membuktikannya.

Wae seppang memang banyak khasiatnya digunakan sebagai obat tradisional untuk batuk, disentri, diare, luka dalam, batuk berdarah, darah kotor, penyakit kelamin/spilis, buang air besar berdarah, muntah darah, memar berdarah, luka berdarah, tetanus, malaria, dan tumor, dan lainnya.

Rasa “wae seppang” cukup menyegarkan sehingga rempah yang satu ini menjadi minuman favorit juga bagi “pengantin baru” tempo lalu . Selain sebagai minuman, juga digunakan sebagai pewarna alami untuk makanan karena kulit kayu seppang bisa memberikan warna merah.

N1
loading...