Kalender yang biasa juga disebut tarikh, almanak atau penanggalan adalah merupakan sebuah sistem untuk memberi nama pada sebuah periode waktu. Nama-nama ini dikenal sebagai tanggal kalender. Tanggal ini bisa didasarkan dari gerakan-gerakan benda angkasa seperti matahari dan bulan.

Ada beberapa jenis Kalender yang digunakan secara umum ialah kalender solar, kalender lunar, kalender lunisolar, dan kalender persetujuan. Yang dimaksud masing-masing adalah :

1. Kalender Lunar adalah kalender yang disesuaikan dengan pergerakan Bulan (fase bulan); contohnya ialah Hijriah.

2. Kalender Solar adalah kalender yang di dasarkan dari musim dan pergerakan Matahari. Contohnya ialah Kalender Persia, dan Kalender Romawi.

3. Kalender Lunisolar adalah kalender yang disesuaikan dengan pergerakan bulan dan matahari, seperti Kalender Bali, Kalender Yahudi, dan Kalender Tionghoa sebagai contohnya.

4. Kalender Persetujuan adalah Kalender yang tidak disesuaikan dengan Bulan dan Matahari, contohnya adalah hari dan minggu Julian yang digunakan oleh pakar bintang.

Ada juga kalender yang tampaknya disesuaikan dengan pergerakan Venus, seperti beberapa Kalender Mesir Kuno. Kalender ini juga sering dipakai diperadaban dekat khatulistiwa.

Nah, selain yang tertulis di atas ada juga yang disebut Kalender Bugis. Biasanya kalender ini digunakan untuk menentukan hari baik atau hari buruk dalam penyelenggaraan suatu upacara adat.

Kalender Bugis adalah merupakan kalender yang digunakan oleh Suku Bugis di daerah Sulawesi Selatan. Selain digunakan oleh Suku Bugis, beberapa bagian kalender ini juga digunakan oleh Suku Makassar. Kalender Bugis termasuk dalam kalender matahari di mana dalam satu tahun terdiri dari 365 hari.

Selain menggunakan sistem tujuh hari dalam satu pekan, Suku Bugis dan Suku Makassar juga mengenal adanya sistem dua puluh hari dalam satu pekan. Seperti sudah diutarakan sebelumnya, bahwa sistem tersebut untuk menentukan hari baik atau hari buruk dalam penyelenggaraan suatu upacara adat dan kegiatan lainnya.

BACA JUGA :  Pemmali, Larangan Sosial Bugis

Adapun yang dimaksud Dua Puluh Hari tersebut yaitu :
Pong,
Pang,
Lumawa,
Wajing,
Wunga-Wunga,
Telettu’,
Anga,
Webbo,
Wagé,
Ceppa,
Tulé,
Aiéng,
Beruku,
Panirong,
Maua,
Dettia,
Soma,
Lakkara’,
Jepati, dan
Tumpakale.

Sebagian dari nama-nama hari tersebut merupakan hasil adopsi dari sistem pasaran, paringkelan, dan padinan dalam Kalender Jawa Kuno.

Adapun adopsi dari pasaran / pancawara adalah :
Pong (Pon),
Pang (Pahing), dan
Wagé (Wage).

Adopsi dari sistem paringkelan / sadwara:
Tulé (Tungle),
Aiéng (Aryang),
Beruku (Wurukung),
Panirong (Paningron), dan
Maua (Mawulu).

Adopsi dari sistem padinan / saptawara, yaitu :
Anga (Anggara),
Webbo (Rebo),
Dettia (Aditya),
Soma (Soma),
Jepati (Raspati), dan
Tumpakale (Tumpak).

Tidak seperti Suku Makassar yang menggunakan nama-nama bulan dalam Kalender Islam, sebagian nama-nama bulan dalam Kalender Bugis diadopsi dari nama-nama bulan dalam Kalender Hindu (Raffles, 1830).

Nama-nama bulan berikut jumlah hari dalam satu bulan yaitu:
Sarowan (30 hari),
Padrowanae (30 hari),
Sajewi (30 hari),
Pachekae (31 hari),
Posae (31 hari),
Mangaseran (32 hari),
Mangasutewe (30 hari),
Mangalompae (31 hari),
Nayae (30 hari),
Palagunae (30 hari),
Besakai (30 hari), dan
Jetai (30 hari).

Nama-nama bulan hasil adopsi dari Kalender Hindu adalah:
Sarowan (Srawana),
Padrowanae (Bhadrawada),
Sajewi (Asuji),
Posae (Pausa),
Mangaseran (Margasira),
Palagunae (Phalguna),
Besakai (Waisakha), dan
Jetai (Jyaistha).

Tahun baru dimulai pada tanggal 1 Sarowan yang jatuh pada sekitar tanggal 6 Mei dalam Kalender Gregorian (Raffles, 1830).

Namun, Kalender Bugis tidak mengenal tarikh tersendiri yang menjadi acuan pencatatan tahun. Kemungkinan pada masa lalu pencatatan tahun menggunakan tarikh pada saat naik takhtanya seorang raja sebagaimana Kalender Cina menggunakan tarikh naik takhtanya seorang kaisar (Crawfurd, 1820).

Rujukan :

1. Tol, Roger; 2008, Rolled up Bugis Stories: A Parakeet’s Song of an Old Marriage Calendar, KITLV, Jakarta.

BACA JUGA :  Gerhana Bulan dan Budaya Bugis

2. Crawfurd, John; 1820, History of the Indian Archipelago, Volume 1; Archibald Constable and Co., Edinburgh.

3. Raffles, Thomas Stamford; 1830, The History of Java, Volume 2, John Murray, London.

4. Matthes, Benjamin Frederik; 1868, De Makassaarsche en Boeginesche Kotika’s, Sutherland, Makassar.