Sebenarnya lagu Ongkona Bone ini saya sudah bedah beberapa tahun lalu tepatnya tanggal 13 Agustus 2007, tapi masih ada pertanyaan yang sering muncul apa makna kias dan denotasinya, maka kali ini saya mencoba mengangkatnya kembali.

Ongkona Bone adalah lagu daerah Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan. Lirik lagu ini menggunakan huruf lontara yang terdiri atas tiga paragraf. Lagu yang tak lekang masa ini masih menjadi pilihan untuk dinyanyikan dan diperlombakan di setiap acara adat dan kegiatan seremonial lainnya di Bumi Arung Palakka.

Lagu Ongkona Bone yang tersusun dari lirik dan syair-syair unik ini apabila dimaknai setiap liriknya seolah membawa kita ke aura reinkarnasi serta mengenang jasa dan pengorbanan para pendekar Bone di masa lalu.

Lagu Ongkona Bone sampai saat ini belum diketahui dengan pasti kapan diciptakan dan siapa penciptanya. Namun apabila kita membedah bahasanya serta menghubungkan dengan sejarah Bone, maka kemungkinan besar lagu tersebut tercipta sekitar tahun 1905.
Di mana saat terjadinya perang antara Kerajaan Bone melawan pasukan Belanda. Ribuan laskar kerajaan Bone yang gugur bersimbah darah dalam pertempuran itu. Di sepanjang pantai Teluk Bone digempur habis-habisan oleh tentara Belanda.

Karena persenjataan yang tidak seimbang, maka tentara Belanda berhasil menguasai kerajaan Bone. Jatuhnya Kerajaan Bone inilah yang dikenal Peristiwa Rumpa’na Bone 1905.

Kerajaan Bone masa itu dipimpin oleh Raja Bone ke-31 La Pawawoi Karaeng Sigeri yang memerintah tahun 1895-1905. Peristiwa Rumpa’na Bone itu ditandai dengan gugurnya putra mahkota panglima perang Bone Abdul Hamid Baso Pagilingi yang popoler dengan julukan Petta Ponggawae.

Sebagian orang beranggapan, kalau lagu Ongkona Bone itu, bermakna layu sebelum berkembang. Anggapan itu, lantaran dalam lirik Ongkona Bone terselip kata “mate colli” yang artinya mati pucuk atau layu sebelum berkembang.

Anggapan seperti itu boleh-boleh saja, karena putra mahkota Abdul Hamid Baso Pagilingi yang dipersiapkan untuk menjadi raja menggantikan ayahandanya La Pawawoi Karaeng Sigeri gugur sebelum menjadi raja. Ibarat bunga, gugur jatuh ke bumi sebelum menampakkan keindahannya.

Terlepas dari anggapan seperti itu, sebenarnya lagu Ongkona Bone apabila dibedah liriknya satu persatu, maka maknanya sangat dalam serta menyampaikan pesan patriotik, semangat, dan nasihat.

Seperti dipaparkan di atas, lagu Ongkona Bone terjalin dari lirik dan syair-syair yang mengandung makna, nilai, dan nasihat yang sangat dalam. Apa hakikat makna, nilai, dan pesan yang dikandungnya dapat diuraikan dalam narasi sebagai berikut :

1. MAKNA LIRIK

Lagu Ongkona Bone mengisahkan seorang isteri melepas sang suami berangkat ke medan juang untuk mempertahankan Tana Bone dari serangan armada laut Belanda. Sang suami sebagai laskar Kerajaan Bone tentu berkewajiban mempertahankan Tana Bone sejengkal demi sejengkal hingga titik darah penghabisan.

Dengan iringan doa restu sang isteri maka berangkatlah sang suami bertempur melawan tentara Belanda di pantai BajoE. Setelah tujuh hari tujuh malam pertempuran berkecamuk, maka terdengar kabar bahwa suaminya telah gugur.

Namun, sang isteri tidak yakin begitu saja kalau suaminya telah gugur. Maka sang isteri berangkat mencari suaminya. Tak peduli siang atau malam , tetap berjalan dan mencari tahu akan keberadaan suaminya.

Kala beristirahat dalam pencariannya, sang isteri bersenandung untuk menghibur diri dan merenungi nasibnya :

O … Mate Colli, Mate Collini Warue (Waru adalah sebuah nama pohon/tumbuhan dalam bahasa Bugis disebut Kubba. Pohon Kubba tersebut memilki ranting mengandung getah yang dapat digunakan untuk membuat keriting rambut)

Ritoto baja-baja alla Ritoto baja-baja ( Setiap hari dipangkas)

Alla nariala kembongeng ( Diambil untuk dijadikan kembongeng. Kembongen artinya alat penggulung rambut dari pohon Kubba / pohon waru )

O … Macilaka, Macilakani Kembongeng ( celaka dan sial penggulung rambut )

Nappai ribala-bala alla nappai ribala-bala ( baru dibentuk-bentuk)

Namate puangna (puangna bermakna simbolis artinya pohon kubba/ waru, mati karena setiap hari dipangkas untuk dijadikan penggulung rambut)

O … Taroni Mate, Taroni Mate Puangna ( Biarlah mati, biarlah mati pohon Kubba / Waru)

Iyapa upettu rennu alla iyapa upettu rennu ( barulah putus harapan dan menyerah )

Kusapupi mesana ( Bila kupegang batu nisannya)

Penjelasan :

Sang isteri menggulung rambutnya agar menjadi indah dengan maksud untuk menghadiahkan kepada suaminya apabila kembali dari medan peperangan.

Akan tetapi pohon Waru / Kubba menjadi layu dan mati karena setiap hari dipangkas untuk dijadikan sebagai penggulung rambut/kembongeng. Padahal rambutnya baru mulai terbentuk, apa daya pohon waru/kubba keburu layu dan mati.

Matinya pohon waru/kubba sebenarnya merupakan sebuah alamat atau pertanda bahwa suaminya telah tewas dalam peperangan. Namun Sang isteri tetap bersemangat. Ditanamkan dalam hati , bahwa suaminya belum meninggal. Kecuali memegang dan mengusap batu nisannya baru percaya.

2. NILAI

Seperti halnya dengan lagu-lagu lain, maka lirik dan syair-syair yang terjalin dalam lagu Ongkona Bone juga mengandung dan sarat dengan nilai-nilai. Nilai- nilai yang terkandung adalah :
a. Memupuk Jiwa Patriotisme dan Nasionalisme, bahwa setiap perjuangan memerlukan pengorbanan baik jiwa, raga, dan materi. b. Menggambarkan, bahwa kepentingan umum meskipun pahit getir lebih mulia dibanding kepentingan pribadi.
c. Mengandung nilai historis, di mana sejarah adalah cerminan peristiwa masa lalu sebagai bahan rujukan pembelajaran di masa kini dan masa akan datang.

3. PESAN DAN NASIHAT

Perlu dipahami, bahwa syair-syair yang terkandung dalam lagu Ongkona Bone terdiri atas tiga bagian, yakni bait pertama dan kedua bermakna simbolis atau pelambang sedang bait ketiga mengandung semangat.

Mate Colli bukanlah bermakna layu sebelum berkembang akan tetapi dalam dunia seni hanya menggambarkan kemampuan ekspresi seseorang dalam menyampaikan sebuah pesan.

Namate Puangna bukanlah bermakna Tuhan yang mati akan tetapi sejenis tumbuhan yang disebut pohon waru/kubba yang dijadikan sebagai simbol bagi penciptanya. Mengapa pohon tersebut mati ?
Karena setiap hari dipangkas untuk dijadikan sebagai alat penggulung rambut. Ranting pohon tersebut memilki getah yang dapat membuat rambut menjadi keriting.

Adapun pesan/nasihat yang terkandung dalam syair lagu Ongkona Bone adalah sebagai berikut :
1. Janganlah mudah mempercayai informasi yang kurang jelas dan tidak bertanggung jawab
2. Setiap pekerjaan harus dilandasi dengan semangat.
3. Syair lagu merupakan ungkapan cipta, rasa, dan karsa.

Semoga penjelasan ini ada manfaatnya bagi para pembaca khususnya generasi muda sekarang ini.

Dengarkan Lagunya Di SINI

Dibedah Oleh : Mursalim (Teluk Bone)
Tanggal : 13 Agustus 2007

N1
loading...