Suka mengada-ada adalah salah satu sifat manusia sebagai perwujudan daya cipta yang diberikan oleh Allah. Untuk urusan keduniaan manusia ditantang oleh Allah untuk menggerakkan kekuatannya agar bisa menembus langit dan bumi untuk mengadakan apa yang belum ada (QS. Ar Rahman: 33).

Sedangkan untuk urusan akhirat/agama, manusia diharamkan mengada-ada (QS. Al A’raaf:33), Nabi memerintahkan kita agar menjauhi perkara yang diada-adakan, karena segala perkara yang diada-adakan adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah sesat (HR. Abu Dawud).

Mengada-ada dalam perkara agama biasa berawal dari cerita dongeng yang karang-karang manusia, seperti persembahan tumbal/sesajen  kepada Dewi Sri,  berawal dari dongen seorang anak raja yang dibuang karena penyakitnya lalu mati kelaparan, lalu di atas kuburannya tumbuhlah padi yang kemudian dikembangbiakkan oleh manusia.

Pengagungan Gunung Bawakaraeng berawal dari dongen sebuah kerajaan yang ditaklutkan oleh Raksasa yang besar perutnya (Lompo Battang), kemudian seorang anak Raja yang kurus berusaha melawan Raksasa itu dan akhirnya menang lalu anak raja itu dilantik sebagai raja/karaeng, sampai akhirnya gunung di samping Gunung Lompo Battang itu disebut Gunung Bawakarang, sebagai tempat bersemayamnya Patanna Pangngadakkan, sampai ada yang menjadikan sebagai tempat berhaji.

Bangsa Indonesia sejak dulu memiliki kemampuan membuat cerita sastra, baik sastra lama (dongen, sinrilik, legenda, roman), maupun sastra baru (cerpen, novel).

Setanpun mengakui bahwa manusia adalah makhluk yang suka mengada-mengada dalam perkara yang gaib atau agama. Keahlian mengada-ada inilah yang dimanfaatkan oleh setan.

Sebenarnya tidak ada roh orang mati yang gentayangan di muka bumi, tidak ada pocong, tidak ada kuntilanak, dan sebagainya, cuma manusia mengada-adakan cerita seperti itu sehingga setan berusaha mewujudkannya.

Sama halnya penguasa tempat tertentu yang dijadikan manusia sebagai tempat persembahan tumbal atau sesajen semua itu tidak ada, tetapi karena manusia yang mengarang-ngarang cerita kehebatannya sehingga berusaha dibuktikan oleh setan.

BACA JUGA :  Nilai sebuah perubahan

Begitupun halnya kuburan keramat, sebenarnya semua kuburan adalah sama, hanya sebagai tempat penyimpanan mayat agar tidak mengganggu atau diganggu oleh manusia, namun ada manusia yang mengarang-ngarang cerita bahwa kuburan si fulan begini begitu maka setan berusaha mewujudkan yang begini  begitu itu.

Sekarang banyak cerita khurafat yang berkembang, bahwa si fulan bertemu Nabi Muhammad, si fulan bertemu dengan Khidir,  dengan Syekh Abdul Qadir Jaelani, si fulan bertemu dengan gurunya gurunya telah ratusan tahun mati.

Semua itu adalah cerita yang diada-adakan yang dimanfaatkan oleh setan. Memang benar mereka bertemu tetapi sosok itu bukanlah Nabi yang sesungguhnya, melainkan setan yang berwujud alim lalu mengaku-ngaku sebagai Nabi sampai akhirnya tertipu.

Khufarat adalah sebuah dongeng, cerita, legenda, kisah, asumsi, dugaan, dan lain sebagainya yang merupakan prediksi atau kejadian yang tidak benar adanya.

Dengan demimikian khurafat adalah berita yang dibumbuhi dengan kedustaan. Masyarakat menyebut, ‘Beritanya khurafat’.

Zaman modern, utamanya di dunia politik saat ini, sudah umum kita mendengar istilah pencitraan. Jika merujuk pada arti kata dasarnya, ‘citra’ yang berarti gambaran yang dimiliki orang banyak (publik) mengenai pribadi, organisasi, perusahaan ataupun produk, maka pencitraan bisa dipahami sebagai proses untuk menggambarkan kebaikan-kebaikan pada diri seseorang, organisasi, perusahaan atau pun produk.

Seandainya upaya pencintraan tersebut memang apa adanya alias jujur, tentu tidak ada masalah. Akan tetapi, jika pencitraan itu sejatinya jauh panggang dari api, maka hal seperti itu bisa menjerumuskan manusia pada praktik kebohongan, hal ini jelas tidak bisa diremehkan.

Sebab, berbohong, bagaimanapun itu dianggap dan mungkin memang dirasakan memberikan keuntungan, pada hakikatnya sama sekali tidak ada keuntungan yang diperoleh. Di sisi lain, kebohongan mengantarkan pelakunya pada neraka, sebesar apapun harapannya untuk hidup bahagia. Namun begitu kembali kepada Anda.

BACA JUGA :  Benarkah Ada "Wali Tujuh" di Sulawesi Selatan?