Foto Kayu Sanrego

Sanrego adalah sebuah desa di wilayah Kecamatan Kahu, Kabupaten Bone, Provinsi Sulawesi Selatan, Indonesia. Di desa ini terdapat Bendungan Sanrego. Spesies kayu sanrego, berasal dari desa ini. Desa sanrego merupakan jalur poros utama makassar-palattae ( ibukota kecamatan Kahu) yang juga bertetangga dengan desa Tompon patu (timur dan selatan), desa palakka (barat), Desa maradda(utara).

Desa sanrego merupakan daerah agraris (pertanian ) yang sangat subur,setahun 2 kali panen. Hal tersebut dipengaruhi oleh 2 bendungan yang ada di dusun berru teko dan dusun poppai. Siapa sangka kalau desa terpencil ini namanya kesohor. Simak ceritanya.

Legenda Kayu Sanrego

Konon, di masa pemerintahan Raja Bone ke-7 La Tenrirawe Bongkange(1560-1564), tersebutlah seekor kuda jantan bernama La Bolong milik Arung Sanrego.

Di suatu hari La Bolong tak sengaja menemukan satu tanaman di hutan berbukit. Setiap kali La Bolong melahap tumbuhan itu, kontan berahinya memuncak. Sejurus kemudian langsung mencari kuda betina.

“Dalam sehari itu La Bolong mampu melampiaskan birahinya hingga 40 ekor kuda betina. Melihat kudanya ada kelainan, Arung Sanrego keheranan. Ia pun tertarik dengan kayu yang selalu dielus La Bolong. Lalu ia melakukan uji coba kepada beberapa hewan peliharaan lain, seperti kucing, anjing, dan ayam.

Caranya dengan merebus kayu tersebut. Ternyata reaksi yang sama terjadi. Semua hewan yang diujicobakan ternyata birahinya naik tak kepalang berkat kayu ajaib tersebut.

Ia belum begitu yakin dengan hewan peliharaanya itu, lalu Arung Sanrego menguji khasiat kayu tadi kepada putranya, Bangkung Pettareng. Ternyata sesuatu yang tak biasa pun terjadi. Vitalitas Bangkung meningkat luar biasa (siloi tojo lasona). Bangkung Pattareng dikenal banyak isterinya, Alhasil 41 istrinya, kecuali yang pertama, semuanya hamil.

BACA JUGA :  Misteri Suku Oni

Bangkung lalu bersumpah akan membuat istri pertamanya juga bunting. Namun Bangkung Pattareng keburu meninggal sebelum sumpahnya tercapai. Tapi apa yang terjadi, saat jasadnya dimandikan, istri pertama keheranan melihat laso (penis dalam bahasa Bugis) Bangkung Pattareng ternyata masih “hidup dan tegang”.

Dipersilakanlah permaisuri memasuki bilik dan menuntaskan hajat terakhir suaminya. Sembilan bulan kemudian, istri pertama melahirkan anak yang diberi nama I Ladica Puang Makuasa.

Sejak peristiwa itu, kisah soal “kayu ajaib” ini terkenal hingga ke seantero negeri. Mereka pun menyebutnya Aju Bolong Sanrego sebagai penghormatan kepada kuda milik Arung Sanrego. Tempat ditemukannya kayu tersebut hingga kini diberi nama Desa Sanrego.

Sanrego dan kisah yang menyertainya

Membicarakan kayu sanrego bagi orang Bone selalu menarik. Pasalnya sebagian mengaku belum pernah melihat bentuk Kayu Sanrego itu dalam kondisi hidup atau tumbuh.

Kemisteriusan kayu sanrego memang sejalan dengan serangkaian cerita mistis yang menyertai. Konon, Kayu Sanrego hanya keturunan langsung Arung Sanrego yang mendapat mimpi khusus mampu melihat letak tumbuhnya kayu.

Andi Tike Warga Desa Sanrego

Andi Tike (71 tahun) warga Desa Sanrego menuturkan kalau ia termasuk yang terpilih menyandang predikat tersebut. Dan dalam satu generasi, hanya satu orang yang bisa mendapat wangsit.

Ia menjelaskan, sebelum digunakan terlebih dahulu Aju Bolong Sanrego diserut menggunakan ekor ikan pari. Hasil serutannya itu langsung dimasukkan ke dalam gelas berisi air rebusan tape.
kalau tidak ada air tape, bisa diganti dengan ballo (tuak), tak perlu banyak yang penting tercampur,” tuturnya.

Berkat mukjizat Aju Sanrego, Andi Tike mengisahkan dahulu sering menggunakannya untuk bersenang-senang. Suatu ketika, ada seorang perempuan tidak terpuaskan oleh banyak lelaki. Tapi setelah ketemu Andi Tike, maka si perempuan itu menyerah.

BACA JUGA :  Si Pengusir Santet yang lagi Populer di Youtube

Konon, efek meminum serutan kayu bolong sanrego, bisa bertahan hingga beberapa hari. Badan akan terasa panas dan si anu selalu ingin bergerak. Jadi ramuan sanrego juga tak boleh diberikan kepada sembarang orang. Mereka yang ingin harus datang sendiri, melalui serangkaian ritual, dan mempersembahkan seekor ayam jantan baru kayu tersebut bisa diambil.

Menurut Andi Tike, Kayu Sanrego tidak pernah dijual dan tidak seharusnya dijual, makanya ia juga heran kalau di luar sana banyak yang memperjualbelikan. Bahkan ia mengaku bahwa anak kandungnya pun tak pernah ia izinkan meminum ramuan kayu tersebut.

Kayu Sanrego tidak dibudidayakan dan tumbuhnya liar di perbukitan, perlu wangsit khusus untuk menemukan letak lokasinya. Menurut Andi Tike, banyak orang yang datang memperlihatkan beberapa foto yang menurutnya adalah Kayu Sanrego, memang ada yang mirip, tapi bukan bolong sanrego. Aju bolong sanrego lebih hambar bahkan tak memiliki rasa.

“Kayu bolong sanrego tumbuh di atas bukit di dalam hutan. Butuh jalan kaki sekitar lima kilometer baru sampai,” tuturnya menjelaskan bagaimana kayu ini bisa ditemukan.

Satu hal yang ditegaskan Andi Tike, kayu sanrego sebenarnya tidak baik jika telah berpindah tangan. Khasiatnya tidak akan sama lagi. “Ini soal keyakinan dan niat hendak digunakan untuk apa,” ujarnya.

“Kayu Sanrego itu bukan ditujukan untuk hal negatif. Bolong sanrego diamanatkan keluarganya untuk hal positif. Misalnya agar kuat menggarap sawah.

Diketahui dari beberapa hasil penelitian ilmiah, Kayu Sanrego dikenal juga dengan sebutan Lunasia amara yang mengandung zat afrodisiak. Selain dapat membangkitkan gairah seksual, sering pula digunakan untuk mengobati impotensi, malaria, diabetes, dan gigitan ular.

Pemanfaatan suatu tumbuhan untuk obat erat kaitannya dengan senyawa yang memengaruhi tumbuh kembangnya. Misal tumbuhnya di pantai atau gunung, meski berjenis sama, pemanfaatannya bisa berbeda.

BACA JUGA :  Mitos Sawerigading

Konon, Arung Sanrego dikira seorang pria perkasa. Ternyata ia sosok perempuan yang berkuasa. Tidak heran jika kayu bolong sanrego dipahami berbeda oleh banyak orang.

Penelitian terhadap lunasia amara juga pernah dilakukan Prof. Muchsin Darise dari Universitas Hasanuddin pada tahun 1994. Dari penelitiannya ternyata tumbuhan itu tidak hanya tumbuh di Desa Sanrego, Bone, tapi juga ditemukan di kawasan lain sepanjang jazirah Sulawesi.

Tanaman yang tidak banyak dibudidayakan ini sebenarnya sudah tergolong langka. Pun demikian, di beberapa tempat ada yang menjadikan sanrego sebagai jamu berbentuk pil. Ada pula yang mencampurnya dengan secangkir kopi. Mereka menyebutnya “kopi sanrego”. Bisa ditemukan di Kabupaten Bulukumba dan Barru.

Tanaman Lunasia amara sangat bisa dibudidayakan. Metodenya bisa dengan biji dan anakan. Dapat pula dicangkok, meski itu memakan waktu lama.

Hingga saat ini belum ada penelitian lebih jauh atas tanaman Lunasia amara. Baru pada tahap konservasi plasma nutfah di rumah kaca dan lapang. Itu pun belum masif. Padahal jika mau dikembangkan, bisa sebagai bahan obat dalam kemasan seperti kapsul.