Suku Bugis adalah suku terbesar ketiga di Indonesia setelah suku Jawa dan Sunda. Mereka penyebar di seluruh Indonesia hingga luar negeri.

Karena sifatnya yang suka berpindah-pindah, mungkin itu menjadi salah satu sebab mereka dikait-kaitkan dengan perahu pinisi, armada pelayaran rakyat, mungkin itu diambil dari salah satu kota yang pernah mereka singgahi, dalam hal ini negara Italia, dengan kotanya Venice (pinisi).

Suku Bugis biasanya mengabadikan nama-nama tempat yang penuh kenangan atau mempunyai kesan istimewa pada perahunya, mereka juga mengidentikkan perahunya dengan sejenis ikan yang berenang sangat cepat di laut lepas. Berharap perahunya dapat berjalan/berlari secepat ikan tersebut sehingga banyak pula dari mereka yang menamakan perahunya dengan nama `Pinisi Palari`.

Suku Bugis dalam perkembangannya menyebar luas ke seluruh Nusantara. Penyebaran Suku Bugis di seluruh Tanah Air disebabkan mata pencaharian orang-orang bugis umumnya adalah nelayan dan pedagang. Sebagian dari mereka yang lebih suka merantau adalah berdagang dan berusaha (massompe‘) di negeri orang lain.

Mari kembali ke pokok permasalahan, Tolak bala dalam bahasa Bugis disebut “tula’ bala” artinya kegiatan ritual dalam upaya menangkal bencana.

Tolak bala dapat diartikan sebagai mitigasi, yaitu tindakan pencegahan. Hal tersebut bisa juga diartikan sebagai penangkal bencana. Tolak bala biasanya dikaitkan dengan kegiatan spiritual dan mistik.

Segala bencana atau bahaya itu semua atas kehendak Allah SWT. Misal bahaya penyakit, bencana alam, dan lainnya. Tentu tidak ada orang yang menginginkan musibah datang menimpa dirinya. Di mana musibah itu bisa datang kapan dan di mana saja tanpa terduga manusia.

Meski kita tak bisa menolak apapun yang telah ditakdirkan Allah, sebagai umat muslim kita dianjurkan untuk berikhtiar, berdoa, dan memohon keselamatan dari segala musibah.

Salah satu caranya ialah dengan melantunkan doa tolak bala agar terhindar dari segala macam bencana, musibah, malapetaka dan berbagai hal buruk lainnya.

Sebagai seorang muslim kita diperbolehkan untuk memohon keselamatan dari segala musibah yang sedang terjadi atau yang akan datang lewat doa kepada Allah SWT.

Ikhtiar tolak bala dengan memanjatkan doa meminta pertolongan dari Allah adalah hal yang diperbolehkan. Doa tolak bala merupakan bacaan doa yang diperuntukkan agar terhindar dari segala macam bahaya yang mungkin menimpa kita.

“Ya Allah, dengan kebenaran fatihah dan dengan rahasia yang terkandung dalam fatihah,

ya Allah Tuhan Yang melapangkan kedudukan dan Yang menghilangkan kesedihan,

Ya Allah Tuhan Yang Maha kasih sayang kepada hambanya,

Ya Allah, Tuhan Yang menghindarkan bala,

Ya Allah Tuhan Pengasih Yang menolakkan bala “.

Salah satu contoh tula’ bala di kalangan Bugis adalah “Massuro Mabbaca” merupakan usaha yang dilakukan masyarakat Bugis dengan menghadirkan tokoh agama atau tokoh adat untuk membacakan doa-doa tertentu sebagai upaya untuk menolak bala yang dianggap kapan saja bisa menyerang seperti wabah penyakit, angin buting beliung, banjir, dan lain sebagainya. Ritual ini juga sering dilakukan sebagai bentuk kesyukuran atas apa yang diperoleh oleh seseorang (engka kasi’na cedde dalle nawerekki puangnge).

Massuro Ma’baca ini tidak dilarang oleh tokoh-tokoh masyarakat Islam terdahulu, bahkan menganjurkan agar ritual tersebut tetap dilakukan dan dijaga. Usaha mereka hanya mengubah doa-doa yang sebelumnya bercorak Hindu, Budha dan berbau kepercayaan lokal dengan doa yang sesuai dengan tutunan Al-quran dan Hadits. Doa-doa tolak bala, kalimat-kalimat kesyukuran, dan doa untuk orang mati persi sebelumnya dirubah dengan persi yang bernuansa Islam.

Dalam ritual Massuro Mabbaca, pihak yang didoakan biasanya menyiapkan makanan-makanan yang memiliki filosofi yang luas, misalnya onde-onde, baje, lapisi, beppa pitu, dan cucuru. Jenis kue ini dianggap makanja’ sangat identik dengan tepung, gula merah dan kelapa yang dianggap sebagai filosofi kehidupan yang sejahtera.

Selain itu juga sering dihidangkan makanan seperti nasi putih, beras ketan, lengkap dengan lauk seperti ayam, ikan, telur, dan air putih. Makanan ini melekat filosofi kehidupan yang berkecukupan dan mapan.

Pada dasarnya tolak bala adalah produk budaya yang tertumpu pada keyakinan tentang adanya aturan tetap yang mengatasi segala yang terjadi dalam alam dunia. Tradisi kepercayaan dan sistem sosial budaya adalah produk masyarakat lokal dalam menciptakan keteraturan.

Seperti tradisi lokal itu adalah melakukan upacara adat, menghadirkan tata cara menanam dan memanen, melakukan selamatan serta melakukan upacara peralihan hidup.

Demikian tradisi tolak bala seperti Massuro Mabbaca merupakan tradisi masyarakat Bugis secara turun temurun yang dilakukan dengan maksud ungkapan rasa kesyukuran dan tolak bala yang biasanya disertai dengan mendirikan barzanji (mappatettong barazanji).

Tula’ bala berbeda dengan acara “mappalappe” atau melepas nazar meskipun pada kenyataannya terdapat unsur kesamaannya seperti sajian/hidangan.

Sebelum mengenal Islam masyarakat Bugis sudah melaksanakan tradisi Massuro Mabbaca, di mana dianggap keramat oleh masyarakat bugis dan awalnya proses pelaksanaanya pun cukup rumit, tetapi setelah datangnya Islam prosesi Massuro Mabaca ini lebih disederhanakan.

Misal baru saja membeli mobil terdapat kebiasaan melakukan tula’ bala, agar mobil itu bisa digunakan dengan baik dan jauh dari kecelakaan dan lain-lainnya. Sebelum mobil tersebut digunakan terlebih dahulu dilakukan ritual “mabbaca-baca” sebagai tula’ bala.

Prosesi tradisi Massuro Mabbaca dimulai dari adanya seseorang yang ingin melakukan acara misalnya tolak bala. Sebelum melaksanakan prosesi Massuro Mabbaca ada beberapa hal yang harus di persiapakan, di antaranya :

a. Tahap persiapan

1) Penentuan hari, biasanya masyarakat rompegading memilih hari yang baik, dalam kepercayaan mereka seperti hari ahad, rabu dan kamis. Acara biasanya dilakukan pada malam hari karena pada saat itu warga punya waktu luang.
2) Menyiapakan makan malam bagi para tamu.
3) Persiapan bahan-bahan yang akan dijadikan sesajian dalam prosesi Mabbaca.
4) Adapun yang di persiapakan, yaitu kue tradisional yang wajib disajikan
seperti Onde-onde dan Apang serta kue pelengkap lainnya yaitu, kue lapis dan lain-lain.
5) Sajadah, Benno ase (padi yang telah di goreng), pisang, Dupa, segelas air, dan kebokan.

b. Tahap pelaksanaan

Prosesi dilakukan setelah matahari tenggelam, salat magrib dilakukan
pabbaca di rumah yang melakasanakan acara tersebut. Namun pada saat salat tidaklupa disamping pa’baca disiapkan 2 loyang, yaitu 1 loyang besar dan 1 loyang kecil, karena setelah salat, pabbaca langsung mabbaca.

BACA JUGA :  Lipa Sabbe atau Sarung Bugis

Pertama loyang kecil yang di atasnya berisi kebokan, segelas air, dupa dan benno. Kedua loyang yang besar yang di dalamnya berisi beberapa sisir pisang yang minimal 40 biji pisang, beberapa piring kue onde-onde dan kue Apang.

Setelah pabbaca melakukan salat biasanya salah seorang perempuan ahli rumah menaburkan benno ke arah mobil sebanyak tiga genggam dengan 3 (tiga) kali penaburan, prosesi selanjutnya yaitu makan bersama tamu yang datang, selanjutnya setelah makan dilaksankanalah proses Barzanji.

Ada beberapa macam acara tolak
bala misalnya tolak bala mobil baru.
Pelaksanaan Barazanji dalam acara tolak bala mobil baru dilakukan dengan cara setelah beberapa orang masuk ke dalam mobil, maka tuan rumah membawa keluar kitab Barzanji yang diletakkan di atas bantal yang dilapisi dengan sajadah.

Kitab Barzanji ini diletakkan di hadapan Imam disusul pula dengan sesajian yang berisi pisang, onde-onde dan Apang. Selanjutnya kedua bahan tersebut diletakkan di atas bantal guling dan diletakkan ditengah para hadirin yang hadir.

Setelah semuanya lengkap lalu dupa yang berisi bara api dinyalakan. Imam memulai dengan membaca surat al- Fatihah dan dilanjutkan dengan pembacaan Barzanji. Bait pertama Imam membaca beberapa bait atau sampai pada bait untuk pembacaan salawat, selanjutnya para hadirin berdiri untuk membacakan salawat Nabi Muhammad SAW bersama Imam.

Saat pembacaan salawat berlangsung dan para hadirin seluruhnya berdiri, dan pemilik mobil juga langsung menyalakan mesin mobil tersebut. Setelah selesai
pembacaan salawat dan para hadirin duduk kembali dan mesin mobil dimatikan. Imam melanjutkan bacaannya sampai tamat bait yang dibaca sewaktu berdiri tadi.

Setelah selesai Imam membaca bait yang ada salawat ini, pembacaan kemudian diberikan kepada undangan yang berada di sebelah kanan Imam. Pembacaan oleh
undangan bisa sampai akhir bait atau akhir bait diselesaikan oleh Imam sampai akhir yang ditutup dengan pembacaan doa yang dipimpin oleh Imam.

Setelah selesai Imam membacakan doa penutup, maka kemudian kitab
Barzanji diangkat masuk ke rumah dalam bersama dengan hidangan kue-kue. Selanjutnya, hidangan tadi dikeluarkan kembali dan dihidangkan.

Terakhir tuan rumah mempersilakan hadirin untuk menyantap hidangan yang telah disediakan dengan ucapan bismillaahirrahmaanirrahiim.

Setelah para hadirin selesai menyantap hidangan maka berakhirlah suatu upacara keagamaan berupa pembacaan Barzanji.

Makna Simbolik Tula’ bala

Manusia dalam menjalani kehidupannya tidak bisa melepaskan diri dari dunia simbol. Simbol adalah gambar, bentuk, atau benda yang mewakili gagasan. Meskipun simbol bukanlah nilai itu sendiri, namun simbol sangatlah dibutuhkan untuk kepentingan penghayatan akan nilai-nilai yang diwakilinya.

Dalam kehidupan sosial keagamaan bentuk simbol tak hanya berupa benda kasat mata, namun juga melalui gerakan dan ucapan. Dalam keragaman pemikiran mengenai simbol tersebut, dua sumber utama yang disepakati bersama ialah :

Pertama, simbol telah dan sampai sekarang ini masih mempunyai peranan penting dalam kehidupan manusia.

Kedua, simbol merupakan alat yang kuat untuk memperluas pengetahuan kita, merangsang daya imaginasi kita dan memperdalam pemahaman kita. Selama manusia mencari arti dari sebuah kehidupan, manusia tidak akan pernah bisa lepas dari simbol.

Setiap tradisi yang ada pada suku bangsa mayoritas memiliki berbagai macam simbol-simbol yang disertakan, dari berbagai macam simbol itu biasanya mengandung makna. “Makna dapat kita artikan sebagai arti dari sebuah kata atau benda. Makna muncul pada saat bahasa dipergunakan, karena peranan bahasa dalam komunikasi dan proses berpikir, serta khususnya dalam persoalan yang menyangkut bagaimana mengidentifikasi, memahami ataupun meyakini.

Makna, dapat diartikan sebagai kata yang terselubung dari sebuah kata atau benda, sehingga makna pada dasarnya lebih dari sekadar arti. Makna tidak dapat langsung terlihat dari bentuk kata atau bendanya, karena makna yang ada dalam kata ataupun benda sifatnya terselubung. Jadi, makna adalah arti atau pengertian yang erat hubungannya antara tanda atau bentuk yang berupa lambang, bunyi, ujaran dengan hal atau barang yang dimaksudkan.

Dengan demikian yang dimaksud makna adalah kata yang terselubung dari sebuah tanda atau lambang, dan hasil penafsiran dan interprestasi yang erat hubungannya dengan sesuatu hal atau barang tertentu yang hasilnya relatif bagi penafsirnya.

Dari sudut etimologi simbol berasal dari kata symbollein (Yunani) yang artinya bertemu. Kata symbollein kemudian diartikan lebih luas lagi menjadi kata kerja symbola yang artinya tanda yang mengidentifikasi dengan membandingkan atau mencocokan sesuatu kepada bagian yang telah ada.

Sementara itu simbol dalam pengertian sederhana adalah suatu istilah umum untuk berbagai hal yang diperoleh melalui pengalaman dimana suatu objek, tindakan, kata, gambar atau perilaku yang kompleks dipahami tidak terbatas pada makna yang dimilikinya namun juga dalam berbagai gagasan atau perasaan yang lain.

Sedangkan berdasarkan definisi simbol, orang memberi hal-hal tidak hanya untuk apa yang bisa mereka lakukan, tetapi juga untuk apa yang mereka maksud). Dengan demikian, keberadaan simbol tidak dapat diartikan hanya sebagai sebuah gambar atau lambang kosong.

Setiap suatu hal atau benda yang ada di dunia pasti memiliki simbol yang bermakna. Simbol-simbol yang ada pada setiap hal atau benda memiliki arti tertentu baik yang tersirat maupun yang tersurat.

Jadi, Simbol adalah suatu tanda atau gambar yang mengingatkan seseorang kepada penyerupaan benda yang kompleks yang diartikan sebagai sesuatu yang dipelajari dalam konteks budaya yang lebih spesifik atau lebih khusus. Karena itu, Simbol adalah sesuatu yang dapat mengekspresikan atau memberikan makna dari suatu abstrak.

Adapun makna simbol yang disiapkan dalam prosesi Massuro Mabbaca atau Tula’ bala, yaitu:

a. Pisang : Dalam melaksanakan Massuro Mabbaca ada beberapa jenis pisang yang bisa kita pakai, yaitu :
1) Pisang manurung, agar rahmat oleh Allah SWT senantiasa turun kepada kita.
2) Pisang Ambon, agar kita di beri umur yang panjang oleh Allah SWT

b. Kue onde-onde, maknanya agar jiwa kita baik lahir maupun batin.

BACA JUGA :  Pepatah Bugis Klasik

c. Kue Apang, berarti (tidak kenapa-kenapa) maknanya agar orang yang melaksanakan Massuro Mabbaca tersebut tidak terkena musibah dan selalu dalam lindungan-Nya.

d. Benno ware (beras yang di goreng), dalam acara tersebut benno di taburkan ke mobil maknanya tidak pecah misalnya pada saat mobil kecelakaan, luka si pengemudi tidak terlalu parah.

e. Dupa, paddupa berarti kita melaksanakan acara tardisi ini, dan memiliki aroma yang sangat wangi yang bermakna agar kita selalu merasakan aroma-aroma positif.

Demikianlah makna yang terkandung dalam tradisi “Massuro Mabbaca” sebagai fungsi Tolak Bala yang selalu dilakukan Suku Bugis yang masih berjalan hingga kini. Adapun dari pelaksanaan tradisi tersebut tetap menurut pada aturan-Nya dan tidak ada maksud lain.

Namun, ketika Islam datang, prosesi ini mengalami sinkretisme atau berbaur dengan budaya Islam. Bahkan Islam sebagai agama mayoritas suku Bugis telah mengamini prosesi ini.

Pandangan Islam terhadap tradisi Massuro Mabbaca

Islam adalah agama yang diturunkan kepada manusia sebagai rahmat bagi alam semesta. Ajaran-ajarannya selalu membawa kemaslahatan bagi kehidupan manusia di dunia ini. Ajaran-ajaran Islam yang penuh dengan kemaslahatan bagi manusia, tentunya mencakup segala aspek kehidupan manusia.

Tidak ada satupun bentuk kegiatan yang dilakukan manusia, kecuali Allah telah meletakkan aturan-aturannya dalam agama Islam. Kebudayaan adalah salah satu sisi penting dari kehidupan manusia, dan Islampun telah mengatur dan memberikan batasan-batasannya.

Sebagai sistem yang menata kehidupan manusia, Islam bersikap terbuka terhadap budaya lokal. Al-Quran sendiri turun dengan asbab al-nuzulnya yang tidak lepas dari kerangka budaya Arab.

Nilai-nilai moral dan tata pergaulan Arab banyak yang dipertahankan, seperti karim atau kedermawanan, keperwiraan, kesetiaan pada janji, dan ‘iffah atau memelihara kehormatan diri.

Cara berpakaian, sebagian dari hukum keluarga dan sebagian dari tradisi berpolitik bangsa Arab pun tidak dibuang, bahkan sistem politik Islam diadopsi dari filosofi politik Arab, seperti aqidah, kabilah, dan lainnya.

Islam tidak datang dengan suatu peradaban lengkap disuatu daerah, tetapi melengkapi peradaban yang sudah ada dan mendorong untuk berkembang dengan semangat dan orientasi baru. Hal-hal yang telah ada sebelumnya ada yang dibuang, ada yang diubah, dan ada yang dibiarkan berjalan sebagaimana adanya.

Berdasarkan hal itu, sikap Islam terhadap budaya lokal yang ditemuinya dapat dipilah menjadi tiga, yaitu :

1. Menerima dan mengembangkan budaya yang sesuai dengan prinsip-prinsip Islam dan berguna bagi pemuliaan kehidupan umat manusia. Misalnya, tradisi belajar dan mengembangkan ilmu pengetahuan yang ditemui pada bangsa Persi dan Yunani. Para khalifah muslimin bahkan mendorong ilmuwan untuk menggalakkan penelitian dan penemuan baru.

2. Menolak tradisi dan unsur-unsur budaya yang bertentangan dengan prinsip-prinsip Islam. Sebagai contoh, kebiasaan membawa sesajen ke tempat-tempat keramat seperti di bawah pohon besar yang dipercaya masyarakat setempat sebagai tempat keramat untuk meminta rezeki, harta dan takhta kepada pohon keramat tersebut.

3. Membiarkan saja, seperti pada pelaksanaan Massuro Mabbaca (tula’ bala) sepanjang tidak melanggar prinsip-prinsip dasar Islam, yaitu menganggap bahwa makanan yang di sediakan itu bukan untuk mereka yang telah meninggal tetapi itu adalah bentuk rasa syukur atas segala rezeki yang telah di berikan Allah SWT.

Pandangan Islam terhadap tradisi Massuro Mabbaca sebagai hasil budaya yang ada sebelum datangnya Islam sampai Islam datang dan diterima masyarakat. Di mana Islam sebagai agama yang memiliki ajaran yang universal yang mengandung nilai-nilai luhur serta mengatur segala aktivitas manusia baik menyangkut hubungan manusia dengan manusia, manusia dengan mahluk hidup lain seperti hewan, tumbuhan dan hubungan manusia dengan lingkungan atau alam sekitarnya serta hubungan manusia dengan penciptanya.

Pada lingkup hidup manusia yang diikat oleh norma-norma hidup atau aturan-aturan baik bersumber dari agama yaitu ajaran Islam maupun aturan hukum yang ditetapkan oleh pemerintah.

Dalam melakukan aktivitas-aktivitasnya, manusia memiliki pola-pola interaksi yang melibatkan manusia lain dalam proses saling menyampaikan informasi dan menciptakan kebudayaannya, dan Islam sebagai agama yang mayoritas dianut Suku Bugis mampu menjawab segala tantangan atau problematika kehidupannya baik dari segi kebudayaan dan aspek kehidupan lainnya.

Menciptakan sebuah kebudayaan melalui proses berfikir menemukan gagasan atau ide yang mengacu pada hasil cipta manusia atau apa yang diciptakan, apa yang yang dirasakan dan apa yang ia hasilkan.

Kebudayaan yang diciptakan manusia adalah bukti bahwa manusia tersebut berpikir, membuktikan bahwa mereka ada dan eksis dengan terus menciptakan sebuah peradaban untuk mencapai nilai tertinggi dalam kehidupannya dengan ilmu yang dimiliki. Filosofisnya “ Aku berfikir maka aku ada” maka inilah bukti bahwa manusia memiliki kedudukan yang lebih tinggi dari mahkluk hidup lain yang tidak menciptakan kebudayaan.

Tradisi adalah kebudayaan tradisional masyarakat yang masih banyak ditemukan diruang-ruang gerak masyarakat dan tetap dipertahankan. Tradisi Massuro
Mabbaca (tula’ bala) misalnya, masih tetap dilestarikan oleh masyarakat Bugis karena memiliki nilai dan memiliki arti yang sangat penting untuk dipertahankan.

Kelangsungan suatu budaya khususnya budaya lokal sangat perlu untuk diperhatikan namun perlu ditekankan bahwa budaya dengan proses-proses mistik yang berlebihan harus dihilangkan di dalam kebiasaan masyarakat sehingga budaya atau tradisi masyarakat yang sesuai anjuran agama dapat tetap dilestarikan.

Budaya yang terlanjur mengalami percampuran dan tetap dijalankan masyarakat harus tetap dikontrol pemerintah sehingga pemerintah juga dapat mengimbau masyarakat agar dalam praktik kebudayaan tidak melakukan praktik menyimpang.

Islam sebagai agama yang universal telah memberikan ruang tertentu untuk manusia berinovasi dan berkreasi sehingga terbentuklah berbagai budaya masyarakat yang pada hakikatnya harus sesuai dengan nilai-nilai Islami bukan justru yang bertentangan dengan nilai-nilai Islam dan tradisi Tula’ bala / Massuro Mabbaca diperbolehkan selama dalam prosesnya tidak memiliki niat untuk menyekutukan Allah SWT.

Jajgan sampai percaya bahwa makanan yang kita baca itu sampai kepada nenek moyang kita akan mendatangkan rezeki, karena yang mendatangkan rezeki itu hanyalah Allah SWT semata. Adapun mengapa harus ada makanan-makanan tersebut hanya sebagai simbol rasa syukur l kepada Allah SWT yang telah mendatangkan rezeki.

BACA JUGA :  Syair Indah Barzanji

Pada teori masuknya Islam di wilayah Nusantara, Islam datang tidak serta merta menghapus atau mengubah kebiasaan masyarakat yang sudah mengakar dan
melakukan perang, namun Islam datang dengan damai karena ajarannya mampu menyentuh aspek dasar kehidupan masyarakatnya.

Islam mampu menyesuaikan dengan keadaan masyarakat yang memiliki aneka ragam budaya dan kebiasaan dengan menggunakan metode pendekatan yang jitu sehingga masyarakat menerima dengan terbuka dan dengan jalan damai, tidak seperti Islam di Arab pada masa Nabi Muhammad SAW yang dipenuhi dengan peperangan dan pertumpahan darah demi penegakan agama Allah.

Allah SWT Berfirman dalam al-Qur’an yang terjemahannya :

“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali ke jalan yang benar”.

Hal itu menjadi peringatan bagi insan manusia untuk berbuat dan bertindak sesuai yang dianjurkan, dan diharapkan mampu menjauhkan manusia dari hal-hal yang akan membawanya pada perbuatan yang merusak syari’at dan menjerumuskannya kedalam dosa yang menyebabkan dirirnya mendapatkan dan merasakan balasan dari perbuatannya.

Selain itu, hal tersebut di atas menjelaskan bagaimana suatu kerusakan terjadi disebabkan atau dilakukan akibat perbuatan manusia sehingga Allah menurunkan cobaan agar manusia kembali mengingat kepada Allah dan menyesali segala perbuatannya. Segala perbuatan dan tindakan yang dilakukan akan dipertanggungjawabkan kelak.

Jadi, manusia dalam melakukan aktivitas dari kegiatannya harus sesuai dengan aturan dan tuntunan agama bukan sebaliknya. Oleh karena itu, pandangan Islam dari segi pelaksanaan tradisi Massuro Mabbaca seperti pemotongan hewan seperti ayam dan hewan lain yang menurut ajaran Islam halal boleh saja, asalkan niat atau maksud dari memotongnya dengan menyebut nama Allah SWT.

Pandangan Islam dari segi hubungan masyarakat atau berdasarkan nilai
ukhuwah terhadap tradisi Massuro Mabbaca, yaitu Islam tidak melarang justru menganjurkan untuk saling menyambung dan menjaga tali silaturahim dengan sesama umat manusia tanpa memandang agama, ras, suku, maupun warna kulitnya apalagi dengan kerabat atau sanak keluarga dan tetangga, bahkan Nabi Muhammad SAW sangat membenci umatnya yang memutus tali silaturahim terhadap sesamnya apalagi dengan keluarganya sendiri.

“Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya Allah menciptakan isterinya; dan dari pada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. dan bertakwalah kepada Allah yang dengan mempergunakan nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan peliharalah hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu”.

Pandangan Islam terhadap Massuro Mabbaca berdasarkan makanan yang menyerupai sesajen yang dipersiapkan untuk arwah nenek moyang kita yang telah mendahului kita, itu merupakan hal yang bisa membawa kepada dosa syirik kepada Allah SWT dan itu adalah kebiasaan orang Hindu dahulu sebelum Islam merubah kebiasaan masyarakat yang sekarang sudah beragama Islam, dan bukan merupakan kebudayaan Islam sehingga dapat dikatakan terjadi menyimpang dari apa ajaran Islam yang seharusnya dan ini harus bisa diminimalisir sehingga tidak menyebabkan rusaknya aqidah dan syariat Islam oleh masyarakat.

Di Indonesia yang kaya akan budaya banyak terdapat ritual-ritual, seperti ritual tolak bala yang tidak disyariatkan dalam Islam. Ritual tolak bala sering dipaksakan untuk mendapat posisi terhormat sebagai warisan budaya atau warisan leluhur. Meskipun diketahui, ritual-ritual demikian justru menjauhkan kita dengan Allah SWT.

Apapun alasannya melakukan amalan yang tidak sesuai dengan ajaran Rasulullah apalagi menjurus kepada perbuatan syirik sangat dilarang di dalam Islam.

Cukup melakukan tolak bala dengan mengamalkan doa-doa yang ada. Semoga dengan membaca doa tolak bala tersebut, Allah menjaga kita semua dari segala macam bahaya baik lahir maupun batin.

Nah, berdasarkan uraian di atas, dapat kita ringkas maksud dan tujuan Tula’ Bala/Massuro Mabbaca, sebagai berikut :

1. Massuro Mabbaca adalah sejenis Tula’ bala, yakni meminta atau memohon, sedangkan Mabbaca berarti membaca. Jadi Massuro Mabbaca diartikan sebagai usaha seseorang untuk meminta orang lain untuk membacakan doa-doa keselamatan dan kesyukuran serta doa untuk orang yang meninggal dunia, hal ini didorong dengan kesadaran seseorang atas kurang dalamnya ilmu agama yang dimiliki dan ketaatan yang juga masih kurang.

2. Biasanya orang yang diminta Mabbaca adalah orang yang diangap punya ilmu agama yang dalam, rajin menjalankan syariat, serta punya hubungan sosial yang baik kepada masyarakat.

3. Dalam ritual Massuro Mabbaca pihak yang didoakan biasanya menyiapkan makanan-makanan yang memiliki filosofi yang luas, misalnya onde-onde, Baje, Lapis, Beppa pitu, dan Cucuru’. Di mana jenis kue ini sangat identik dengan tepung, gula merah dan kelapa yang dianggap sebagai filosofi kehidupan yang sejahtera (makanja). Juga sering dihidangkan makanan seperti nasi putih, beras ketan, lengkap dengan lauk seperti ayam, ikan, telur dan air putih. Makanan ini melekat filosofi kehidupan yang berkecukupan dan mumpuni.

Adapun makna simbol yang disiapkan dalam prosesi Mattula’ bala / Massuro Mabbaca, yaitu:

a. Pisang, dalam melaksanakan Massuro Mabaca ada beberapa jenis pisang yang bisa kita pakai yaitu:
1) Pisang manurung, agar rahmat oleh Alla senantiasa turun kepada kita.
2) Pisang Ambon, agar kita di beri umur yang panjang oleh Allah SWT.

b. Kue Onde-onde, maknanya agar jiwa kita baik lahir maupun batin.
c. Kue Apang, berarti tidak kenapa-kenapa maknanya agar orang yang melaksanakan Massuro Mabbaca tersebut tidak terkena musibah dan selalu dalam lindungan-Nya.
d. Benno ware (beras yang di goreng), dalam acara tersebut benno ditaburkan ke mobil maknanya tidak pecah misalnya pada saat mobil kecelakaan, luka si pengemudi tidak terlalu parah.
e. Dupa, paddupa berarti kita melaksanakan acara tardisi ini, dan memiliki aroma yang sangat wangi yang bermakna agar kita selalu merasakan aroma-aroma positif.
f. Terakhir, salama’ ki mattula’ bala nenniya massuro mabbaca tapi kesemuanya bersandar kepada Allah SWT.

Sebenarnya masih ada contoh lain yang termasuk kegiatan tolak bala namun pada prinsipnya sudah terwakili contoh yang ada pada tulisan ini.