Melempar ataukah membuang telur ketika akan menyeberangi sungai salah satu cara yang dilakukan tetua bugis masa lampau untuk mengetahui apakah sungai itu dihuni oleh buaya.

Apabila setelah membuang telur  satu atau dua biji, kemudian muncul gelembung atau buih maka dipastikan di sungai itu dihuni oleh buaya.

Konon, suatu ketika ada seseorang dalam perjalananya tiba di pinggir sebuah sungai. Dalam perjalanannya itu ia membawa doko (bekal dalam perjalanan seperti nasi, telur, cabe,dll).

Ia bertanya kepada Lamellong, tabe maga iyae saloe, macenne ga iyarega menraleng (maaf, bagaimana ini sungai, apakah airnya dangkal atau dalam)

Lamellong menjawab, aja na iyya mutanai, tanai tekkengmu (jangan bertanya sama saya, tanyalah tongkatmu).

Mendengar jawaban seperti itu, orang tersebut hanya berdiri melongo terheran-heran. Dalam hatinya bertanya-tanya mengapa mendapat jawaban seperti itu, barangkali ini orang tidak waras.

Lalu ia bertanya lagi kepada Lamellong, tabe, iyyae saloe engka  iyarega dega buajanna (maaf, ini sungai apakah ada buayanya atau tidak ada buayanya)

Lamellong menjawab, aja naiyya mutanai, tanaiwi doko-mu (jangan bertanya sama saya, tanyalah bekalmu).

Lagi-lagi orang itu semakin tidak mengerti mendapat jawaban yang mendongkolkan itu, padahal ia bertanya baik-baik.

Oh, iyye, uporennui bali werekkadamu (terima kasih atas jawabanmu), jawabnya kepada Lamellong.

Sepeninggal Lamellong, orang itu duduk sendiri di pinggir sungai sambil berpikir dan merenungkan apa sebenarnya makna jawaban atas pertanyaannya kepada Lamellong.

Selanjutnya untuk mengetahui dangkal atau dalam sungai ia mau melakukan dengan caranya sendiri

Ia menjulurkan kakinya ke sungai, dijulurkannya semakin dalam, ia pun ikut kecebur ke sungai.

Lalu ia bergegas naik kembali ke pinggir sungai dengan pakaian basah kuyup.

BACA JUGA :  Sejarah Azan dan Bilal

Ia pun merenung, inilah barangkali maksud jawaban dari Lamellong tanya tongkatmu untuk mengetahui dangkal atau dalamnya air sungai.

Tak terasa, jelang rembang petang, perutnya keroncongan, ia membuka bekalnya, lalu makan dengan lahapnya.

Tiba-tiba telur yang hendak ia makan jatuh ke sungai. Ia berdiri bermaksud mengambil telurnya yang simata wayang itu, tiba-tiba ia melihat air sungai bergelembung. Ihh … telurnya keduluan dimakan buaya.

Ia pun kembali berpikir inilah maksud Lamellong kalau hendak menyeberang sungai tanyalah doko-dokomu. Artinya doko itu berisi telur.

Orang itupun dalam hatinya berterima kasih kepada Lamellong. Kemudian ia memutuskan untuk tidak menyeberangi sungai itu.

Nah, sekarang pertanyaannya, 1.Masih adakah di antara kita yang suka membuang telur ke sungai ?
2. Masih adakah yang sering melempar atau membuang telur ketika hendak melewati jembatan?
3. Masih adakah yang mengkultuskan penghuni sungai dan jembatan?
4. Masih adakah yang sering membuang telur di atas jembatan Palakka?
5. Bukankah mahluk yang paling mulia ciptaan Tuhan adalah manusia?
6. Silakan berpikir dan renungkan sendiri