LIPA SABBE  ATAU SARUNG BUGIS

Sarung Bugis yang lebih dikenal Lipa Sabbe sejak dulu sudah menjadi identutas suku Bugis khususnya Bone, Wajo, dan  Soppeng.

Lipa Sabbe yang terbuat dari benang sutra ini merupakan pakaian bawahan pria dan wanita Bugis. Dan lebih sempurna lagi ketika lelaki Bugis memakai Songkok To Bone dengan memakai Lipa Sabbe. Sungguh nampak menawan dan kharismatik.

Dalam perkembangannya, di masyarakat Bugis Lipa Sabbe atau Sarung Bugis ini cukup berperan dalam kehidupan setiap lapisan masyarakat tanpa memandang umur, jenis kelamin, maupun status sosialnya.

Lipa Sabbe sering terlihat sebagai bawahan busana tradisonal pada beberapa daerah Bugis, juga sebagai tenunan yang bersifat sakral.

Dari sudut fungsi dan pemakaiannya,  Lipa Sabbe terdiri empat golongan, yaitu :
1. sebagai alat untuk menahan pengaruh dari alam sekitar,
2. sebagai lambang keunggulan dan gengsi,
3. lambang yang dianggap suci, serta 4. sebagai perhiasan tubuh.

Sementara dari segi sosial, secara umum Lipa Sabbe digambarkan sebagai kepandaian menenun seorang wanita, berdasarkan dominannya kaum wanita pada kegiatan pertenunan.

Kemampuannya dalam menenun, diidentikkan dengan kesabaran, ketabahan, ketekunan, dan keuletan.

Bagi masyarakat Bugis yang masih memegang teguh tradisi, tentu hal ini merupakan sesuatu yang dapat dibanggakan.

Pada zaman modern ini pergeseran fungsi sarung saat ini tenunan tersebut hanya berfungsi sebagai bagian dari pakaian tradisional masyarakat setempat yang banyak digunakan dalam acara-acara adat terutama pernikahan.

Namun saat ini masyarakat Bugis pun sudah banyak yang tidak menggunakan pakaian tradisional mereka ketika menghadiri sebuah pernikahan.

Sehingga dapat dikatakan fungsi utama dari tenunan sutra tradisional Bugis saat ini lebih cenderung bersifat ekonomi.

Karena tenunan gedogan ini sangat membantu ekonomi perajinnya, sebab mayoritas mata pencaharian suami mereka ialah bertani di sawah tadah hujan sehingga ketika suami mereka bertani kebutuhan sehari-hari ditutupi oleh hasil menenun istri/anak-anak wanitanya.

BACA JUGA :  Ensiklopedia Bugis

RAGAM HIAS LIPA SABBE

Pada tenunan sutra tradisional Lipa Sabbe  memiliki ragam hias (atau dalam bahasa Bugis disebut balo) terbagi dua jenis, yaitu

1. ragam hias pada jalur benang pakan yang disebut Balo Makkalu yang berarti ragam hias melingkar.

2. ragam hias pada jalur benang lungsi disebut balo metettong yang berarti ragam hias berdiri.

Awalnya, tenunan sutra tradisional
di kalangan Bugis hanya mengenal tiga ragam hias geometris, yakni

1. balo renni (kotak-kotak kecil),
2. balo tengnga (kotak-kotak sedang), dan
3. balo lobang/lebba (kotak-kotak besar).

Ragam hias pada tenunan sutra tradisional khas Sulawesi Selatan umumnya memang berupa bidang kotak yang berwarna-warni yang disebut Tenun Palekat, yakni salah satu dari ragam hias kotak-kotak di atas maupun perpaduan dari ragam hias-ragam hias tersebut.

Seperti halnya pada tenunan Sarung Mandar, ragam hias pada tenunan sutra tradisional Bugis juga terbagi atas bidang Kepala (kapalanna atau puncang) dan tubuh. Dalam penggunaannya sehari-hari, bagian kepala selalu dibelakang.

Kira-kira pada tahun 1920 dikenal ragam hias Beso, yakni ragam hias yang dihasilkan dari teknik menarik benang tenun sehingga tergeser dari posisi jalur lurus.

Dan pada tahun 1950, ada perkembangan ragam hias yang disebut panji, yang merupakan stilasi dari huruf S.

Tahun 1958, ragam hias beso dikembangkan menjadi bentuk lancip atas dasar garis zigzag, ragam hias ini disebut Balo Cobo (cobo artinya lancip) atau ragam hias pucuk
rebung. Dan selanjutnya lahir ragam hias jiki/subik (artinya mencukil) yang dihasilkan
dengan teknik mencukil benang pada waktu ditenun.

Di samping motif-motif tersebut,
ada pula ragam hias cebang (artinya ditaburi), yang berukuran kecil-kecil dan diletakkan di seluruh bidang tenunan dengan teratur.

BACA JUGA :  Sistem Kekerabatan Orang Bugis

Perkembangan ragam hias ini tidak hanya pada bentuk namun juga pada penggunaan warna yang tidak lagi terbatas pada warna hitam, merah, dan putih saja, melainkan juga warna-warna cerah seperti kuning, ungu, hijau, dan sebagainya.

Tenunan sutra tradisional Bugis memang khas dengan warna-warna cerah yang manis dan kontras.

Pada perkembangan ini, bentuk ragam hias pun sudah mulai dipadukan dengan lebih
berani sesuai kreasi perajin.

Pemaduan ini tidak dilakukan berdasarkan satu prinsip
tertentu, dan diberi nama sesuai keinginan perajin.

Contohnya ragam hias Balo Saputangan, di mana ragam hias hanya terdapat di bagian pucangnya saja sementara bidang tenunan lainnya polos. Atau balo Mappagiling
(artinya pulang kembali), yang merupakan perpaduan dari Balo Panji dan Beso.

Sehingga, saat ini ragam hias tenunan sutra tradisional Gedogan jarang disebut lagi dengan nama-nama ragam hias dasar, melainkan dengan nama-nama baru, yang diambil dari suatu peristiwa yang terjadi pada waktu menenun.

Beberapa perajin yang ditemui di lapangan, bahkan memadupadankan beberapa agam hias dasar dan diberi nama sesuai kejadian-kejadian yang sedang diminati saat itu,
contohnya ragam hias KDI, ragam hias AFI,ragam hias Soeharto, ragam hias Titik Sandora, dan ragam hias Jokowi-Jk dan lain sebagainya.

FILOSOFI LIPA SABBE

Filosofi yang terkandung pada tenunan sutra tradisional Lipa Sabbe di Kalangan Bugis tidak terletak pada ragam hias melainkan pada warna, seperti berikut:
1.Bangsawan menggunakan warna merah atau hijau.
2.Gadis menggunakan warna-warna muda dan lembut seperti merah muda, hijau muda, dan lain-lain.
3.Janda menggunakan warna-warna cerah seperti jingga.
4.Orang tua, maupun wanita yang sudah berkeluarga, menggunakan warna-warna gelap seperti hitam, dan lain-lain.

Kain tradisional Bugis yang berupa sarung ini memiliki corak garis-garis yang cantik, dan terbuat dari sutra yang diproduksi oleh masyarakat bugis sendiri.

BACA JUGA :  Contoh Percakapan Bahasa Bugis Sehari-Hari

Masyarakat Bugis bahkan saat ini dengan pengembangbiakan ulat sutra untuk memenuhi kebutuhan benang para penenun di desa Sempange, Sengkang yang merupakan pusat pembuatan kain tenun di Sulawesi Selatan.

Menurut legenda, masyarakat Bugis percaya bahwa keterampilan menenun nenek moyang masyarakat Bugis diilhami oleh sehelai sarung yang ditinggalkan oleh para dewa di pinggir danau Tempe. Dan di desa-desa yang terletak di pinggiran danau Tempe itulah kain tenun Bugis yang sangat bagus itu dibuat.

Bahan sandang pada masa lampau, tidak pernah bisa lepas dari fungsi sebagai pelengkap kebutuhan budaya.

Ini pula yang terjadi pada kain sarung Bugis. Selain menjadi pakaian sehari-hari, kain sarung Bugis, digunakan untuk kelengkapan upacara yang bersifat sakral, juga sebagai hadiah untuk mempelai perempuan dari mempelai laki-laki.

Corak kain sarung Bugis ada beberapa macam, di antaranya adalah corak kotak-kotak kecil yang disebut balo renni.

Sementara itu, corak kotak-kotak besar seperti kain tartan Skotlandia, diberi nama balo lobang. Selain corak kotak-kotak, terdapat pula corak zig-zag yang diberi nama corak bombang. Corak ini menggambarkan gelombang lautan.

Pola zig-zag ini dapat diterapkan di seluruh permukaan sarung atau di bagian kepala sarung saja, adapun bagian kepala sarung justru terletak di area tengah sarung, dan sering juga corak bombang ini digabungkan dengan corak kotak-kotak.

Selain corak-corak tersebut, ada pula pola kembang besar yang disebut sarung Samarinda. Meskipun Samarinda berada di Kalimantan Timur, rupanya, kebudayaan menenun sarung di Samarinda, dibawa oleh masyarakat Bugis yang mencari suaka ke Kerajaan Kutai Kartanegara akibat perjanjian Bungaya antara Kerajaan Gowa dan Belanda sekitar abad ke-16.

Dan orang Bugis pendatang itulah yang mengembangkan corak asli tenun Bugis, menjadi tenun Samarinda, yang kemudian malah memperkaya seni kain tradisional Bugis.