Artikel ini awalnya saya ekspos di media sosial (facebook) dan sekarang sudah menyebar di dunia maya, tapi tak apalah saya rilis kembali di sini dan mudah-mudahan ada manfaatnya.

Sebelum memasuki topik tulisan ini, yaitu Makna Kata Sapaan : Iyye’ – Iyyo – Iko – Tabe’ di kalangan Bugis , maka ada baiknya menyimak yang berikut ini.

A. Kata Sapaan dalam Bahasa Indonesia

Kata sapaan adalah kata yang digunakan untuk menegur sapa orang yang diajak berbicara (orang kedua) atau menggantikan nama orang ketiga. Berikut adalah beberapa contoh kata yang dapat digunakan sebagai kata sapaan.

(1) Nama diri, seperti Parno, Minah.
(2) Kata yang tergolong istilah kekerabatan, seperti bapak, ibu, paman, bibi, adik, kakak, mas, atau abang.
(3) Gelar kepangkatan, profesi atau
jabatan, seperti kapten, profesor, dokter, sopir, ketua, lurah, atau camat.
(4) Kata nama, seperti tuan, nyonya, nona, Tuhan, atau sayang.
(5) Kata nama pelaku, seperti penonton, peserta, pendengar, atau hadirin.
(6) Kata ganti persona kedua Anda.

Penggunaan kata sapaan itu sangat terikat pada adat-istiadat setempat, adat kesantunan, serta situasi dan kondisi percakapan. Itulah sebabnya, kaidah kebahasaan sering terkalahkan oleh adat kebiasaan yang berlaku di daerah tempat bahasa Indonesia tumbuh dan berkembang. Namun, yang perlu diingat dalam hal ini adalah cara penulisan kata kekerabatan yang digunakan sebagai kata sapaan, yakni ditulis dengan huruf awal huruf kapital. Contoh:

(1) Adik sudah kelas berapa?
(2) Selamat pagi dok(ter).
(3) Selamat siang prof(fessor)
(4) Hari ini kapten bertugas di mana?
(5) Setibanya di Makassar, Tuan akan menginap di mana?

Nah, bagaimana kalau kata sapaan dalam bahasa Bugis?, berikut penjelasannya.

BACA JUGA :  Konsep Pancanorma

B. Kata Sapaan dalam Bahasa Bugis

Makna Kata Sapaan : Iyye’ Iyyo, Iko,dan Tabe’ di kalangan Bugis Bone mungkin sebagian besar masyarakat bugis Bone telah memahaminya, namun tak apalah bila saya uraiakan sekali lagi karena bukan mustahil masih banyak yang kurang mengerti dan memahaminya khususnya dikalangan generasi.

Beberapa waktu yang lalu saya diundang menjadi pemandu suatu kegiatan tentang pelestarian budaya dan kegiatannya dilaksanakan di Watampone, seringkali saya mendapati guyonan yang menyegarkan dari narasumber yang duduk di sebelah kanan saya, narasumber dari Lembaga Adat Bone.

Terus terang saya suka caranya memberikan pemahaman kepada para peserta tentang budaya Bugis, khususnya terkait hal-hal prinsipil untuk diketahui menyangkut tata krama pergaulan sosial di kalangan Bugis.

Tidak dapat disangkal banyak pemandu (guide) yang jago berbahasa asing, fasih berbahasa inggris dengan turis-turis mancanegara namun terkadang menemui kendala menjawab pertanyaan turis menyangkut budaya dan tradisi masyarakat setempat. Pasalnya sang pemandu tidak berupaya memahami bahasa pergaulan yang sering digunakan berkomunikasi menyangkut tata krama pergaulan sosial daerah setempat.

Ada beberapa kata sapaan menyangkut tata krama dan bahasa pergaulan yang mesti diketahui ketika berada dalam lingkungan masyarakat Bugis, misalnya kata Tabe’-Iyye -Iyyo -Iko. Berikut ini saya mencoba menjelaskan satu persatu.

1. Tabe’

Kata Tabe’ berarti permisi,yakni kata sapaan yang sifatnya lebih halus umumnya diucapkan ketika lewat di depan orang, khususnya orang yang kita hormati, teman, sahabat, orang tua, atau siapa saja yang kita hormati. Mengucapkannya sambil menatap dengan ramah kepada orang di depan kita, menundukkan kepala sedikit dan menurunkan tangan kanan. Dalam komunikasi sosial, kata tabe’ adalah kata yang sopan, dan sebagai “kata yang sopan”, orang yang mengucapkannya akan mendapatkan apresiasi dari orang sekitarnya.

BACA JUGA :  Nilai Dibalik Percakapan Antara Kajao Dengan Raja Bone

2. Iyye

Untuk kata Iyye, bermakna “ya” atau mengiyakan,dan kata ini adalah pilihan kata yang sangat sopan dan halus. Kata ini sering digunakan bila berkomunikasi dengan siapa saja terutama kepada orang yang kita hormati. Terkadang kita jumpai mengiyakan dengan cara anggukan kepala dan menggoyangkan kening kepada lawan bicaranya, hal ini dianggap tidak sopan apalagi dalam forum resmi.

Mengucapkan kata “Iyye” bisa dengan menundukkan kepala sedikit (sedikit saja seperti anggukan kepala). Mengucapkannya sekali saja, sampai dua atau tiga kali masih cukup sopan, “Iyye … iyye … Iyye.

Tapi mengucapkannya kata Iyye tersebut sudah lebih dari tiga kali maka bisa menimbulkan ketersinggungan atau sudah dapat dipandang sebagai kurang ajar (mauni sokko na manu narekko maulingngi), dalam bahasa lokal bugis disebut matempo dan dalam bahasa Makassar disebut “patoa-toai”, Ini berlaku umum, baik kerabat, bukan kerabat, dan orang luar, terlebih lagi bagi orang Bugis. Di sinilah pentingnya memahami Konsepsi Bugis tentang Tau’ (Manusia) dan Sipakatau (saling memanusiakan)”

3. Iyyo

Kata sapaan Iyyo juga bermakna “ya” dianggap tidak sopan dan kasar. Misalnya ada orang bertanya, Mau-ki ikut ke Soppeng ?” Jika dijawab Iyyo maka itu berarti tidak sopan, tapi jika dijawab Iyye itu jawaban yang sangat sopan.

4. Iko

Kata Iko atau kamu sering digunakan menjawab atau mengiyakan suatu pertanyaan secara gamblang. Kata ini dianggap tidak sopan/kasar khusus menyangkut sopan santun dan tata krama di kalangan Bugis. Namun sering juga digunakan di lingkungan keluarga yang sifatnya internal.

Ada kata-kata dalam Bahasa Bugis yang seharusnya tidak diucapkan dalam pergaulan sosial, apalagi jika berkomunikasi dengan orang tua atau orang yang dituakan seperti : iyyo,iko, buntalli, ciballe, tilaso, tilessi, cundekke, dan lain sebagainya. Adapun yang dianggap sopan dan bertata krama seperti : Iyye, dan lain sebagainya.

BACA JUGA :  Pengertian Sunge dan Sumange

Tata krama dan sopan santun juga ditunjukkan lewat cara duduk bersila (tudassalekka), cara berdiri yang tidak boleh berkacak pinggang atau membusungkan dada, cara mempersilakan, cara menerima tamu (mattopole), dan lain sebagainya. Terdapat pula Tata krama dan sopan santun menyangkut juga suatu kata pantas atau tidak pantas diucapkan.

Dahulu, seorang istri dianggap luntur akad nikahnya jika si istri berani menyebut nama suaminya secara langsung, bisa dianggap “makurang ajara” atau kurang ajar. Makanya si istri hanya memanggil suaminya dengan nama samaran atau nama panggilan (Panggilan Paddaengeng), atau terkadang, hanya menyebut dengan menghubungkan nama anaknya, misalnya ambo’na Aco,Abbana Aso,Ettana Esse, Mamminna Minah, ambo’na sitti, dan lain sebagainya. Demikian juga suami, sangat ditabukan menyebut dan memanggil istrinya dengan nama asli.

Demikian sedikit untaian dalam tata krama dan bahasa pergaulan yang sopan (beradat dan beradab) dalam lingkungan sosial masyarakat Bugis khusunya masyarakat bugis Bone.