La Galigo mungkin sudah punah termakan zaman, jika tidak ada wanita ini yang menyalinnya. Ia penyalin ke-12 jilid naskah La Galigo yang kini berada Benua Eropah tepatnya di Leiden Negeri Belanda.

Adalah Retna Kencana Colli Pujie Arung Pancana Toa Matinroe ri Tucae. Ratna Kencana Colli Pujie adalah nama kecil yang menjadi panggilannya, sedangkan Arung Pancana Toa adalah sebuah gelar Matinroe ri Tucae artinya yang tidur di Tucae atau dimakamkan di Tucae. Gelar ini merupakan nama anumerta yang disematkan oleh seorang raja/tokoh setelah “ditidurkan” oleh Yang Maha Esa.

Colli’ Pujie adalah wanita bangsawan berdarah Bugis-Melayu. Ketika banyak perempuan lain di Indonesia yang tidak mendapatkan akses memperoleh pendidikan. Colli Pujie tumbuh menjadi seorang cendekiawati yang penuh kreatiflvitas.

Kelahiran tahun 1812 dan meninggal pada tanggal 11 November 1876. Colli’ Pujié merupakan seorang pengarang dan penulis, penyunting naskah Lontarak Bugis kuno, penyalin naskah dan sekretaris istana Kerajaan Tanete adalah Kabupaten Barru saat ini.

Ia pemikir cerdas dan bahasa serta sastra Bugis merupakan keahliannya. Ia mengerti bahasa La Galigo yang pada zamannya pun sudah tidak dituturkan lagi. Dalam urusan kerajaan, dia diberi amanat tulis-menulis surat resmi untuk ayahnya, La Rumpang, raja di Tanete.

Aktivitas kerajaan lebih banyak dikontrol oleh Colli Pujie sebab ayahnya hampir tidak pernah tinggal di istana karena diintimidasi oleh Belanda. Saking hebatnya, sampai-sampai Ia digelari Datu Tanete karena memainkan peranan utama di kerajaan pada masa itu.

Penikahannya dengan La Tanampare’ (To Apatorang Arung Ujung) menganugerahinya tiga orang anak, satu laki-laki dan dua perempuan. Anaknya yang laki-laki bernama La Makkawaru, dan yang perempuan bernama Siti Aisyah We Tenriolle dan I Gading.

Pada tahun 1852, suaminya meninggal dunia. Sepeninggal suaminya Colli Pujie tinggal dan menetap di Tanete bersama ayahnya.

Pertemuannya dengan Matthes diawali dengan keinginan Matthes untuk mempelajari bahasa Bugis yang menurutnya lebih susah dari bahasa Makassar. Tahun 1852, Matthes yang tinggal di Makassar mengunjungi daerah-daerah Bugis, seperti Maros, Pangkajene, dan Tanete Barru.

Di Tanete-Barru dia berkenalan dengan Colli Pujie. Namun tidak banyak yang mereka bicarakan pada pertemuan pertama tersebut. Matthes pun kembali ke Makassar.

Tahun 1855, La Rumpang, ayah Colli’ Pujie, meninggal dunia. Lalu digantikan oleh We Tenriolle, putri Colli’ Pujie, yang kemudian dilantik sebagai Datu Tanete. Pewarisan takhta kepada putri Colli’ Pujie adalah permintaan pribadi La Rumpang sebab dia tidak ingin takhtanya jatuh kepada La Makkawaru, putra Colli’ Pujie, yang memiliki tingkah laku yang buruk.

Selang dua tahun tepatnya 1957, terjadi pertengkaran antara Datu Tanete dan anggota keluarganya, termasuk ibunya. Hal ini terjadi karena ternyata We Tenriolle tersebut bekerja sama dengan Belanda. Colli’ Pujie yang notabene merupakan penentang kuat kekuasaan Belanda sangat marah dan melakukan perlawanan.

Khawatir akan pengaruh dan kharisma Colli’ Pujie yang begitu kuat, akhirnya Belanda mengucilkannya ke Makassar dengan uang tunjangan seadanya. Sejak saat itu, Colli’ Pujie menetap di Makassar hingga pada tahun 1859 dia diizinkan kembali ke Tanete Barru atas permintaan putrinya.

Selama di Makassar itulah Colli’ Pujie membantu Matthes dalam menyalin ulang naskah La Galigo. Matthes berhasil mengumpulkan cukup banyak naskah La Galigo dari hasil perjalanannya ke berbagai daerah di Sulawesi Selatan.

Beberapa ada naskah yang dipinjamnya, ada yang diberikan sukarela, dan ada pula yang disalinnya sendiri karena empunya naskah tidak ingin meminjamkan atau memberikan. Colli Pujie pun turut membantu dengan pengetahuannya tentang bahasa dan sastra Bugis.

Bayangkan, kerja sama antara Colli’ Pujie dan Matthes berlangsung selama 20 tahun. Bayangkan pula betapa banyak dan panjangnya naskah La Galigo yang harus disalin Colli’ Pujie ke atas kertas.

BACA JUGA :  Papua Di Mata Soekarno dan Soeharto

Bahkan sebenarnya, diperkirakan itu baru 1/3 dari keseluruhan naskah La Galigo. Banyak naskah La Galigo yang tidak sempat disalin ke atas kertas karena hilang ataupun rusak.

Tidak hanya Matthes yang dibantu Colli’ Pujie, dia juga membantu Ida Pfeiffer dan A. Lighvoed. Ida Pfeiffer adalah seorang etnolog dari Austria yang mengadakan penelitian di Sulawesi Selatan pada tahun 1853, sedangkan A. Lighvoed adalah seoarang peneliti asing yang ingin menyusun catatan peristiwa sejarah di Sulawesi Selatan pada tahun 1870.

Colli’ Pujie meninggal pada tanggal 11 November 1876. Selain naskah La Galigo yang disalinnya, Colliq Pujie juga menghasilkan berbagai macam karya sastra.

Tahun 1852, dia menulis “Sejarah Kerajaan Tanete” atau dalam bahasa Bugis disebut “Lontara’na Tanete”. Naskah ini kemudian dicetak dan diterbitkan oleh G.K.Niemen dengan judul Geschiedenis van Tanette.

Kemudian dia juga menulis Sure Baweng, suatu syair yang terkenal di kalangan masyarakat Bugis dan pernah diterbitkan oleh Matthes.

Colli’ Pujie juga menulis beberapa elong (sejenis pantun Bugis) dan tulisan tentang kebudayaan dan upacara Bugis. Karya-karya Colli’ Pujie kini tersimpan di beberapa museum dan perpustakaan di Leiden, Belanda, serta di Yayasan Matthes Makassar.

Colli’ Pujié Menurut B.F. Matthes

Nama kecilnya dalam bahasa bugis terdiri dari beberapa bagian, pertama Retna Kencana, kemudian Colli’ Pujié yang berarti Pucuk yang Terpuji. Setelah dewasa bergelar Arung Pancana Toa atau Raja Pancana Tua. Dalam Buku La Galigo terbitan Yayasan Pustaka Obor Indonesia nama Rétna Kencana Colli’ Pujié Arung Pancana Toa ditulis sebagai penyalin dan penyusun buku tersebut.

Colli’ Pujié adalah putri dari Raja Tanété, La Rumpang Mégga, Datu Mario ri Wawo, Matinroé ri Mutiara. Latar belakangnya diketahui berasal dari pengalaman Benjamin Frederik Matthes, seorang misionaris Belanda yang diminta Nederlandsch Bijbelgenootschap untuk melakukan penelitian ilmiah mengenai bahasa Bugis dan bahasa Makassar dalam rangka menerjemahkan alkitab.

Tiba di pelabuhan Makassar pada tanggal 20 Desember 1848 sambil menjalankan tugas meneliti bahasa Makassar, Matthes juga mengumpulkan naskah-naskah Bugis termasuk La Galigo – karya sastra dari tanah Bugis yang telah diakui UNESCO sebagai Memory of The World. Penelitian tentang sastra kuno Bugis tersebut yang kemudian membawanya berjumpa dengan Colli’ Pujié ketika berkunjung ke Tanété.

Ketika tinggal di Makassar Colli’ Pujié menjadi narasumber, asisten, sekaligus guru bahasa bagi Matthes. Matthes menyebutnya sebagai wanita cerdas berpengetahuan sastra, selain menulis segala surat penting ayahnya, Ia juga memahami bahasa kedaton Bône, termasuk juga bahasa dalam teks kuno La Galigo. Pujian diberikan Matthes kepada perempuan berdarah bangsawan itu karena pengetahuannya tentang bahasa dan sastra, terutama kala membantunya menyalin dan menyusun naskah La Galigo.

Meninggalkan Gelar Bangsawan

Tempat dan tanggal lahir Colli’ Pujié tidak diketahui. Namun dalam perkiraan Matthes pada pertemuan pertama mereka ditahun 1852, Colli’ Pujié diperkirakan berumur 40 tahun.

Colli’ Pujié memiliki tiga orang anak, satu lelaki dan dua perempuan, hasil penikahannya dengan La Tanampare’, To Apatorang, Arung Ujung. Pada 6 November 1827, ia dilantik sebagai Arung pancana, namun karena mendapat ancaman dari La Patau’, gelar itu ia tinggalkan pada tahun 1835.

Pada tahun 1855, La Rumpang Mégga, ayahnya meninggal dunia. Pewaris tahta Tanété seharusnya anak lelaki Colli’ Pujié, La Makkawaru, namun karena perilakunya sebagai pemadat dan penjudi tidak disukai kakeknya, maka ditetapkan Wé Tenriollé anak perempuan Colli’ Pujié sebagai Datu Tanété.

Akibat pertengkaran dengan anak kandungnya, Wé Tenriollé, pada bulan Maret 1857 Colli’ Pujié keluar dari Tanété. Ia diminta Pemerintah Belanda untuk tinggal di kota Makassar. Di Makassar, ia hidup dengan tunjangan pemerintah daerah yang terdiri dari 20 gulden dan 2 pikul beras selama sebulan.

BACA JUGA :  Kajao Liliddong Pemikir Ulung dari Tanah Bugis

Namun Colli’ Pujié tidak dapat menjalankan hidup dengan tunjangan tersebut, sehingga membuatnya kemudian harus berhutang dan menjual beberapa harta benda perhiasan. Colli’ Pujié berusaha meminta pemerintah Belanda melalui Sekretaris Gubernur agar diizinkan tinggal di sebelah utara kota Makassar atau disebuah pulau, namun permintaan itu ditolak. Ia tidak diizinkan tinggal di tempat lain.

Sebenarnya pada September 1867, Arung Pancana mendapat izin dari pemerintah Belanda untuk kembali ke Tanété, namun karena terjadi pertengkaran lagi dengan keluarganya, ia kembali harus meninggalkan Tanété.

Colli’ Pujie memang tidak begitu dikenal di luar daerah Sulawesi Selatan. Belajar dari pengalaman hidup dan semangatnya untuk terus berkreasi, Colli’ Pujie bisa dijadikan model anutan untuk gadus-perempuan zaman sekarang.

Pada zamannya memang novel belum dikenal, apalagi buku yang ditulis oleh perempuan, namun Colli’ Pujie sudah dapat menciptakan karya-karya sastra yang bermutu tinggi.

Dengan keterbatasan yang dimiliki sewaktu pengasingannya di Makassar, justru membuatnya terus semangat berkarya. Colli’ Pujie adalah pesan bagi generasi muda perempuan Indonesia untuk menjadi mandiri, bersahaja, dan berpikir cerdas.

Pencipta Aksara Perjuangan Kaum Bugis
Colli’ Pujie menciptakan aksara Bilang, digunakan sebagai komunikasi rahasia dalam perjuangan melawan Belanda.

Usia Colli’ Pujie sekitar 40 tahun ketika pertama kali bertemu B.F. Matthes, penginjil dari Belanda, di Tanete, pada 1852. Dia juga sudah menjanda, bermukim di Pancana dan mendapat gelar Arung Pancana Toa (Aroe Pantjana). Anaknya Siti Aisyah We Tenriolle menjadi raja Tanete dan tidak bercocok paham.

Colli’ Pujie seorang yang keras dan tak mengenal kompromi pada apa yang merugikan rakyat. Temasuk menentang takhta We Tenriolle yang dianggapnya sebagai bayangan dari Belanda. Dia bersama beberapa pengikutnya melakukan perlawanan dengan sistem gerilya dan perang terbuka.

Colli’ Pujie, tumbuh dan besar di lingkungan istana Tanete. Dia membaca beragam karya dalam perpusatakaan kerajaan, menghapal Alquran dan melagukan sure’ I La Galigo pada beberapa kesempatan ritual. Setahun setelah pertemuannya dengan Matthes, dia bertemu Ida Pfeifer dari Austria, seorang perempuan yang melakukan perjalanan mengililingi dunia.

Bagi Colli’ Pujie berbagi ilmu dan pengetahuan sangatlah penting. Datangnya orang asing yang mengunjungi Tanete dengan membawa misi pengetahuan akan disambut dengan baik. Maka tak heran, kerajaan Tanete membangun perpustakaan, koleksi buku dan karya dari tanah Bugis dijaga dengan begitu baik.

Dalam beberapa naskah lontara, dinyatakan sebanyak dua kali kerajaan Tanete kebakaran. Ironisnya koleksi buku dan beberapa catatannya ikut hangus. Dan itu membuat Colli’ Pujie sangat sedih.

Ketika kisruh di kerajaan Tanete, Colli’ Pujie diasingkan ke Makassar pada Maret 1857 hingga 1867, karena tidak mendukung kebijakan pemerintah Belanda. Dia menjadi tahanan politik dan kebebasannya dirampas.

Pada 7 Mei 1861, Matthes menuliskan suratnya yang penuh haru pada Bibelgenoshaap, pada apa yang disaksikannya ketika mengunjungi Colli’ Pujie di rumah pengasingannya di Makassar.

Jika membaca syair kepahlawanan Bugis yang lama, sastra La Galigo yang sering dibicarakan dan yang menjadi keahlian ratu tersebut (namanya Aroe Pantjana), saya menemui bahwa dalam segala sesuatu dibuat dari emas atau dihiasi dengan emas yang banyak.

Tetapi harus dikatakan zaman sudah sangat berubah. Ya, saya mau bertaruh bahwa kalau Anda dengan pukulan dengan tongkat sihir ditempatkan di istana teman Bugis saya ini, Anda tidak akan berpendapat itu sebuah istana tetapi sebuah kandang babi; ya, juga hampir Anda tidak berani makan sesuatu dari masakannya yang enak. Untung akhirnya bisa menyesuaikan diri dengan segala sesuatu, tetapi tidak menyenangkan hidup di antara pribumi senantiasa.”

BACA JUGA :  La Maddaremmeng Raja Bugis Anti Perbudakan

Meski demikian dalam masa pengasingan itu, Belanda memberikannya tunjangan sebesar 20 gulden dan dua pikul beras setiap bulan. Belas kasih itu, rupanya tak pernah cukup karena sebagai seorang bangsawan dalam pengasingan Colliq Pujie didampingi beberapa kerabat dan pelayannya.

Akhirnya, beberapa kali Colli’ Pujie harus menjual perhiasan dan menerima tawaran Matthes dalam mengerjakan beberapa salinan naskah, dengan bayaran tertentu.

Salah satu mahakarya terpeting yang diselesaikannya dalam pengasingan adalah salinan 12 jilid naskah I La Galigo, yang tebalnya mencapai 2851 halaman folio dengan panjang mencapai 300.000 baris. Naskah inilah yang kemudian diperkirakan baru merangkum sepertiga dari semua naskah utuh.

Pada masa lalu, naskah I La Galigo merupakan tradisi lisan yang dituturkan dengan sure’ (massure). Sekuel naskah ini tersebar di banyak tempat di Sulawesi Selatan. Dimiliki oleh kalangan bangsawan, keluarga kerajaan dan pemuka adat. Bagi para pemilik naskah, dalam aksara lontara Bugis, menjadi bagian penting dan menjadi semacam identitas legitimasi status sosial dalam masyarakat Bugis dan Makassar.

Maka, Matthes hanya mampu meminjam dari beberapa orang yang ditemuinya dan menjadi tugas Colli’ Pujie menyadurnya kembali. Pada tahap penyalinan inilah, Colli’ Pujie bertindak sebagai editor dan menyusunnya menjadi bagian per bagian. Dia jugalah yang memberi pengantar atas naskah I La Galigo dan menjadi petunjuk pencarian sekuel yang tercecer.

Naskah I La Galigo, memiliki satuan lima suku kata pada setiap penggal frase. Penggalan itu tidak tersusun kebawah seperti lazimnya puisi, melainkan ditulis sambung menyambung tanpa alinea baru.

Satu-satunya tanda baca pengenal adalah titik tiga (pallawa) yang tersusun ke bawah, digunakan sebagai titik, koma, atau pula garis baru. Namun, ketika ditembangkan atau disyairkan tanda baca pallawa digunakan sebagai tanda pengaturan intonasi suara penyanyi.

Tak hanya menyalin naskah I La Galigo, Colli’ Pujie dalam masa pengasingan tetap berhubungan dengan para pengikutnya di Tanete, Lamuru, dan Pancana. Untuk itu, dia kemudian menciptakan aksara rahasia yang dikenal sebagai aksara Bilang untuk melakukan korespendensi. Jadi hanya orang-orang tertentu yang dapat membaca dan memahaminya. Aksara Bilang adalah modifikasi dari aksara Bugis dan aksara Arab. Aksara itu terdiri dari 18 huruf.

Aksara ini juga yang dijadikan Colli’ Pujie dalam menuliskan puluhan hingga seratusan syair. Dalam Lontara’ Bilang ini membuktikan kadar kecerdasaan dan ketajaman berpikir Colli’ Pujie.

Syair-syair yang ditulis Colli’ Pujie memiliki beragam asosiasi. Misalnya, dalam beberapa syair, Colli’ Pujie menggunakan analogi benda, nama buah, pohon atau bahkan nama kampung dalam menyampaikan maksudnya.

Pada tahap bersamaan, Colli’ Pujie juga mengerjakan naskah Sejarah Tanete. Dalam naskah itu, dia menulis sejarah kerajaan dari mulai raja Tanete pertama hingga ke-20. Setiap tokoh dideskripsikan dengan detail, dari masa kecil hingga meninggal.

Selain itu, Colli’ Pujie pun menulis kembali naskah La Toa. Naskah ini dalam kalangan Bugis merupakan aturan dalam mengelola pemerintahan dan bagaimana seharusnya pemimpin bersikap. Pada kesempatan lain, dia juga menulis kelong (nyanyian). Kelong yang dihasilkannya kini tersebar di berbagai perpustakan dan museum-museum dunia.

Karya monumental lainnya adalah Sure’ Baweng. Bagi beberapa orang yang pernah membaca Sure’ Baweng, selalu menyimpulkan sebagai sebuah karya yang sangat indah. Karya ini berisi petuah-petuah dengan nilai estetika daan pendalaman makna yang sangat tinggi.

Popularitas nama Colli’ Pujie memang tidak sebesar jasanya terhadap perkembangan dunia sastra daerah Indonesia, khususnya untuk budaya dan sastra Bugis. Memang tidak banyak catatan yang menorehkan kebesaran pribadi dan sosok penulis berbakat ini. Namun Colli’ Pujie adalah salah satu Legenda Perempuan Bugis.

Rujukan :

I La Galigo: Menurut Naskah NBG 188 yang Disusun oleh Arung Pancana Toa Jilid I. Jakarta: Penerbit Djambatan 1995.